Celoteh Bojo

3 Hal Paling Seru Yang Pernah Dilakukan Ketika Saya Masih Kecil

masakecil3hal

Menjadi anak kecil yang tumbuh di era 90an itu rasanya sangat asyik. Apalagi Orang tua saya memiliki kesamaan satu sama lain, yakni gemar membaca dan berdiskusi. Hal ini yang diturunkan pada enam anaknya, termasuk saya si anak sulung.

Saya masih dapat mengingat dengan baik, ketika Mamah rajin membacakan cerita Nirmala dan Si Sirik dari Majalah Bobo sembari melakukan tanya-jawab sehingga saya tidak menjadi pendengar yang pasif. Atau, saat Mamah menceritakan ada bebek yang bisa bicara bernama Tongki dari sisipan Buncil Majalah Ayah Bunda. Itu tentang Mamah. Nah, kalau Papah tugasnya memboyong anak-anaknya ke Book Fair di Senayan. Tiap datang ke Book Fair, Papah memborong buku ensiklopedia anak-anak dan buku komik untuk saya. Eh, Papah juga mborong sik, kesukaannya membaca buku tentang politik, filsafat dan agama. Pokoknya, tiap kali pulang dari Book Fair pasti bahagia.

Read more

Iklan

Mempersiapkan Pernikahan Ala Generasi Millenial

millenial

“Ini Kak buat souvenir nikahnya nanti,” kata Reza, adik saya yang sebentar lagi akan menikah dengan pujaan hatinya. Kening saya mengernyit melihat benda dengan lubang berdiameter lebar yang dipegang Reza. “Ini sedotan dari bambu, Kak. Bisa dipakai berulang kali,”

Tak hanya itu, ia juga memperlihatkan beberapa amplop coklat kecil berisi bibit tanaman. Ada bibit kangkung, bibit bayam merah dan bibit pokchoy. Saya berdecak kagum. “Keren banget idenya, Za. Belinya dimana ?” tanya saya.

Read more

Resolusi 2018 : (Yakin) Mau Nambah Anak ?

collab_kelima

“Udah, bikin aja dulu, nanti rezeki juga datang mengikuti. Kan banyak anak, banyak rezeki,” cetus tetangga, suatu hari. Saya tersenyum sembari mengucap ‘iya nanti’. Bukan sekali dua kali, saya mendapat saran supaya segera menambah anak. Alasannya beragam : ada yang bilang nanti kasian Mada enggak punya teman, ada yang bilang nambah anak dulu biar rezeki berlimpah, ada juga yang bilang tar keburu ketuaan, endebrah endebreh. Saya sih iya iya aja, santai.

Saya teringat pada nasihat Titiek Puspa pada sebuah tayangan reality show di televisi. Jadi, ada tukang becak punya 8 anak dan untuk menghidupi anak-anaknya, si tukang becak harus berhutang ke banyak orang.

Read more

Ini Lho 3 Pilar Penting Untuk Mewujudkan Rumahku Surgaku

rumahku

Dia selalu mengawali hari pagi-pagi sekali. Dia akan bangun, membaca buku, berolahraga ringan jika sempat, menyapu lantai, mandi pagi, membuat segelas kopi atau teh, lalu mulai bekerja. Dia tidak pernah meminta saya membuatkannya kopi karena dia menikmati proses membuat kopi dan ingin melakukannya sendiri. Mungkin dia menganggap ini hal sepele, namun bagi saya ini adalah bentuk kebahagiaan sederhana.

Penggalan paragraf dari tulisan teman SMP saya di blog-nya itu membuat saya tersenyum menjelang makan siang. Lalu, saya melanjutkan pada paragraf berikutnya :

Read more

Mencintai Diri Sendiri, YAY or NAY ?

collab

“Sebutkan apa yang Anda suka dari diri Anda dan apa yang Anda tidak suka ?” Saat saya memasuki dunia kerja, ada pertanyaan khas yang sering diajukan tiap kali interview, salah satunya pertanyaan di awal pembuka postingan ini. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu cukup mudah dijawab. Bagi sebagian yang lain, butuh 10 menit untuk menjawab bahkan terkadang zonk. Dari jawaban yang diberikan, diam-diam Si Penanya sedang menggali informasi tentang diri Anda.

Saat saya baru pertama kali interview, ini jawaban untuk pertanyaan di atas :

“Saya suka diri saya yang supel, ceria, bersahabat, penyabar dan mau belajar”

Terdengar narsis ya ? LOL. Maklum masih kinyis-kinyis. Jawaban saya membuat Si  Penanya mesem-mesem. Selanjutnya ia mengajukan pertanyaan lain mengenai diri saya. Embuh, dia mikir apa. Alhamdulillah sih, interview-nya lolos.

Usia makin nambah, lalu berpindah tempat kerja, kembali mendapat pertanyaan yang sama. Jawabannya sedikit berbeda : “Saya menyukai diri saya yang supel, senang bekerja team work tapi enggak khawatir bekerja sendirian blablabla,” Dan, alhamdulillah selalu lolos interview juga.

Dulu saya enggak paham konsep mencintai diri sendiri. Yang saya tahu orang seperti itu pasti egois, karena hanya peduli pada dirinya sendiri. Seiring waktu berjalan, saya memahami mengapa seorang perempuan penting untuk mencintai dirinya sendiri dalam kapasitas sewajarnya. Saat bisa melakukan hal itu, perempuan akan belajar mengenali kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Dari sikap mencintai secara otomatis akan timbul keinginan untuk menghargai diri sendiri. Seperti yang tertulis pada hadist berikut ini :

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.”

Mencintai diri sendiri berbeda halnya dengan mengagumi diri sendiri (ujub). Pernah dong pastinya dalam hidup Anda ada satu atau dua orang yang butuh (banget) dipuji. Bagi saya ini nih tipe orang yang malesin banget. Segala cara dilakuin demi mendapat pujian. Menurut Imam Musa Al Kazim terdapat beberapa tingkatan ujub. Salah satunya ketika perbuatan buruk dianggap baik oleh dirinya sendiri; ia menilai perbuatan-perbuatan tersebut sebagai perbuatan baik dan mencintai dirinya sendiri, dengan membayangkan dirinya sendiri sedang melakukan perbuatan mulia (republika online).

Sikap ujub sangat dibenci Rasulullah : “Apakah akan Kami beritahu padamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (QS [18]: 103-104)

Naudzubillahimindzalik …

Di awal usia kepala 3, begini cara saya dalam mencintai diri sendiri secara positif :

  1. Be your self
    Dari jamannya SMP, i love to be different, maklum saya orangnya bosenan. Saat teman-teman cewek saya tergila-gila sama Shane Westlife, saya ngarep banget kapan rapper Eminem bakal konser di Indonesia. Sikap gak suka ikut-ikutan ini terbawa sampe sekarang.Manfaat menjadi diri sendiri adalah enggak gampang disetir orang. Pede (secukupnya) saat melangkah kemanapun.
  2. Bergaul dengan orang-orang positif
    Saya tumbuh di lingkungan keluarga yang positif. Saya dan 5 adik-adik terbiasa saling support dan berbagi satu sama lain. Kami berenam sesekali ribut kecil tapi ya akur dan enggak pernah neko-neko. Sikap ini kebawa keluar rumah bahkan saat saya menikah dengan Pak Gondrong. Urusan bergaul saya enggak pilih-pilih, tapi yang jelas menjaga jarak dengan orang-orang yang aura negatifnya tinggi.
  3. Pandai bersyukur
    “Elo itu susah banget sirik ya. Failed gue bikin elo sirik,” celutuk seorang teman.Sikap susah sirik sama kehidupan orang itu awet nempel plek di diri saya and I love it. Awal-awal saya pindah ke tempat tinggal yang sekarang, para tetangga saya terdiri dari mamah muda usia 20an. Duh, tiap hari ada aja saingan enggak penting. Mulai dari banyak-banyakan perhiasan emas, siapa yang paling sering jalan-jalan kemana, siapa yang bisa borong minyak goreng diskonan endebrah endebreh. Persaingan receh tapi melelahkan. Kebayang kan tiap buka pintu trus nongkrong sesama tetangga yang dibahas urusan itu lagi itu lagi.Koentji menjadi perempuan susah sirik adalah banyak-banyak bersyukur untuk setiap hal yang ada dalam hidup. Klasik banget yak. LOL. Tapi, itu beneran lho.
  4. Miliki hobi sesuai minat
    Setelah saya menjadi blogger profesional alias yang monetize blog, saya jadi semakin sadar potensi apa yang kudu dikembangin ke depan. Being a blogger pro pun bikin saya happy, karena saya ketemu banyak teman bahkan bisa jalan-jalan hingga ke Semarang.
  5. Luangkan waktu buat me time
    Dalam seminggu, saya wajib me time. Bekerja di rumah dan harus bisa manage waktu plus fisik antara pekerjaan dan urusan domestik blablaba teteup butuh yang namanya me time.Meluangkan waktu buat me time bisa me-refresh pikiran dan badan. Hengfon aja kudu dicharge, masa aku enggak boleh me time ? *ehh.

Nah, gimana dengan Anda sudahkah mencintai diri sendiri ?

Tulisan collaboration blogging ini merupakan trigger ke tiga dari kelompok Rina Soemarno dengan tema 5 things I Love About Me. Ada Mak Kanianingsih dengan Love Our Self, Mak Nurul, Mak Hida, Mak Yurma dan Mak Ike.

ttd-marso

Perdana, 3 Hari Meninggalkan Batita Untuk Tugas Luar Kota

batita

Tahun ini saya men-challenge diri saya untuk bisa pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Yess, pergi keluar kota. Syukur-syukur masih sekitaran Pulau Jawa. Kalau bisa pergi keluar Pulau Jawa, why not ? Apalagi kalau bepergiannya bareng keluarga, lebih asyik pastinya. Ndilalah, kesempatan emas yang datang pertama kali adalah saya pergi keluar kota tanpa keluarga. Iya, 8 jam lagi dari sekarang saya harus meninggalkan Mada untuk tugas luar kota. Saya pergi bersama rombongan blogger kesehatan menuju Semarang. Kota yang sama sekali belum pernah saya kunjungi seumur hidup saya.

Pengalaman saya dalam “berpisah” dengan Mada paling lama itu ya setengah hari, saat saya mengikuti liputan acara blogger di suatu tempat. Mada terlatih mandiri sedari dia belum bisa ngomong. Katanya, bayi ASI itu kan susah lepas dari Ibunya lantaran bau tangan. Alhamdulillah, Mada bukan tipe anak yang bakal gugulingan saat saya tinggal pergi dadah-dadahan dari rumah Mamah. Sesekali iya, seringnya Mada sangat kooperatif.

Awal-awal saya baru pertama kali mengikuti acara blogger, untuk event weekdays, saya menitipkan Mada di mertua. Sementara, untuk event weekend, saya lebih memilih menitipkan Mada di rumah Mamah. 5 adik saya siap berjaga bergantian menemani Mada. Terlihat mudah dan enak, tapi rupanya ada banyak perbedaan pola asuh antara saya dan mertua. Perbedaan yang pada akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengurangi menitipkan Mada di mertua kecuali urgent. Apalagi 3 bulan ini, Mamah sedang dalam penyembuhan. Jadi, saya lebih banyak di rumah daripada mengikuti berbagai acara blogger.

Tapi, namanya pergi lebih dari 24 jam tentu ada drama-dramanya sebelum berangkat. Contohnya, pagi ini saya bangun pagi lebih awal. Setelah sholat Subuh, saya kembali lagi ke tempat tidur. Saya berbaring di sebelah Mada. Memeluknya lama dan menciumi wajahnya hingga Mada melek. Ia tersenyum dan memeluk balik. Duh, tiba-tiba kepingin nangis. Anak laki-laki di sebelah saya tumbuh semakin besar. Di usianya yang tiga tahun, untuk pertama kalinya kami berdua akan berpisah selama 3 hari. Saya akan mengikuti Kampanye GERMAS (Gerakan Masyarakat Sehat) bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di Semarang. Sesuai kesepakatan dengan Pak Gondrong, selama 3 hari Mada menginap di rumah Nenek Karteng.

Bagi orang dewasa, 3 hari adalah waktu yang sangat sebentar untuk mengerjakan pekerjaan. Bagi anak-anak terutama batita seperti Mada, 3 hari adalah waktu yang cukup lama untuk menyerap apapun yang ada di sekelilingnya. Apa yang dia dengar secara sengaja atau selintas, akan terekam hingga berminggu-minggu bahkan mungkin satu bulan ke depan atau bahkan setahun ke depan. Apa yang dia lihat, akan dia copy paste ke dalam perilakunya hingga setelah saya kembali dari Semarang.

Itulah kekhawatiran terbesar saya hari ini. Padahal, kemarin saya bisa setrong semacam mamak-mamak yang terbiasa PP naik pesawat buat dinas luar kota rutin. Duh, gusti.

Selama saya tugas luar kota, Mada tetap mengikuti jadwal kegiatan PAUD di hari Senin dan Selasa. Daripada saya cemas berlarut-larut, saya pun menyusun jadwal Mada selama saya tidak di dekatnya.

IMG_20170827_080311

Untuk pakaian selama 2 hari PAUD sudah disiapkan :

Senin

  1. Seragam orange hijau
  2. Baju main setelah pulang PAUD
  3. Baju main setelah bangun tidur siang
  4. Piyama

Selasa

  1. Seragam olahraga
  2. Baju main setelah pulang PAUD
  3. Baju main setelah bangun tidur siang
  4. Piyama

Bekal PAUD Senin

Nugget 5 potong + kentang goreng + susu coklat

Bekal PAUD Selasa

Puding + sereal koko crunch + yoghurt

Di rumah Nenek, banyak anak-anak seumuran Mada dan seringnya Mada main di luar diawasi Nenek. Untuk alternatif kegiatan Mada di dalam rumah saat malam hari atau pas Nenek lagi pengin istirahat, saya juga sengaja membeli 2 buku gambar + buku aktivitas heavy wheels seperti traktor, truk mollen dan sejenisnya. Akhir-akhir ini Mada lagi rajin banget nulis-nulis atau corat coret buku gambar.

Hmmm apalagi ya ? Oh iya, saya sempat nanya ke Mak Yayat sebagai PIC dari Blogger Crony soal urusan packing. Menurut Mak Yayat yang nge-heits dipanggil Nyonyah Vale ini sebaiknya membawa 1 koper/travel bag aja dan 1 tas ransel. Jadi, ndak usah gembol-gembol rem to the pong.

Oh ya, pergi ke Semarang ini bukan hanya mimpi yang terwujud, tetapi juga membuat Pak Gondrong serta keluarganya sadar bahwa kegiatan yang selama ini saya lakukan (blogging) adalah kegiatan yang penting. Bahwa, inilah cara saya mendobrak kemustahilan pemikiran orang-orang yang acapkali menyepelekan ketika perempuan menjadi Ibu Rumah Tangga itu berarti tidak bisa apa-apa dan hanya sanggup menadahkan tangan tiap akhir bulan.

Tulisan mengenai “Mendobrak Kemustahilan” ini merupakan tema dari Grup Collaborating Blogging Rina Soemarno yang terdiri dari Mak Nurul Rahmawati dengan postingannya di website Emak Blogger, Mak Kania Ningsih dengan ceritanya Jalan-jalan Ke Bali ? Mustahil !, Mak Yurmawita dan tulisannya Merajut Mimpi, Mak Hida Hiquds dan Mak Ike Yuliastuti.

ttd-marso

 

Karena Bahagia Ibu Ada Di Senyummu, Nak

aloclairplussariawan

Setelah menjadi seorang Ibu, kebahagiaan saya bertambah. Sembilan bulan mengandung Arizqio Mada Leksono (33 bulan), lalu melahirkan normal dengan berat 4,4 kilo dan membesarkan Mada hingga sekarang. Satu hal yang selalu membuat saya bahagia dan kangen pada Mada adalah senyumannya.

Setengah hari enggak ketemu Mada saat saya lagi tugas luar rumah, wah bisa galau hati saya.

“Ibu kangen Mada ?” tanyanya saat saya menjemput Mada di rumah Mamah lalu langsung memeluknya erat.

“Iya kangen dong,”

“Yauda Mada mau senyum,” celutuknya bikin saya enyesss, enggak kepingin lepas pelukan saya.

Namanya batita, ada saja ulahnya yang bikin saya geleng-geleng kepala tetapi ya itu tadi bikin kangen. Makanya saya selalu berusaha mencukupi kebutuhan gizi Mada agar ia selalu sehat dan memenuhi kebutuhan yang lain-lain.

Selama ini ya tiap Mada sakit enggak jauh dari demam atau batuk pilek. Yeah, Mamah saya bilang anak kecil sampai usia 5 tahun itu ada saja sakitnya. Jadi enggak perlu berlebihan paniknya. Nah, suatu siang saya terkaget-kaget melihat Mada berulangkali melepehkan makanannya.

“Kok nasinya dilepehin ?”

Mada hanya merengut memegangi pipinya. Lalu, saya memintanya membuka mulut lebar-lebar. Ouch, ada bintik putih di gusinya dan gusi atas terlihat lebih merah dari biasanya. Ternyata anak batita bisa sariawan juga ya. Maklum, baru pertama kali.

Saya pun bertanya pada Mbah Gugel, obat sariawan apa yang cocok buat batita ? Alhamdulillah, ada jawabannya. Yaitu, Aloclair Plus. Saya berdua Mada segera ke apotik terdekat.

aloclairplusgel

IMG_20170416_164836

“Berapa harga Aloclair Plus, Mbak ?” tanya saya pada apoteker.

“Ibu mau beli yang mana ? Ada Aloclair Plus Gel harganya Rp 91.000,  Aloclair Plus Spray Rp 100.500 dan Aloclair Plus Oral Rinse Rp 97.500”

Saya pun memilih Aloclair Plus Gel. Di rumah, saya langsung mengoleskan Aloclair Plus Gel pada gusi Mada yang sariawan. Lima menit kemudian, setelah diolesin Mada malah kesenangan kayak habis makan permen.

“Enak Bu, mau lagi,”

“Nanti lagi ya Mas, enggak boleh banyak-banyak” kata saya. Menurut informasi apoteker, Aloclair Plus digunakan 3 sampai 4 kali dalam sehari. Setelah diolesin, sebaiknya tidak makan atau minum selama 1 jam. Demi Mada yang gampang haus itu enggak minta minum setelah gusinya diolesin Aloclair Plus, saya mengajak Mada bobok siang.

Mengapa harus pilih Aloclair Plus Gel untuk mengobati sariawan pada anak ?

  1. Proses penyembuhan cepat dengan mengikuti aturan yang ada. Seperti tidak makan dan minum selama 1 jam setlah diolesin Aloclair Plus Gel.
  2. Aman untuk bayi dan anak-anak, jadi orang tua enggak perlu khawatir menggunakan Aloclair Plus.
  3. Kemasannya ringan dan mudah dimasukkan ke dalam tas, buat persediaan obat saat sariawan di luar rumah.
  4. Bebas alkohol, jadi Insya Allah halal.
  5. Ada ekstrak aloe vera sehingga terasa adem saat dioleskan ke bagian yang sariawan.

Untuk mengetahui informasi lanjut seputar Aloclair Plus, dapat mengunjungi websitenya di http://www.aloclair.id atau facebook https://www.facebook.com/AloclairID/.

Anak Anda sariawan ? Oles aja pakai Aloclair Plus. Karena setiap Ibu #CantSmileWithoutYou nak.

ttd-marso