Celoteh Bojo

Karena Bahagia Ibu Ada Di Senyummu, Nak

aloclairplussariawan

Setelah menjadi seorang Ibu, kebahagiaan saya bertambah. Sembilan bulan mengandung Arizqio Mada Leksono (33 bulan), lalu melahirkan normal dengan berat 4,4 kilo dan membesarkan Mada hingga sekarang. Satu hal yang selalu membuat saya bahagia dan kangen pada Mada adalah senyumannya.

Setengah hari enggak ketemu Mada saat saya lagi tugas luar rumah, wah bisa galau hati saya.

“Ibu kangen Mada ?” tanyanya saat saya menjemput Mada di rumah Mamah lalu langsung memeluknya erat.

“Iya kangen dong,”

“Yauda Mada mau senyum,” celutuknya bikin saya enyesss, enggak kepingin lepas pelukan saya.

Namanya batita, ada saja ulahnya yang bikin saya geleng-geleng kepala tetapi ya itu tadi bikin kangen. Makanya saya selalu berusaha mencukupi kebutuhan gizi Mada agar ia selalu sehat dan memenuhi kebutuhan yang lain-lain.

Selama ini ya tiap Mada sakit enggak jauh dari demam atau batuk pilek. Yeah, Mamah saya bilang anak kecil sampai usia 5 tahun itu ada saja sakitnya. Jadi enggak perlu berlebihan paniknya. Nah, suatu siang saya terkaget-kaget melihat Mada berulangkali melepehkan makanannya.

“Kok nasinya dilepehin ?”

Mada hanya merengut memegangi pipinya. Lalu, saya memintanya membuka mulut lebar-lebar. Ouch, ada bintik putih di gusinya dan gusi atas terlihat lebih merah dari biasanya. Ternyata anak batita bisa sariawan juga ya. Maklum, baru pertama kali.

Saya pun bertanya pada Mbah Gugel, obat sariawan apa yang cocok buat batita ? Alhamdulillah, ada jawabannya. Yaitu, Aloclair Plus. Saya berdua Mada segera ke apotik terdekat.

aloclairplusgel

IMG_20170416_164836

“Berapa harga Aloclair Plus, Mbak ?” tanya saya pada apoteker.

“Ibu mau beli yang mana ? Ada Aloclair Plus Gel harganya Rp 91.000,  Aloclair Plus Spray Rp 100.500 dan Aloclair Plus Oral Rinse Rp 97.500”

Saya pun memilih Aloclair Plus Gel. Di rumah, saya langsung mengoleskan Aloclair Plus Gel pada gusi Mada yang sariawan. Lima menit kemudian, setelah diolesin Mada malah kesenangan kayak habis makan permen.

“Enak Bu, mau lagi,”

“Nanti lagi ya Mas, enggak boleh banyak-banyak” kata saya. Menurut informasi apoteker, Aloclair Plus digunakan 3 sampai 4 kali dalam sehari. Setelah diolesin, sebaiknya tidak makan atau minum selama 1 jam. Demi Mada yang gampang haus itu enggak minta minum setelah gusinya diolesin Aloclair Plus, saya mengajak Mada bobok siang.

Mengapa harus pilih Aloclair Plus Gel untuk mengobati sariawan pada anak ?

  1. Proses penyembuhan cepat dengan mengikuti aturan yang ada. Seperti tidak makan dan minum selama 1 jam setlah diolesin Aloclair Plus Gel.
  2. Aman untuk bayi dan anak-anak, jadi orang tua enggak perlu khawatir menggunakan Aloclair Plus.
  3. Kemasannya ringan dan mudah dimasukkan ke dalam tas, buat persediaan obat saat sariawan di luar rumah.
  4. Bebas alkohol, jadi Insya Allah halal.
  5. Ada ekstrak aloe vera sehingga terasa adem saat dioleskan ke bagian yang sariawan.

Untuk mengetahui informasi lanjut seputar Aloclair Plus, dapat mengunjungi websitenya di http://www.aloclair.id atau facebook https://www.facebook.com/AloclairID/.

Anak Anda sariawan ? Oles aja pakai Aloclair Plus. Karena setiap Ibu #CantSmileWithoutYou nak.

ttd-marso

Ketika (Harus) Menua Bukan Karena Faktor Usia

collabbloggg

“Si Teteh ini istri kedua atau bagaimana ?” Pertanyaan itu ditujukan untuk saya -dari seorang tetangga-. Waktu itu saya baru satu bulan menikah. Menjalani hari-hari saya sebagai pengantin baru dalam kondisi hidup mandiri tanpa nebeng di mertua apalagi di orangtua sendiri. Pertanyaan Ibu Tetangga itu saya respon dengan tersenyum. Bingung juga mau jawab gimana. Mosok saya kudu keluarin buku nikah dll. Oh, please. Saya mau krai.

Saya bukan tipe perempuan baper. Pertanyaan Ibu Tetangga itu justru bikin saya langsung mikir. Darimana si Ibu Tetangga berpikiran saya adalah Istri Kedua ? Sependek pengetahuan saya, (harusnya) Istri Kedua itu mukanya dempulan tebel + lippen medok + dsb. Sementara saya, penampilan sehari-hari ya tomboy pakai t-shirt + kemeja flannel + jeans + sepatu kanvas. Oh ya, Istri Kedua versi saya itu dalam artian kamu merebut suami orang dan maksa dinikahin jadi Istri sah. Bukan kamu menikah lagi karena pasangan barumu itu ditinggal pergi/meninggal Istri pertamanya. Plis, muka gue kagak ada muka perebut suami orang.

Bulan berikutnya, sekali lagi si tetangga bertanya lanjutan dari pertanyaan pertama. “Dulu kirain Mbak Ayya ini istri kedua. Soalnya Si Mas-nya kayak masih mudaan gitu. Di rumahnya enggak ada foto pernikahan juga ya.”

Saya menjawab pendek, sambil pasang poker face tapi hati gerundel “Oh, suamiku lebih tua dua minggu dariku. Dia bungsu, makanya kelihatan lebih muda ya ?”

“Iya, udah gitu selalu pakai celana pendek selutut. Di jemurannya juga enggak ada celana panjang.” kata Ibu Tetangga, enteng.

Duh, perhatian banget Ibu Tetanggaku, urusan jemuran orang sampai diurusin. Saya manggut-manggut tersenyum. Jadi, yang bikin saya terlihat seperti Istri Kedua gara-gara penampilan Pak Gondrong yang sok muda. Dan, gara-gara di ruang depan enggak ada foto pernikahan saya ?!

Saya pun berbenah diri. Saya pindahkan foto pernikahan yang ada di kamar ke ruang depan. Tiap keluar rumah, selalu rapi lengkap dengan polesan bedak + lippen nude + mata yang diberi eyeliner bold level sekian. Jam 6 pagi jadwal saya belanja sayur di dekat rumah. And I am the only one emak-emak yang penampilannya rapi wangi sementara emak-emak yang lain masih dasteran gendong anak. Awalnya saya merubah penampilan supaya muka saya enggak terlihat boros, lama-lama saya pun menikmati perubahan tersebut. Soalnya, saya berasa cantik di tengah buibu yang belanja sayur masih dasteran begitu. LOL

Perubahan penampilan saya enggak juga merubah penilaian orang tentang muka saya. Paling menyebalkan ketika saya halan-halan sama Pak Gondrong. Orang-orang bakal memanggil Pak Gondrong dengan sebutan Abang. Dan, saya kebagian panggilan sebagai Ibu. Jadi, agak lucu kalau lagi mampir ke warung kaki lima, Si Pemilik Warung memanggil kami dengan “Abang dan Ibu”. Enggak adil. Soalnya, kalau saya lagi jalan tanpa blio jarang banget ya saya dipanggil Ibu. Pasti ‘mbak’, ‘teteh’, ‘kakak’ atau pernah juga ‘adek’. Kalaupun dipanggil Bunda atau Ibu pasti karena saya lagi rempong sama si Mada.

Duh, hokeh muka saya boros. Maklum juga, saya anak pertama dari 6 bersaudara. Saat saya kasih alasan itu ke seorang teman, dia menyahut “Temen gue adeknya lebih banyak dari elo. Tapi mukanya awet muda” Yaiya, dia nikahnya sama pedagang berlian dan orangtuanya tajir melipir juga. Yekan, dese mau perawatan muka dimana juga bisa kalau seperti itu. Lha, saya boro-boro mau perawatan di salon apalah apalah. Tiap ada transferan masuk dari orderan atau honor menulis, yaiya niat dari rumah mau ke salon, di tengah jalan malah belok ke toko baju anak. Trus kalau aku mukanya boros, lha aku kudu piye ? *nungguendorseanskincare

Setelah ada Mada, saya enggak terlalu baper sama muka saya yang boros ini. Bersyukur saja sama gusti Allah. Di luar sana, ada perempuan-perempuan yang mukanya cantik dan awet muda tetapi hatinya tidak demikian *ehh. Ada perempuan-perempuan yang mukanya hancur gara-gara disiram air keras sama suaminya. Banyak yah kalau mau dijabarin. Mama saya bilang, ketika kita dikasih sesuatu sama orang harus dirawat. Begitu juga, pemberian dari gusti Allah. Dikasih anggota tubuh komplit termasuk muka ya dirawat sebaik-baiknya. Khusus muka, bisa dengan cara  maskeran + banyak minum air putih dan makan sayuran plus buah-buahan. Kalau ada rezeki lebih ya nyalon.

Muka bakat boros, harusnya sih enggak suka begadang yah.  Tapi gimana dong, jatah me time saya pan cuma di atas jam 12 malam ? Seperti saat saya posting tulisan ini. Nulis dari jam 10 malam, selesai jam 12 dan posting setengah satu pagi. Ah, yang penting mah banyak bersyukur, berdoa dan berkarya wess.

Tulisan bertema Usia ini merupakan bagian dari Collaborative Blogging bersama Grup Whatsapp. Baca juga tulisan tentang Usia dari Mak Virly : Saya Kepingin Jadi Vampir Saja, Mak Diah : Menua Dengan Senang dan Tenang dan Mak Ade : What’s On 23rd Years Old .

xoxo,

Maria Soraya

 

 

 

 

8 Pertanyaan Klasik Yang Bikin Ibu Bekerja Di Rumah Jadi Baper

 

Hispanic mother with baby working in home office

Gambar sebelum diedit dari sini

Hubungan saya dengan tetangga di rumah sangat menyenangkan. Seperti yang saya tulis dalam 7 Resep Mudah Istri #BahagiadiRumah. Sampai saat ini saya masih jadi ‘kontraktor’ alias ngontrak. Saya sewaktu lajang pernah penasaran sama kehidupan orang-orang kontrakan. Gegara waktu itu suka bikin kue dan nitipin kue ke warung di kampung belakang komplek.

Baca : Choux Pastry, Tulisanku Yang Ke 3 di Majalah Femina.

Penasaran itu saya uji setelah menikah. Saat baru menikah, saya kepingin tinggal di kontrakan. Gimana sih rasanya ? Setelah 4 tahun dijalani dengan ngontrak di satu tempat tanpa nomaden, rasanya mirip permen nano-nano.

Bertetangga di dalam komplek dengan bertetangga di kontrakan tentu ada perbedaannya. Beda itu menyangkut pola pikir dan kebiasaan. Dan, eh. Kalau di kontrakan, ada semacam jadwal nongkrong buat buibu yang rumahan. Kalau dijabanin mah sehari bisa 5x pindah tongkrongan. Di rumah si A,B,C sampai Z. Saya mah cuma sanggup sehari 2 kali aja nongkrong begitu, itupun enggak setiap hari.

Di luar tetangga, ada juga kan ya Ibu-ibu yang sering ketemu di tukang sayur seberang jalan atau saat saya papasan sama siapa gitu di sekitaran rumah.  Kadang cuma senyam-senyum sambil nyapa aja, seringnya sih pada ngajak ngobrol. Berikut ini pertanyaan yang sering mampir di kuping saya setelah menjadi Ibu Bekerja Di Rumah.

1. Ibu di dalam mulu, betah banget

Tetangga saya tahu saya sering nerima orderan. Tetangga saya juga tahu saya bekerja di rumah. Tapi namanya perempuan. Iya, perempuan itu kan suka kepo. Pertanyaan ini biasanya muncul kalau seharian saya enggak keluar. Benar-benar di dalam rumah. Begitu buka pintu, jalan ke warung, papasan sama tetangga, langsung ditodong pertanyaan itu.

Pertanyaan seperti itu sebenarnya biasa banget, tapi kadang suka bikin saya baper kalau senin selasa rabu alias setiap hari ditanya begitu. Saya suka think positive sih, ‘ah dia emang enggak punya stok pertanyaan lain,’. Kalau dapat pertanyaan pertama, biasanya saya ledekin balik kayak ‘Beuh, jeung kentus ini elapin kaca mulu. Betah amat’. Reaksi yang diledekin palingan tersipu-sipu.

Sebagai Ibu bekerja di rumah, waktu itu sama pentingnya kayak Ibu-ibu yang bekerja kantoran. Penting pakek banget. Dua puluh empat jam dibagi untuk anak, suami, diri sendiri dan hal lain. Keluarga sendiri, mertua dan tetangga masuk kategori ‘hal lain’.

Kadang, saya suka gemas ya lihat tetangga dalam sehari bisa 5 kali pindah tongkrongan. Pagi sebelum jam 9 di rumah si Ibu A, pagi setelah jam 10 di rumah B, begitu dan seterusnya. Tapi namanya sudah kebiasaan, ya susah dirubah.

2.Ibu jalan-jalan terusss, enak banget

Pertanyaan kedua muncul saat dalam seminggu tetangga lebih sering melihat saya di pagi hari mengunci rumah trus pergi blassss dan pulang setelah adzan ashar atau malah enggak pulang. Kadang, pertanyaan ini bisa muncul juga pas tanggal tua buat yang suaminya orang kantoran. Namanya perempuan, tanggal tua, lihat tetangga sebelah lebih sering ngunci pintu rumah sambil nenteng tote bag, kan kepingin juga (kali).

Saya sendiri suka kesian sama yang nanya saya begitu. Dalam hati, saya bakalan langsung komentar ‘Si Ibu ini kurang piknik’. Seminggu sekali, saya suka nawarin Buibu tetangga buat jalan kemana gitu. Entah main sama anak di playground yang ada di mall, berenang atau nyobain taman kota baru. Biar ikut ngerasain yah para tetangga halan-halan di luar. Eh, tapi bukan saya yang traktir. BS dong. Alias Bayar sorangan-sorangan.

3. Oh, bekerja juga ya, kok kantornya di rumah ?

Pertanyaan ini bukan dari tetangga, biasanya kalau baru ketemu orang baru yang kurang gahul. Bener kan kurang gahul ? Haregene udah banyak propesi yang dilakuin di rumah. Coba aja tanya sama si Mbah gahul google.

Pernah juga sih ditanya begitu sama semacam Kapster salon bukan langganan. Kalau mood saya bagus, saya jelasin blahblahblah. Kalau saya lagi males ngobrol, yaudah kasih cengiran ajah.

4. Enak ya bekerja di rumah, jadwal tidurnya bisa banyak

Sama kayak poin 3, yang nanya ini pasti Mamah-mamah muda yang baru punya bayi dan dia kurang jadwal tidur trus kenalan sama saya di playground atau dimanalah. Eh, pernah dikomentarin begini sama tetangga saya yang buibu kantoran.Dan, ada embel-embelnya ‘Duh, enak juga ya bisa seharian sama anak’. Sebal ? Enggak. Soalnya, mereka nanya gimana caranya bisa bekerja di rumah. Hihi.

Soal jadwal tidur banyak ? Duh, kalau saya lagi sakit sih iya. Tidur bisa normal 8 jam, bukan lebih dari itu. Kalau saya lagi sehat paripurna, setiap hari saya tidur jam 2 pagi dan bangun jam 5. Setelah itu ya melek aja beraktivitas. Dan, kuat tanpa harus nenggak bergelas-gelas kopi. Kecuali, kalau saya lagi masuk angin. Kudu ngopi banget setelah bangun tidur pagi.

5. Ibu mah jamannya masih punya anak masih kecil, anteng aja. Enggak pengin keluar-keluar gitu, kayak kamu yang kerjanya keluyuran. Kamu enggak bisa ya anteng di rumah ?

Pertanyaan ini dari Ibu Mertua, Ibu Rumah Tangga sejati. Sehari-hari mengurus RSA alias Rumah, Suami dan Anak. Tahun pertama sampai tahun ketiga, tiap Ibu Mertua nanya begitu, saya cuma diam dan kasih senyum. Karena katanya diam itu emas. Setelah dilakuin, kok berasa enggak jadi emas. Malah berasa jadi batu bacan yang harganya turun drastis. Saya pingin nyoba jadi berlian. Karena katanya bicara itu berlian.

Beberapa hari lalu, saya dikomentarin seperti itu lagi, dan untuk pertama kalinya saya menyahut :

“Saya keluyuran kan buat ngambil kerjaan. Pakai uang sendiri juga. Bukan ngehabisin uang suami.”

Kirain setelah saya menyahut begitu, Ibu Mertua langsung mikir ‘oh begitu ya’ dan diam. Eh malah jadi panjang.

“Oh, trus kamu keluyuran gitu anaknya dibawa ya ?” Nada pertanyaan mulai enggak enak ditambah raut muka agak nyinyir.

“Iya” jawab saya singkat, mulai baper.

“Ih, kasian banget anakmu. Pantesan suka sakit,”

Dan, saya yang lagi baper, menyahut lagi. “Yah, kalau anak dikurung di dalam rumah itu enggak sehat, Nek. Enggak bisa pintar. Enggak bisa berkembang.”

Lalu, Ibu Mertua kembali mengulang kalimatnya. “Ah, Ibu mah enggak suka kemana-mana. Di rumah aja”. Saya diam. Malas menyahutin. Eh, tetangganya nimbrung “Saya juga waktu punya anak, di rumah aja”

Dan, kalau suatu hari Ibu Mertua nanya seperti itu lagi, saya pilih kasih senyum dan diam aja ah yak. Ailapyuh Nenek Mada.

6. Bekerja kok di rumah, kerja apaan tuh ?

Pertanyaan begini kudu pake strategi menjawabnya. Kalau yang nanya itu, suaminya orang kantoran level bawah, saya bisa dengan cepat menjawab “nulis-nulis Mas/Mbak”. Kalau level suaminya yang nanya itu lumayan tinggi, saya bakalan jawab “Blogger dan nerima order transkrip suara”. Kalau yang nanya itu, suaminya bekerja di sektor informal, jawabannya lebih disederhanakan karena cakupan informasi soal dunia luar agak kurang. Kayak begini :

“Saya nerima ketikan” atau “Saya nerima terjemahan bahasa”

Dan, tanggapannya akan seperti ini : “Oh, kayak yang ada di rental dekat kampus itu ya ? Bagus deh.”

Benar, saya pernah nerima order pengetikan dan terjemahan bahasa. Tapi itu 3 tahun yang lalu. Sekarang saya mengetik tulisan artikel buat dikirim ke media atau mengetik blogging.

7. Sebenarnya kamu ini Ibu Rumah Tangga atau Ibu Bekerja ?

Saya Ibu rumah tangga yang punya pekerjaan. Gitu aja saya jawabnya. Enggak usah pakek penjelasan sepanjang tol cipali. Kalau yang nanya kepo, bakal ada pertanyaan selanjutnya sih. Yah jawab aja selagi bisa.

8. Bela-belain bekerja di rumah, emang dapat penghasilan berapa ?

Sebagai transkriptor, penghasilan saya cukup. Sebagai penulis, juga lumayan. Sebagai blogger, belum yang sampai tahap blogger berpenghasilan. Sekalinya nge-blog dan dapat penghasilan ya gara-gara menang blog competition Tabloid Nova *jujur.

Yeah, level bapernya saya sih belum yang sampai nangis gugulingan begitu. Atau jadi enggak mood dan malas ngapa-ngapain. Level baper saya masih beginner. Paling cuma tarik napas trus ngomong whooooosaaaaahhhh.

Gimana dengan dirimu, jeung ?

xoxo,

Maria Soraya

3 Pesan Ibu Untuk Mada

IMG-20150628-WA000

Beberapa menit lagi, usiamu bertambah, Nak.

Kamu masih sempat terbangun dan minta nenen. Tumben, malam ini Ibu menangis. No. Ibu bukan menangis sedih. Ibu menangis karena Ibu bahagia punya kamu dalam kehidupan Ibu. You are everything for my life.

Ibu bersyukur, semakin besar, kamu semakin mandiri. Enggak gegerungan tiap kali Ibu tinggal bekerja. Bahkan, akhir-akhir ini kamu lagi senang pakai sepatu sendiri. Dan, banyak kebisaan lainnya dari dirimu, yang bikin Ibu bahagia. Enggak pernah bosan, mandangin wajahmu saat kamu lagi nenen atau saat Ibu merasa kamu semakin pintar.

Nak, di hari lahirmu yang ke 2 ini …

Ibu tidak membuatkan birthday party atau birthday cake seperti yang para Ibu lain lakukan. Bukan karena Ibu tidak bisa. Ibu bisa karena Ibu pun bekerja. Tapi, Ibu sadar, kamu belum butuh pesta ulang tahun ataupun kue ultah. Kamu lebih butuh … ah, tunggu hadiah dari Ibu di minggu ini ya :*

Nak, kamu akan semakin tumbuh besar, ingat selalu 3 pesan Ibu ini :

  1. Jadilah lelaki yang memakmurkan masjid. Ibu udah banyak melihat contoh laki-laki yang malas ke masjid dengan sejuta alasan. Enggak suka jumatan. Enggak langsung bergegas saat adzan dzuhur berkumandang. Dan, sebagainya. Lelaki yang senang memakmurkan masjid, insya allah hidupnya berkah.
  2. Never harass or abuse woman. Enggak ada ceritanya, anak laki-laki Ibu itu bersikap kasar sama perempuan. Mau teriak-teriak kek atau memukul. Itu sikap cemen. Jangan bangga jadi laki-laki yang kasar.
  3. Jadikan cerdas dan santun sebagai karakter dirimu, nak. Bukan sekedar tempelan atau basa basi. Manusia yang berkarakter santun itu bakal jadi magnet dimanapun dia berada. Tanggung jawab Ibu dan Bapak untuk menjadikan kamu pribadi yang santun.

3 pesan singkat di atas, Ibu rasa cukup ya nak, untuk bekal dirimu menjadi pribadi yang tangguh di masa depan.

Selamat ulangtahun Mada sayang, selalu sehat + cerdas + santun

Sayang Ibu Bapak Nenek Akung Uwa Engki Eyangti dan Para Onti Oom + Mamang

I love you, Arizqio Mada Leksono

Maria Soraya

Merubah Tampilan Blog, Sebelum Jadi Blogger Profesional

blogging-for-business

Gambar diambil dari sini

Udah lama banget saya kepengin ganti tampilan blog. Tampilan blog lama saya termasuk aliran gothic-metal-kelam. Yang gelap-gelap gitu deh. Mungkin sesuai dengan hati saya di masa lalu *eh. Yah, pokoknya untuk tampilan yang baru itu harus clean dan enggak banyak warna.

Beda ya sama yang lama ini

header

blog lama saya yang gothic metal kelam ituh

Perubahan tampilan blog saya bukan tanpa alasan. Gara-gara saya hadir di acara Tabloid Nova : Ngopi Bareng Nova, saya jadi tercerahkan. Sekarang ini kegiatan blogging bukan sekedar curhat soal daily life atau sekedar cerita tanpa sesuatu. Blogging yang kekinian sudah menjadi kebutuhan. Gaya hidup. Bahkan, beberapa blogger ada yang beneran bekerja sehari-hari fulltime sebagai blogger profesional. Keren ya ? Hooh pake banget. Trus, darimana mereka dapat duit kan katanya fulltime blogger ? Macam-macam. Ada yang pakai google adsense, paid review atau rajin ikut lomba blog.

Baca juga : Ngopi Bareng Nova, Habis Gelap Terbitlah Terang

Setelah hadir di acara tersebut, saya langsung deh rajin buka grup KEB yang saya ikuti sejak lama. Duh, saya jadi malu. Ternyata sekarang blogger para emak-emak KEB ini sudah canggih bangeeeet ! Isi kontennya sebagian besar udah pada rapi. Gambarnya sudah poles sana-sini. Dan, kalau lagi ada lomba pada rajin bikin infografis di blognya.

Dan pada akhirnya, saya pun menambahkan satu list-to-do di daftar resolusi 2016, yaitu : menjadi blogger profesional. Untuk sementara saya masih pakai hosting gretongan di wordpress. Jadi, ya kalau mengetikkan nama blog saya masih ada embel-embelnya “.wordpress.com”. Soal tampilan gambar, saya pelan-pelan rubah. Yang tadinya tanpa sentuhan apa-apa. Begitu ada gambar ya langsung upload. Sejak Maret 2016, saya poles dulu di Photoshop. Baru deh upload. Tapi ya belum perfecto. Kadang huruf di gambarnya suka ketebalan, kadang ketipisan, padahal sudah diatur stroke-nya. Maklum, kalau saya mau ber-Photoshop itu kudu ke rumah Mertua dulu (sekalian titip Mada gitu). Saya belum install Photoshop di netbook. Jadi, kalau lagi edit gambar di netbook ya kudu pakek online photo editor.

Ah, pokokna mah para mom blogger sekarang keren-keren. Ada Mak Carolina Ratri. Trus blog para makmin KEB juga keren-keren.

Bismillah, saya lancar jaya sentosa menuju Blogger Profesional. Ucapkan, amiiiin.

xoxo,

Maria Soraya

Perbedaan Dalam Rumah Tangga

get

Gambar sebelum diedit dari sini

Katanya sih nih, supaya pernikahan itu awet langgeng sentosa lancar jaya sampai nenek kakek, perlu adanya perbedaan dalam sebuah rumah tangga. Perbedaan bikin hubungan jadi berwarna dan ceria. Benar gak sih ?

Beda latar belakang sosial

Ini sepele sih ya, but in real life sepele itu bisa jadi hal besar. Misalkan si mbakyu ini dari orok tumbuh di lingkungan middle society yang teratur macam komplek atau residence atau semacam itulah. Dan, si masnya ini tumbuh di lingkungan low-society, entah perkampungan atau tinggal di rumah kontrak petakan. Waktu masih pacaran sih enggak kerasa. Begitu sudah nikah, baru jreng-jreng-jreng langsung inget deh kata ortu ‘hayo Mama bilang nikahnya sama yang rumahnya ada 10 tingkat’.

Perbedaan paling mendasar itu bisa berupa urusan cuci-mencuci baju. Misalnya si mbakyu ini seumur-umur tiap kali nyuci baju itu pakai mesin cuci. Sementara si masnya ini sudah biasa melihat Ibunya nyuci baju pake sabun colek sambil jongkok di kamar mandi gosrek-gosrek. Nah, kalau si masnya ini tipe lelaki baik hati dan teramat sayang sama si mbakyu, enggak bakalan ada cerita si masnya ini ngamuk-ngamuk gegara celananya masih ada sisa noda atau apalah itu.

Ini sepele, tapi banyak kisah nyata seputar ini. Ceritanya orangtua si mbakyu ini juragan kontrakan alias punya banyak kontrakan. Si mbakyu ini jatuh cinta sama si bujang yang ngontrak di salah satu kontrakan bapaknya mbakyu. Mereka kawin lari karena enggak disetujui. Pernikahan enggak bertahan lama karena si mbakyu hidup merana bersama si masnya. Endingnya, si mbakyu kembali ke keluarga dan menikah lagi horeeee !

Beda agama

Agama Islam mewajibkan setiap perempuan muslim itu ya menikah dengan lelaki muslim. Tapi, kalau lelaki muslim boleh menikah dengan perempuan non muslim. Enggak adil ? Melanggar hak asasi ? Weits tunggu dulu. Fitrahnya lelaki itu kan jadi calon pemimpin dalam rumah tangga. Pemimpin bagi istrinya dan pemimpin untuk anak-anaknya. Mulai dari urusan a to z. Termasuk urusan ibadah.

Nah, kalau suaminya itu beda agama, trus siapa yang mimpin sholat di rumah ? kalau punya anak laki trus siapa yang ngajak sholat di masjid atau jadi teman jumatan bareng ? dan sebagainya.

Kalau sudah telanjur menikah beda agama, piye tho ? Dinikmatin aja perbedaan itu. Kalau perbedaan itu masih bisa disikapi, ya pertahankan. Kalau perbedaan itu lebih banyak mudharatnya *alaalamamahdedeh, dipikirkan lagi ya gimana ke depannya *bloggersokbijak

Beda pendidikan

Ini bisa jadi hal sepele juga. Kisah nyata lagi dari tetangga saya, pasutri yang umurnya di bawah 25 tahun. Si suami ini lulusan SMA, dan istrinya ini enggak tamat SMP. Si istri pernah cerita ke tetangga waktu mau nikah itu sempat ditentang Ibunya suami gara-gara pendidikan istri yang rendah. Saya paham si istri ini bercerita soal itu karena ingin minta perhatian dari tetangga. Reaksi tetangga yang lain, cuma manggut-manggut.  Dari cerita si istri tadi saya jadi paham meskipun Ibunya si suami ini ‘cuma’ pedagang ikan di pasar. Tapi tetap kepingin punya menantu yang berpendidikan. Sang mertua baru luluh setelah mereka punya anak.

Dari situ juga, saya baru nyadar kenapa setiap perempuan sebelum jadi Ibu itu wajib hukumnya berpendidikan. Karena setiap Ibu itu bakalan jadi guru pertama bagi anaknya.

Beda pendapatan

Ada yang pernah nonton sitkom Tetangga Masa Gitu di Nett TV ? Disitu digambarkan Si Istri bernama Angel yang diperankan oleh Sophia Latjuba punya karier bagus sebagai pengacara dan gajinya 10 kali lipat lebih gede dari suami (Dwi Sasono) yang profesinya sebagai guru lukis. Si suami nyaman aja karena urusan beli rumah, nyicil mobil sampai uang jajan suami itu ya dari duit Istri.

Di dunia nyata, sekarang ini, memang banyak banget istri yang pendapatannya lebih gede dari suami. Kariernya juga lebih bagus. Kalau si suami ini tumbuh di lingkungan yang cukup moderat, alias enggak masalah sama karier dan pendapatan si istri, yah bagus deh itu.

Nah, kalau si suami ini punya pemahaman turun menurun bahwa yang berpenghasilan gede itu harusnya suami dan istri ya di rumah aja kelonan sama panci dan kompor. Aseli bakalan insecure ini suami. Ada aja ulah suami untuk mempersulit karier istri.

Beda Bangsa

Gara-gara liat Maudy Koesnaedi nikah sama Erick Meijer, saya pernah punya kepinginan nikah sama wong londo alias bule. Kayaknya seru nikah sama bangsa lain. Makanya saya juga pernah beberapa kali ikut seleksi Pramugari Saudi Arabia dan Singapore Airlines. Biar ketemu penumpang VVIP bule ganteng dan baik hati yang jomblo *LOL. Sayangnya, saya berulang kali tes dan selalu gagal urusan berat badan, jadi saya coret keinginan nikah sama wong londo :p

Nah, soal nikah beda bangsa. Perbedaan itu katanya sih urusan kemandirian berumah tangga, makanan dan kebiasaan pastinya. Kalau wong londo ini setelah menikah ya ortu enggak bakalan ikut campur kayak di kita. Pokoknya 100 % mandiri. IMO, kayaknya enak ya. Enggak tahu sih yang pada ngejalanin.

Beda Umur

Banyak perempuan menikah dengan lelaki yang umurnya lebih tua, supaya ‘ada yang bimbing’ atau ‘mengurangi ketegangan dalam rumah tangga’ dsb. Enggak sedikit juga perempuan yang berani menikah dengan lelaki muda alias brondong. Ada yang awet. Ada yang seumur jagung.

Di lingkungan tempat tinggal saya, ada dua pasutri muda. Yang satu suaminya sudah kepala 3 dan istrinya waktu baru menikah umur 19 tahun. Yang satu lagi suaminya umur 25 dan si istri umur 20an. Mereka menikah bukan karena hamdan (hamil duluan), tetapi karena tradisi di keluarga yang terbiasa menikah di usia muda. Meskipun usia para suami lebih tua dari istrinya, enggak menjamin juga rumah tangganya ‘enak-enak aja’.Yang satu suaminya otoriter dan protektif sama si istri. Yang satu lagi suami sangat pengalah. Yah, enggak ngaruh urusan umur ternyata biar rumah tangga berasa ‘enak banget’.

Saya dan suami beda umurnya hanya hitungan minggu. Kami lahir di bulan yang sama dan tahun yang sama pulak. Suami lahir tanggal 5 dan saya tanggal 19. Meskipun, suami ‘lebih’ tua tapi saya lebih sering mengalah yak hahahaha. Mungkin ini faktor urutan lahir. Saya ini si sulung. Dan suami ini anak bungsu di keluarganya. Dua tahun awal pernikahan itu hal yang berat buat saya. Saya si sulung yang terbiasa ‘ngemong’ adik-adik berharap setelah menikah saya yang di’emong’ suami. Eh, kebalikan *elus2dada.

Jadi,

Seberapa penting pernikahan dengan segala perbedaan itu perlu dipertahankan ? IMO, pertahankan pernikahan anda jika perbedaan pasangan itu justru membuat anda bahagia, ‘kaya’ dengan pengalaman positif, membuka wawasan dan bikin hubungan makin mesra. Atau, ya setidaknya, pasangan Anda masih bertanggungjawab 🙂

xoxo,

Maria Soraya

Mengapa (Harus) Pakai Kekerasan, Sayang ?

“Gw tendang muka lu !”

“Heh, anjing &$%@&*^& …”

“%@&**%$ Njing …”

“Mau lu apa, Nyet ??”

Maaf, kalau kalimat pembuka blog saya di hari Jum’at ini cukup kasar. Beberapa hari ini saya sedang mempertanyakan perilaku para laki- laki yang (terbiasa) melakukan kekerasan terhadap pasangannya. Entah kekerasan verbal melalui makian, kalimat merendahkan diri pasangannya, dll atau kekerasan non verbal seperti menampar, memukul, menendang, dll. Apakah pasangan tersebut masih pacaran atau sudah menikah. Sama saja. Intinya, kekerasan itu dilarang dalam suatu hubungan.

Beberapa tahun belakangan ini, makin banyak terungkap kasus- kasus kekerasan terhadap perempuan yang memicu tingginya angka perceraian (bagi yang sudah menikah). Perempuan masa kini sudah sadar dan semakin cerdas. Perempuan bukan hanya butuh pasangan yang mencintai dirinya sepenuh hati, tapi juga menjaga dirinya secara fisik maupun psikis. Urusan mempertahankan hubungan ? Tentu saja.

Sedari saya kenal laki-laki. Suka sama laki-laki. Lalu, mengalami proses jatuh cinta. Jadian. Awet. Syarat mutlak saya bukan yang neko-neko. Yang jelas, untuk menjadi pasangan saya, saya menjauhi tipe laki-laki yang berasal dari keluarga broken home, tidak seiman, dan memiliki kecenderungan melakukan kekerasan terhadap pasangannya. Satu lagi, dia tidak melakukan MOLIMO (istilah umum yang ada di masyarakat Jawa). MOLIMO ini artinya MAIN (perjudian / berjudi), MADON (main perempuan / prostitusi), MALING (mencuri / korupsi dll), MADAT (candu narkoba) dan MINUM ( minuman keras/mabuk ).

Meskipun, kita sudah punya banyak kriteria dalam memilih pasangan, kadang bisa kecolongan juga. Namanya, manusia itu kan sifatnya berubah-rubah apalagi setelah menikah.

Pak Gondrong, pasangan saya yang sekarang pun amat baik dan bertanggung jawab. Meskipun kami pernah menjalani awal pernikahan dengan cara yang kurang tepat, sehingga saya sempat mengalami abuse.

Dan, ternyata di lingkungan tempat tinggal saya, kekerasan itu hal yang biasa dalam rumah tangga. Saya mengetahuinya dari tetangga, temannya tetangga atau seseorang yang saya ganti namanya di sini jadi Melati. Mereka pun mengalaminya. Dan dengan santai bercerita saat kami sedang berkumpul.

Tema soal domestic abuse akan menjadi salah satu topik di blog saya ke depan. Entah berbentuk cerita atau artikel yang bisa dipetik hikmahnya 🙂

xoxo,

Maria Soraya