sisbonavista
“Siapa yang di rumah menganggap gadget adalah monster untuk anak ?” tanya Psikolog Elizabeth Santosa saat membuka acara Mom Blogger Parenting di SIS Bonavista Lebak Bulus (31/8). Saya yang duduk paling depan hanya mesem-mesem. Saya jadi ingat kejadian di bulan puasa lalu. Kejadian yang bikin saya gemas-gemas syebal.

Di rumah memang berlaku peraturan no gadget. Karena, gadget hanya ada dua yaitu punya saya dan suami. Mada tahu betul, paling enak dan nyaman menonton youtube dari android saya. Gadget punya Bapaknya loading lama. Anak kecil mana betah menonton unboxing dino toys dengan loadingnya yang lama kan ?

Mada pun tahu banget, gadget punya saya boleh dipakai Mada hanya kalau lagi urgent. Misalnya, ketika lagi di luar rumah dan kami sedang mengantri di bank. Ketika Mada lagi berada di perjalanan yang cukup lama dan jauh. Ketika Mada sedang di rumah Eyangti dan tidak mau tidur siang (sementara para orang dewasa sudah kehabisan energi). Kira-kira seperti itu.

Oke, itu kan di rumah. Mada kan enggak melulu ada di rumah terus. Seminggu sekali atau seminggu dua kali dia main di rumah Neneknya di Lebak Bulus.

Nah, kejadian yang bikin saya gemas-gemas syebal itu saat bulan puasa Neneknya membelikan tablet geser-geser buat Mada, cucu semata wayangnya. Alasan Nenek, karena anak-anak seusia Mada di lingkungannya sudah punya gadget semua dan Mada belum *IbuMadaMauKrai*.

Hari pertama Mada pakai tablet langsung nonstop 3 jam. Pas saya jemput, Mada malah nangis ngejer jejeritan biar dia dibolehin membawa tablet geser-geser ke Depok. Mada memukuli saya bahkan melempari barang yang ada di sekitarnya dia. Hari kedua lebih parah. Hari ketiga, Neneknya ngejanjiin bakal ngebeliin tablet lagi buat dibawa pulang sama Mada ke Depok *KaliIniIbuMadaSpeechlessGemas*.

Alhamdulillah, Nenek batal ngebeliin Mada gadget lagi. Karena, saya nge-print berbagai artikel soal bahaya gadget buat dibaca Nenek. Hehehe.

Back to pertanyaan Miss Lizzie pada kalimat pembuka tulisan ini, saya akan menjawab “Iya. Saya tidak membolehkan Mada bermain gadget di rumah. Rumah adalah tempat kami berinteraksi. Rumah adalah tempat Mada bermain dengan teman-teman seumurannya. Rumah adalah tempat kami belajar. Mada boleh bermain gadget hanya saat urgent.”

Keputusan itu saya ambil karena berkat tablet geser-geser yang dibelikan Nenek, Mada sempat menjadi anak yang sangat agresif. Bukan agresif memukul teman atau mengganggu anak tetangga. Tapi, dia berubah menjadi anak yang tantrum-nya warbiyasak nyebelin di depan Kakek-Neneknya. Seperti yang saya sebutkan di atas.

Saya sadar sih, Mada berubah begitu karena mungkin Mada kaget, mungkin Mada terlalu senang. Tapi, keputusan tetap keputusan. Peraturan tetap peraturan. Toh, saya bukan melarang Mada bermain gadget.

Membesarkan Anak di Era Digital

IMG_20180831_092351
Dari penjelasan Miss Lizzie (panggilan Psikolog Elizabeth Santosa), karakteristik anak yang tumbuh di era digital yaitu :

  1. Memiliki ambisi besar untuk sukses
  2. Generasi yang serba praktis
  3. Melakukan segala sesuatu harus cepat (instan)
  4. Menyukai kebebasan
  5. Percaya diri
  6. Butuh pengakuan
  7. Sadar digital dan menguasai teknologi

Sebagian karakter itu belum terlihat pada diri Mada. Tapi, yang jelas anak yang tumbuh di era digital memang cepat menguasai apapun dan kritis to the max !
Miss Lizzie menambahkan “Gadget enggak melulu negatif. Buktinya Buibu di sini semuanya bekerja dengan gadget kan ? Di sosmed banyak juga anak-anak yang populer berkat mereka cerdas menggunakan gadget, contohnya Raissa.”
“Yang penting buibu di sini memberikan aturan soal gadget pada anak. Saat anak bermain sebaiknya dampingi. Ajak ngobrol. Jangan anaknya dibiarin sendirian sama gadgetnya,” kata Miss Lizzie.

Belajar Keanekaragaman Di Singapore Intercultural School Bonavista

Image result for singapore intercultural school bona vista

Foto : Nowjakarta.com

Sesi selanjutnya yaitu peserta diajak berkeliling ke lingkungan Singapore Intercultural School (SIS) Bonavista. Saya penasaran banget pastinya, karena saya cukup sering melewati kampus SIS. As I said before, Neneknya Mada tinggal di Lebak Bulus. Dan, lokasinya hanya selemparan batu dari SIS Bonavista.
Yang menarik dari SIS Bonavista, struktur bangunannya tidak terdiri satu lantai. Alias kudu banyak naik turun tangga nih kalau mau ke ruangan A atau ke ruangan B.
“Kami ingin anak didik selalu sehat dan bergerak. Dengan banyak naik turun anak tangga, tentunya anak didik kami akan selalu bergerak,” jelas salah satu perwakilan dari SIS Bonavista, singapore school.
Dan, saya sempat terkecoh nih dengan singkatan SIS. Awalnya, saya kira Singapore Internasional School. Dulu iya. Tetapi, sekarang sudah berubah menjadi Singapore Intercultural School.
Yang ingin mengetahui informasi SIS Bonavista secara lengkap termasuk biaya sekolahnya dapat berkunjung ke https://sisschools.org/sis-bonavista.

ttd-marso