Assalamualaikum. Tahun ini adakah impian kamu pengin jalan-jalan ke suatu tempat yang belum tercapai ? Saya kepingin banget naik kereta rel listrik ke Ancol. Alhamdulillah, impian sederhana ini bisa terwujud di bulan November 2018.

Keinginan ini berawal kira-kira 10 tahun yang lalu. Jauh sebelum saya menikah dan punya anak, pernah ada kereta wisata dari Depok ke Ancol. Sebelum keinginan terwujud, sayangnya kereta wisata ke Ancol sudah ditiadakan. Enggak tahu penyebabnya apa. Padahal, rasanya menyenangkan banget ya pergi ke tempat wisata yang ada di utara Jakarta ini pakai KRL.

Gara-gara saya dan Mada mengikuti Karel Edu Trip bersama TemanMain, saya jadi tahu nih ternyata ada kereta yang berhenti di Stasiun Ancol. Catet, Stasiun Ancol. Saya langsung panas dingin membayangkan bakalan berpetualang naik KRL bersama Mada dan Pak Gondrong.

Naik mobil pribadi ke Ancol, saya sudah pernah. Naik motor ke Ancol pun saya sudah pernah di tahun 2016 dan khusus yang ini rasanya sungguh lelah. Berkali-kali saya minta Pak Gondrong untuk berhenti di beberapa tempat karena saya ndadak pusing kepanasan, haus yang teramat sangat dan pinggang saya pegal hahahahaha. Enggak lagi naik motor ke Ancol. Apalagi keesokan harinya, badan remek selama seminggu.

Untuk kunjungan kedua ke Sea World Ancol, saya hanya menyiapkan :

  1. Sepasang pakaian ganti buat Mada
  2. Cemilan ringan
  3. Minyak kayu putih dan antangin kids

Persiapan ini lebih ringkas dibandingkan saat saya ke Sea World Ancol tahun 2016. Dulu, saya membawa tas segembol yang isinya berkotak-kotak bekal, minuman, ban renang berbentuk pesawat yang dilipat dan belum dipompa. Saya juga membawa kresek berisi ember plus sekop pasir. Mirip orang mau pulang kampung.

Perjalanan kedua ini saya membawa bekal secukupnya, karena di Sea World Ancol ada food court dengan beberapa tenant yang harganya enggak mihil dan rasanya cukup enak. Favorit saya, Blue Marlin Resto.

Dan, Perjalanan Pun Dimulai …

Dok. Pribadi – Mada Naik Kereta Ke Ancol

Perjalanan dimulai dari Stasiun Depok Baru. Pak Gondrong sempat enggak mau lho diajak naik KRL. Doi maunya saya dan Mada naik KRL, sementara doi naik motor. Doi mikirnya nanti gimana di dalam Ancol, enggak bisa bebas keliling-keliling dong ? Saya keukeuh di dalam Ancol ada bus wara-wiri (walaupun saya enggak tahu rutenya dan belum pernah coba juga). Endingnya, doi ikut sih.

Saya membeli 3 Tiket Harian Berjamin (THB) PP dengan tujuan Stasiun Ancol. Jadi, nanti di Stasiun Kota tinggal transit aja alias pindah ke jalur kereta. Enggak perlu beli THB lagi. Praktis deh.  

Di hari Jumat, KRL tidak terlalu padat. Saya dan Mada duduk di kursi prioritas. Mada menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Sesekali ia bertanya benda-benda yang dilihatnya.

Tiba di Stasiun Kota tepat jam setengah 11 siang. KRL menuju Stasiun Tanjung Priok baru saja berangkat. Kami menunggu di peron. Saya sempat mampir ke minimarket yang ada di stasiun, membeli 2 botol air mineral, snack kering tambahan dan permen mint.

Lima belas menit kemudian, KRL jurusan Tanjung Priok muncul di depan mata. Mada berlonjak girang dan tak sabar ingin naik. Saya suka naik KRL Tanjung Priok, karena bersih, penumpangnya sedikit dan selalu tiba tepat waktu. Dan, satu lagi hal penting, saya bisa menikmati pemandangan di luar KRL.

Lha, Kok Naik Angkot ?

Dok. Pribadi – Halte Bus Wara Wiri Ancol

Melewati Stasiun Kampung Bandan, beberapa penumpang turun. KRL melaju pelan menuju stasiun berikutnya, Stasiun Ancol. Rupanya, bukan hanya kami bertiga yang akan ke Ancol. Ada rombongan lain yang terdiri dari ibu-anak atau ABG-ABG seumuran adik saya. Asyik nih. Setelah turun dari stasiun, mereka langsung naik angkot yang ngetem tepat di depan pintu masuk – keluar stasiun.

“Eh, kok pada naik angkot ? Emang enggak bisa nyebrang ya,” gumam saya sambil memperhatikan Ancol di seberang saya. Antara stasiun dan Ancol dipisahkan oleh sungai yang enggak sehitam dulu warnanya.

Supir angkot sempat bertanya tujuan saya. “Oh, enggak bisa langsung nyeberang Bu. Jauh. Naik angkot ini aja, saya antar sampai depan pintu masuk. Itu yang tadi juga pada mau ke Ancol,” jelas supir angkot.

Saya, Pak Gondrong dan Mada masuk ke dalam angkot berwarna biru telur asin. Cukup lega. Kami duduk di kursi paling pojok. Jalanan yang tak rata membuat kami ajrug-ajrugan di dalam angkot.

“Seru ya nak. Seperti naik perahu,” kata saya. Mada mengangguk senang. Saya bisa melihat truk besar dan tronton berada di sisi kanan kiri angkot. Whoaaa berasa jadi liliput diantara raksasa.

Pintu masuk Ancol terlihat di seberang kanan jalan.  Angkot berbelok di jembatan kemudian berhenti tepat di pintu masuk Ancol. Satu-persatu penumpang turun. Ongkosnya Rp. 5000 per orang. Saya sempat bertanya angkot untuk balik ke arah Stasiun Ancol. Dari info Pak Supir, rupanya hanya ada satu trayek angkot yang mangkal jadi nanti kami pulang dengan angkot yang sama.

“Selamat bersenang-senang di Ancol ya dek. Jangan lupa tangkap ikannya dan bawa pulang,” kata Pak Supir sambil tersenyum pada Mada. “Setiap hari saya mengantar-jemput penumpang tapi belum pernah kesampaian mengajak anak melihat ikan di Sea World.”

Duh, ndadak hati saya enyesss mendengar kalimat terakhir Pak Supir.  “Insya Allah, suatu hari Bapak bisa mengajak keluarga ke Sea World Ancol. Terima kasih banyak ya Pak,” kata saya.

Saat seluruh penumpang sedang antri di loket pintu masuk Ancol, si Pak Supir berlari menghampiri kami. Ia membawa sebuah kresek belanjaan dan jaket penumpang yang ketinggalan. Pemiliknya senang luar biasa.

Buat saya, pengalaman pertama naik KRL ke Sea World Ancol ini sangat seru dan berkesan. Lebih hemat waktu, badan enggak capek sepulang dari Ancol dan pastinya adem sepanjang jalan. Lain kali, saya akan naik KRL ke Ancol lagi bersama adik-adik saya. Kamu, coba yuks !