Celoteh Bojo

Resolusi 2018 : (Yakin) Mau Nambah Anak ?

collab_kelima

“Udah, bikin aja dulu, nanti rezeki juga datang mengikuti. Kan banyak anak, banyak rezeki,” cetus tetangga, suatu hari. Saya tersenyum sembari mengucap ‘iya nanti’. Bukan sekali dua kali, saya mendapat saran supaya segera menambah anak. Alasannya beragam : ada yang bilang nanti kasian Mada enggak punya teman, ada yang bilang nambah anak dulu biar rezeki berlimpah, ada juga yang bilang tar keburu ketuaan, endebrah endebreh. Saya sih iya iya aja, santai.

Saya teringat pada nasihat Titiek Puspa pada sebuah tayangan reality show di televisi. Jadi, ada tukang becak punya 8 anak dan untuk menghidupi anak-anaknya, si tukang becak harus berhutang ke banyak orang.

“Bapak ini harus pasang KB. Kasian anak-anak Bapak ini harus hidup dalam kondisi yang tentu … mereka berharap bisa hidup lebih baik. Hati-hati lho, Pak. Anak itu bukan hanya butuh dikasih makan. Anak-anak butuh kasih sayang, perhatian dan hidup yang layak. Banyak anak itu bagus, tapi jangan sampai kita sebagai orang tua mengorbankan hak anak. Ini sekaligus catatan bagi setiap orang tua,” kata Titiek Puspa, tegas. Wajahnya antara marah dan prihatin. Si Tukang Becak hanya menunduk sedih.

Iya, siapa coba yang enggak kepingin punya banyak anak ? Seperti halnya Mamah dan Papah saya. Punya 6 anak dengan jarak usia yang lumayan jauh. Bayangin aja, adik saya paling gede itu jarak usianya 7 tahun dengan saya. Adik bungsu saya, kini baru kelas 7 SMP. Alias beda jaraknya 18 tahun. Saya ngalamin yang namanya jadi anak tunggal selama 7 tahun. Bagi saya itu menyenangkan karena sudah puas dengan limpahan kasih sayang. Secara materi pun, orang tua selalu berkecukupan. Eh, tapi cukup Mamah yang punya banyak anak. Saya belum kepingin. Sebagai perempuan sekaligus Ibu, saya memiliki beberapa pertimbangan sebelum nambah anak :

1. Ingin Mada ‘puas’ dengan masa golden age-nya

Kata orang-orang sih, kalau anak sudah berumur 3 tahun sudah saatnya ‘ngasih adik’. Yah, biarinlah itu kan orang-orang. Saya nyadar diri sewaktu hamil Mada dan kakaknya Mada (alm. Aisha) itu di awal-awal kehamilan saya selalu harus bed rest. Berkali-kali mengalami pendarahan karena kelelahan.

Kalau saya harus nambah anak di masa golden age-nya Mada, duh rasanya kayak mengorbankan hak Mada untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari saya.

2. Trauma

Dua kali hamil dan melahirkan, saya harus menjalani berbagai mitos. Sementara, saya tumbuh di keluarga yang enggak percaya mitos. Ini terlihat mudah “ah, ikutin aja sikk, nurut sama orang tua”. Iya mudah buat orang lain, buat saya itu wow banget. Berat sis. Contohnya saat saya harus berdiam diri di dalam rumah selama 6 bulan pasca melahirkan Mada. Alasannya Ibu melahirkan dan bayi under 6 months itu punya aroma yang disukai makhlus halus. Jika dilanggar, bayi bakal sawan (rewel berkepanjangan) atau Ibunya accidents.

Itu baru satu mitos. Dan, cukup bikin saya tertekan. Belum termasuk mitos-mitos lainnya yang buat saya rasanya ‘nyusahin banget’. Jadi, saya pun mikir 1000x kalau harus hamil dan melahirkan lagi.

Baca : 12 Mitos Ini Saya Alami Setelah Menjadi Seorang Ibu

3. Masih ingin mengaktualisasi diri

As I said before, tiap hamil pasti gampang capek, gimana saya bisa mengaktualisasi diri kalau kondisi fisik saya hanya bisa terbaring di kasur ?

Saya masih memiliki beberapa target untuk diri saya sebelum memasuki usia cantik 35. Pengin punya rumah lebih gede. Pengin punya asuransi komplit buat Mada. Pengin travelling ke tempat-tempat yang belum saya datangi bersama Mada. Pengin punya buku lagi. Pengin … pengin

Ah, saya masih banyak penginnya. Tetapi, saya fix belum pengin nambah anak. Anda ?

Tulisan collaboration blogging #CollaBlogKEB ini merupakan trigger ke lima dari kelompok Rina Soemarno dengan tema jarak kelahiran anak. Ada Mak Yurma dengan “Jarak Kelahiran Rapat”, Mak Kanianingsih dengan “Mengatur Jarak Kelahiran Anak”,  Mak Nurul dan Mak Ike.

ttd-marso

 

Iklan

Ini Lho 3 Pilar Penting Untuk Mewujudkan Rumahku Surgaku

rumahku

Dia selalu mengawali hari pagi-pagi sekali. Dia akan bangun, membaca buku, berolahraga ringan jika sempat, menyapu lantai, mandi pagi, membuat segelas kopi atau teh, lalu mulai bekerja. Dia tidak pernah meminta saya membuatkannya kopi karena dia menikmati proses membuat kopi dan ingin melakukannya sendiri. Mungkin dia menganggap ini hal sepele, namun bagi saya ini adalah bentuk kebahagiaan sederhana.

Penggalan paragraf dari tulisan teman SMP saya di blog-nya itu membuat saya tersenyum menjelang makan siang. Lalu, saya melanjutkan pada paragraf berikutnya :

Dia menyeduhkan saya teh madu di pagi hari. Di saat saya sakit dia mengurus saya dengan baik. Membersihkan rumah dan membuatkan makan siang. Di saat dia sakit saya melakukan hal yang sama. Dia tidak pernah berteriak dan menyuruh saya melakukan ini itu. Dia tidak butuh mempelajari feminisme untuk menghormati dan memperlakukan saya dengan baik. Dia tidak perlu label. He does whatever works to make us happy. I do the same. Sesederhana itu.

Di akhir tulisan, saya berkomentar pendek yang bunyinya kira-kira : memiliki suami yang punya energi positif itu sangat penting, you’re lucky dear. Saya bisa membayangkan teman saya itu teramat betah berdekatan dengan suaminya dan bahagia menjalani pernikahannya. Suasana rumah yang sehari-hari ditempatinya jauh dari Ibukota pun tentu tetap terasa feels like home.

Berkaitan dengan suasana rumah, hari Minggu (12/11) kebetulan di Metro TV ada program I’m Possible-nya Merry Riana dengan motivator Jamil Azzaini. Tema yang dibahas sederhana tetapi menarik, yaitu Rumahku Surgaku.

“Banyak orang yang justru enggak betah ada di rumah. Padahal, harusnya sebuah rumah mendekatkan antar anggota keluarga di dalamnya,” kata Merry Riana, membuka acara. Idealnya, rumah bukan sekedar tempat singgah untuk tidur layaknya hotel. Atau, seperti laundry yang menjadi tempat cucian kotor.

“Perbedaaan dari house dan home ada pada maknanya. Kalau house itu berupa bangunan fisik. Bangunannya keren mewah tapi hanya tempat singgah. Sedangkan Home itu interaksi di dalamnya terjadi. Home adanya di sini” kata Jamil Azzaini sambil menunjuk dadanya.

Sebuah rumah besar yang penghuninya sibuk di dunianya masing-masing atau lebih sering bertengkar daripada menghabiskan waktu bersama saat liburan, itulah yang disebut house. Jika penghuninya saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik, selalu merindukan rumah saat berada di luar, pokoknya bawaannya pengin pulang … selamat rumah Anda bukan sekedar bangunan fisik. Rumah Anda adalah surganya di dunia.

3 pilar penting yang dijelaskan Jamil Azzaini untuk mewujudkan Rumahku Surgaku adalah sebagai berikut :

Plan together

Suami dan istri membuat rencana masa depan bersama. Misalnya, tahun depan kepingin liburan ke Singapura atau nanti kalau si kecil sudah berumur 5 tahun sebaiknya masuk TK mana ? Atau, tahun depan mau investasi emas atau mulai bermain saham ? Dan sebagainya.

Kegiatan membuat plan together ini tidak berhenti hanya pada suami dan istri. Tetapi, antara orang tua dan anak. Jadi, orang tua enggak melulu memaksakan cita-cita dan kemauannya pada anak. Karena, melalui plan together, anak diajak berdiskusi dan belajar merencanakan sesuatu.

Play together

“Usia saya sudah jelita, jelang lima puluh tahun. Tapi saya masih hobi petak umpet dengan anak-anak saya. Kadang-kadang main kartu atau kadang main tebak-tebakan” kata Jamil Azzaini.

Banyak orang tua jaman now yang cemas anak-anaknya Generasi Alpha bakalan tumbuh menjadi pribadi individual dan gadget-maniak. Padahal, koentji supaya anak tetap lekat hatinya pada orang tua adalah seberapa mau orang tua menyingkirkan kesibukannya untuk anak. Termasuk, kesibukan bermain hengfon.

“Minggu lalu saya sebenarnya ada training, tapi anak saya bilang Pak boleh enggak pulang ke rumah ? saya sebenarnya capek banget karena saya ada training di Bandung,  paginya saya ada training di puncak, sudah disiapkan penginapan di hotel, karena saya sudah bilang akan pulang ya saya pulang … sampai rumah, saya dipanggil ke kamarnya, dan akhirnya ngobrol, setelah ngobrol dia ngasih kertas seperti bentuk origami. Dan begitu saya buka, isinya adalah surat buat saya, yang ditulis anak saya yang paling bungsu, dia katakan : Pak, maafin aku ya Pak selama ini aku telah menyusahkan Bapak, cari uang siang malam buat aku, tapi boleh dong aku menyampaikan sesuatu … Bapak yang sekarang bukan lagi Bapak yang dulu … aku kehilangan Bapak yang dulu setelah Bapak jadi CEO … Bapak enggak pernah ngajak aku lagi main … kalau ketemu, Bapak itu ya selalu marah atau merintah … saya ingin Bapak seperti dulu … kemudian, saya langsung memeluk anak saya, lebih lama dan kami menangis satu sama lain.”

Gara-gara anaknya curhat, hubungan Bapak-Anak di keluarga Bapak Jamil Azzaini pun membaik.

Pray together

Yaitu saling berdoa atau beribadah bersama anggota keluarga di rumah. “Misalnya anak saya ada yang belum dapat jodoh, maka saya akan doakan bersama-sama supaya anak saya diberikan jodoh yang terbaik.”

Jika 3 pilar di atas ada di rumah maka kualitas hidup Anda akan naik. Bisnis lancar. Pekerjaan pun lancar. Begitu kata coach program I’m Possible Jamil Azzaini.

Hmmm, mau coba ?

Tulisan collaboration blogging #CollaBlogKEB ini merupakan trigger ke empat dari kelompok Rina Soemarno dengan tema mencintai. Ada Mak Kanianingsih dengan Love Our Self, Mak Nurul “Begini Caraku Tunjukkan Cinta Pada Bunda”,  Mak Yurma “Mencintai atau Dicintai” dan Mak Ike “5 Reason That I Love My Self”.

ttd-marso

Mencintai Diri Sendiri, YAY or NAY ?

collab

“Sebutkan apa yang Anda suka dari diri Anda dan apa yang Anda tidak suka ?” Saat saya memasuki dunia kerja, ada pertanyaan khas yang sering diajukan tiap kali interview, salah satunya pertanyaan di awal pembuka postingan ini. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu cukup mudah dijawab. Bagi sebagian yang lain, butuh 10 menit untuk menjawab bahkan terkadang zonk. Dari jawaban yang diberikan, diam-diam Si Penanya sedang menggali informasi tentang diri Anda.

Saat saya baru pertama kali interview, ini jawaban untuk pertanyaan di atas :

“Saya suka diri saya yang supel, ceria, bersahabat, penyabar dan mau belajar”

Terdengar narsis ya ? LOL. Maklum masih kinyis-kinyis. Jawaban saya membuat Si  Penanya mesem-mesem. Selanjutnya ia mengajukan pertanyaan lain mengenai diri saya. Embuh, dia mikir apa. Alhamdulillah sih, interview-nya lolos.

Usia makin nambah, lalu berpindah tempat kerja, kembali mendapat pertanyaan yang sama. Jawabannya sedikit berbeda : “Saya menyukai diri saya yang supel, senang bekerja team work tapi enggak khawatir bekerja sendirian blablabla,” Dan, alhamdulillah selalu lolos interview juga.

Dulu saya enggak paham konsep mencintai diri sendiri. Yang saya tahu orang seperti itu pasti egois, karena hanya peduli pada dirinya sendiri. Seiring waktu berjalan, saya memahami mengapa seorang perempuan penting untuk mencintai dirinya sendiri dalam kapasitas sewajarnya. Saat bisa melakukan hal itu, perempuan akan belajar mengenali kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Dari sikap mencintai secara otomatis akan timbul keinginan untuk menghargai diri sendiri. Seperti yang tertulis pada hadist berikut ini :

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.”

Mencintai diri sendiri berbeda halnya dengan mengagumi diri sendiri (ujub). Pernah dong pastinya dalam hidup Anda ada satu atau dua orang yang butuh (banget) dipuji. Bagi saya ini nih tipe orang yang malesin banget. Segala cara dilakuin demi mendapat pujian. Menurut Imam Musa Al Kazim terdapat beberapa tingkatan ujub. Salah satunya ketika perbuatan buruk dianggap baik oleh dirinya sendiri; ia menilai perbuatan-perbuatan tersebut sebagai perbuatan baik dan mencintai dirinya sendiri, dengan membayangkan dirinya sendiri sedang melakukan perbuatan mulia (republika online).

Sikap ujub sangat dibenci Rasulullah : “Apakah akan Kami beritahu padamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (QS [18]: 103-104)

Naudzubillahimindzalik …

Di awal usia kepala 3, begini cara saya dalam mencintai diri sendiri secara positif :

  1. Be your self
    Dari jamannya SMP, i love to be different, maklum saya orangnya bosenan. Saat teman-teman cewek saya tergila-gila sama Shane Westlife, saya ngarep banget kapan rapper Eminem bakal konser di Indonesia. Sikap gak suka ikut-ikutan ini terbawa sampe sekarang.Manfaat menjadi diri sendiri adalah enggak gampang disetir orang. Pede (secukupnya) saat melangkah kemanapun.
  2. Bergaul dengan orang-orang positif
    Saya tumbuh di lingkungan keluarga yang positif. Saya dan 5 adik-adik terbiasa saling support dan berbagi satu sama lain. Kami berenam sesekali ribut kecil tapi ya akur dan enggak pernah neko-neko. Sikap ini kebawa keluar rumah bahkan saat saya menikah dengan Pak Gondrong. Urusan bergaul saya enggak pilih-pilih, tapi yang jelas menjaga jarak dengan orang-orang yang aura negatifnya tinggi.
  3. Pandai bersyukur
    “Elo itu susah banget sirik ya. Failed gue bikin elo sirik,” celutuk seorang teman.Sikap susah sirik sama kehidupan orang itu awet nempel plek di diri saya and I love it. Awal-awal saya pindah ke tempat tinggal yang sekarang, para tetangga saya terdiri dari mamah muda usia 20an. Duh, tiap hari ada aja saingan enggak penting. Mulai dari banyak-banyakan perhiasan emas, siapa yang paling sering jalan-jalan kemana, siapa yang bisa borong minyak goreng diskonan endebrah endebreh. Persaingan receh tapi melelahkan. Kebayang kan tiap buka pintu trus nongkrong sesama tetangga yang dibahas urusan itu lagi itu lagi.Koentji menjadi perempuan susah sirik adalah banyak-banyak bersyukur untuk setiap hal yang ada dalam hidup. Klasik banget yak. LOL. Tapi, itu beneran lho.
  4. Miliki hobi sesuai minat
    Setelah saya menjadi blogger profesional alias yang monetize blog, saya jadi semakin sadar potensi apa yang kudu dikembangin ke depan. Being a blogger pro pun bikin saya happy, karena saya ketemu banyak teman bahkan bisa jalan-jalan hingga ke Semarang.
  5. Luangkan waktu buat me time
    Dalam seminggu, saya wajib me time. Bekerja di rumah dan harus bisa manage waktu plus fisik antara pekerjaan dan urusan domestik blablaba teteup butuh yang namanya me time.Meluangkan waktu buat me time bisa me-refresh pikiran dan badan. Hengfon aja kudu dicharge, masa aku enggak boleh me time ? *ehh.

Nah, gimana dengan Anda sudahkah mencintai diri sendiri ?

Tulisan collaboration blogging ini merupakan trigger ke tiga dari kelompok Rina Soemarno dengan tema 5 things I Love About Me. Ada Mak Kanianingsih dengan Love Our Self, Mak Nurul, Mak Hida, Mak Yurma dan Mak Ike.

ttd-marso

Perdana, 3 Hari Meninggalkan Batita Untuk Tugas Luar Kota

batita

Tahun ini saya men-challenge diri saya untuk bisa pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Yess, pergi keluar kota. Syukur-syukur masih sekitaran Pulau Jawa. Kalau bisa pergi keluar Pulau Jawa, why not ? Apalagi kalau bepergiannya bareng keluarga, lebih asyik pastinya. Ndilalah, kesempatan emas yang datang pertama kali adalah saya pergi keluar kota tanpa keluarga. Iya, 8 jam lagi dari sekarang saya harus meninggalkan Mada untuk tugas luar kota. Saya pergi bersama rombongan blogger kesehatan menuju Semarang. Kota yang sama sekali belum pernah saya kunjungi seumur hidup saya.

Pengalaman saya dalam “berpisah” dengan Mada paling lama itu ya setengah hari, saat saya mengikuti liputan acara blogger di suatu tempat. Mada terlatih mandiri sedari dia belum bisa ngomong. Katanya, bayi ASI itu kan susah lepas dari Ibunya lantaran bau tangan. Alhamdulillah, Mada bukan tipe anak yang bakal gugulingan saat saya tinggal pergi dadah-dadahan dari rumah Mamah. Sesekali iya, seringnya Mada sangat kooperatif.

Awal-awal saya baru pertama kali mengikuti acara blogger, untuk event weekdays, saya menitipkan Mada di mertua. Sementara, untuk event weekend, saya lebih memilih menitipkan Mada di rumah Mamah. 5 adik saya siap berjaga bergantian menemani Mada. Terlihat mudah dan enak, tapi rupanya ada banyak perbedaan pola asuh antara saya dan mertua. Perbedaan yang pada akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengurangi menitipkan Mada di mertua kecuali urgent. Apalagi 3 bulan ini, Mamah sedang dalam penyembuhan. Jadi, saya lebih banyak di rumah daripada mengikuti berbagai acara blogger.

Tapi, namanya pergi lebih dari 24 jam tentu ada drama-dramanya sebelum berangkat. Contohnya, pagi ini saya bangun pagi lebih awal. Setelah sholat Subuh, saya kembali lagi ke tempat tidur. Saya berbaring di sebelah Mada. Memeluknya lama dan menciumi wajahnya hingga Mada melek. Ia tersenyum dan memeluk balik. Duh, tiba-tiba kepingin nangis. Anak laki-laki di sebelah saya tumbuh semakin besar. Di usianya yang tiga tahun, untuk pertama kalinya kami berdua akan berpisah selama 3 hari. Saya akan mengikuti Kampanye GERMAS (Gerakan Masyarakat Sehat) bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di Semarang. Sesuai kesepakatan dengan Pak Gondrong, selama 3 hari Mada menginap di rumah Nenek Karteng.

Bagi orang dewasa, 3 hari adalah waktu yang sangat sebentar untuk mengerjakan pekerjaan. Bagi anak-anak terutama batita seperti Mada, 3 hari adalah waktu yang cukup lama untuk menyerap apapun yang ada di sekelilingnya. Apa yang dia dengar secara sengaja atau selintas, akan terekam hingga berminggu-minggu bahkan mungkin satu bulan ke depan atau bahkan setahun ke depan. Apa yang dia lihat, akan dia copy paste ke dalam perilakunya hingga setelah saya kembali dari Semarang.

Itulah kekhawatiran terbesar saya hari ini. Padahal, kemarin saya bisa setrong semacam mamak-mamak yang terbiasa PP naik pesawat buat dinas luar kota rutin. Duh, gusti.

Selama saya tugas luar kota, Mada tetap mengikuti jadwal kegiatan PAUD di hari Senin dan Selasa. Daripada saya cemas berlarut-larut, saya pun menyusun jadwal Mada selama saya tidak di dekatnya.

IMG_20170827_080311

Untuk pakaian selama 2 hari PAUD sudah disiapkan :

Senin

  1. Seragam orange hijau
  2. Baju main setelah pulang PAUD
  3. Baju main setelah bangun tidur siang
  4. Piyama

Selasa

  1. Seragam olahraga
  2. Baju main setelah pulang PAUD
  3. Baju main setelah bangun tidur siang
  4. Piyama

Bekal PAUD Senin

Nugget 5 potong + kentang goreng + susu coklat

Bekal PAUD Selasa

Puding + sereal koko crunch + yoghurt

Di rumah Nenek, banyak anak-anak seumuran Mada dan seringnya Mada main di luar diawasi Nenek. Untuk alternatif kegiatan Mada di dalam rumah saat malam hari atau pas Nenek lagi pengin istirahat, saya juga sengaja membeli 2 buku gambar + buku aktivitas heavy wheels seperti traktor, truk mollen dan sejenisnya. Akhir-akhir ini Mada lagi rajin banget nulis-nulis atau corat coret buku gambar.

Hmmm apalagi ya ? Oh iya, saya sempat nanya ke Mak Yayat sebagai PIC dari Blogger Crony soal urusan packing. Menurut Mak Yayat yang nge-heits dipanggil Nyonyah Vale ini sebaiknya membawa 1 koper/travel bag aja dan 1 tas ransel. Jadi, ndak usah gembol-gembol rem to the pong.

Oh ya, pergi ke Semarang ini bukan hanya mimpi yang terwujud, tetapi juga membuat Pak Gondrong serta keluarganya sadar bahwa kegiatan yang selama ini saya lakukan (blogging) adalah kegiatan yang penting. Bahwa, inilah cara saya mendobrak kemustahilan pemikiran orang-orang yang acapkali menyepelekan ketika perempuan menjadi Ibu Rumah Tangga itu berarti tidak bisa apa-apa dan hanya sanggup menadahkan tangan tiap akhir bulan.

Tulisan mengenai “Mendobrak Kemustahilan” ini merupakan tema dari Grup Collaborating Blogging Rina Soemarno yang terdiri dari Mak Nurul Rahmawati dengan postingannya di website Emak Blogger, Mak Kania Ningsih dengan ceritanya Jalan-jalan Ke Bali ? Mustahil !, Mak Yurmawita dan tulisannya Merajut Mimpi, Mak Hida Hiquds dan Mak Ike Yuliastuti.

ttd-marso

 

Karena Bahagia Ibu Ada Di Senyummu, Nak

aloclairplussariawan

Setelah menjadi seorang Ibu, kebahagiaan saya bertambah. Sembilan bulan mengandung Arizqio Mada Leksono (33 bulan), lalu melahirkan normal dengan berat 4,4 kilo dan membesarkan Mada hingga sekarang. Satu hal yang selalu membuat saya bahagia dan kangen pada Mada adalah senyumannya.

Setengah hari enggak ketemu Mada saat saya lagi tugas luar rumah, wah bisa galau hati saya.

“Ibu kangen Mada ?” tanyanya saat saya menjemput Mada di rumah Mamah lalu langsung memeluknya erat.

“Iya kangen dong,”

“Yauda Mada mau senyum,” celutuknya bikin saya enyesss, enggak kepingin lepas pelukan saya.

Namanya batita, ada saja ulahnya yang bikin saya geleng-geleng kepala tetapi ya itu tadi bikin kangen. Makanya saya selalu berusaha mencukupi kebutuhan gizi Mada agar ia selalu sehat dan memenuhi kebutuhan yang lain-lain.

Selama ini ya tiap Mada sakit enggak jauh dari demam atau batuk pilek. Yeah, Mamah saya bilang anak kecil sampai usia 5 tahun itu ada saja sakitnya. Jadi enggak perlu berlebihan paniknya. Nah, suatu siang saya terkaget-kaget melihat Mada berulangkali melepehkan makanannya.

“Kok nasinya dilepehin ?”

Mada hanya merengut memegangi pipinya. Lalu, saya memintanya membuka mulut lebar-lebar. Ouch, ada bintik putih di gusinya dan gusi atas terlihat lebih merah dari biasanya. Ternyata anak batita bisa sariawan juga ya. Maklum, baru pertama kali.

Saya pun bertanya pada Mbah Gugel, obat sariawan apa yang cocok buat batita ? Alhamdulillah, ada jawabannya. Yaitu, Aloclair Plus. Saya berdua Mada segera ke apotik terdekat.

aloclairplusgel

IMG_20170416_164836

“Berapa harga Aloclair Plus, Mbak ?” tanya saya pada apoteker.

“Ibu mau beli yang mana ? Ada Aloclair Plus Gel harganya Rp 91.000,  Aloclair Plus Spray Rp 100.500 dan Aloclair Plus Oral Rinse Rp 97.500”

Saya pun memilih Aloclair Plus Gel. Di rumah, saya langsung mengoleskan Aloclair Plus Gel pada gusi Mada yang sariawan. Lima menit kemudian, setelah diolesin Mada malah kesenangan kayak habis makan permen.

“Enak Bu, mau lagi,”

“Nanti lagi ya Mas, enggak boleh banyak-banyak” kata saya. Menurut informasi apoteker, Aloclair Plus digunakan 3 sampai 4 kali dalam sehari. Setelah diolesin, sebaiknya tidak makan atau minum selama 1 jam. Demi Mada yang gampang haus itu enggak minta minum setelah gusinya diolesin Aloclair Plus, saya mengajak Mada bobok siang.

Mengapa harus pilih Aloclair Plus Gel untuk mengobati sariawan pada anak ?

  1. Proses penyembuhan cepat dengan mengikuti aturan yang ada. Seperti tidak makan dan minum selama 1 jam setlah diolesin Aloclair Plus Gel.
  2. Aman untuk bayi dan anak-anak, jadi orang tua enggak perlu khawatir menggunakan Aloclair Plus.
  3. Kemasannya ringan dan mudah dimasukkan ke dalam tas, buat persediaan obat saat sariawan di luar rumah.
  4. Bebas alkohol, jadi Insya Allah halal.
  5. Ada ekstrak aloe vera sehingga terasa adem saat dioleskan ke bagian yang sariawan.

Untuk mengetahui informasi lanjut seputar Aloclair Plus, dapat mengunjungi websitenya di http://www.aloclair.id atau facebook https://www.facebook.com/AloclairID/.

Anak Anda sariawan ? Oles aja pakai Aloclair Plus. Karena setiap Ibu #CantSmileWithoutYou nak.

ttd-marso

Ketika (Harus) Menua Bukan Karena Faktor Usia

collabbloggg

“Si Teteh ini istri kedua atau bagaimana ?” Pertanyaan itu ditujukan untuk saya -dari seorang tetangga-. Waktu itu saya baru satu bulan menikah. Menjalani hari-hari saya sebagai pengantin baru dalam kondisi hidup mandiri tanpa nebeng di mertua apalagi di orangtua sendiri. Pertanyaan Ibu Tetangga itu saya respon dengan tersenyum. Bingung juga mau jawab gimana. Mosok saya kudu keluarin buku nikah dll. Oh, please. Saya mau krai.

Saya bukan tipe perempuan baper. Pertanyaan Ibu Tetangga itu justru bikin saya langsung mikir. Darimana si Ibu Tetangga berpikiran saya adalah Istri Kedua ? Sependek pengetahuan saya, (harusnya) Istri Kedua itu mukanya dempulan tebel + lippen medok + dsb. Sementara saya, penampilan sehari-hari ya tomboy pakai t-shirt + kemeja flannel + jeans + sepatu kanvas. Oh ya, Istri Kedua versi saya itu dalam artian kamu merebut suami orang dan maksa dinikahin jadi Istri sah. Bukan kamu menikah lagi karena pasangan barumu itu ditinggal pergi/meninggal Istri pertamanya. Plis, muka gue kagak ada muka perebut suami orang.

Bulan berikutnya, sekali lagi si tetangga bertanya lanjutan dari pertanyaan pertama. “Dulu kirain Mbak Ayya ini istri kedua. Soalnya Si Mas-nya kayak masih mudaan gitu. Di rumahnya enggak ada foto pernikahan juga ya.”

Saya menjawab pendek, sambil pasang poker face tapi hati gerundel “Oh, suamiku lebih tua dua minggu dariku. Dia bungsu, makanya kelihatan lebih muda ya ?”

“Iya, udah gitu selalu pakai celana pendek selutut. Di jemurannya juga enggak ada celana panjang.” kata Ibu Tetangga, enteng.

Duh, perhatian banget Ibu Tetanggaku, urusan jemuran orang sampai diurusin. Saya manggut-manggut tersenyum. Jadi, yang bikin saya terlihat seperti Istri Kedua gara-gara penampilan Pak Gondrong yang sok muda. Dan, gara-gara di ruang depan enggak ada foto pernikahan saya ?!

Saya pun berbenah diri. Saya pindahkan foto pernikahan yang ada di kamar ke ruang depan. Tiap keluar rumah, selalu rapi lengkap dengan polesan bedak + lippen nude + mata yang diberi eyeliner bold level sekian. Jam 6 pagi jadwal saya belanja sayur di dekat rumah. And I am the only one emak-emak yang penampilannya rapi wangi sementara emak-emak yang lain masih dasteran gendong anak. Awalnya saya merubah penampilan supaya muka saya enggak terlihat boros, lama-lama saya pun menikmati perubahan tersebut. Soalnya, saya berasa cantik di tengah buibu yang belanja sayur masih dasteran begitu. LOL

Perubahan penampilan saya enggak juga merubah penilaian orang tentang muka saya. Paling menyebalkan ketika saya halan-halan sama Pak Gondrong. Orang-orang bakal memanggil Pak Gondrong dengan sebutan Abang. Dan, saya kebagian panggilan sebagai Ibu. Jadi, agak lucu kalau lagi mampir ke warung kaki lima, Si Pemilik Warung memanggil kami dengan “Abang dan Ibu”. Enggak adil. Soalnya, kalau saya lagi jalan tanpa blio jarang banget ya saya dipanggil Ibu. Pasti ‘mbak’, ‘teteh’, ‘kakak’ atau pernah juga ‘adek’. Kalaupun dipanggil Bunda atau Ibu pasti karena saya lagi rempong sama si Mada.

Duh, hokeh muka saya boros. Maklum juga, saya anak pertama dari 6 bersaudara. Saat saya kasih alasan itu ke seorang teman, dia menyahut “Temen gue adeknya lebih banyak dari elo. Tapi mukanya awet muda” Yaiya, dia nikahnya sama pedagang berlian dan orangtuanya tajir melipir juga. Yekan, dese mau perawatan muka dimana juga bisa kalau seperti itu. Lha, saya boro-boro mau perawatan di salon apalah apalah. Tiap ada transferan masuk dari orderan atau honor menulis, yaiya niat dari rumah mau ke salon, di tengah jalan malah belok ke toko baju anak. Trus kalau aku mukanya boros, lha aku kudu piye ? *nungguendorseanskincare

Setelah ada Mada, saya enggak terlalu baper sama muka saya yang boros ini. Bersyukur saja sama gusti Allah. Di luar sana, ada perempuan-perempuan yang mukanya cantik dan awet muda tetapi hatinya tidak demikian *ehh. Ada perempuan-perempuan yang mukanya hancur gara-gara disiram air keras sama suaminya. Banyak yah kalau mau dijabarin. Mama saya bilang, ketika kita dikasih sesuatu sama orang harus dirawat. Begitu juga, pemberian dari gusti Allah. Dikasih anggota tubuh komplit termasuk muka ya dirawat sebaik-baiknya. Khusus muka, bisa dengan cara  maskeran + banyak minum air putih dan makan sayuran plus buah-buahan. Kalau ada rezeki lebih ya nyalon.

Muka bakat boros, harusnya sih enggak suka begadang yah.  Tapi gimana dong, jatah me time saya pan cuma di atas jam 12 malam ? Seperti saat saya posting tulisan ini. Nulis dari jam 10 malam, selesai jam 12 dan posting setengah satu pagi. Ah, yang penting mah banyak bersyukur, berdoa dan berkarya wess.

Tulisan bertema Usia ini merupakan bagian dari Collaborative Blogging bersama Grup Whatsapp. Baca juga tulisan tentang Usia dari Mak Virly : Saya Kepingin Jadi Vampir Saja, Mak Diah : Menua Dengan Senang dan Tenang dan Mak Ade : What’s On 23rd Years Old .

xoxo,

Maria Soraya

 

 

 

 

8 Pertanyaan Klasik Yang Bikin Ibu Bekerja Di Rumah Jadi Baper

 

Hispanic mother with baby working in home office

Gambar sebelum diedit dari sini

Hubungan saya dengan tetangga di rumah sangat menyenangkan. Seperti yang saya tulis dalam 7 Resep Mudah Istri #BahagiadiRumah. Sampai saat ini saya masih jadi ‘kontraktor’ alias ngontrak. Saya sewaktu lajang pernah penasaran sama kehidupan orang-orang kontrakan. Gegara waktu itu suka bikin kue dan nitipin kue ke warung di kampung belakang komplek.

Baca : Choux Pastry, Tulisanku Yang Ke 3 di Majalah Femina.

Penasaran itu saya uji setelah menikah. Saat baru menikah, saya kepingin tinggal di kontrakan. Gimana sih rasanya ? Setelah 4 tahun dijalani dengan ngontrak di satu tempat tanpa nomaden, rasanya mirip permen nano-nano.

Bertetangga di dalam komplek dengan bertetangga di kontrakan tentu ada perbedaannya. Beda itu menyangkut pola pikir dan kebiasaan. Dan, eh. Kalau di kontrakan, ada semacam jadwal nongkrong buat buibu yang rumahan. Kalau dijabanin mah sehari bisa 5x pindah tongkrongan. Di rumah si A,B,C sampai Z. Saya mah cuma sanggup sehari 2 kali aja nongkrong begitu, itupun enggak setiap hari.

Di luar tetangga, ada juga kan ya Ibu-ibu yang sering ketemu di tukang sayur seberang jalan atau saat saya papasan sama siapa gitu di sekitaran rumah.  Kadang cuma senyam-senyum sambil nyapa aja, seringnya sih pada ngajak ngobrol. Berikut ini pertanyaan yang sering mampir di kuping saya setelah menjadi Ibu Bekerja Di Rumah.

1. Ibu di dalam mulu, betah banget

Tetangga saya tahu saya sering nerima orderan. Tetangga saya juga tahu saya bekerja di rumah. Tapi namanya perempuan. Iya, perempuan itu kan suka kepo. Pertanyaan ini biasanya muncul kalau seharian saya enggak keluar. Benar-benar di dalam rumah. Begitu buka pintu, jalan ke warung, papasan sama tetangga, langsung ditodong pertanyaan itu.

Pertanyaan seperti itu sebenarnya biasa banget, tapi kadang suka bikin saya baper kalau senin selasa rabu alias setiap hari ditanya begitu. Saya suka think positive sih, ‘ah dia emang enggak punya stok pertanyaan lain,’. Kalau dapat pertanyaan pertama, biasanya saya ledekin balik kayak ‘Beuh, jeung kentus ini elapin kaca mulu. Betah amat’. Reaksi yang diledekin palingan tersipu-sipu.

Sebagai Ibu bekerja di rumah, waktu itu sama pentingnya kayak Ibu-ibu yang bekerja kantoran. Penting pakek banget. Dua puluh empat jam dibagi untuk anak, suami, diri sendiri dan hal lain. Keluarga sendiri, mertua dan tetangga masuk kategori ‘hal lain’.

Kadang, saya suka gemas ya lihat tetangga dalam sehari bisa 5 kali pindah tongkrongan. Pagi sebelum jam 9 di rumah si Ibu A, pagi setelah jam 10 di rumah B, begitu dan seterusnya. Tapi namanya sudah kebiasaan, ya susah dirubah.

2.Ibu jalan-jalan terusss, enak banget

Pertanyaan kedua muncul saat dalam seminggu tetangga lebih sering melihat saya di pagi hari mengunci rumah trus pergi blassss dan pulang setelah adzan ashar atau malah enggak pulang. Kadang, pertanyaan ini bisa muncul juga pas tanggal tua buat yang suaminya orang kantoran. Namanya perempuan, tanggal tua, lihat tetangga sebelah lebih sering ngunci pintu rumah sambil nenteng tote bag, kan kepingin juga (kali).

Saya sendiri suka kesian sama yang nanya saya begitu. Dalam hati, saya bakalan langsung komentar ‘Si Ibu ini kurang piknik’. Seminggu sekali, saya suka nawarin Buibu tetangga buat jalan kemana gitu. Entah main sama anak di playground yang ada di mall, berenang atau nyobain taman kota baru. Biar ikut ngerasain yah para tetangga halan-halan di luar. Eh, tapi bukan saya yang traktir. BS dong. Alias Bayar sorangan-sorangan.

3. Oh, bekerja juga ya, kok kantornya di rumah ?

Pertanyaan ini bukan dari tetangga, biasanya kalau baru ketemu orang baru yang kurang gahul. Bener kan kurang gahul ? Haregene udah banyak propesi yang dilakuin di rumah. Coba aja tanya sama si Mbah gahul google.

Pernah juga sih ditanya begitu sama semacam Kapster salon bukan langganan. Kalau mood saya bagus, saya jelasin blahblahblah. Kalau saya lagi males ngobrol, yaudah kasih cengiran ajah.

4. Enak ya bekerja di rumah, jadwal tidurnya bisa banyak

Sama kayak poin 3, yang nanya ini pasti Mamah-mamah muda yang baru punya bayi dan dia kurang jadwal tidur trus kenalan sama saya di playground atau dimanalah. Eh, pernah dikomentarin begini sama tetangga saya yang buibu kantoran.Dan, ada embel-embelnya ‘Duh, enak juga ya bisa seharian sama anak’. Sebal ? Enggak. Soalnya, mereka nanya gimana caranya bisa bekerja di rumah. Hihi.

Soal jadwal tidur banyak ? Duh, kalau saya lagi sakit sih iya. Tidur bisa normal 8 jam, bukan lebih dari itu. Kalau saya lagi sehat paripurna, setiap hari saya tidur jam 2 pagi dan bangun jam 5. Setelah itu ya melek aja beraktivitas. Dan, kuat tanpa harus nenggak bergelas-gelas kopi. Kecuali, kalau saya lagi masuk angin. Kudu ngopi banget setelah bangun tidur pagi.

5. Ibu mah jamannya masih punya anak masih kecil, anteng aja. Enggak pengin keluar-keluar gitu, kayak kamu yang kerjanya keluyuran. Kamu enggak bisa ya anteng di rumah ?

Pertanyaan ini dari Ibu Mertua, Ibu Rumah Tangga sejati. Sehari-hari mengurus RSA alias Rumah, Suami dan Anak. Tahun pertama sampai tahun ketiga, tiap Ibu Mertua nanya begitu, saya cuma diam dan kasih senyum. Karena katanya diam itu emas. Setelah dilakuin, kok berasa enggak jadi emas. Malah berasa jadi batu bacan yang harganya turun drastis. Saya pingin nyoba jadi berlian. Karena katanya bicara itu berlian.

Beberapa hari lalu, saya dikomentarin seperti itu lagi, dan untuk pertama kalinya saya menyahut :

“Saya keluyuran kan buat ngambil kerjaan. Pakai uang sendiri juga. Bukan ngehabisin uang suami.”

Kirain setelah saya menyahut begitu, Ibu Mertua langsung mikir ‘oh begitu ya’ dan diam. Eh malah jadi panjang.

“Oh, trus kamu keluyuran gitu anaknya dibawa ya ?” Nada pertanyaan mulai enggak enak ditambah raut muka agak nyinyir.

“Iya” jawab saya singkat, mulai baper.

“Ih, kasian banget anakmu. Pantesan suka sakit,”

Dan, saya yang lagi baper, menyahut lagi. “Yah, kalau anak dikurung di dalam rumah itu enggak sehat, Nek. Enggak bisa pintar. Enggak bisa berkembang.”

Lalu, Ibu Mertua kembali mengulang kalimatnya. “Ah, Ibu mah enggak suka kemana-mana. Di rumah aja”. Saya diam. Malas menyahutin. Eh, tetangganya nimbrung “Saya juga waktu punya anak, di rumah aja”

Dan, kalau suatu hari Ibu Mertua nanya seperti itu lagi, saya pilih kasih senyum dan diam aja ah yak. Ailapyuh Nenek Mada.

6. Bekerja kok di rumah, kerja apaan tuh ?

Pertanyaan begini kudu pake strategi menjawabnya. Kalau yang nanya itu, suaminya orang kantoran level bawah, saya bisa dengan cepat menjawab “nulis-nulis Mas/Mbak”. Kalau level suaminya yang nanya itu lumayan tinggi, saya bakalan jawab “Blogger dan nerima order transkrip suara”. Kalau yang nanya itu, suaminya bekerja di sektor informal, jawabannya lebih disederhanakan karena cakupan informasi soal dunia luar agak kurang. Kayak begini :

“Saya nerima ketikan” atau “Saya nerima terjemahan bahasa”

Dan, tanggapannya akan seperti ini : “Oh, kayak yang ada di rental dekat kampus itu ya ? Bagus deh.”

Benar, saya pernah nerima order pengetikan dan terjemahan bahasa. Tapi itu 3 tahun yang lalu. Sekarang saya mengetik tulisan artikel buat dikirim ke media atau mengetik blogging.

7. Sebenarnya kamu ini Ibu Rumah Tangga atau Ibu Bekerja ?

Saya Ibu rumah tangga yang punya pekerjaan. Gitu aja saya jawabnya. Enggak usah pakek penjelasan sepanjang tol cipali. Kalau yang nanya kepo, bakal ada pertanyaan selanjutnya sih. Yah jawab aja selagi bisa.

8. Bela-belain bekerja di rumah, emang dapat penghasilan berapa ?

Sebagai transkriptor, penghasilan saya cukup. Sebagai penulis, juga lumayan. Sebagai blogger, belum yang sampai tahap blogger berpenghasilan. Sekalinya nge-blog dan dapat penghasilan ya gara-gara menang blog competition Tabloid Nova *jujur.

Yeah, level bapernya saya sih belum yang sampai nangis gugulingan begitu. Atau jadi enggak mood dan malas ngapa-ngapain. Level baper saya masih beginner. Paling cuma tarik napas trus ngomong whooooosaaaaahhhh.

Gimana dengan dirimu, jeung ?

xoxo,

Maria Soraya