Assalamualaikum. Dua bulan lagi Mada resmi jadi anak TK B. Sedari awal tahun 2019 Mada sudah enggak sabar pengin ketemu teman-teman baru yang seumuran, bermain di halaman sekolah (dia sudah lihat sekolahnya dan ada banyak mainan di halaman sekolahnya) dan tentu saja berkegiatan bersama Bunda-bunda TK.

Sebelumnya Mada sempat mengikuti kelas PAUD selama 1,5 tahun di Lebak Bulus. Lokasinya dekat rumah Mertua dan juga bengkel motor Pak Gondrong. Jaraknya memang lumayan jauh dari tempat tinggal saya di Depok. Pertimbangan saya memilih PAUD di Lebak Bulus supaya lebih mudah menitipkan Mada ke Neneknya ketika saya sedang bekerja di luar rumah.

Tahun 2017, Mada beberapa kali mengeluh soal sekolahnya yang kejauhan. Mada juga suka mogok depan kelas kalau dia datang dan teman-temannya sudah komplit di dalam kelas. Mada enggak pengin dirinya datang terlambat. Gemasssshhh kan yaaa … jarak rumah – sekolahnya jauh, eh nyampe sekolah masih ada drama pulak. Pernah, kami datang ke sekolah dan Mada sama sekali enggak mau masuk karena dia tidak menemukan teman-temannya di halaman bermain PAUD. Mada tetap mogok masuk kelas, meskipun Bunda PAUD-nya sudah membujuk dengan segala cara.

Lama-lama saya keuheul juga, sudah prepare pagi-pagi untuk sekolah Mada dan bocahnya mogok. Satu bulan sebelum wisuda di bulan Maret 2018, Bunda PAUD sempat bertanya apakah Mada mau lanjut PAUD atau ikutan wisuda kelulusan.

Jawaban saya mantap “Mada ikut wisuda kelulusan aja, Bunda. Mada lanjut sekolah di Depok. Kejauhan hehee,”

Pasca “lulus” dari PAUD, saya sempat mengajar mandiri Mada. Bahasa kerennya homeschooling. Beberapa wali murid PAUD sempat menyarankan agar saya mendaftarkan Mada ikutan les calistung. Saya belum sreg. Membayangkan anak umur 3 tahun belajar calistung rasanya kok berat banget ya ….

Empat bulan Mada homeschooling bersama saya. Jangan dibayangkan saya mengajar ala guru-guru jaman baheula. Saya mengajar dengan cara yang menyenangkan. Yang bertujuan untuk menstimulasi motorik halus, motorik kasar dan pelan-pelan mengenalkan huruf pada Mada. Saya ambil materi montessori dari berbagai sumber sesuai minat Mada.

Tiap kali kami sedang jalan berdua, saya menunjuk tulisan yang ada di banner spanduk, papan billboard atau tulisan-tulisan yang bisa dibaca untuk anak seusia Mada. Misalnya, tulisan ‘warung tegal’, ‘Alfamart’, ‘dilarang parkir’ dan lain-lain.

Ndilalah, selama empat bulan Mada homeschooling yang terlihat paling menonjol adalah kemampuan membacanya. Ya, ternyata kebiasaan saya mengenalkan tulisan pada Mada diserap dan ditangkap Mada dengan baik. Mada membaca tanpa dieja, namun dengan cara melafalkan setiap tulisan. Kemampuan ini terus bertambah setelah saya rutin membelikan buku anak-anak.

“Coba anakmu diajak ke psikolog untuk tes minat dan bakat. Anakmu ini cerdas banget. Dia bisa membaca tanpa dieja,” saran Mamah Vina, tetangga saya. Mamah Vina ini pengajar volunteer untuk anak-anak jalanan dan mengajar les privat juga.

Kening saya mengerut. “Lha, Mada kan genap 5 tahunnya masih nunggu sekian purnama. Bisa gitu ?”

“Bisa dong. Vina umurnya baru 2 tahun. Gara-gara aku ikutin tes sidik jari, aku jadi tahu minat Vina itu apa. Dari hasilnya Vina punya minat sama musik. Pantesan tiap aku nyetel lagu, dia auto joget,”

Saya pun mencari info melalui Mbah Gugel. Pencarian saya berhenti pada #TesKognitifAJT.

AJT CogTest, Cara Untuk Mengetahui Potensi Anak Sejak Dini

Dari informasi Mbah Gugel, saya pun berkunjung ke websitenya Melintas Cakrawala Indonesia untuk mengetahui lebih lanjut tentang AJT CogTest. Pada homepage, saya disambut dengan 3 pertanyaan yang ditujukan untuk Orangtua, Pendidik dan Psikolog. Saya tertarik untuk mengetahui profil Melintas Cakrawala Indonesia melalui kanal “Tentang Kami”.

AJT CogTest adalah alat ukur kognitif pertama di Indonesia, yang divalidasi dan paling komprehensif untuk mengetahui kemampuan serta kelemahan belajar siswa usia 5 – 18 tahun. #AJTCogTest menggunakan teori kecerdasan Cattell-Horn-Carroll (“CHC”) yang dapat mengetahui kemampuan anak dari 8 tipe kecerdasan anak.

Selama empat tahun, Dr. Kevin McGrew dari Universitas Minnesota bersama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Urip Purwono, M.Sc., Ph.D melakukan penelitian terhadap 5.000 sampel siswa di pulau Jawa. Dr.McGrew sendiri sudah melakukan riset teori kecerdasan Cattell-Horn-Carroll dan pengembangan tes selama puluhan tahun.

Setelah membaca satu-persatu penjelasan yang ada di website Melintas Cakrawala Indonesia, saya tentu saja tertarik ingin melakukan AJT CogTest untuk Mada. AJT CogTest terdiri dari 2 pilihan paket yaitu :

  1. AJT CogTest Full Scale untuk mengetahui 8 kecerdasan anak dan menampilkan juga kekuatan dan kebutuhan belajar anak. Biayanya Rp760.000.
  2. AJT CogTest Comprehensive untuk mengetahui data yang lebih rinci terkait anak untuk dianalisis. Biaya Rp1200.000

Untuk mengikuti AJT CogTest, anak akan didampingi oleh psikologi profesional dari PT. Melintas Cakrawala Indonesia. Setelah anak melakukan AJT CogTest, hasilnya berupa softcopy akan dikirimkan 7 hingga 14 hari via e-mail.

PT. Melintas Cakrawala Indonesia

Website : www.melintascakrawala.id

Instagram : @melintascakrawalaid

Whatsapp CS : 087883258354

Ah, semoga setelah Mada melakukan AJT CogTest, saya enggak bingung lagi mengarahkan minat Mada dan juga mengatasi masalah Mada yang kadang lebih banyak ngobrolnya daripada belajar.