Parenting

Ini Lho 7 Tempat Bermain Aman dan Nyaman Bagi Si Kecil

tempramada

“Akhir-akhir ini, kenapa sih kamu itu jarang ikut acara. Kamu itu enak banget, Ay. Tinggal satu kota dengan orangtua dan mertua. Tiap hari bisa nitip Mada,” kata seorang teman pada saya, beberapa waktu lalu. Ia bukan orang pertama yang punya pendapat seperti itu. Lain waktu, ada yang pernah terang-terangan menyuruh saya sebaiknya bekerja kantoran nine to five karena ‘kan enak ada mertua dan orangtua’.

Sebagai seorang perempuan yang pernah bekerja kantoran sebelum menikah, tentu dengan kehadiran mertua dan orangtua, saya memiliki kesempatan untuk lebih sering beredar di luar rumah. Tetapi, pada realitanya, saya dan mertua memiliki perbedaan dalam pola asuh anak. Dalam pola asuh versi mertua, ada banyak kata “jangan” dan “tidak boleh”. Contohnya : jangan lari-larian, jangan main kotor-kotoran, tidak boleh coret-coret tembok dan sebagainya. Sementara, versi saya ini lebih sering membiarkan Mada mengeksplorasi dirinya dengan berbagai kegiatan bermain. Iya, saya mengadopsi cara Mama mengasuh saya dan 5 adik saya. Like mother, like daughter.

Perbedaan pola asuh itu semakin menguatkan diri saya untuk memilih bekerja di rumah, sebagai seorang blogger profesional dan mengerjakan usaha jasa transkrip dan notulensi. Saya ingin menjadi pendamping Mada dalam menjalani hari-harinya sebagai anak golden age.  Alhamdulillah, bulan ini genap Mada 3 tahun. Tiap kali usianya bertambah, maka minatnya untuk mencoba hal baru ikut bertambah. Dan, selama 3 tahun ini kami punya 7 tempat favorit untuk bermain yang aman dan nyaman. Siapa tahu bisa menjadi inspirasi Anda.

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)

 

Lho, PAUD kok jadi tempat favorit bermain Mada ? Iya dong, karena di PAUD ada perosotan, ayunan, jungkat jungkit dan teman-teman seumuran. Alat-alat permainan indoor pun komplit. Ada puzzle kayu, puzzle 3D, mobil-mobilan dan sebagainya.

Ketika saya mendaftarkan Mada untuk mengikuti kegiatan PAUD, usianya belum genap 3 tahun. Sebagai pendamping Mada di rumah, saya sadar semakin usia Mada bertambah maka ia semakin butuh teman seumuran. Karena, di lingkungan tempat tinggal saya tidak ada anak kecil. Mada juga enggak punya saudara seumuran. Padahal, anak kecil bergaul dengan yang seumuran itu penting banget. Karena, anak akan belajar berbagi, belajar antri, belajar berempati dan ada banyak manfaat positif dengan memasukkan anak ke kelompok bermain.

Salah satu guru di PAUD-nya Mada pernah berujar pada saya, “Anak di bawah usia 4 tahun itu belum saatnya calistung. Nanti merusak otak. Anak-anak di bawah 4 tahun seperti Mada ya waktunya bermain dan bersosialisasi dengan yang seumuran.”

Dan, memang selama 6 bulan mengikuti kegiatan PAUD yang jadwalnya seminggu 3x itu lebih banyak bermainnya. Mada juga enjoy. Karena, kegiatan PAUD-nya enggak jauh-jauh dari bernyanyi, menggambar/mewarnai objek, olahraga di taman kota dan fieldtrip.

TIPS Bermain Aman & Nyaman Di Kelas Bermain/PAUD :

Sebelum mendaftarkan anak Anda ke kelas bermain/PAUD, gali info sebanyak-banyaknya tentang PAUD tersebut, sebaiknya pilih PAUD yang menjadi rekomendasi banyak orang. PAUD yang bagus itu enggak selalu mahal, contohnya PAUD tempat Mada, uang bulanannya enggak nyampe 100 ribu tetapi kegiatan banyak !

Taman Kota

 

Tempat favorit yang kedua adalah Taman Kota. Seminggu sekali, saya dan Mada menyambangi Lembah Gurame atau Lembah Mawar yang berlokasi di Depok. Lembah Gurame merupakan taman yang dikelola oleh Dinas Pertamanan Kota Depok. Fasilitasnya terdiri dari area fitness, lapangan futsal, kolam ikan, playground dan lintasan area lari. Nah, kalau Lembah Mawar sebelumnya merupakan Tempat Pembuangan Sampah akhir. Setelah dirubah menjadi taman, Lembah Mawar menjadi pilihan keluarga untuk menghabiskan waktu di akhir pekan.

Selain 2 taman kota yang ada di Depok, ada lagi taman favorit Mada yaitu Ruang Publik Terpadu Ramah Anak alias RPTRA. Dari sekian banyak RPTRA yang bertebaran di Jakarta, Mada sudah pernah berkunjung ke RPTRA Mawar Lebak Bulus dan RPTRA Anggrek Pondok Labu. Enggak cukup satu jam untuk bermain di RPTRA, karena fasilitas yang tersedia bikin kami berdua betah berlama-lama. Selain ada area playground, ada juga perpustakaan mini, toko jualan produk kerajinan buatan Ibu-ibu PKK dan aula.

TIPS Bermain Aman & Nyaman di Taman Kota :

Supaya puas bermain di Taman Kota, pastikan membawa perbekalan yang cukup. Seperti bekal snack, makanan berat (nasi + mie goreng + telur atau spaghetti + sosis + nugget dsb) dan  air mineral. Untuk variasi bermain anak, sebaiknya bawa bola/sepatu roda/raket dan kok. Jangan lupa membawa lotion anti nyamuk.

Indoor Playground

 

Sekarang ini, hampir setiap pusat perbelanjaan memiliki playground. Contohnya di Mall Depok Town Square. Di setiap lantai disediakan playground. Bahkan, di ground floor terdapat 2 playground. Perbedaan antara satu playground dengan yang lainnya yaitu luas arena bermain dan fasilitas. Tarif sepuasnya bermain saat weekdays itu rata-rata ‘cuma’ Rp 25000.

Selain playground dengan tarif bermain yang murah, ada juga pusat bermain anak dengan konsep edutainment. Contohnya, Kidzania, Miniapolis, Lollipop. Sebagai pusat bermain anak dengan fasilitas yang lebih komplit, harga tiket masuk lebih mahal daripada playground biasa.

TIPS Bermain Aman & Nyaman di Indoor Playground :

Karena berlokasi di dalam pusat perbelanjaan, hampir setiap indoor playground yang saya kunjungi mewajibkan pengunjung dan pendamping anak memakai kaos kaki. Peraturan lainnya yaitu dilarang makan dan minum di dalam area bermain. Jadi, sebaiknya bawa kaos kaki sendiri. Dan, mentang-mentang lokasinya tertutup di dalam Mall, jangan meninggalkan atau menitipkan anak pada Si Mbak/Mas penjaga arena bermain. Taruh dulu gadget Anda dan dampingi anak bermain.

Acara komunitas hobi orang tua

 

Selain mengurusi bengkel motornya, Pak Gondrong juga bergabung di komunitas motor tua. Tiap tahun selalu ada agenda acara motor yang diikuti komunitasnya. Dan, setahun belakangan ini Pak Gondrong rutin mengikutsertakan motor-motor karya bengkelnya untuk balapan di arena sirkuit Sentul.

Karena, Pak Gondrong berkecimpung di dunia motor, otomatis saya dan Mada ikut kecipratan juga. Beberapa kali Mada ikutan datang ke acara motor yang berlokasi di Jakarta ataupun acara balapan motor di Sentul. Awalnya, Mada memang kurang suka datang ke acara motor karena banyak orang-orang dewasa bertubuh besar berpakaian serba hitam dan brewok. Dan, suasana pasti bising karena raungan knalpot motor yang digeber-geber. Asa karena biasa. Mada pun suka datang ke acara motor karena dia bisa melihat jenis motor yang aneh-aneh dan bertemu dengan teman-teman komunitas Pak Gondrong.

TIPS Bermain Aman & Nyaman di Acara Komunitas Hobi :

Tujuan mengajak anak ke acara komunitas hobi orang tuanya agar ia mengenal dunia lain milik Ayah atau Ibunya. Dari 10 acara motor yang saya ikuti bersama Mada, hanya 1 yang menyediakan playground yang benar-benar didesain untuk anak. Selain itu, jarang banget disediakan arena anak. Tapi, disitulah letak keseruan mengajak anak ke sebuah acara komunitas hobi, karena anak akan belajar hal-hal baru yang enggak bisa setiap hari dia lihat. Yang terpenting ketika mengajak anak ke acara komunitas hobi, awasi selalu anak Anda.

Bermain air di Kolam renang atau Pantai

 

Siapa sih anak-anak yang enggak suka main air ? Hampir semua anak kecil senang main air. Menurut para pakar psikolog anak, bermain air dapat meningkatkan kecerdasan motorik dan meningkatkan rasa percaya diri anak.

Mada pun senang bermain air. Seperti Mada yang selalu bilang “Ibu sebelum Mada mandi, Mada main air dulu ya”. Yang dimaksud Mada dengan main air sebelum mandi adalah dia mengisi gelas (yang sudah disiapkan) lalu dipindah-pindahin isi gelasnya. Kadang Mada nepuk-nepuk air di bak mandi, begitu airnya nyiprat, dia girang deh. Itu kegiatan sederhana Mada yang berurusan dengan air.

Nah, kalau main airnya di luar alias di kolam renang atau pantai, kudu lebih well prepare. Karena, pertimbangan lokasi dan jarak serta seberapa lama anak bermain air. Kebayang dong kalau perut Si Kecil kosong sementara dia masih betah main di air. Bisa-bisa dalam perjalanan pulang, Si Kecil mendadak mual dan (maaf) muntah di jalan karena masuk angin.

TIPS Bermain Aman & Nyaman di Kolam renang/Pantai :

Selain menyiapkan perbekalan makanan yang cukup, jangan lupa membawa sunblock, minyak kayu putih/minyak telon dan perlengkapan bermain air.

Perpustakaan

 

Tumbuh di keluarga yang senang membaca, membuat saya menularkan kebiasaan itu pada Mada sedari ia masih di perut. Sebelum Mada lahir, saya rutin membacakan cerita untuk Mada. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga sekarang. Manfaat mengenalkan buku atau membiasakan anak membaca sangat banyak, salah satunya menambah kosakata baru. Memang, Mada belum bisa membaca tulisan, ia menerjemahkan rangkaian gambar yang ada di buku dengan bahasa dia.

Untuk variasi kegiatan membaca, sesekali saya mengajak Mada ke perpustakaan anak seperti Jaklib yang berada di kompleks Taman Ismail Marzuki. Pilihan lain ya perpustakaan mini yang ada di RPTRA yang ada di Jakarta.

TIPS Bermain Aman & Nyaman di Perpustakaan :

Berkunjung ke perpustakaan artinya tidak membawa makanan/minuman masuk ke dalam perpustakaan. Jadi, sebaiknya isi perut dulu.

Rumah

 

Tempat paling aman dan nyaman untuk bermain anak adalah rumah dan orang tua yang mendampingi bermain. Saat cuaca tidak mendukung, berkegiatan di dalam rumah bisa menjadi pilihan anak untuk mengeksplorasi dirinya. Anda dapat mengajak anak membuat prakarya DIY (Do It Yourself), ikut membantu Anda mengerjakan tugas domestik (practical life skills) atau sekedar bermain musik.

Bermain di rumah pilihannya lebih banyak, tinggal bagaimana Anda berkreativitas.

TIPS Bermain Aman & Nyaman di Rumah :

Singkirkan barang-barang  berbahaya seperti pisau, lilin, korek api dan sebagainya dari jangkauan anak. Bagi anak-anak di atas 2 tahun, libatkan mereka menyiapkan permainan.

Tempra Syrup, Atasi Demam Si Anak Aktif

IMG_20170617_213917

Ada kalanya ketika Mada terlalu kecapekan bermain dan cuaca tidak menentu, ia mengalami demam. Kalau suhu tubuhnya masih di bawah 38 derajat celsius, saya akan memberikan air mineral lebih banyak pada Mada. Nah, kalau selama 3 hari berturut-turut suhu tubuhnya tidak juga turun malah cenderung naik hingga 38 derajat celsius barulah saya langsung memberikan obat penurun panas untuk Mada. Sebaiknya ketika anak demam, pakaikan baju yang tidak tebal dan kompres hangat.

Demam bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala adanya suatu penyakit pada anak Anda. Demam juga muncul setelah anak menjalani imunisasi. Ketika Mada masih bayi dan ia mengalami demam, saya pilih Tempra Drops sesuai resep dari Dokter. Untuk pemberian obat sebaiknya per 8 jam sekali, anak harus diberikan Tempra Drops atau jika diperlukan per 4 jam sekali. Yang jelas, Tempra manjur untuk Mada.

tempraKetika Mada sudah berusia 1 tahun ke atas, saya pilih Tempra Syrup yang diperuntukkan untuk anak usia 1 hingga 3 tahun. Rasa manisnya membuat Mada suka. Dan, saya bisa dengan mudah menemukan Tempra Syrup di apotik dekat rumah atau minimarket. Nah, untuk anak-anak di atas 6 tahun ada juga Tempra Forte dengan dosis yang sudah disesuaikan.

Yang saya suka dari Tempra Syrup adalah tutup botolnya yang terdiri dari 3 bagian dan juga petunjuk membuka botol di dalam kemasan. Jadi enggak bakal ada ceritanya anak bisa dengan mudah membuka tutup botol Tempra. Dalam setiap 5 ml Tempra Syrup mengandung 160 ml paracetamol. Tempra Syrup bermanfaat untuk atasi demam Si Kecil dan juga mengurangi rasa sakit. Demam ? Atasi dengan Tempra Syrup, yuk

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional

Iklan

5 Kegiatan Seru Bersama Keluarga Di IMBEX 2016

imbex2016

Hari Sabtu (26/11) saya terpilih menjadi salah satu blogger untuk datang ke #BlibliFriendsMeetUp Blogger Day Out. Acara tersebut merupakan bagian dari Indonesia Maternity, Baby, & Kids Expo (IMBEX) 2016 di Jakarta Convention Center Senayan Jakarta. Tahun ini merupakan pameran IMBEX yang ke 8 dan diadakan selama 3 hari berturut-turut yakni Jumat-Sabtu dan Minggu. Thanks to Mak Yayat, BloggerCrony dan Team Blibli.com (Mas Kadek dan Mbak Yonna).

Saya datang terlambat ke lokasi acara, karena kudu nitipin Mada (2 tahun) dulu ke mertua di Pondok Labu. Jam setengah 3 teng saya tiba di lokasi. Langsung antri bersama pengunjung lainnya. Eh, sempet salah antri dink ! Harusnya saya antri di meja khusus media. Untung Mbak dan Mas bagian registrasi baik-baik semua. Setelah tangan dicap dan mendapatkan visitor guide, saya masuk ke dalam gedung.

Banyak pengunjung yang terdiri dari pasangan muda dengan satu atau dua anak. Semakin saya masuk ke dalam arena IMBEX 2016, saya agak nyesel sih datang tanpa membawa Mada 😦 Eh tapi, suasana yang crowded pasti bakalan bikin setiap orangtua butuh pengawasan ekstra terhadap anaknya. Bersyukur aja deh saya enggak bawa Mada. Tahun depan, kamu pasti Ibu ajak ya Mada ke IMBEX 2017.

Booth yang pertama kali saya datangi yaitu booth Blibli.com. E-commerce terbesar di Indonesia yang terkenal dengan warna birunya yang menyegarkan ini memajang sebagian produk Ibu Anak. Yang asyik, para petugas Blibli.com menawarkan registrasi sebagai member Blibli.com dengan syarat sangat mudah. Iya, cukup memasukkan e-mail dan nama pada layar laptop yang tersedia, saya sudah bisa menjadi member Blibli.com. Keuntungan sebagai memberi Blibli.com, diantaranya : bebas cicilan 0%, bebas biaya kirim, ada beragam cara pembayaran dan pastinya kualitas produk yang terjamin. Jadi, suatu kali saya mau belanja-belanja cantik tinggal cusss login aja yah.

Blibli.com juga memberikan promo menarik di acara. Bagi pengunjung yang sudah mendaftar dan belanja sebesar Rp. 100.000 bisa foto-foto ala keluarga kerajaan di Royal Photobooth. Ditemani oleh para Princess dan Prince berpakaian kerajaan atau sendiri seperti saya, oke oke saja. Setelah puas foto-foto, selanjutnya pengunjung bisa mengikuti lelang online stroller inglesina.

img_20161201_063102

Dari visitor guide yang saya terima, arena acara terbagi 2 yaitu ActiveStage dan FunStage. Arena ActiveStage terdiri dari kegiatan seperti talkshow, demo masak, olahraga, meet & greet, fashion show dan lelang online. Untuk kegiatan di FunStage lebih banyak melibatkan anak, seperti lomba mewarnai, dancing competition dan workshop Faber Castell.

Untuk bisa mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, syaratnya mudah, yang penting rajin daftar yah jeung. Dari seluruh rangkaian acara, ada 5 kegiatan seru yang bisa dilakukan bersama keluarga di IMBEX 2016. Kegiatan apa saja itu, yuk cek di sini !

Belanja seru

Bela-belain datang ke expo terutama bagi bumil, apalagi coba kalau tujuannya buat belanja. Yess, belanja. Banyak diskon bertaburan di setiap booth. Saat saya pulang pun, ada seorang bumil yang sukses belanja persiapan perlengkapan melahirkan.

Ada begitu banyak tenant hadir di IMBEX 2016. Pokoknya, semua kebutuhan Ibu dan Anak bisa ditemui dengan mudah di sini. Eh ada booth komunitas juga loh, seperti komunitas AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia).

img_20161126_143000

Salah satu booth kebutuhan anak di IMBEX 2016

Berburu lomba

Hampir di setiap booth mengadakan lomba, dari mulai foto kontes, video kontes sampai sekedar tunjuk tangan + jawab pertanyaan trus dapat voucher. Nah, selain belanja-belanji, kalau masih kuat bisa ikutan lomba. Hadiahnya macam-macam tergantung booth jenis apa yang anda datangi.

Ikutan Talkshow

Diantaranya, ada talkshow “Strategi Pemberian Makan untuk Anak Susah Makan” dari RSIA Grand Family. Lalu, di hari yang sama ada juga talkshow soal “ASi Berkualitas ? Mengapa Tidak ?” dari HEGEN. Dan, masih banyak talkshow seru lainnya yang bikin buibu jadi pintar berjamaah.

Lelang Online

Saya penasaran seperti apa  sih lelang online, apalagi ini yang dilelang sebuah stroller seharga hampir 20 juta dan handmade dari Italia. Stroller kayak apa itu. Saya pun duduk menunggu manis lelang tersebut yang dimulai pukul 14.30 – 14.35. Ada 3 stroller yang dilelang yaitu :

Stroller Inglesina Classic Vaniglia seharga Rp. 19.900.000,-. Setelah dilelang, harganya menjadi Rp. 6.500.000. Stroller ini yang jadi idaman para mahmud karena banyak artis yang pakai. Kalau jalan-jalan di taman sambil dorong-dorong kereta berwarna coklat muda ini dijamin semua mata melirik syirik pada anda ya jeung. Dan, anda juga bakalan merasa sebagai Kate Middleton.

Zippy Light Stroller Ocean Blue seharga 4.500.000,-. Peserta lelang yang  berhasil bisa membawa pulang stroller berwarna biru tua Rp 1.950.000,-. Stroller yang satu ini punya 7 varian warna, lebih banyak pilihan warnanya dibanding Classic Vaniglia atau Trilogy Amarena yang masing-masing hanya tersedia 3 dan 4 warna.

Stroller Inglesina Trilogy Amarena berwarna merah dongker. Tudung Stroller ini memiliki kelebihan yakni dilengkapi dengan perlindungan matahari UPF 50+, jarring-jaring sebagai media sirkulasi udara serta raincover yang akan melindungi anak selama musim hujan

Olahraga

Di hari Sabtu, ada kegiatan olahraga juga bersama Fit Mum & Bub dan I-angels. Yang bikin emejing, olahraga ini dilakukan para mama bersama anak. Iya, sambil gendong bayik atau batita. Para pengunjung termasuk Mbak Helena Mantra ikutan juga loh ber-tuwagapat.

Duh, seru-seru ya kegiatan IMBEX 2016 ? Nah, buat jeung-jeung yang enggak sempet datang ke IMBEX 2016, jangan bersedih hati. Produk-produk yang ada di IMBEX 2016, bisa didapatkan di Royal Carnival Blibli.com. Belanja di Blibli.com bebas ongkos kirim dan barang pasti tiba tepat waktunya. Tunggu apalagi, cusss and klik link-nya ateuh.

Selamat berbelanja dan semoga semakin bahagia,

Maria Soraya

12 Mitos Ini Saya Alami Setelah Menjadi Seorang Ibu

collab_gagalpaham

Tantangan terberat saya setelah menjadi Ibu, adalah saat saya harus menghadapi orang-orang yang kontra dengan cara saya membesarkan Mada. Apalagi saya tinggal di lingkungan yang masih percaya mitos dan ilmu turun-menurun dari leluhur. Saya enggak alergi dengan mitos dan ilmu membesarkan anak sesuai ‘kata nenek moyang saya’saat Indonesia masih dijajah Belanda. Sesuatu yang kuno itu keren, tetapi kudu ada update dong yah di era serba digital ini.

Rujukan saya dalam urusan membesarkan Mada siapa lagi kalau bukan Mama saya sendiri. Beliau pernah melahirkan 6 anak di era 80an, 90an dan 2000an. Cukup update lah ya dengan informasi yang terjadi pada masa-masa itu. Bahkan, sampai sekarang Si Eyangti-nya Mada masih update urusan dunia parenting kekinian. Jadi, tiap kali saya berkunjung ke rumah Mama, selalu ada diskusi urusan anak.

Alhamdulillah, setelah Mada 24 bulan, saya baru merasa merdeka. Yup, merdeka dalam arti bebas dari segala intervensi orang dewasa urusan membesarkan anak dan pastinya mitos-mitos ajaib.  Ketika saya mencoba mengingat apa yang pernah saya alami dulu, dan dituliskan satu-persatu di bawah ini, saya masih gagal paham sama mitos-mitos itu.

1. “Kalau anak udah 2 tahun mah, harus berhenti ASI, kalau ASInya kelamaan nanti pas udah sekolah jadi bodoh kayak suami saya. Eh, malah keponakan saya jadi idiot gara-gara masih ASI sampai lulus TK.”

lalu, yang lain menyahut, “Iya, makanya anak saya udah enggak ASI. Udah basi ini.”

Yeah, Mada di umurnya yang ke 27 bulan memang masih ASI. Tapi, sedari Mada genap 2 tahun, saya pelan-pelan mengurangi frekuensi ASI-nya. Hanya saat mau tidur siang dan tidur malam. Sebagai pengganti ASI, Mada minum susu UHT 2x sehari. Sekarang, Mada lagi belajar rutin minum susu formula.  Saya enggak mau menyapih dengan cara orang jaman dulu, yang nempelin CD kotor suami di atas PD biar anaknya berhenti ASI atau cara kuno apalah apalah.

Jadi, kalau ada anak bisa menjadi bodoh gara-gara ng-ASI kelamaan, entah mitos dari mana itu ya. Saat dibilangin begitu, saya meneng wae dan lempar senyum ‘iya gue percaya aja deh sama elo’. Diskusi sehat dengan orang yang ‘menomorsatukan’ mitos itu enggak ada titik temunya. Mending, BW aja ke hati kamu eh blog kamu. Iya kamu 😉

2. “Males banget jadi orangtua. Anak makan kok dibiarin sendiri. Enggak ketahuan dia masukkin apa ke mulutnya. Nanti udah gedenya hidupnya berantakan”

Setelah Mada bisa duduk dan menggenggam barang, saya mulai melatihnya makan sendiri. Saya kepingin Mada merasakan sensasi memegang makanan yang teksturnya macam-macam. Dengan membiarkan Mada makan sendiri (dan sesekali tetap diawasi), dia juga belajar percaya sama dirinya. Semacam ‘eh ternyata aku bisa ya makan pakai sendok’ atau ‘oh, ternyata makan yang ada kuahnya enggak bisa pakai garpu”.

Manfaat membiarkan anak makan sendiri, banyak lho. Anak terbiasa mandiri, percaya diri dan belajar memutuskan (bahkan belajar berdebat). Dan, yang bikin mbingung itu, porsi makannya lebih banyak saat makan sendiri daripada saat disuapi.

3.“Kalau ngasih makan ke anak itu anaknya harus digendong sambil jalan-jalan, bukan diem di tempat begitu  nanti anaknya jadi pemales.”

Duh, buat saya kebiasaan menyuapi seperti itu justru enggak bagus buat perkembangan anak di kemudian hari. Anak menjadi pasif, hanya tahu buka mulut dan happp. Anak enggak mengerti makanan apa aja yang masuk ke mulutnya. Dengan makan sambil duduk manis, saya bisa bercerita tentang Wortel yang bisa membuat mata cemerlang atau Brokoli yang bisa bikin Mada menjadi kuat. Lain waktu, saya juga bisa bernyanyi sembari menyuapi.

Oh ya, supaya Mada tidak bosan, sesekali, saya membiarkan Mada makan bersama teman-temannya di luar rumah. Tapi, gara-gara saya enggak pernah menyuapi Mada sambil digendong pakai jarik, saya pernah mumet setengah mati waktu menginap lebih dari seminggu di rumah mertua. Kebiasaan di sana itu, anak makan kudu digendong sambil jalan-jalan. Jadilah, tiap Mada sarapan, saya memilih ngumpet di mana gitu. Pokoknya yang enggak terjangkau sama mata Bapak Mertua. Karena, kalau saya ke-gap, menyuapi Mada tanpa digendong, kuping saya bisa lebih merah dari lippen purbasari gegara mendengar omelan si akungnya Mada ituuu *salimsamaakungmada.

4.“Kalau anaknya enggak pernah makan bubur instan, nanti badannya lembek. Enggak Enggak punya gigi. Kurus juga lho.”

lalu, yang lain ikut berkomentar. “Kesian anaknya kalau makannya gitu doang, nanti sampe gede enggak kenal rasa lho,”

Alhamdulillah ya, setelah Mada 2 tahun baru deh kerasa manfaat makan MPASI rumahan. Giginya masih rapi dan enggak bolong. Mada juga doyan segala jenis sayur. Bahkan, saya mengabadikannya dalam sebuah tulisan dan dimuat di rubrik Gado-gado Majalah Femina edisi ulang tahun September 2016.

Bebas ya. Orangtua mau kasih bayinya bubur instan atau bersedia merepotkan diri membuat MPASI rumahan, terserah. Saya enggak alergi sama bubur instan. Saya bersedia merepotkan diri membuat MPASI rumahan demi kebiasaan Mada makan sehat di kemudian hari. Makan sayuran hijau hayuk, minum jus buah pun hayuk. Pusing lho, kalau punya suami enggak doyan sayur plus buah. Tumis kangkung, dianggurin. Sayur bening bayam cuma dilihatin. Bikin tumis capcay, eh kuahnya duank yang didoyanin *jiahcurhat.

5. “Anaknya dilarang pergi-pergi jauh nanti sawan”

Sawan (bahasa Jawa) adalah gejala aneh yang menyerang anak kecil di Jawa. Anak yang terkena sawan, biasanya akan menangis rewel bahkan suhu tubuhnya meningkat dari normal.

Khusus yang nomor 5 ini, bikin saya agak sedih (pake banget). Di keluarga suami, ada semacam larangan kalau bayi sampai umur setahun itu dilarang bepergian jauh, alasannya sawan. Saya pun terpaksa manut. Karena, ‘gejala sawan’ itu identik dengan bayi yang rewel melulu. Kan kebayang kalau saya lagi bawa Mada berkunjung ke rumah Mertua trus tau-tau Mada rewel. Langsung deh Mada disebut sawan. Mertua langsung nyari tukang sembur buat Mada. Padahal,  seringnya naluri saya berbicara ‘eh anak elo itu rewel gara-gara kepanasan di jalan’ atau ‘eh Mada rewel gegara masuk angin’.

Jadi, Mada sampai umur 6 bulan beneran enggak pernah pergi jauh-jauh. Pernah sih, saya diam-diam pergi sama Mada ke Monas bersama adik-adik saya. Waktu itu ‘merayakan’ Mada yang pas 6 bulan dan mulai MPASI. Trus, karena Mada enggak menunjukkan gejala ‘sawan’, saya pun bercerita ke Pak Gondrong dan keluarganya. Eladah, bukannya disupport, saya justru dicecar habis-habisan.

Yang teramat bikin saya sedih plus menyesal. Catet, menyesal pake banget. Gara-gara Mada enggak pernah bepergian jauh sedari bayik piyik, Mada jadi agak ringkih. Kalau bepergian kudu pake jaket sekian lapis. Kena angin dikit, langsung deh kembung masuk angin. Mitos bayi sawan itu jelas sangat merugikan saya. Nanti, kalau mau nambah anak lagi, urusan bayi sawan kudu dicoret. Saya mau keukeuh ‘say no to bayi sawan, say yes to bayik sedari masih piyik kudu jalan-jalan’.

6. “Sebelum dan sesudah maghrib, anaknya harus dipangku.”

Alasannya, kalau anak dibiarin sendiri meskipun ada di sebelah kita, nanti bakal ditempelin makhluk halus. Kebayang ya, kalau detik-detik menjelang adzan maghrib, saya ndadak kepingin pipis. Kudu nunggu sekian menit setelah adzan berkumandang.

Mitos ini bukan cuma diterapin di keluarga Pak Gondrong, tetapi para tetangga saya ibu-ibu muda usia 20an pun melakukannya. Jadi, kalau ada Ibu yang mau ke kamar mandi, mereka bakalan ketok-ketok pintu rumah tetangganya buat nitipin si bayi. Atau, minta tetangganya buat nemenin bayinya sebentar di rumah si Ibu yang mau pipis ituh. Rem to the pong. Rempong cyiinnn.

7. “Bayinya harus dikasih kopi, biar enggak step (kejang-kejang)”

Saya berusaha mencerna, hubungan antara kopi dan kejang-kejang. Kecuali, mungkin Kopi Vietnam-nya Mbak Mirna yang sidangnya udah masuk sidang ke 26. Kebetulan, Mama enggak pernah membahas soal bayi harus dikasih kopi blablabla. Jadi, ketika buibu tetangga dan Ibu Mertua berkeyakinan bahwa bayi harus dikasih kopi biar enggak step (kejang-kejang), saya pun mencari informasi.

Dan, faktanya. Pertama, kejang-kejang pada bayi itu faktor keturunan atau ada riwayat step di keluarga. Ketika bayi mengalami step, sebaiknya orangtua mengompres hangat, memberikan minum yang banyak dan jangan lupa dikasih obat penurun panas. Kedua, tidak disarankan memberi kopi pada bayi, dikarenakan lambungnya belum kuat. Jangankan bayik ya, orang dewasa juga ada yang enggak bisa minum kopi. Contohnya seperti suami saya, Pak Gondrong. Blio minum kopi kudu ada temennya, misalnya roti tawar. Enggak pernah deh minum kopi di glek glek begitu aja. Dan, yang ketiga. Ketika bayi mengalami kejang-kejang, akan kesulitan menelan apapun yang masuk ke mulutnya. Memasukkan cairan kopi ke mulut bayi saat kejang-kejang, justru dapat menyebabkan peradangan paru-paru. Karena, cairan tidak masuk ke pencernaan, tetapi nyasar ke paru-paru.

8. “Anaknya harus dikasih bangle. Biar enggak dibuntutin makhluk halus”

Bangle itu sejenis tanaman rempah-rempah yang masih satu saudara sama jahe. Dalam kepercayaan orang Jawa, bayi yang baru lahir itu kudu dikasih bangle plus teman-temannya. Seperti kaca, peniti, gunting tajam dan bawang. Tujuannya biar enggak ditempelin makhluk halus atau menghindarkan bayi dari sawan.

Selama lebih dari seminggu tinggal di rumah Ibu Mertua setelah melahirkan, saya enggak lepas dari bangle dll. Kadang agak horor sih ya, nyimpen gunting deket bayi. Tapi, namanya numpang sementara di rumah Ibu Mertua, diikutin aja. Yang penting saya enggak percaya yang begituan.

9. “Kalau menyusui itu harus gantian kanan-kiri. Biar enggak cepet basi”

Dan, setelah saya mengikuti saran eh mitos itu, “Kok menyusuinya pindah-pindah ? ASI-nya dikit ya ?

Entahlah darimana ceritanya ASI bisa basi. Secara logika, menyusui memang harus bergantian ya biar PD enggak besar sebelah. Tiap kali proses menyusui Mada, selalu ada yang menunggui saya entah tetangga atau Ibu Mertua. Maklum sih ya cucu pertama. Sayangnya, sikap terlalu peduli terhadap cucu justru membuat saya tertekan. Karena tiap menyusui banyak banget input negatif ke kuping.  Pusing lagi-lagi akuhhh

10. “Jadi Ibu jangan malas, anaknya kalau nangis harus langsung digendong”

Waktu Mada bayi, saya bukan tipe Ibu yang langsung heboh menggendong Mada ketika dia nangis. Naluri keibuan saya mengatakan ‘anak menangis bukan semata butuh digendong, kadang dia butuh ngobrol atau apalah apalah’. Kecuali, Mada nangis gara-gara kejedot apa gitu, itu mah langsung diangkat aja anaknya sambil tetep pasang smilling face.

11. “Dilarang tidur pagi-pagi, nanti darah putih bisa naik ke mata dan bisa buta”

Katanya sih, mitos ini dibuat supaya para Ibu melahirkan itu enggak malas pagi-pagi. Yeah, tidur pagi kan identik dengan pemalas. Yaiya kalau seharian enggak ngapa-ngapain karena punya 12 pembantu. Nah trus kalau si Ibu melahirkan melakukan semua pekerjaan rumah dengan tangan sendiri ? Modar dar duaaarr. Itu mata kudu melek 24 jam. Mau tidur pagi dilarang. Mau tidur siang, anaknya melek. Mau tidur malam, nda iso.

12. “Biar anak nurut sama orangtuanya, puput pusarnya kudu dimakan”

Saya cuma bisa pasang muka datar saat Pak Gondrong membuka bungkusan puput pusar lalu glek, menelannya tanpa merasa … okeh itu memang puput pusar anak sendiri. Darah daging. Tapi, di Al Qur’an enggak ada ayat yang menerangkan kalau puput pusar bayi kudu dimakan demi si anak nurut sama Bapak/Ibunya (tergantung siapa yang makan). Pun, dalam ilmu pengetahuan gitu ya.

Detik itu, saya mendadak merasa hidup satu zaman sama Ibu RA. Kartini, di saat Indonesia masih dijajah bangsa Belanda. Aksi Pak Gondrong ‘nelen’ puput pusar sempat bikin heboh para tetangga Ibu Mertua. Karena, meskipun mereka masih percaya mitos-mitos, tetapi mereka enggak nelen puput pusar anaknya sendiri. Kebanyakan sih, para tetangga Ibu Mertua dan tetangga saya di sini …. lebih memilih menyimpan puput pusar bayinya di dalam lemari. Sewaktu-waktu anaknya sakit, itu puput pusar bisa direndam trus airnya diminum.

Setelah mengalami 12 mitos di atas dan mitos-mitos lainnya seputar Ibu melahirkan, saya merasa gagal paham menjadi seorang Ibu. Saya pun membulatkan tekad, kalau nanti hamil dan melahirkan lagi ya WAJIB tinggal di lingkungan yang energinya positif. Enggak mau ah dikelilingi aneka mitos ajaib yang menyesatkan.

xoxo,

Maria Soraya

Ciptakan TRUST Pada Anak, Bebas Masalah Di Kemudian Hari

trust

Seorang Ibu ketakutan setengah mati. Ketika ia masuk ke kamar tidur anak laki-laki sulungnya, Ibu itu mendapati sebilah samurai panjang di samping tubuh anaknya. Pelan-pelan Ibu itu membangunkan anaknya. Lalu, ia bertanya, “Nak, samurai itu buat apa ?”

“Aku mau matiin Ayah. Ayah jahat,” ujar Si Anak laki-laki. Ibu itu semakin ketakutan.

“Jangan matiin Ayah. Nanti Ibu dan adik-adik gimana ? Kamu matiin Ibu aja, nak”

Percakapan di atas bukan adegan dalam sinetron. Nyata. Iya, nyata. Bukan terjadi juga pada keluarga kelompok grass root yang sering masuk berita kriminal. Keluarga tersebut keluarga yang cukup mampu. Sang Ayah memiliki jabatan bagus di perusahaan BUMN. Mereka bukan keluarga broken home juga, tetapi keluarga utuh.

Setelah ditelusuri, ternyata …

Si anak sulung sedari kecil diasuh oleh Neneknya. Ketika Si anak menginjak usia SMP, ia dimasukkan ke Pesantren karena Neneknya mulai sakit-sakitan. Selama Si anak ini tinggal di Pesantren, berkali-kali kabur, tetapi berhasil dikembalikan oleh Sang Papa.  Menginjak bangku SMA, Si Anak akhirnya disekolahkan di sekolah swasta terbaik di Depok. Enggak lagi tinggal di Pesantren, tetapi menyatu dengan orang tua dan adik-adiknya. Bukannya membaik, kelakuan Si Anak semakin jadi. Yang menyedihkan, selama 2 bulan terakhir Si Anak bolos sekolah. Si orang tua tahu hal tersebut dari pihak sekolah. Si ibu bingung harus berbuat apa. Si Ayah terlalu sibuk untuk mencari solusi atas masalah yang menimpa keluarganya.

Saya sempat membahas masalah itu dengan Mama. Beliau menjawab,”Yah, namanya udah berkomitmen punya anak ya berarti harus meluangkan waktu untuk anak. Setiap anak itu butuh trust ke orang tua. Apakah orang tuanya bisa membuat dia aman ? Apakah orang tuanya punya waktu buat dengerin cerita si anak ? Apakah orang tuanya benar-benar membutuhkan kehadiran Si Anak … atau punya anak itu hanya sekedar tempelan status ‘gue bisa punya anak loh’. Membangun trust itu harus dari kecil. Enggak bisa ujug-ujug udah gede baru disamperin. ”

“Pantesan ya Mah, sekarang banyak kasus-kasus serem. Anak bunuh orang tua cuma gara-gara enggak dibeliin handphone … apalah … apalah, hiii” ujar saya.

Trust itu bisa diciptain lewat quality time bersama anak. Banyak juga Ibu Rumah Tangga yang harusnya bisa dekat sama anak, tapi justru anak-anaknya jauh. Faktornya macam-macam. Entah udah keburu capek duluan gara-gara ngurusin dapur plus suami. Atau ya sibuk ider-ideran bergaul sana-sini atau ngaji di sana-sini. Anaknya ? ada yang ketangkep basah lagi buka situs porno, ada yang narkoba. Banyak kasusnya,” jelas Mama, panjang. Yeah, Mama pernah jadi Ketua Komite selama 2 periode di sekolah adik bungsu saya. Beliau sering banget ya jadi tempat curhatan para mahmud dan sesama orang tua murid. Kadang, Mama membahas masalah temannya saat kami ngobrol seputar dunia parenting. Supaya bisa dijadikan pelajaran buat saya kelak, Si Mamah Muda.

Saya membayangkan quality time yang pernah saya lakukan bersama Mada. Alhamdulillah, saya bekerja di rumah. Saya selalu berusaha sebaik mungkin dalam membagi waktu antara pekerjaan domestik, orderan transkrip, blogging, suami dan anak. Kalau saya lagi overload, saya menitipkan Mada di rumah Mama atau Ibu Mertua. Paginya, Mada berangkat bersama Pak Gondrong. Sore, saya jemput.

Ketika saya lagi nyantai, saya lebih punya banyak pilihan untuk quality time bersama Mada. Ke Museum Polri di Blok M, Taman Kota, ke playground di mall atau ke Kebun Binatang Ragunan. Pokoknya happy bareng. Kalaupun, kami enggak kemana-mana, selalu ada kegiatan seru buat dilakuin berdua. Misalnya, mencoba kegiatan montessori atau melakukan hal baru.

Ketika saya overload, quality time itu bisa tercipta dimana aja. Misalnya, saat menjemput Mada dan kami naik angkot menuju pulang. Sepanjang jalan, saya mengobrol tentang apa aja yang kami temui di jalan. Kami juga suka menyanyi tanpa malu. Makanya, saya lebih suka duduk di kursi depan biar enggak mengganggu penumpang lainnya. Kalaupun, saya memilih di kursi belakang bersama penumpang lainnya, supaya Mada belajar berbagi tempat duduk.

Kira-kira seperti itu cara saya melakukan quality time bersama Mada. Bagaimana denganmu, Mak ? Saya mau bersiap jemput Mada dulu.

Tulisan ini merupakan collaborative blogging bersama grup whatsapp Mak Ade, Mak Indah Juli, Mak Diah, Mak Liza, Mak Ica, Mak Virly dan Mak Witri.

xoxo,

Maria Soraya

Menyiapkan Pendidikan Anak Sejak Dini Bersama Asuransi Jiwasraya

coverasuransi

Suatu sore yang cerah. Saya sedang menemani Mada yang asyik messy play dengan koleksi Dinosaurusnya. Mama nongol dari balik pintu ruang tamu. Tangannya membawa sepiring bakwan goreng dan tempura pendamping teh sereh buatan Mama.
“Gimana Kak, Mada udah didaftarin asuransi pendidikan ?” tanya Mama.
Saya urung menggigit terong goreng. Lalu, saya menggeleng, nyengir. “Hehe … belum Mah,”

Mama melanjutkan, “Jangan ditunda-tunda. Sekarang Mada udah 2 tahun. Baru punya satu asuransi. Enggak apa-apa Kakak belum punya rumah sendiri, yang penting urusan pendidikan Mada terpenuhi” jelas Mama. “Jangan sampai kayak teman Mama. Anaknya lulus tes masuk MTS Al Azhar Asy Syarif Jagakarsa, yang saingannya aja banyak banget. Tapi karena orang tuanya enggak ada persiapan biaya, anaknya terpaksa sekolah di SMP biasa aja. Padahal biaya masuknya udah turun dari 20 juta ke 5 juta setelah status sekolahnya berubah menjadi Negeri” Mama memandangi cangkir tehnya. Mama saya Ketua Komite di sekolah, jadi sering menjadi tempat curhat para orang tua murid urusan dunia pendidikan. Kami sebagai Ibu dan Anak pun sering ngobrol urusan dunia parenting.

“Generasi Z kayak Mada ini generasi yang cerdas dan kritis, Kak. Generasi yang haus ilmu pengetahuan. Jadi, kalau bisa nantinya Mada jangan cuma sekolah formal aja. Cari minatnya Mada dimana, kembangin deh lewat … entah kursus musik, kursus menggambar atau ikutan klub sepakbola” ujar Mama, lagi. Saya manggut-manggut, lalu menerawang membayangkan masa depan Mada. 20 tahun kemudian …

Saya dan Pak Gondrong, sama-sama menggeluti bidang kreatif sesuai passion kami. Pak Gondrong dengan latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual, setelah menikah berpindah haluan. Tadinya bekerja kantoran nine to five di sebuah advertising. Lantaran gaji mandek, dia memilih meneruskan usaha bengkel motor milik Bapaknya. Ilmu desainnya tidak pudar begitu saja. Saat ada customer yang ingin membuat motor, maka Pak Gondrong akan merumuskan konsep secara detail lengkap dengan komposisi warna. Sementara saya secara otodidak belajar menulis sedari masih berseragam putih biru. Setelah menikah, saya memilih bekerja di rumah dan menekuni dunia menulis.

Jadi, kami sebagai orang tua membebaskan Mada ingin bercita-cita menjadi apa di masa depan. Tetapi, kami pun perlu mengarahkan skill Mada sesuai minatnya. Karena kami percaya, orang-orang yang bisa survive di masa depan, bukan hanya orang-orang dengan titel gelar pendidikan. Tetapi, mereka yang memiliki skill sesuai minatnya. Nah, bagaimana mendeteksi bakat anak sejak dini ? Apakah harus dimasukkan ke sekolah dari bayik piyik ?? Apakah harus diikutsertakan dengan berbagai jenis les supaya saya tahu bakat dan minatnya Mada ke arah mana ???

Pucuk dicinta ulam tiba, pada akhir Agustus 2016, saya mendapat kesempatan mengikuti Talkshow “Persiapan Pendidikan Anak Menghadapi Persaingan Global” yang diadakan oleh Komunitas Emak Blogger (KEB). Temanya sesuai saya banget. Makin seru karena narasumbernya yaitu Makpon Mira Sahid, Psikolog yang lagi nge-heits, Ibu Elizabeth T. Santosa dan Bapak T. Guntur Priyonggodo perwakilan dari Asuransi Jiwasraya.

Sebelum acara dimulai, para peserta dipersilakan menikmati hidangan utama dan sholat. Kebetulan ini pertama kalinya saya datang ke acara KEB, sempat deg-degan sih. Untungnya, KEB terdiri dari emak-emak yang baik hati dan tidak sombong. Di meja registrasi, Mak Tanti dan Mak Icoel sangat welcome ketika saya datang. Berasa udah bertemu berkali-kali yah. Setelah cipika cipiki, saya langsung melipir antri di barisan emak-emak yang lagi nyendokkin nasi plus lauk pauknya. Di ruang makan, ternyata meja sudah penuh sodarah-sodarah. Ada yang di sofa. Ada yang sudah duduk berderet di kursi. Eh, ternyata ada juga yang lesehan dekat tempat sholat. Yesss, ada gerombolan Mak Astri dkk. Saya langsung bergabung deh di situ.

Setelah acara makan siang selesai, kami para peserta masuk ke ruang yang berbeda. Ada 2 kursi di ‘panggung’ depan lengkap dengan bantal-bantal cantiknya. Jelas, itu kursi bukan buat peserta yah. Saya memilih duduk di barisan dua, bersama Mak Ria Bilqis, Mak Dian, Mak Mariana. MC Dewi membuka acara dengan menyapa peserta Talkshow. Enggak lupa, dia sempat bikin kuis kecil. Namanya buibu, semua langsung heboh. Selanjutnya, Mak Icoel muncul memberi kata sambutan buat para peserta.

IMG_20160828_131237

Dokumentasi pribadi

Dan, narsum yang ditunggu akhirnya nongol juga,  Makpon Mira Sahid. Ia sempat curhat soal kegundahannya sebagai seorang Ibu 2 anak. Makpon menuturkan soal anak-anaknya yang memiliki banyak minat dan sering berubah-berubah. Kemarin minatnya A, hari ini B, besoknya C. Kegundahan Makpon, dijawab dengan cantik oleh Miss Lizzie, sapaan akrab Psikolog Ibu Elizabeth T. Santosa.

IMG_20160828_131752

Dokumentasi pribadi

“Setiap anak itu cerdas, tidak ada anak yang tidak cerdas. Kita sebagai orang tua perlu mengetahui kecerdasan anak ada dimana dan mengarahkannya,” kira-kira begitu penjelasan Miss Lizzie. Ia memberi contoh selebritis dunia seperti Taylor Swift dan Tiger Woods. Para orang tua mereka jeli melihat bakat sang anak. Sedari kecil, orang tua Swift dan Woods mengembangkan potensi anaknya hingga menjadi bintang besar. Langkah awal orang tua untuk mendukung cita-cita anak bisa dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

  1. Mengidentifikasi potensi anak
  2. Mengarahkan dan membina
  3. Memotivasi
IMG_20160828_132120

Dokumentasi Pribadi

Nah, bagaimana sih caranya kita sebagai orang tua bisa mengetahui potensi si anak sejak kecil ? Howard Gardner (penemu teori 8 kecerdasan majemuk) memaparkan, bahwa setiap anak memiliki 8 kecerdasan majemuk atau multiple intelligences.

Seize the Day(3)

Setelah mempelajari 8 kecerdasan majemuk, Miss Lizzie meminta para emak untuk mengenali kecerdasan apa yang dimiliki. Kalau saya pribadi, memiliki kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal plus kecerdasan linguistik. Yang dominan sih, yang intrapersonal. Sementara, Mada hampir memiliki 8 kecerdasan majemuk. Hampir semua kegiatan yang ada di atas, dia suka. Yang dominan sih, kecerdasan musikal. Mada enggak bisa nahan diri kalau dengar musik. Goyang lah itu badan plus tangan.

Bakat dan minat anak sudah diketahui, ada lagi lho yang perlu dilakukan orang tua. Seperti ucapan Mama saya di awal paragraf. “Anak penting punya asuransi pendidikan.”. Dengan menyiapkan dana pendidikan anak sejak dini, orang tua seperti memiliki investasi jangka panjang yang terbaik untuk anak. Pada sesi talkshow berikutnya, Bapak Guntur perwakilan dari Asuransi Jiwasraya membeberkan bagaimana caranya menyiapkan dana pendidikan anak sejak dini.

Melalui presentasi singkat, Pak Guntur menjelaskan bahwa Asuransi Jiwasraya merupakan satu-satunya asuransi  milik BUMN. Artinya, dana nasabah terjamin aman. Jiwasraya sendiri sudah ada sejak jaman Belanda. Berdiri di Batavia pada tanggal 31 Desember 1859 dengan nama NV Nederlandsch Indiesche Levensverzekering en Liffrente Maatschappij (NILLMIJ) van 1859.  Usianya diperkirakan lebih dari 150 tahun. Selama satu setengah abad, Jiwasraya memberikan perlindungan jiwa dan keuangan bagi para nasabahnya.

asuransi01

Ilustrasi milik Asuransi Jiwasraya

Pak Guntur juga sempat mengenalkan salah satu produk asuransi pendidikan Jiwasraya. Namanya, JS Prestasi, yaitu produk yang menjamin kepastian jenjang pendidikan masa depan bagi putra-putri nasabah Jiwasraya. Berikut manfaat dari JS Prestasi :

asuransi02

Ilustrasi milik Asuransi Jiwasraya

asuransi03 copy

Ilustrasi milik Asuransi Jiwasraya

Untuk menyiapkan dana pendidikan anak melalui JS Prestasi bisa dimulai sejak anak masih di dalam perut, yaitu saat usia kehamilan 3 bulan. Trus, kalau anaknya sudah segede Mada apakah masih bisa didaftarkan buat JS Prestasi ? Jelas bisa dong, mak. Usia maksimalnya menurut Pak Guntur itu sampai anak berumur 5 tahun. Premi sebesar Rp. 500.000/bulan bisa dibayarkan via ATM. Praktis. Jadi, enggak perlu antri panjang ya di depan kasir.

Oh ya, emak-emak peserta Talkshow sempat dibikin tepok jidat berjamaah, ketika Pak Guntur menjabarkan biaya kuliah anak pada tahun 2015. Berapa coba ? Menurut survei, biaya kuliah dengan segala printilannya (buku, kost dsb) itu rata-rata Rp. 250 juta rupiah di 3 PTN terbaik (ITB, UGM dan UI) di Indonesia.  Apa kabar biaya kuliah di Perguruan Tinggi swasta ? Lebih mihil pastinya, mak.

Sekali lagi, saya langsung membayangkan Mada 20 tahun kemudian. Tahun 2015 biaya kuliah aja segitu, gimana nanti pas Mada gede. Duh, emaknya kudu banyak-banyak nulis buku biar royalti banyak yah.

Usai talkshow bersama 3 narasumber, acara pun diakhiri dengan foto bersama, pengumuman pemenang kuis dan pemilihan best dresscode. Saya melangkah keluar dari gedung Hongkong Cafe dengan penuh optimis. Tangan saya menenteng goodie bag dari Asuransi Jiwasraya. Enggak sabar ingin menceritakan soal Asuransi Jiwasraya pada Mama. Dan, enggak sabar juga rasanya ingin segera mendaftarkan Mada untuk asuransi pendidikan, JS Prestasi.

Untuk informasi lengkap mengenai Asuransi Jiwasraya, silakan kunjungi :

  • Website: http://www.jiwasraya.co.id/
  • Twitter: @jiwasraya
  • Facebook: https://www.facebook.com/asuransi.jiwasraya
  • Instagram : https://www.instagram.com/jiwasraya/
  • Kantor Pusat Jiwasraya
    JL. Ir. H. Juanda No. 34, Jakarta Pusat
    DKI Jakarta 10120
    P : (021) 3845031
    E : asuransi@jiwasraya.co.id

Jangan ditunda lagi ya, Mak. Ayuuuk bikin asuransi pendidikan 🙂

Pentingnya Menyiapkan Generasi Yang Cinta Tanah Air

collab_one

Gambar sebelum diedit dari sini

Suatu hari di timeline saya, seorang Ibu Muda memposting soal kecemasannya menyiapkan liburan lebaran di kampung halamannya di Malang. Anaknya seumuran Mada di suatu komunitas bermain. Ibu Muda itu cemas karena Si Anak belum pernah pakai gayung dan tiap mandi pun terbiasa pakai shower atau bathtub. Saya pernah berkunjung ke rumahnya yang berada di dalam komplek di daerah Cipedak Jakarta Selatan. Bentukan rumahnya standar semacam rumah orang komplek. Belum mewah semacam rumah horang-horang tajir melipir di Pondok Indah yang cuma punya toilet kering. Agak unik juga, tinggal di komplek tapi enggak kenal gayung.

Tiap kali ada pelajaran bernyanyi pun, Si Anak hanya hafal lagu semacam twinkle twinkle little star. Saat ada permainan tebak binatang, dia hanya tahu nama binatang dalam bahasa Inggris. Apakah Si Anak sudah mengikuti sekolah ? Si Ibu Muda menjawab “Aku lagi nyari sekolah yang ada bahasa asingnya”.

Eh ternyata, dalam komunitas bermain itu bukan hanya satu dua anak yang seperti itu. Tapi hampir sebagian. Yup, sebagian besar anak-anak usia 2 tahun itu memang sudah masuk preschool. Bisa ditebak bahasa yang diajarkan dari sekolah pasti campur-campur. Atau bahkan cuma bahasa Inggris thok. Jadi, tujuan mereka mengikutsertakan anaknya dalam komunitas tersebut supaya mereka bisa mengenalkan budaya Indonesia ke anak-anaknya.

Saya pribadi belum mengajarkan bahasa asing ke Mada. Bisa bulan depan atau nanti ada waktunya. Saya ingin Mada bisa berbahasa Indonesia yang benar. Saya ingin Mada tahu lagu-lagu anak Indonesia. Bukan saya alergi bahasa asing. Saya ingin Mada mengenal negerinya dulu sebelum dia casciscus ‘This is my book, Ibu’ atau ‘I want that toys, Ibu’. Beda cerita kalau saya punya suami wong londo.

Konon, negara yang sulit dijajah itu yang bangsanya sangat cinta sama tanah airnya sendiri. Yang enggak malu mencintai kebudayaan bangsanya sendiri. Yang pede dengan negaranya sendiri. Enggak mau dong ya gara-gara salah didik, 20 tahun ke depan anak anda nongol di youtube alaala selebgram cewek yang sempet bikin heboh ituh. Atau anak anda jadi menteri yang rajin mengimpor barang dari luar.

Menyiapkan generasi yang tidak gagap dengan budaya tanah air bisa dimulai dari sejak Si Bayi belum lahir. Contoh kecilnya :

  1. Waktu Mada masih di perut, saya punya kebiasaaan baru, yaitu mendengarkan lagu-lagu keroncong. Lagu keroncong versi aseli atau bossanova sama kerennya.
  2. Pak Gondrong pun suka nyetelin lagu-lagu daerah semacam Sik Sik Batu Manikam atau Bungong Jeumpa selama Mada di perut.
  3. Ketika para mahmud memanggil bayinya yang baru lahir dengan sebutan baby Z atau baby R, saya keukeuh memanggil Mada tanpa embel-embel baby.
  4. Saat tiba waktunya Mada belajar ngomong, saya menggunakan bahasa Indonesia dalam bahasa sehari-hari. Kadang dicampur bahasa jawa atau sunda. Semacam ‘Malu itu bujurnya kelihatan’ (Malu itu -maaf- pantatnya kelihatan). Atau ‘Ayuk atuh Mada calik’ (Mada duduk ya).
  5. Sekarang ini Mada umurnya 26 bulan. Dia bisa menyanyikan lagu Gundul-gundul Pacul. Suka sama lagu Bendera Merah Putih juga. Tahu lagu Indonesia Raya.

Golden age pada anak ibarat spons yang menyerap air di sekitarnya. Apa saja ditelan dan disimpan di kepala. Jangan sia-siakan yuk, Bu. Kalau bukan kita sebagai Ibu, siapa lagi yang mengajarkan anak untuk mengenal tanah airnya ?

Karena, merdeka itu dimulai dari sendiri.

Tulisan ini dibuat dalam rangka HUT Indonesia yang ke 71. Collaborative blogging dengan tema Kemerdekaan bersama Mak Virly dalam Tentang Indonesia dan Gotong-Royong, Mak Ade dalam Bersama Kemerdekaan, Harapan Akan Selalu Ada dan Mak Diah dalam Mendoakan Indonesia.

xoxo,

Maria Soraya

Lakukan 3 Hal Ini, Ketika Batita Anda Berbicara Kasar

batita copy

Keinginan setiap orangtua terutama Ibu saat anaknya mulai lancar berbicara, yaitu si anak bisa berbicara kalimat yang baik dan pastinya menjadi anak yang santun. Makanya di toko buku banyak buku anak yang temanya how to say 3 magic words. Terimakasih. Maaf. Tolong. Anak yang santun itu mudah masuk ke berbagai lapisan sosial. Banyak teman. Dan jadi dambaan setiap orangtua lainnya. Anak yang santun itu juga bisa jadi karakter dari orangtuanya.

Beberapa waktu lalu, saya mendapat cerita dari seorang teman yang baru pindah rumah. Tadinya tinggal di perkampungan, sekarang tinggal di komplek yang letaknya bersebelahan dengan perkampungan. Lokasi rumah sebelumnya dan sekarang berbeda kota. Dia berharap dengan tinggal di dalam komplek, anaknya yang masih berumur 2.5 tahun bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik di lingkungan yang baik pula. Yeah, komplek gitu lho.

Dan, masalah muncul ketika suatu hari, dia baru sadar hampir setiap sore gerombolan anak-anak SD dari kampung sebelah lewat samping rumahnya. Mereka kadang bermain di lapangan komplek yang jarang dipakai anak-anak kompleknya sendiri. Atau numpang lewat buat motong jalan tembus. Si ibu muda itu sempat mendengarkan obrolan ala anak kampung dengan bahasa sekenanya. Dia pun mulai khawatir saat anaknya pernah kecolongan berteriak anjing pada nanny-nya. Atau neneknya pun pernah dipanggil goblok. Duh, secara gitu ya dalam kamus hidupnya enggak pernah mampir kalimat semacam itu. Sebelum dan sesudah berumah tangga.

“Piye iki jeung Ayya ? Mosok aku kudu pindah rumah lagi ?” tanya Si Ibu Muda itu cemas.

Saya menimpalinya dengan santai. “Yaudah anakmu kan masih batita, alihin aja sih ya. Toh kalian sebagai ortunya enggak bicara dalam bahasa kasar. Ibumu dan mertuamu juga kan ? Mereka sangat halus dan well groomed.”

Si Ibu Muda masih galau.

“Jeung, yang paling penting kalau tiba-tiba anakmu ngomong bad words, sampeyan jangan panik. Biasa saja. Hati boleh panik, tapi di depan anakmu woles wae lah.”

Si Ibu Muda menjawab singkat. “Hummm, I’ll try Ibu Mada.”

Selain Si Ibu Muda di atas, masih banyak ya penyebab anak tau-tau bisa ngomong kasar. 3 hal ini yang perlu dilakukan ketika batita Anda berbicara kasar, entah dengar dari orang lewat atau dari orang di sekitar Anda :

Pertama, jangan PANIK kalau batita atau balita Anda tiba-tiba ngomong kasar. Jangan menunjukkan reaksi yang berlebihan. Karena kadang anak Anda justru memang butuh reaksi dari orang di sekitarnya ketika dia do something.

Kedua, cari tahu, darimana mereka bisa ngomong seperti itu. Misalnya dari televisi atau gadget, berarti harus difilter dulu. Kalau dari pengasuh, langsung tegur, jangan ada perasaan enggak enak. Kalau dari lingkungan tempat tinggal, percaya sama saya. Selama anda dan suami tidak ada kebiasaan ngomong kasar. Enggak bakal menular deh itu kebiasaan ke anak Anda. Nah, kalau justru dari anggota keluarga sendiri (misal : Nenek Kakek) seperti yang saya alami ?  Bisa dimulai dengan menegur pelan atau kurangi intensitas bertemu dengan mereka.

Ketiga, kalau anak Anda batita, alihkan dengan hal lain seperti yang saya lakukan di atas. Anak batita itu masih tergantung sama yang dominan mengasuhnya. Dalam hal ini, Mada diasuh saya. Kalau anak Anda balita atau usia sekolah awal, beritahu kenapa mereka enggak boleh ngomong seperti itu.

(Tulisan sebelumnya dirombak total untuk alasan tertentu)

xoxo,

Maria Soraya