Assalamualaikum. Tahun kemarin beberapa kali saya menulis tentang pentingnya cek kesehatan pra nikah di website Ayahbunda. Pada saat itu saya hanya membayangkan ‘oh begini lho resikonya ketika kita sebagai perempuan abai dengan cek kesehatan pra nikah’

Berkaitan dengan cek kesehatan pra nikah, pada tanggal 20 Mei 2019 saya berkesempatan hadir di acara Peringatan Hari Thalassemia Sedunia. Berlokasi di Aula Siwabessy Gedung Prof. Sujudi Kemenkes, saya bertemu dengan para perempuan dan laki-laki dewasa penyintas Thalassemia. Sebelum kegiatan dimulai, di depan Aula Prof. Sujudi dipadati oleh orang-orang yang sedang antri untuk cek kesehatan darah (screening).  Saya ikutan cek juga walaupun sudah menikah dan tidak ada riwayat penyakit kelainan darah ini di keluarga.

“Sekali cek darah begini mahal lho Buk klo di laboratorium,” jelas petugas kesehatan sebelum membuka tabung suntikan. Ia sempat menjelaskan antrian di pojok sebelah kiri adalah orang-orang yang positif terkena Thalassemia. Sementara di antrian tengah -tempat saya screening– kebanyakan orang umum. 

“Berapa hari ini ketahuan hasilnya ?” tanya saya.

“Dua sampai tiga hari, Buk. Nanti Ibuk akan mendapat e-mail mengenai hasil screening atau bisa datang langsung ke gedung Kemenkes ini,”

Darah yang diambil sebanyak dua tabung kecil. Enggak ada efek apa-apa setelah darah saya diambil. Hingga tulisan ini tayang di blog, saya belum mengambil hasil cek darah. Think positive ya. Insya Allah enggak kenapa-napa.

Mengenal Lebih Dekat Thalassemia

Dokumentasi pribadi

Ketika Anda membaca tulisan saya ini, apa yang ada di kepala mendengar kata thalassemia ? Dari ujung namanya sih sepertinya thalassemia masih saudaraan dengan anemia. Yessss betulnya pakai banget banget. Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diturunkan dari kedua orangtua kepada anak dan keturunannya.

Bila anemia merupakan penyakit yang muncul akibat darah rendah dan efeknya “tidak terlalu berat”, maka thalassemia ini penyakit seumur hidup yang harus melakukan pengobatan secara terus-menerus, biayanya tidak murah dan efeknya dirasakan langsung oleh pengidap thalassemia.

Dalam seminar Peringatan Hari Thalassemia Sedunia, turut hadir narasumber-narasumber ahli diantaranya : 

  • DR. dr. Teny Tjitra Sari, SpA (K) – Divisi Hemato Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak UI 
  • dr. Iswari Setyaningsih, SpA, PhD
  • Tubagus Djumhana Atmakusuma – Perhimpunan Hematologi & Transfusi Darah Indonesia (PHTDI)
  • Dona Rifana – penyintas Thalasemia

Dari sekian sumber, yang menarik perhatian saya ketika Mas Dona menuturkan kisah hidupnya sebagai seorang penyintas Thalassemia.

“Saya mengidap penyakit ini dari usia 4 tahun. Pada saat itu dokter telah memvonis bahwa saya hanya bisa hidup hingga umur 19 tahun,” ungkap Mas Dona. 

Kemudian, ia lanjut menjelaskan bahwa jumlah pengidap thalassemia di Indonesia cukup tinggi. Mas Dona dengan gamblang menjelaskan dengan detail kisah perjuangannya menghadapi thalassemia. 

“Transfusi itu mirip me time bagi saya. Karena selama transfusi saya harus tidur dan rileks. Ketika bangun tubuh segar karena darah kotor sudah diambil. Yang berat itu justru ketika harus terapi kelasi besi dengan cara penyuntikkan sebanyak 5 kali seminggu”

Mas Dona menyebutkan para pengidap thalassemia memiliki fisik yang khas. Diantaranya kulit yang lebih gelap dan kering karena efek dari terapi kelasi, tulang pipi yang menciut serta perut buncit. Tak hanya itu, gizi buruk juga menghantui para pengidap thalassemia.

“Agar calon keturunan Anda terhindar dari thalassemia, ada baiknya melakukan periksa darah sebelum menikah. Bahkan kalau perlu menjadi hal yang wajib. Karena, thalassemia ini bukan penyakit berbiaya murah. Thalassemia juga bukan penyakit menular namun penyakit keturunan.” tutupnya di akhir acara.