Assalamualaikum. Di pertengahan bulan Juni 2019, saya berkesempatan mengikuti Workshop Kesehatan selama 2 hari yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tema yang dibahas yaitu “Cegah dan Kendalikan PTM (Penyakit Tidak Menular)” dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2019. 

Dari judul tema workshop, mungkin Anda sedikit bingung, adakah kaitannya antara tembakau dengan penyakit tidak menular  ? Simak ya tulisan saya berikut ini. 

Saya merasa SANGAT PERLU hadir pada kegiatan tersebut, lantaran Mamah dan adik laki-laki saya pernah menjadi “korban” dari asap rokok. Mereka berdua perokok pasif. Mamah harus dirawat selama berbulan-bulan akibat paru-paru sebelah kirinya penuh dengan bintik hitam ketika dirontgen. Setelah Mamah hampir pulih, adik laki-laki saya mengalami hal yang sama. Bedanya, paru-parunya penuh cairan. Padahal, adik tidak pernah merokok. 

Dari dokter disebutkan penyebabnya adalah asap rokok. Kebetulan di rumah, Papah sering merokok di dalam kamar ber-AC. Kamar yang menjadi ruang tidur sekaligus ruang kerja Papah. Saya dan adik-adik pernah protes dengan kebiasaan Papah, namun beliau keukeuh rokoknya tidak membawa efek apa-apa karena rokok kesehatan.

Alhamdulillah, setelah menjalani pengobatan ke rumah sakit selama satu tahun secara rutin, Mamah dan adik dinyatakan 100 persen pulih. Mereka sudah bisa berkegiatan seperti sedia kala dengan catatan tidak boleh terlalu capek. Karena, akibat asap rokok Mamah kehilangan bobot hingga 30 kg dalam waktu kurang 3 bulan dan adik saya juga tubuhnya menjadi kurus kering.

Dengan saya hadir di workshop kesehatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2019, harapan saya melalui blog mariasoraya.com dapat menyebarkan informasi terkait bahaya asap rokok serta kaitannya dengan Penyakit Tidak Menular yang jumlahnnya kian banyak.

Tujuan diadakannya Hari Tanpa Tembakau Sedunia yaitu mengingatkan bahaya asap rokok pada perokok pasif dan utamanya perokok aktif. Harapannya, dapat mengajak juga para perokok aktif untuk berhenti merokok selama 24 jam. 

Hari Pertama (18/6) : Cegah dan Kendalikan PTM

Jarum jam belum menunjukkan pukul sembilan pagi. Puluhan blogger sudah duduk manis di Grand Ballroom Royal Kuningan Hotel. Sesi pertama dibuka oleh dr.Theresia Sandra Diah Ratih, MHA dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak menular- yang membahas tentang Kebijakan dan Strategi Menghadapi Penyakit Tidak Menular di Indonesia.

Dari data WHO 2018, angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular adalah sebanyak 80 % yang terjadi di negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Penyakit tidak menular contohnya diabetes, jantung koroner, kanker dan hipertensi.

Penyakit tidak menular disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat (kelebihan gula dan garam di dalam tubuh) dan gaya hidup sedentary alias kurang bergerak. 

Menurut dr. Theresia, Indonesia juga termasuk negara yang memiliki tiga masalah gizi. Yakni, stunting akibat kekurangan gizi mudah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Begitu pula kasus obesitas atau kelebihan gizi.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melakukan langkah-langkah preventif dalam menangani PTM. Diantaranya, melakukan himbauan untuk minimarket memasang tirai hitam pada rak yang berisi rokok yang berada di dekat kasir.

Setelah dr. Theresia memaparkan sebab-akibat Penyakit Tidak Menular di Indonesia, narasumber berikutnya adalah Dr.Rita Ramayulis, DCN, M.Kes – ahli gizi sekaligus penulis 36 buku  yang membahas tentang gizi.

Materi yang disampaikan Dr. Rita enjleb banget buat saya hiks. Soale seputar obesitas dan cara mengatasinya. Oh ya, obesitas ini termasuk penyebab penyakit tidak menular. Anak dan orang dewasa yang kelebihan berat badan lebih mudah terserang berbagai penyakit. 

Ada satu anekdot yang saya sering banget dengar, ketika ada anjuran berolahraga entah melalui media iklan atau kegiatan workshop akan muncul jawaban “Saya sudah olahraga kok, tadi pagi menyapu dan naik turun tangga di rumah”

Hmmm, ternyata yang disebut olahraga itu bukan sekedar bergerak. Namun, kegiatan membakar kalori di dalam tubuh. Dr. Rita membedakan antara aktivitas fisik, latihan fisik dan olahraga. 

  1. Aktivitas fisik : melakukan gerakan yang tidak banyak mengeluarkan energi, misalnya menyapu, mengepel atau menyiram tanaman.
  2. Latihan fisik : melakukan kegiatan yang lebih terencana dengan tujuan membakar kalori.
  3. Olahraga : melakukan kegiatan yang tujuan akhirnya untuk berkompetisi. 

Jadi, mohon para pembaca blog mariasoraya.com mencatat dan mengingat hal ini ya. Besok-besok kalau ditanya sudah olahraga, jangan menjawab “sudah kok, olahraganya mengepel dan naik turun tangga” hihihii. 

Hari Kedua : Kunjungan Lapangan ke Rumah Sakit Harapan Kita

Sambutan dr. Basuni -Direktur SDM dari Rumah Sakit Harapan Kita

Dari pemilihan kelompok di Royal Kuningan Hotel, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Rumah Sakit Harapan Kita yang dikenal juga sebagai Pusat Jantung Nasional (PSN).

Ini kali kedua saya datang ke Rumah Sakit Harapan Kita. Dulu saya datang untuk membesuk Aki Garut -Bapaknya Papah- yang harus operasi by pass jantung. Kunjungan kedua saya ini untuk menggali ilmu lebih dalam soal rokok dan penyakit tidak menular.

Melalui penjelasan Dr. Basuni, terdapat tiga cara pencegahan penyakit tidak menular, antara lain :

  1. Pencegahan primer yaitu kegiatan menjaga kesehatan yang dimulai dari diri sendiri dan anggota keluarga.
  2. Pencegahan sekunder yaitu kegiatan pencegahan yang dilakukan rumah sakit dalam mengobati pasien. 
  3. Pencegahan primordial yaitu pencegahan penyakit yang dilakukan oleh negara.

Kunci terhindar dari penyakit tidak menular -utamanya jantung koroner- yaitu pola makan yang sehat dengan mengkonsumsi banyak buah dan sayur, cek rutin kesehatan serta gaya hidup yang sehat dan senantiasa aktif

Tak hanya mendengarkan paparan dari narasumber Dr. dr. Basuni Radi SpJP(K),FIHA -Direktur SDM dan dr. Ade Median -Kardiologi dari Rumah Sakit Harapan Kita, kami juga berkunjung ke ruangan yang biasa digunakan oleh pasien jantung. Diantaranya :

  • Ruang Gym yakni tempat olahraga bagi para pasien jantung. Fasilitasnya cukup lengkap diantaranya treadmill dewasa, sepeda statis anak dan dewasa hingga alat barbel.
  • Ruang Fisioterapi yaitu ruangan untuk penyembuhan pasien jantung.
  • Ruang Treadmill Test yakni ruangan untuk mengetahui kondisi jantung pasien. Selain dicek melalui alat yang ditempelkan ke pergelangan tangan dan kaki, pasien juga dicek melalui treadmill yang ada di dalam ruangan. 
  • Klinik Konsultasi Rokok -penyakit jantung memang ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Di klinik ini, pasien diajak berkonsultasi dan berhenti merokok. 

Saya dan teman-teman blogger kesehatan juga diberikan kesempatan untuk mewawancarai lebih dekat dengan pasien jantung. Ada tiga pasien di dalam ruang gym yang diwawancarai blogger. Saya, Clara dan Annisah mewawancarai Pak Suryadi.  

Pak Suryadi harus menjadi pasien Rumah Sakit Harapan Kita karena kebiasaannya merokok sejak usai 15 tahun. Gaya hidupnya sering begadang dan dalam sehari dapat menghabiskan 2 bungkus rokok. Di usia 40an, beliau mulai merasakan gejala nyeri pada dada. Pak Suryadi dinyatakan harus melakukan pemasangan ring pada jantungnya. Empat tahun kemudian, beliau kembali harus menjalani operasi jantung besar yaitu by-pass

Pengalaman Pak Suryadi dapat dijadikan pelajaran untuk orang-orang tersayang di sekitar kita. Sebaiknya jauhi asap rokok. Syukur-syukur sih, suami dan anak (yang sudah remaja/kuliah) juga enggak merokok ya. 

Bila sedang di tempat umum, jangan takut bersikap galak terhadap orang-orang yang sembrono merokok. Saya sering menegur Bapak-bapak di angkot yang klepas-klepus di depan saya. Rata-rata pada tengsin ditowel atau ditepuk dan ditegur sama saya. Yaiya soalnya saya menegurnya begini lho :

“Pak, rokoknya dimatikan. Jangan duduk di sini kalau mau merokok. Duduk di atap mobil aja. Kalau saya atau anak saya bengek gara-gara nyium asap rokok Bapak ini, Bapak siap bayarin pengobatan ke rumah sakit ?”

Sebelum saya menegur, saya pasang muka judes dan melototin orang yang merokok. Rata-rata sih pada menghindar kontak mata. Jadi, saya towel atau tepuk orangnya lalu menegur dengan suara dikerasin. Reaksi yang ditegur langsung minta maaf dan mematikan rokoknya. Para penumpang lain biasanya sih manggut-manggut. 

Setelah berkeliling di Rumah Sakit Harapan Kita, saya dan teman blogger kembali ke gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kami belajar branding di medsos bersama Kang Arul. 

Untuk memposting di Instagram, ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Diantaranya :

  1. Maksimal posting 3x sehari.
  2. Gunakan hashtag yang tepat.
  3. Mention teman-teman terdekat.
  4. Share pada waktu peak-hour.
  5. Jawab setiap komen yang masuk pada postinganmu. 

Ilmunya Kang Arul kena banget nih. Saya suka ngalamin pengin posting tapi ditunda dulu demi ke-HQQ-an feed Instagram. Padahal, sudah diatur sedemikian rupa ya belum nambah banyak juga followernya hehehee. Ya kan, posting-posting begitu juga pastinya pengin dong nambah follower. 

Dua hari mengikuti Workshop Kesehatan plus bonus ilmu branding dari Kang Arul benar-benar made my day. Bukan hanya tahu banyak seputar rokok dan penyakit tidak menular, namun ada ilmu yang berkaitan dengan profesi saya sebagai seorang blogger dan influencer.  

Twitter: @p2ptmkemenkesRI
Instagram : @p2ptmkemenkesri