katagantipertamatunggal
Jika diperhatikan, beberapa postingan terakhir di blog ini ada perubahan dalam penggunaan kata ganti orang pertama tunggal. Yaitu, dari “saya” menjadi “aku”.

Awalnya, saya penasaran pengin mencoba. Seperti apa sih rasanya menulis blog dengan menggunakan “aku” ? Apakah tulisanku bakalan terasa lebih personal atau justru tidak mencerminkan “gue banget” ?

Saat pertama kali mencoba, rasanya agak kikuk lho. Karena, sedari blog ini belum TLD dan isinya masih curhat seputar kehamilan, kata ganti orang pertama tunggal yang digunakan ya “saya”. Belum pernah pakai kata “aku”. Malahan saat blogging jamannya masih lajang tahun 2009 itu saya menggunakan kata “gw” dan selalu dikasih warna ngejreng, seperti contohnya :

“Hay apa kabar elo-elo pembaca blog gw ? Today gw libur kerja niy. Ceneng dunk. Ud gajian, ud masuk royalti, ud masuk honor artikel. Coz, gw bisa asoy geboy nyenengin ade2 gw goes to Pondok Indah Mall. “

Please, embak dan emasnya. Wajahnya enggak usah julid girang ngakak gitu baca kalimat di atas. Iya dulu saya pernah menulis seperti itu. Enggak pakai SPOK. Enggak pakai aturan sesuai tata bahasa yang baiq.
Pokoknya, kalau ada pelajaran Bahasa Indonesia, bisa ketebak dong ya kalimat di atas bakalan mendapat ponten nilai berapa *LOL.

Embak Emas, ngakaknya udahan dulu.  Saya mau lanjut curhat. Please, curhat. Enggak banyak-banyak kok, hanya 450an kata aja.
Nah, jadi ketika saya menggunakan “aku” saat blogging, otomatis mempengaruhi seluruh kalimat yang dipakai dalam satu tulisan. Misalnya pada penggunaan tulisan berikut ini (tulisan aselinya enggak dikasih pewarna teks ya, demi kesehatan mata pembaca blogque) :

“Kapan terakhir kali kamu menulis organik ? Iya, aku nanya kamu. Kamu jangan tanya Mbah Gugel.”

Setelah membaca ulang kalimat pembuka di atas, saya merasa enggak jadi “saya”. Kayaknya bukan gue banget. Dan, saya pun tidak nyaman. Sama halnya ketika membaca ulang tulisan-tulisan saya yang menggunakan kata “aku”.
Dari pengamatan saya, blog-blog yang menggunakan kata “aku” memang mencerminkan karakter si empunya blog saat kami bertemu langsung. Misalnya nih, blog Adriana Dian-nya Mama Dian. Saat saya beberapa kali bertemu Mama Dian di event blogger, karakternya lembut, cute dan friendly.
Atau, Mbak Wian dengan blognya The HermawanJourney yang menggunakan kata “aku”. Karakter ramah, kalem dan senang berteman dengan siapapun itu yang terlihat dari blog pribadinya maupun saat kami bertemu langsung.
Penggunaan kata “saya” dan “aku” terlihat enggak ada bedanya. Sama-sama menunjukkan si-yang-lagi-menulis atau si-yang-lagi-bicara.
Namun, dari penelusuran di KBBI, kata “saya” dalam sebuah kalimat tertulis terlihat lebih baku daripada kata “aku”. Untuk percakapan tatap muka langsung, kata “saya” terdengar lebih sopan dan menghargai lawan bicara dibandingkan kata “aku”.
Sementara, kata “aku” dalam penggunaan kalimat tertulis lebih terasa personal. Misalnya dalam penggunaan untuk novel atau blog. Kata “aku” juga digunakan untuk percakapan yang lebih akrab. Misalnya, antara teman sekolah, keluarga inti dan keluarga besar, tetangga, saudara dan rekan kerja.

Jadi, demi kenyamanan hati dan kelancaran menulis blog ini, lima menit sebelum jam 12 malam menuju hari Senin, saya kembali menggunakan kata “saya”. Alasannya simpel, lebih berasa GUE BANGET aja.
Kamu dan blog-mu, pilih yang mana nih ?
Note : foto header dari pixabay.com
ttd-marso