angkot
2018 ini saya masih menjadi pengguna setia angkutan umum (angkot) 105 berwarna biru dengan trayek Depok – Pondok Labu. Meskipun enggak sesering dulu saat saya masih berseragam sekolah. Maklum, sekarang ini lebih cepat nungguin babang ojol nongol di depan mata daripada angkot yang sering banget muter dadakan ketika penumpang sepi.
Saya memilih naik angkot biasanya ketika lagi enggak diburu waktu atau badan berasa pegel gara-gara dalam sehari menggunakan lebih dari 3x ojek online. Atau, lagi pengin mengenalkan Mada dengan hal-hal baru yang bisa dilihat saat naik angkot. Misalnya, sekarang ini di Jalan Brigif Ciganjur lagi ada pembangunan Tol Desari. Di sekitaran lokasi proyek banyak kendaraan berat lalu lalang. Puas aja Mada bisa melihat benda-benda yang biasanya hanya ada di dalam buku atau televisi.

Naik angkot sendiri atau berdua sama Mada banyak pengalaman yang didapat. Kalau saya lagi naik angkot sendiri, bisa memejamkan mata sejenak selama perjalanan di angkot, syaratnya saya duduk di kursi depan sebelah supir. Biar aman aja barang-barang yang dibawa selama saya bobok.
Buat Mada, pengalaman yang didapat diantaranya dia belajar sabar, berbagi kursi dengan penumpang lainnya dan belajar menjadi penumpang yang sopan (tidak berteriak-teriak, membuang ludah sembarangan dll). Dan, ini yang terpenting naik angkot mengajarkan Mada menjadi lelaki cilik yang kuwat. Kuwat kepanasan. Hehe.
Dari pengalaman saya menjadi pengguna angkot, sering menemukan 5 hal ketidakjujuran ketika naik angkot, diantaranya :
Supir menurunkan penumpang dadakan
Padahal saat naik, penumpang sudah nanya duluan apakah angkot bakal nyampe trayek akhir. Respon supir biasanya “Naik aja dulu, nanti kalau ada barengannya bisa nyampe”. Ndilalah, dalam angkot ada 3 penumpang dan supir tiba-tiba menurunkan penumpang sebelum tiba di tujuan. Alasannya bisa macam-macam, seperti “Mau nganter penumpang borongan (misalnya anter ke TMII dan bayar sekian rupiah untuk pergi-pulang)” atau “Mau makan dulu, udah narik dari subuh”.
Penumpang ndadak khilaf naik darimana
“Ibu naik dari mana tadi ?” tanya supir. Yang ditanya hanya menjawab “Ngg naik darimana ya, itu yang ada warung di pinggir jalan,”
Yang ini sering banget terjadi pada penumpang yang bayarnya enggak pakai uang pas. Misalnya, bayar pakai Rp 10 ribu. Harusnya, penumpang bayar 4000 untuk jarak dekat atau maksimal 6000 untuk jarak jauh. Karena supirnya bingung, akhirnya mengembalikan uang angkot untuk jarak dekat. Entah si penumpang lagi ngirit atau beneran lupa, better sih jangan membayar untuk jarak perjalanan terdekat.
Di dalam angkot ada spesialis pencopet dan supir meneng bae
Saat duduk di kursi depan, saya sering ngobrol dengan supir-supir yang umurnya lebih tua. Dari cerita supir, saya bisa tahu daerah-daerah yang rawan kejahatan. Tapi, pernah nih saya ketemu supir yang diam aja meskipun di angkotnya ada tindak kejahatan (copet).
“Ibu-ibu yang turun tadi dicopet sama pengamen yang naik di lampu merah. Kayaknya dia enggak sadar,” kata supir, nyantai.
Jangan dibayangin muka saya berubah gimana setelah si supir ngomong begitu. Duh, rasanya pengin ngempesin roda ban angkotnya.
Uang kembalian kurang/berlebih
Harusnya supir mengembalikan 6000 rupiah ehhh yang dia kembalikan hanya 4000 rupiah. Padahal, Anda naik belum nyampe tujuan. Kalau Anda enggak protes, yauwes supirnya bahagia gara-gara uang kembalian bisa beliin cilok buat istri mudanya.
Atau, kalau supirnya sudah ubanan, kembalian yang dikasih ke penumpang malah berlebih banyak. Yang ini sih kasihan.
Membuang sampah di dalam angkot
Suatu kali saya pernah naik angkot dan kolong angkotnya penuh dengan bungkus makanan. Ketika saya tanya ke anak-anak sekolah yang naik angkot, mereka menjawab “Bukan saya kok”. Sementara teman yg lainnya sempat keceplosan bahwa yang membuang bungkus sembarangan itu temannya.
Sampah yang penuh di dalam angkot bukan hanya bikin jorok tapi bisa jadi sumber penyakit. Sebaiknya, biasakan menyimpan bungkus makanan di dalam tas/saku, nanti kalau sudah turun angkot cari deh tempat sampah buat buang bungkus makanan atau wadah minuman.
Untuk bersikap jujur saat naik kendaraan umum memang susah-susah gampang. Tapi, orang tua bisa kok mengajarkan atau mencontohkan anak untuk bersikap jujur sejak dini. Baca juga tulisan Teteh Bella Herva Yulyanti tentang Beberapa Hal Yang saya Temui Ketika Naik Angkot.
Tulisan di atas merupakan respon trigger Angkutan Kota dan Kejujuran #KEBloggingCollab dari kelompok Najwa Shihab yang ditulis oleh Idah Ceris.
ttd-marso