Assalamualaikum. Obrolan santai yang biasa saya lakukan bersama Pak Gondrong adalah tentang bakat dan potensi Mada, anak kami. Sebagai orang tua, kami ingin Mada memiliki masa depan yang lebih baik dari kami tentunya. Untuk mencapai tujuan tersebut harus direncanakan sedini mungkin.

Selain pendidikan akademis, ada lagi yang dapat menunjang masa depan seseorang yakni bakat, potensi dan minat-yang di kemudian hari bisa dijadikan hobi yang mendulang rupiah atau justru pekerjaan utama. Untuk mengetahui bakat anak, bisa ditelusuri rekam jejak masing-masing keluarga.

Bakat Turun-temurun, Bisakah Diasah?

Memaksimalkan Potensi Anak | Sumber foto : Unsplash/Markus Spiske

Dari keluarga saya yang menonjol adalah kemampuan public speaking dan writing. Saya dan adik bungsu sama-sama senang menulis. Saya menjadikan kegiatan ini sebagai ladang rezeki, sementara Ross -si adik bungsu menjadikan kegiatan menulis sebagai hobi.

Lain lagi dengan adik nomor 2 dan 3. Mereka kini sudah bekerja. Adik cowok paling besar sedang menjalani pendidikan latihan (diklat) calon Hakim di Denpasar. Sementara, adik cewek paling besar bekerja fulltime di sebuah agency periklanan. Mereka berdua sama-sama senang berbicara di depan umum (public speaking).

Kemudian, dari pihak keluarga suami yang menonjol adalah Bapak Mertua dan Pak Gondrong senang ngoprek motor tua. Bapak Mertua bekerja di bengkel pribadinya nine to five. Pak Gondrong selain bekerja mengelola bengkel Bapaknya, beliau juga bergabung dalam komunitas motor.

“Sepertinya Mada enggak bakat ke otomotif deh. Tiap diajak ke bengkel, mukanya biasa aja. Enggak ada ketertarikan apa gitu. Mainin obeng atau kunci inggris,” ujar Pak Gondrong suatu hari.

Pak Gondrong pun berinisiatif membeli gitar untuk dipakai duet bersama Mada. Memang sih, Mada memiliki ketertarikan yang tinggi pada musik. Tiap ada musik, Mada pasti auto joget. Kalaupun enggak auto joget, kepala atau tangannya pasti goyang. Kadang, dia nyanyi-nyanyi sendiri di kamar mandi.

Setelah kami menyadari bahwa Mada tidak tertarik pada dunia otomotif, dapat disimpulkan bahwa bakat turun-temurun tidak bisa diasah kecuali anak memiliki ketertarikan pada bidang tersebut.

Memetakan Potensi dan Minat Anak, Memangnya Bisa?

Memetakan Potensi dan Minat Anak | Sumber foto : Unsplash/Marten Heuveul

Sebelum lanjut pembahasannya, kita kenali dulu bedanya potensi dan minat. Bila bakat adalah pembawaan sifat dasar sedari lahir, maka potensi merupakan kadar kemampuan seseorang untuk mencapai hasil maksimal. Potensi dapat diasah melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus. Hasil yang maksimal akan terlihat saat anak menggabungkan potensi dan minat (ketertarikan pada satu hal).

Saya ambil contoh saya senang menulis dan bisa menulis karena saya punya potensi dan minat yang sangat besar. Di keluarga besar Mamah dan Papah satupun tidak ada yang berprofesi sebagai penulis atau bekerja di bidang seni. Dokter atau Bidan adalah profesi turun-temurun di keluarga besar Mamah. Sementara, di keluarga besar Papah rata-rata pekerjaannya wirausaha.

Saya bisa menulis karena Mamah sering membacakan buku cerita. Saya bisa berimajinasi melalui sebuah tulisan. Mamah juga tak luput selalu melatih saya untuk menulis cerita sedari saya kelas 1 SD. Beliau membelikan diary agar saya bisa belajar menulis cerita.

AJT Cogtest, Solusi Untuk Mengetahui Potensi Kecerdasan Anak

Ari Kunwidodo Dirut PT Melintas Cakrawala Indonesia menjelaskan manfaat dari AJT Cogtest | Sumber foto : Zata Ligouw

Bila jaman saya kecil, orang tua kudu tebak-tebak buah manggis untuk mengetahui potensi dan minat anak. Maka, sekarang ini orang tua bisa tahu dua hal tersebut melalui hasil AJT Cogtest. Bahkan, orang tua bisa mengetahui gaya belajar yang tepat buat anak.

Tanggal 18 Juli 2019, saya bersama 4 teman blogger menghadiri Bincang Santai Bersama Diana Lie, M.Psi dengan tema “How to Discover Your Child’s Potential” yang berlokasi di Rojiro Coffee & Resto. Saya datang paling awal sekitar jam 1an siang. Segitu antusiasnya saya sampai ogah kena macet dan memilih naik ojol dari rumah Mamah di Tanah Baru.

Mendekati jam 2 siang, satu persatu peserta Ibu-ibu sudah tiba di lokasi. Ada yang membawa anak, ada juga yang datang tanpa anak dan rombongan. Acara dibuka oleh Mbak Zata Ligouw -founder Mammacomid- dan Bapak Ari Kunwidodo Direktur Utama PT Melintas Cakrawala Indonesia.

Bapak Ari menjelaskan bahwa PT Melintas Cakrawala Indonesia adalah satu-satunya lembaga penyedia tes kognitif yang menggunakan AJT CogTest di Indonesia. AJT Cogtest mengacu pada teori Cattell-Horn-Carroll (CHC) yang memetakan 8 kecerdasan anak. Tahun 2013, tim PT Melintas Cakrawala Indonesia mengembangkan tes ini bersama tim akademisi Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM). Jadi, sudah disesuaikan dengan kondisi anak Indonesia ya.

Tes kecerdasan ini dapat dilakukan oleh anak usia 5 tahun hingga 18 tahun. Melalui AJT Cogtest, orang tua dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan anak dalam belajar. Jadi, kita sebagai orang tua dapat mengoptimalkan kemampuan anak. Bila anak tidak menyukai matematika dan lebih menyukai bidang bahasa, orang tua dapat mengarahkan anak pada bidang ini.

Dari penjelasan Bapak Ari, AJT Cogtest sudah dipakai sebagai alat tes kecerdasan di berbagai sekolah, diantaranya Sekolah Cikal, Sekolah IPEKA, Sekolah PSKD, Sekolah Citra Kasih hingga Pantara -sekolah anak berkebutuhan khusus.

AJT Cogtest terdiri dari dua paket, yaitu :

AJT Cogtest Full Scale untuk mengetahui 8 kecerdasan anak serta kekuatan dan kelemahan anak dalam belajar. Biayanya yaitu Rp 760,000.

AJT Cogtest Comprehensive untuk mengetahui lebih detail kecerdasan serta data anak untuk dianalisis. Biayanya yaitu Rp 1.200.000.

Hasil AJT Cogtest berupa softcopy psikogram yang dikirimkan melalui e-mail 7-14 hari setelah anak melakukan tes kognitif. Dari hasil tersebut, orang tua dapat mendiskusikan langkah selanjutnya dengan Psikolog dari PT. MCI.

Pentingnya Mengetahui Pola Asuh Orang Tua

Mengenali Pola Asuh Orang tua | Sumber foto : Unsplash/Priscilla Du Preez

Selanjutnya, sesi yang paling dinanti yakni bincang santai bersama Psikolog Diana Lie, M.Psi. Saya baru mudeng ternyata duduk bersebelahan dengan beliau. Karena, penampilannya seger banget dan she’s still young.

Sesuai judulnya, acara ini memang dibuat santai. Psikolog Diana menyapa tamu undangan dengan menjelaskan hubungan antara pola asuh orang tua dengan kecerdasan anak. Ia sempat membagikan pertanyaan slide per slide dengan jawaban yang ditunjukkan oleh warna.

Misalnya, anak hilang di tempat umum, apa yang dilakukan orang tua? Marah-marah (kotak kuning), Cuek (kotak merah), Memarahi suster karena tidak menjaga anak dengan baik (kotak hijau) atau memarahi anak lalu menjelaskan agar lain kali lebih berhati-hati (kotak biru).

Bila kita sering menjawab kotak kuning berarti pola asuh kita adalah otoriter. Kemudian, kotak warna merah menunjukkan pola asuh kita adalah permisif. Untuk kotak hijau menandakan kita tidak peduli dengan perkembangan anak dan terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Yang paling ideal yaitu kotak warna biru yang mencerminkan pola asuh kita adalah demokratis.

Jenis-jenis pola asuh orang tua | Sumber foto : PT. MCI

Ketika salah menerapkan pola asuh di rumah, bukan tak mungkin akan menghambat potensi anak. Bahkan, mengganggu kecerdasan psikis anak. Psikolog Diana menyebutkan masalah belajar pada anak itu penyebabnya hanya dua, yakni masalah sosial emosional dan pola asuh anak.

Mengenali Potensi Anak Bersama Diana Lie, M.Psi | Sumber foto : Zata Ligouw

PT. Melintas Cakrawala Indonesia

Website : www.melintascakrawala.id

Instagram : @melintascakrawalaid

Whatsapp CS : 087883258354