Assalamualaikum. Awal tahun 2019 di whatsapp grup keluarga ada ajakan untuk wakaf masjid di Garut, kampung halaman Papa. Yang menyahut hanya beberapa, sisanya hening tidak merespon.

Abdi mah acan beunghar, YZ (bahasa sunda : saya kan belum kaya)” kata Oom XY, adik nomor tiga Papa.

Komentar Oom XY disambut Oom YZ dengan hadist yang menganjurkan untuk berwakaf, yakni :

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan  (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al Baqarah 261)

Sekali lagi, grup keluarga hening. Akhirnya wakaf masjid di Garut hanya dilakukan oleh 3 orang dari 30 anggota whatsapp grup. Memang sih, jumlah saudara yang benar-benar tajir hanya segelintir di grup whatsapp. Kami saling memaklumi.

Selama ini, stigma wakaf hanya ditujukan untuk orang-orang yang sudah kaya. Karena, wakaf biasanya untuk makam, madrasah dan masjid. Bentuknya bisa berupa wakaf tunai atau aset berupa tanah atau bangunan. 

Kalau belum masuk golongan kaya, urusan menafkahkan harta di jalan Allah ya melalui zakat, infak dan sedekah (ZIS). Yang besaran nilainya tidak ada minimalnya kecuali untuk zakat.

Mengenal Lebih Dekat Wakaf Produktif

Benarkah wakaf hanya bisa dilakukan oleh orang kaya? Apakah ada kriteria tertentu untuk menjadi wakif (pemberi wakaf)? Jika saya hanya memiliki selembar uang Rp 10 ribu, apakah harus mengumpulkan sekian ratus lembar sebelum mewakafkan harta saya?

Seperti itulah berbagai macam pertanyaan yang ada di kepala. Saya sempat bertanya pada Papa dan jawaban beliau di luar dugaan saya. “Siapa bilang wakaf hanya untuk orang kaya? Kamu juga bisa kok menjadi wakif. Coba deh cari tahu di luar sana informasi lebih lengkap soal wakaf,” jelas Papa. 

Pucuk dicinta ulam tiba. Pada tanggal 2 Oktober, saya berkesempatan untuk belajar from a to z seputar wakaf dengan lembaga filantropi terkemuka Dompet Dhuafa. Tak hanya belajar, saya bersama teman-teman blogger akan berkunjung ke beberapa aset wakaf Dompet Dhuafa yang ada di Parung, Bogor.

Foto : Putri Mounda Dompet Dhuafa | Dok. pri

Kegiatan yang berlangsung sehari penuh dimulai 09.30 WIB di aula Masjid Smart Ekselensia Dompet Dhuafa. MC Putri Mounda -penerima manfaat beasiswa Aktifis Nusantara Dompet Dhuafa membuka acara dengan ramah. Selanjutnya, Zikri siswa Hafidz Pesantren E-Tahfidz Smart Ekselensia melantunkan ayat-ayat suci Al Quran.

Sesi pertama dibuka oleh Bapak Yuli Pujihardi, Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa. Dari penjelasan Bapak Yuli, saya beneran menjadi melek wakaf. Salah kaprah bahwa wakaf hanya bisa dilakukan oleh orang kaya terbantahkan dengan berbagai program-program yang ada di Dompet Dhuafa.

Dan, yang melek ini bukan hanya saya sendirian. Banyak juga teman-teman blogger yang tercerahkan setelah mendengarkan penuturan dari para narasumber yang hadir, antara lain :

  1. Bapak Yuli Pujihardi, Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa dan Direktur Kawasan Zona Madina Dompet Dhuafa
  2. Bobby P. Manullang, GM Wakaf Dompet Dhuafa
  3. Ustadz Syafii, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan
  4. Dr. Muhammad Zakaria, Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa

Sekitar jam 1 siang, usai ishoma saya dan teman-teman blogger dibagi menjadi 3 kelompok untuk mengunjungi aset wakaf Dompet Dhuafa yang masih berada di lokasi yang sama, Parung.

Oh ya, sebelum kami keliling, kami dikunjungi oleh Asmiril –owner Madaya Coffe -yang merupakan UKM binaan Dompet Dhuafa. Dalam presentasi singkat, beliau juga membagi-bagikan sebotol Kopi Susu Dingin secara gratis.

 

Sebotol Kopi Susu Dingin segera tandas mengisi kerongkongan saya yang kering. Masing-masing kelompok berkumpul bersama ketua kelompoknya. Saya ada di kelompok 2 dipimpin oleh Mbak Zul. 

Smart Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa

Mbak Zul mengajak seluruh kelompok 2 mengunjungi satu persatu sekolah Smart Ekselensia. Sekolah ini didirikan atas dasar kepedulian terhadap kaum dhuafa yang pintar namun memiliki kendala dalam hal keuangan. 

Smart Ekselensia hanya menerima murid laki-laki yang tinggal di asrama yang telah disediakan. Harapannya, siswa-siswa Smart Ekselensia akan menjadi pemimpin di masa depan.

RS. Rumah Sehat Terpadu

RS. Rumah Sehat Terpadu terletak di seberang sekolah Smart Ekselensia. Dari pintu gerbang nampak bangunan yang besar dan luas. Lalu lalang pasien dan keluarga pasien terlihat saat rombongan blogger memasuki kawasan ini.

RS. Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa ini rumah sakit tipe C pertama yang khusus melayani kaum dhuafa. Berdiri pertama kali tahun 2012. Lalu, setelah era BPJS Ketenagakerjaan banyak pula masyarakat umum sekitar yang berobat ke RS. Rumah Sehat Terpadu ini.

Kawasan Zona Madina

Aset wakaf terakhir yang kami kunjungi adalah Zona Madina. Kami berkumpul di lapangan terbuka dan menikmati rindangnya pepohonan yang ada di Kampung D’Jampang.

Usai mengunjungi satu persatu aset wakaf Dompet Dhuafa, tak sabar rasanya saya ingin menjadi wakif yang bisa dilakukan hanya dengan Rp 10 ribu saja. Dan, tentunya informasi seputar wakaf ini penting disebarkan di whatsapp grup keluarga. Agar semuanya tercerahkan dan tergerak untuk berwakaf.