Assalamualaikum. Menjelang akhir tahun 2018, sudah menambah investasi keuangan atau baru menabung di celengan ?

Sebagai generasi millenial, penting banget lho memiliki investasi agar masa depan tidak terlunta-lunta. Tentunya, kamu enggak mau dong saat hari tua menjadi beban hidup anakmu kelak.

Selain itu, millenial juga harus pandai mengelola keuangan. Beberapa orang memang masih menganut prinsip “kumaha engke” yang kalau diterjemahkan artinya “gimana entar aja deh”. Jadi, hidup tanpa persiapan. Mau bayar cicilan rumah, entar juga ada rezekinya. Mau jalan-jalan ke Hongkong, ah nanti juga bisa.

Saya pernah lho ketemu dengan seorang teman yang sudah berkeluarga dan anaknya 5 masih bersekolah semua. Tiap akhir bulan, dia pasti japri sana-sini buat pinjam uang. Awalnya, saya dan teman-teman di WAG meminjamkan uang. Karena, saya pribadi kepikiran dengan anak-anaknya yang masih bersekolah itu. Ngebayangin aja saya di posisi dia. Tapi, ternyata karena Si Ibu ini terbiasa dengan prinsip ‘gali lubang tutup lubang’, ia jadi seolah menggampangkan untuk mengembalikan uang yang dia pinjam. Bahkan, ia cenderung lebih galak saat saya dengan hati-hati menanyakan kapan akan dibayar. Hal ini bukan hanya terjadi pada saya, tetapi teman-teman segrup WAG.

Dan, di kemudian hari saya kembali lagi bertemu dengan orang seperti itu. Enggak seperti kejadian sebelumnya, saya cenderung berhati-hati dalam meminjamkan uang. Kalau saya harus meminjamkan uang berarti harus ikhlas uangnya belum tentu kembali. Gitu sih. Semoga pembaca blog pribadiku ini enggak ada yang berkarakter seperti contoh di atas. Jangan ditiru ya.

Berkaitan dengan mengelola keuangan, tanggal 15 Desember 2018 saya mengikuti Financial Class yang diadakan oleh Moneysmart.id. Berlokasi di Kemang Jakarta Selatan, saya bersama 19 blogger belajar tentang #CerdasDenganUangmu.

Mas Aulia Akbar dari Moneysmart.id menjelaskan ada 5 langkah mudah dalam mengelola keuangan. Diantaranya :

  1. Buat catatan keuangan
catatankeuangan

Foto : chasingbetterlife.com

Mengikuti jejak Mamah yang selalu mencatat pemasukan dan pengeluaran keuangan, saya juga melakukannya. Bedanya kalau dulu Mamah mencatat di buku khusus juga memisahkan pos-pos menggunakan amplop, saya memilih aplikasi keuangan yang di download dari playstore.

Tiap kali ada pemasukan, saya langsung mentransfer pemasukan tersebut ke saldo-saldo tabungan pribadi. Saya memiliki 3 rekening tabungan dan 1 rekening tabungan emas, diantaranya tabungan Mada pasif (maksudnya menabung hanya untuk diisi bukan digunakan secara aktif), tabungan khusus transferan urusan job, tabungan yang tidak diutak-atik dan tabungan emas di Pegadaian.

  1. Proteksi aset
proteksiaset

Foto : escapeartist.com

Selain menabung di beberapa bank, saya juga memiliki asuransi terkait pendidikan, kesehatan dan asuransi jiwa. Biaya premi asuransi jiwa memang cukup besar yaitu Rp. 500,000/bulan. Namun, saya sudah pernah merasakan manfaat dari asuransi jiwa. Waktu Mada di opname, saya bisa memilih kamar VVIP dan enggak pusing dengan biaya perawatan plus obat.

Saya masih kepingin menambah asuransi hari tua. Maklum, saya kan bukan Pegawai Negeri Sipil alias PNS. Kudu dipersiapkan sebaik mungkin untuk masa depan.

  1. Investasi
investasi

Foto : alvexo.com

Mamah saya tergolong cerewet urusan menabung dan investasi. Jamannya saya masih lajang, blio selalu mengingatkan supaya saya membeli perhiasan emas untuk investasi. Cuma ya gitu, saya bukan tipe perempuan yang senang pakai perhiasan emas. Saya lebih suka pakai gelang tali atau cincin etnik dalam keseharian. Numpuk perhiasan dan enggak dipakai kok rasanya sayang.

Saat lahiran Mada, saya mendapat hadiah logam mulia Antam 3 gram dari customer bengkel suami. Gara-gara itu, saya tertarik beralih dengan berinvestasi logam mulia (LM). Tiap ada transferan yang jumlahnya cukup besar, saya langsung membeli LM dengan besaran 3 gram atau 5 gram. Alhamdulillah, jumlahnya semakin bertambah.

  1. Siapkan dana darurat
danadarurat

Foto : clark.com

Dana darurat ini untuk pos-pos pengeluaran yang bersifat urgent. Misalnya, ada tetangga lahiran atau temannya Mada yang ulang tahun. Atau, sumbangan-sumbangan yang bersifat dadakan.

Khusus dana darurat, saya tidak menyiapkan terlalu banyak. Karena, pos pengeluarannya sudah masuk ke asuransi, tabungan dan investasi.

  1. Bijak dalam berutang
hutang

Foto : bankrate.com

Alhamdulillah, selama 6 tahun berumahtangga saya dan suami sama-sekali tidak memiliki hutang berupa uang. Sedari awal menikah, kami berdua komit tidak tergiur dengan kartu kredit atau cicil-mencicil barang.

Tiap saya meminta dibelikan produk elektronik rumah tangga, suami lebih memilih membayar tunai. Tapi ya memang enggak bisa minta langsung beli besok. Kudu sabar menunggu sebulan atau dua bulan mengumpulkan uang. Hehe.

5 langkah mudah di atas terlihat MUDAH BANGET diterapkan. Tetapi, kalau kamu terbiasa boros atau mungkin masih menerapkan prinsip ‘kumaha engke’ ya mau baca berbagai tips keuangan akan selalu sulit dalam mengelola keuangan.

Mumpung belum akhir tahun, yuk #CerdasDenganUangmu 😉 Dan, bagi kamu millenial yang jago menulis ikutan yuk Lomba Blog Moneysmart.id. Info lebih lengkapnya, klik di sini.