kembalibekerjakantoran
Terkadang, manusia mudah kepincut dengan rumput tetangga. Yang sudah mapan jadi wanita karier, kepingin berganti profesi menjadi Ibu Rumah Tangga. Yang sudah bertahun-tahun menjadi Ibu Rumah Tangga membayangkan dirinya setiap pagi berangkat dengan pakaian rapi wangi dan high heels menuju kantor. Yang bekerja fulltime kepingin menjadi freelancer. Begitu seterusnya.

“Mar, gue setresss jadi Ibu Rumah tangga, ternyata enggak gampang ya,” curhat Amel, istri teman sekolahku. Sebelum menikah, delapan tahun ia bekerja sebagai pegawai bank. Saat hamil, ia resign dari kantor. Alasannya, kepingin membesarkan anak dengan tangannya sendiri.

Setahun. Dua tahun. Di tahun ketiga, ia posting foto “i’m back, first day at new office”. Rupanya, Ia hanya sanggup dua tahun menjadi Ibu Rumah Tangga. Di rumah ada ART. Ibu Mertua yang rumahnya berjarak selemparan batu pun sering menjemput anaknya untuk bermain dengan Eyangnya. Praktis, dia enggak punya kegiatan. Pernah, bergabung dengan komunitas Yoga dan mengikuti klub Zumba namun hanya sebentar.
https://mariasoraya.com/wp-content/uploads/2018/08/61be8-2009-10-16_sahmvswm.jpg
Memilih menjadi Ibu Rumah Tangga maupun Ibu Bekerja di kantor sama-sama ada plus-minusnya. Seperti yang saya lakukan selama 1,5 bulan ini. Iya, saya kembali bekerja kantoran setelah 7 tahun menjadi Ibu Rumah Tangga. Bukan bekerja fulltime sih, hanya datang seminggu sekali untuk report dan meeting. Langkah ini sengaja saya ambil, menjadi freelancer dulu sembari pemanasan. Siapa tahu suatu hari saya berencana fulltime.
Bosankah saya dengan rutinitas Ibu Rumah Tangga ? Dalam 365 hari saya pernahΒ  merasa bosan. Memang sih, saya menikmati hari-hari saya menjadi Ibu Rumah Tangga. Seperti ngumpul pagi bersama Buebu tetangga dan anak-anak balitanya. Ngobrol berjam-jam tanpa beban dan baru berhenti menjelang adzan Dzuhur. Enggak kudu berangkat nyubuh buat mengejar kereta menuju kantor. Dan, masih banyak hal-hal lainnya yang saya syukuri.
Image result for comic stay at home mom
Itu status sebagai Ibu Rumah Tangga. Saya sebagai perempuan mulai butuh peningkatan di dunia menulis yang saya tekuni sedari menjadi Ibu Rumah Tangga. Saya pengin keluar dari zona nyaman -dari menikmati kegiatan yang sudah ada. Saya pengin mengerjakan hal-hal baru seputar hobi. Saya butuh lebih produktif. Saya pun butuh pemasukan tetap yang sudah jelas tanggalnya kapan. Besarannya berapa. Enggak perlu nagih-nagih duluan kapan dibayarnya.
Jadi, saat kesempatan itu ada di depan mata, saya pun enggak pikir panjang buat langsung bergabung. Walaupun, keputusan saya bekerja kantoran tetap butuh banyak pertimbangan. Misalnya :
Nanti kalau saya bekerja remote dari rumah, anaknya sama siapa ? Gak mungkin saya menulis sambil ngobrol soal Dino sama Mada.
Kalau saya datang ke kantor buat meeting, gimana anaknya ?
Nanti kalau saya berangkat ke kantor, kudu nungguin Pak Gondrong berangkat jam 9 pagi atau bisa berangkat lebih pagian ??
Dan, rupanya dari pihak kantor pun sangat paham dengan perubahan yang bakal terjadi dari status Ibu Rumah Tangga menjadi Ibu Freelancer Kantoran. Enggak heran, pertanyaan yang diajukan untuk saya pun tentang “Bagaimana dengan support system kamu di rumah ?”.
Alhamdulillah, saya berjodoh dengan kantor media cetak idaman sedari saya lajang. Meskipun, media cetak saat ini sedang mengalami penurunan. It’s okay. Saya suka dengan lingkungan kerja kantor saya ini. Job desk-nya pun gue banget. Gaji di atas UMR. Berasa punya rumah kedua. I’m blessed.
Di postingan #Collablogging bersama Kelompok Rini Soemarno, tema yang diusung kali ini tentang manajemen ibu bekerja di website Kumpulan Emak Blogger yang ditulis Mak Yurma. Saya langsung semangat nih buat menjabarkan hal-hal yang saya siapkan sebelum masuk kantor 1,5 bulan yang lalu.
Jadi, apa saja sih yang perlu dipersiapkan seorang Ibu setelah lama vakum ngantor ? Ini yang saya lakukan :

Manajemen Tubuh


Saat saya menjadi Ibu Rumah Tangga dengan pekerjaan tambahan as Blogger atau Transcriptor, saya sering begadang. Saya melakukan pekerjaan setelah urusan domestik done dan Mada tidur lelap. Biasaya, saya menulis setelah jam 11 malam sampai jam 1 atau 2 pagi. Kalau lagi enggak menulis, saya mengerjakan orderan transkrip.
Kebiasaan ini enggak mungkin dilanjutkan saat saya terikat bekerja remote dengan sebuah perusahaan. Apalagi, saya punya jadwal tetap sehari harus 3x kirim tulisan di jam yang berbeda ke editor. Enggak bisa tumplek kirim tulisan di satu waktu.
Sekarang, setiap weekdays, saya mewajibkan diri saya sendiri dan Mada untuk selalu tidur sebelum jam 9 malam. Enggak ada kompromi. Tidur malam tercukupi selama 8 jam. Keesokan harinya, saya bisa bangun lebih awal dengan tubuh dan pikiran segar. Masih sempat tahajud, melakukan sunnah fajar dan menyempatkan untuk mengaji.
Manajemen tubuh sangat penting saat Anda kembali ngantor. Karena, berasa banget bedanya ngantor setelah punya anak dan sebelum punya anak.

Manajemen Mental


Siapapun yang pernah bekerja kantoran pasti pernah ngerasain atau tahu yang namanya politik kantor. Entah rekan kerja yang tidak kooperatif, genks antar divisi, sikut sana sini dan lain-lain.
Saya sempat ketar-ketir juga nih. Alhamdulillah, saya dapet lingkungan kerja yang sangat menyenangkan. Enggak ada deh julid-julidan. Ini yang bikin saya penginnya sih bisa fulltime tiap hari datang, tapi penginnya sih datang jam 10 siang pulang jam 3 sore *banyakmau.
Urusan lingkungan kerja sudah oke. Nah, gimana dengan deadline pekerjaan yang lebih padat merayap daripada job desk saya as blogger ? Koentji-nya dilarang panik apalagi stress. Terutama, kalau target tidak tercapai.
Kebayang enggak sih, Anda kembali bekerja kantoran tapi ketemu deadline bawaannya stres. Dikritik rekan kerja, baper. Ditegur atasan, panik pengin udahan aja. Naon banget, kaaan.

Manajemen Waktu


Setelah saya terikat dengan kantor yang sekarang, tentunya saya enggak bisa memprioritaskan maksimal urusan rumah dan menomorsepuluhkan urusan pekerjaan. Harus balance.
Misalnya, jam setengah 9 pagi saya buka keranjang cucian ternyata isinya penuh. Yaudah, saya tahan untuk enggak pegang-pegang apalagi kegatelan pengin nyuci. Atau, lihat tumpukan piring kotor bekas sarapan. Yaudah, tutup mata ditunda dulu cuci piringnya. Kecuali, saya sudah kirim 1 tulisan untuk jadwal pagi itu.
Urusan quality time saya dengan Mada, alhamdulillah tercukupi meskipun kami enggak bersama selama 24 jam. Saat saya bekerja, Mada bersama Neneknya atau Eyangti. Saya gunakan waktu selama perjalanan pulang ke rumah untuk ngobrol sama Mada atau ngobrol sebelum tidur malam sambil mengaji.
Mada di usianya yang 4 tahun juga sudah cukup mandiri. Tiap saya berangkat kerja dari rumah Eyangti, Mada bakal “menasehati” saya untuk selalu hati-hati di jalan, Abang Gojeknya enggak boleh ngebut dan helm-nya harus dipakai sebelum nyampe di kantor.
Dengan menerapkan 3 manajemen di atas, alhamdulillah pekerjaan lancar. Urusan rumah juga belum dapet komplain dari Pak Gondrong. Kalau badan berasa capek, itu sinyal ada yang kudu dibenerin dari pola hidup saya. Bisa karena saya too much makan gorengan/ makanan pedas, kurang olahraga outdoor atau saya enggak makan sayuran hijau selama 3 hari.

ttd-marso