vlog
Perut saya mendadak sakit menahan tawa saat menyaksikan adegan Dadang Suradang yang asyik nge-vlog di film lokal Meet Me After Sunset. Anak SMA dari desa Ciwidey itu doyan merekam kegiatan dirinya di sekolah. Handphone dipegang dengan satu tangan. Lalu, Dadang akan ngomong dengan logat sunda yang khas tentang apa saja yang sedang dilakukan di sekolah. Kadang, posisi handphone lebar ke samping, kadang ia ubah menjadi full close up.
Lain waktu, saya nyengir lebar membaca buku Aku Ingin Menjadi Youtuber karya penulis produktif Stella Ernest. Picture book yang ditujukan untuk anak-anak itu mengajak pembacanya mengenali profesi idaman generasi millenials yaitu Youtuber.ย  Dalam buku terbitan BIP Gramedia itu diulas secara lengkap tentang Youtuber dengan bahasa yang mudah dimengerti.

 

Image result for yudha keling nge-vlog meet me after sunset

Foto : Dadang Vlogger (Okezone.com)

Tiga tahun ke belakang, menonton vlog atau youtube seolah sudah menjadi kebutuhan netizen. Apalagi smartphone jaman sekarang sudah supportย  banget untuk bikin video sederhana kayak Si Dadang Anak Desa Ciwidey. Para provider selular pun berlomba-lomba memberikan paket murah bahkan gratisan supaya konsumen bisa menonton video tanpa takut kuota menyusut. Menurut data Cisco, tahun 2016 sebanyak 50 % orang menonton video melalui perangkat mobile dan rata-rata video yang ditonton durasinya kurang dari 6 menit.
Enggak heran, mudah banget menemukan video yang viral di sosial media tentang sesuatu yang sedang terjadi di masyarakat. Contohnya, video Ibu Dendy nyawer duwik. Atau, video tutorial semacam pasang alis di youtube yang dibuat oleh beauty blogger. Pokoknya, tiada hari tanpa nonton vlog atau youtube.
Sebelum lanjut ke bahasan teknis, perlu diketahui vlogger dan youtuber adalah dua hal sama tetapi berbeda tujuan akhirnya. Jika vlogger merekam seputar keseharian si empunya video, maka youtuber lebih terfokus membuat video dengan tema yang lebih luas di youtube. Seorang vlogger belum tentu youtuber. Tetapi, seorang youtuber sudah pasti vlogger.
Berkaitan dengan dunia per-vlog-an, tanggal 4 Maret lalu saya bersama 29 blogger berkesempatan hadir di Blogger Gathering-nya komunitas Indonesian Sosial Blogpreneur bersama CNI di Burger King Plaza Festival. Tema yang dibahas cukup seru yaitu membuat vlog menggunakan smartphone. Kebetulan tema ini pas banget buat saya yang pernah beberapa kali menyisipkan vlog pada tulisan blog.
Sebelum hadir di acara, seluruh peserta diminta untuk men-download aplikasi video editing Power Director dan text animation Legend melalui playstore. “Eh, gede juga ini aplikasinya,” ujar saya.
Untuk Power Director sizenya sebesar 35 MB, sementara Legend sebesar 10 MB. Meskipun cukup gede size-nya, tapi worth it banget buat edit-edit video. Apalagi kalau beli aplikasi Power Director melalui google play, harganya CUMA 80k dan bisa dipakai untuk selamanya. Yang terpenting kalau sudah beli aplikasinya, video yang dibuat bebas watermark bawaan.

Lebih Dekat (Lagi) Dengan Vlog dan Vlogger

IMG_20180304_152946

Foto : Kang Dudi (Pribadi)

Pemateri pada Blogger Gathering yaitu Kang Dudi Iskandar, seorang fotografer sekaligus vlogger dengan jam terbang yang cukup tinggi. Menurut Kang Dudi, seorang vlogger harus memiliki 4 kemampuan ini, yaitu :

  1. Mengoperasikan hp
  2. Mengedit foto
  3. Membuat naskah, dan
  4. Menyebarkan

Kemudian, Kang Dudi juga menjelaskan istilah-istilah saat membuat vlog yaitu shoot (satu rangkaian gambar tanpa interupsi), scene (tempat setting kejadian berlangsung) dan sequence (rangkaian scene/shot yang merupakan satu kesatuan utuh).
Untuk teknik shooting, ada 2 nih yang perlu diketahui seorang vlogger yaitu long shoot dan cut to cut. Kalau long shoot ini pengambilan video tanpa jeda dari awal sampai akhir. Bagi pengguna smartphone sebaiknya sih enggak pakai teknik long shoot. Lebih cocok pakai teknik cut to cut yaitu pengambilan gambar dengan durasi per 5 atau 10 detik. Untuk variasi pengambilan gambar, bisa wide, medium atau close up.
Yang penting juga dicatat untuk menjadi vlogger, kalau punya dana lebih, boleh lah beli tripod dan holder tripod. Fungsinya supaya saat merekam video enggak goyang-goyang. Mirip si Dadang Suradang sewaktu dia lagi nge-vlog. Kang Dudi juga sempat memperlihatkan microphone miliknya yang dibeli online seharga 50 ribu aja. Fungsi microphone supaya suara vlogger saat berbicara tetap jernih.
vlogduaa

Power Director, Aplikasi Video Editing Mudah dan Murah

Setelah mengenal teknik merekam vlog, kini saatnya mencoba aplikasi Power Director yang direkomendasikan Kang Dudi. Seluruh peserta langsung praktik membuat video sederhana. Dimulai dengan membuat foto pembuka menggunakan Legend, yaitu aplikasi untuk membuat teks animasi.

Foto : Screenshot Legend

Cara menggunakan Legend cukup mudah. Ada 3 langkah berurutan nih. Pertama, buka aplikasi Legend dan pilih foto yang akan dipakai. Kedua, pilih jenis animasi teks yang diinginkan. Ketiga, klik bagian kanan video, pilh landscape 720, klik โ€œOKโ€, lalu klik Save as Video. Untuk bahan praktek, saya menggunakan foto tangan Mada yang lagi bermain pasir. Ceritanya, saya mau bikin video Mada lagi asyik main di pantai berjudul “Sunday Nge-Pantai”. Setelah foto disimpan sebagai video, Anda bisa melihat hasilnya langsung. Teks akan bergerak-gerak di atas foto.
Selanjutnya, buka aplikasi Power Director. Jreng. Jreeeeng. Siap-siap deh mengedit video dan bakal ketagihan buat bikin lagi … lagi dan lagi. Proses mengedit video ini mencakup memotong video (trim), memasukkan musik/suara vlogger hingga menempelkan logo. Yeah enggak mudah sih. Tapi, hasilnya worth it banget ๐Ÿ™‚
Nah, Dadang Suradang si Anak Desa Ciwidey sudah nge-vlog. Anak-anak SD aja sudah mempraktikkan cara menjadi Youtuber dari bukunya Stella Ernest. Gimana dengan Anda ? Atuhlah, buruan bikin ๐Ÿ™‚
Terima kasih untuk Kang Dudi, CNI dan Komunitas Indonesian Social Blogpreneur untuk eventnya yang sangat bermanfaat. Sukses selalu.
ttd-marso