“Aku enggak mau ke rumah Nenek, Buk” kata Mada suatu pagi. Saya yang sedang mengolesi roti dengan selai coklat, langsung meletakkan selai dan roti di meja lalu menghampirinya. 

“Oh, memangnya kenapa Mas Mada gak mau ke rumah Nenek ?” tanya saya duduk di sebelah Mada. 

“Mada enggak boleh lari-larian kalau di rumah Nenek. Enggak boleh ikut Bapak ke bengkel. Enggak boleh naik tangga. Enggak boleh main kejar-kejaran sama Abang Rafif (anak tetangga Nenek). Banyak enggak bolehnya, Mada enggak suka. Mada sukanya bergerak, Buk” jelas Mada panjang lebar. 

Saya tertawa sambil mengelus kepala Mada. Saya senang karena Mada bisa mengutarakan pendapatnya dengan runut. “Ya enggak apa-apa, sih. Nenek banyak melarang karena sayang sama Mas Mada. Lagian Mas Mada sama Neneknya kan sebentar. Biar Ibuk bisa pekerjaan dulu,”

Akhirnya, Mada bersedia bermain di rumah Nenek dengan segala persyaratan. Misalnya saya harus membelikan buku sesuai judul yang diminta dan saya harus menjemput Mada sebelum langit gelap. Ehmm, okelah request-nya enggak sulit, pikir saya waktu itu. 

Namun, minggu depannya Mada kembali mogok diajak ke rumah Nenek. Padahal, saya harus datang ke kantor lebih rutin dari biasanya. Jadwal normal saya sebagai freelancer memang hanya 3x seminggu. Di waktu-waktu tertentu, saya harus full datang seminggu. Duh, kepala saya pening membayangkan setiap hari harus bekerja dengan segala persyaratan Mada.

Ketika Mada Menjadi Anak Daycare

Gara-gara sering melihat beberapa Ibu muda memposting kegiatan anaknya di daycare, saya tergelitik ingin juga mendaftarkan Mada ke daycare.

Setelah hunting ke daycare yang ada di sekitar rumah, saya tertarik memasukkan Mada ke Daycare Matahari (sebut saja namanya demikian). Pertimbangannya, karena faktor lokasi dekat rumah, ada kegiatan playgroup di pagi hari dan harganya sesuai budget saya. 

Seminggu … dua minggu … tiga minggu. Dan, Mada pun genap sebulan menjadi anak daycare. Saya tentu saja senang karena merasa sangat terbantu. Apalagi laporan dari caregiver selalu bagus soal Mada. 

Di bulan berikutnya, Mada pulang dengan jidat baret tiga. “Mada enggak cerita ke Miss, Buk. Mada ini kan Ultraman, jadi Mada lawan aja si Ammar tapi Ammarnya malah nyakar Mada,”

Dalam jarak yang berdekatan, Mada kembali pulang dengan hidung baret. Saya komplain soal hal ini ke Miss Caregivernya. Tanggapannya cenderung menyalahkan Mada yang tidak mau tidur siang. Jadi, di saat anak-anak daycare yang lain tidur, Mada dan Ammar sama-sama melek dan mereka berantem.

Feeling saya mulai enggak enak. Mada juga mulai enggak semangat ke daycare. Bangun paginya menjadi susah. Berangkat ke daycare yang awalnya semangat jadi penuh drama. 

 

Puncaknya, Mada nangis gegerungan di depan pintu masuk daycare. Dia keukeuh enggak mau masuk ke dalam daycare meskipun dibujuk oleh para miss caregiver bahkan owner daycare.

Jujur saya bete banget. Karena, Mada bukan tipe anak yang suka tantrum di depan umum apalagi nangis gegerungan seperti itu. Jadi, ketika Mada bisa bersikap “ajaib” seperti itu tentu ada penyebabnya. 

Mada hanya bertahan 3 bulan menjadi anak daycare. Dari pihak daycare sempat menanyakan kondisi Mada apakah masih lanjut atau berhenti daycare.

“Anak Ibu terlalu aktif. Tiap teman-temannya tidur siang, Mada tetap melek dan main sendirian. Kadang ya main sama temannya yang melek kayak Ammar,” jelas Bunda Matahari melalui telpon.

Saya mengkonfirmasi juga ke Mada penyebab dia mogok ke daycare. Ketika Mada bersiap tidur siang di rumah, saya menemaninya sembari mengobrol santai. Jawaban Mada sama dengan Bunda Matahari namun cukup mengejutkan.

“Kalau Mada enggak tidur, Mada suka dipelototin Miss Bunga. Mada juga enggak ditemenin main. Mada pernah ditinggal di kamar sendirian dan kamarnya dikunci. Mada takut, Buk. Mada maunya tidur siang sama Ibuk aja,”

Deg. Ujung mata saya menghangat. Saya enggak ngomong apa-apa lagi selain memeluk Mada lebih erat. 

Anak #AktifItuSehat, Jangan Banyak Dilarang

Sembari memeluk Mada yang sudah terlelap, saya pun mengingat masa-masa Mada saat ia disapih. Berbeda dengan anak-anak tetangga, Mada baru disapih saat usianya genap 3 tahun karena saya ingin Mada mendapatkan nutrisi lebih dari ASI yang ia asup. Proses menyapihnya lancar. Tidak ada drama lipstick diolesin di payudara atau mengolesi jamu pahit ke puting payudara.

Tipsnya bisa dipraktekkan nih. Di usia 3 tahun, Mada sudah terbiasa diajak berdiskusi dua arah. Saya memberitahu bahwa anak-anak yang masih menyusui Ibunya hanya anak-anak yang belum punya gigi.

“Mas Mada kan giginya sudah komplit. Doyan makan soto ayam, pizza, schotel sama minum susu kotak. Masa masih mamok (nenen) ? Malu sama bayi yang belum punya gigi,” goda saya. Mada tersipu dan berjanji tidak akan mamok lagi. 

Proses menyapih hanya 3 hari. Perbedaan yang nampak, Mada lebih aktif dari sebelum disapih. Saya anggap itu merupakan masa peralihan dari menyusui. Dari hasil konsultasi dengan dokter anak di Rumah Sakit Hermina Depok, tidak ada masalah dengan Mada yang aktif.

“Bersyukur anaknya aktif Bu. Yang penting asupan gizinya terpenuhi apalagi anak Ibu baru disapih. Saya punya pasien anak berkebutuhan khusus. Setiap kali ketemu, Ibunya selalu bercerita ingin melihat anaknya bisa berjalan atau berlari seperti anak-anak seusianya,”

Indomilk UHT Kids Full Cream, Pilihanku Untuk Mendukung Tumbuh Kembang Mada

Saat menyapih Mada, saya bersyukur tidak ada kesulitan. Karena, pilihan pengganti ASI-nya beragam. Namun, untuk masa depan kesehatan Mada, saya tidak sembarang memilih susu. Mada terlahir dengan berat badan 4,5 kg dan termasuk bayi jumbo. Dari informasi dokter kandungan, bayi jumbo lebih rentan terkena diabetes di usia dini. Karena itu penting untuk memberikan asupan yang bergizi dan rendah gula.

Pilihan saya jatuh pada Indomilk UHT Kids Full Cream. Alasannya, karena susunya tidak manis dan tentu saja kemasannya praktis. Ketika berkonsultasi kembali dengan dokter anak, memang susu UHT sangat disarankan untuk diberikan pada anak yang lepas ASI. 

Dengan memberikan Indomilk UHT Kids Full Cream, berarti saya peduli pada kebersihan minuman yang diasup Mada, karena kemasan Indomilk UHT Kids Full Cream menggunakan teknologi tetrapak. Dari komposisi kandungan yang terdapat pada label kemasan juga tertulis kalau Indomilk UHT Kids Full Cream mengandung Kalsium, Vitamin D dan zat-zat yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. 

Rendah gula

Indomilk UHT Kids Full Cream mengandung rendah gula yaitu 5 gram (karbohidrat).

Kalsium

Indomilk UHT Kids Full Cream mengandung 30 % kebutuhan kalsium yang dibutuhkan anak seperti tertera pada kemasan.

Vitamin D

Dari informasi dokter spesialis anak, susu yang baik diberikan untuk anak sebaiknya mengandung kalsium dan vitamin D, agar saling melengkapi.

Praktis

Ukuran Indomilk UHT Kids Full Cream 115 ml sangat praktis untuk dibawa sebagai bekal anak.

Kemasan Ramah Lingkungan

Indomilk UHT Kids Full Cream menggunakan kemasan tetrapak yang lebih ramah lingkungan.

Label Halal

Indomilk UHT Kids Full Cream sudah mendapat label halal dari Majelis Ulama Indonesia dan juga lolos uji BPOM.

Gimana Bunda, jangan takut ya bila si kecil termasuk anak yang aktif. Karena, anak #AktifItuSehat. Yuk, kita dukung tumbuh kembangnya dengan memberikan nutrisi tepat. Semoga pengalaman saya dalam menyapih Mada dan memilih susu UHT bermanfaat bagi pembaca blog mariasoraya.com.

Bagi Bunda yang memiliki pengalaman dengan anak aktif dan #IndomilkUHTKidsFullcream dapat mengikuti kompetisi blognya yang berhadiah 15 juta rupiah. Informasi lengkapnya dapat di cek di mommyasia.id