3 Hal Paling Seru Yang Pernah Dilakukan Ketika Saya Masih Kecil

masakecil3hal

Menjadi anak kecil yang tumbuh di era 90an itu rasanya sangat asyik. Apalagi Orang tua saya memiliki kesamaan satu sama lain, yakni gemar membaca dan berdiskusi. Hal ini yang diturunkan pada enam anaknya, termasuk saya si anak sulung.

Saya masih dapat mengingat dengan baik, ketika Mamah rajin membacakan cerita Nirmala dan Si Sirik dari Majalah Bobo sembari melakukan tanya-jawab sehingga saya tidak menjadi pendengar yang pasif. Atau, saat Mamah menceritakan ada bebek yang bisa bicara bernama Tongki dari sisipan Buncil Majalah Ayah Bunda. Itu tentang Mamah. Nah, kalau Papah tugasnya memboyong anak-anaknya ke Book Fair di Senayan. Tiap datang ke Book Fair, Papah memborong buku ensiklopedia anak-anak dan buku komik untuk saya. Eh, Papah juga mborong sik, kesukaannya membaca buku tentang politik, filsafat dan agama. Pokoknya, tiap kali pulang dari Book Fair pasti bahagia.

Entah kebetulan atau enggak, rupanya kegemaran saya membaca buku (terutama komik) itu belasan tahun kemudian membuat saya senang menulis, bahkan bisa menambah uang jajan saya. Jangan ditanya gimana senangnya jadi anak EsEmPe yang tulisannya dimuat di majalah Orbit (majalah Iptek anak-anak). Bahagia maksyimal.

Ah, ngobrolin masa kecil, tulisan ini bisa dibuat jadi lima episode saking banyaknya keseruan yang saya alami saat itu. Khusus #PostTematik dengan tema Kenangan Masa Kecil bersama Kumpulan Emak Blogger, saya ingin menuliskan 3 hal seru yang pernah dilakukan ketika saya masih kecil :

Koleksi Kertas Surat

Tahun 90an adalah tahun dimana anak-anak perempuan senang mengkoleksi kertas surat. Iya, kertas surat komplit dengan amplopnya. Ada yang wangi. Ada yang gambarnya ilustrasi muka orang dan saya enggak suka (yaiya anak SD gitu lho). Ada yang kertasnya tebal plus ada bulu-bulunya gitu. Harganya variatif, dari yang murah sampai mihil. Favorit saya, kertas surat yang gambarnya kartun jepang atau yang cute.

Untuk menyimpan koleksi kertas surat, Mamah menyiapkan file binder untuk saya. Kalau koleksi saya double, biasanya saya akan tukeran kertas surat dengan teman di sekolah atau tetangga. Buat saya ini hobi yang seru dilakukan pada saat itu.

Related image

Foto : tokopedia

Bikin Rental Buku

Tiap minggu Papah rutin ke Gramedia Matraman atau yang di Pondok Indah Mall. Ngapain ? Ya, belanja buku. Kalau belanja buku mingguan gitu dibatesin belinya. Hanya boleh maksimal 3 buku. Beda kalau book fair yang syurga diskon. Boleh deh borong bertroli-troli macam ibu-ibu yang kalap belanja di Big Bad Wolf.

Koleksi buku cerita seperti Enyd Blyton, Lima Sekawan atau buku-buku dongeng terbitan Elex Media milik saya terbilang komplit. Sama halnya dengan buku komik kayak seri Mari-Chan, Doraemon dan lain-lain. Trus mau diapain ? Barter lagi dong sama teman-teman yang senang pinjam. Gara-gara suatu hari seorang teman menghilangkan buku komik kesayangan dan ada yang pernah mengembalikan buku dalam kondisi rusak, akhirnya saya membuat tarif sewa untuk teman-teman yang meminjam buku saya.

Lupa berapa tepatnya tarif sewa bukunya, yang jelas hasil nyewain buku di bulan pertama bisa dipakai membeli tas jelly (transparan) yang lagi nge-trend di tahun itu.

Related image

Foto : kaskus

Punya Biodata Seluruh Teman Di Diary

Awalnya, Mamah membelikan saya buku diary hijau (masih ada sampai sekarang) dengan tujuan supaya saya menulis cerita setiap hari di diary pemberian Mamah. Eh, ternyata saya lebih suka diary saya diisi biodata teman-teman sekelas, cowok maupun cewek. Tetangga saya juga banyak yang ngisi.

Jadi, kalau Anda akrab dengan kata-kata Makes (Makanan Kesukaan) atau Mikes (Minuman Kesukaan), berarti kita (((kita))) satu generasi. LOL. Kadang, di biodata teman ada yang menambahkan dengan motto atau pantun. Lucu aja.

Kegiatan mengisi biodata ini ada faedahnya, lho. Ketika saya baru kenalan sama facebook, nama-nama teman yang ada di diary saya itu saya search di dunia facebook. Dan, KETEMU. Ada lagi cerita serunya. Tahun kemarin seorang tetangga jamannya saya masih SD nongol di televisi. Sebut saja Mbak PKP. Ia menjadi narasumber dalam sebuah dialog bertajuk hukum. Eladah, Reza adik saya yang memang bergelut di bidang hukum ternyata kenal sama Mbak PKP. Itu biodata Mbak PKP difoto sama Reza dan dikirim ke whatsapp-nya Mbak PKP. Hari itu juga Mbak PKP langsung menelpon saya dan silaturahmi pun kembali terjalin.

Cita-cita dan Agama, Hal-hal yang Ngangenin Dari Mengisi Biodata di Diary Zaman SD

Foto : bukudiary.wordpress.com

Itu kira-kira tiga hal seru yang pernah saya lakuin waktu SD. Masih banyak lagi sih, kayak dulu punya koleksi komplit kaset penyanyi anak-anak. Trus, begitu menstruasi di kelas 5 SD mulai kenal sama MTV dan hafal seluruh VJ dari Indonesia maupun Asia. Atau, senang banget karaokean sama orang tua di rumah. Banyak deh. Saya tulis tiga aja soale mata saya lagi enggak bisa lama-lama menatap layar laptop. Huhuhu.

Btw, buat Anda yang generasi 90an, hal apa yang sangat memorable dan mungkin berfaedah hingga sekarang ?

ttd-marso

Iklan

2 comments

  1. Wahhh kita satu generasi sepertinya, aku juga suka ngoleksi kertas surat, punya semua biodata teman di diary, aku sering sewa buku juga dg modal ninggalin kartu pelajar hihi. Yg paling aku kangenin itu kirim2an surat sama teman yg beda sekolah, ngumpulin perangko bekas, sama hobby banget curhat di diary. Itu jauh lebih berfaedah untuk corat coret diary sambil nangis bombay tp hanya kita dan Tuhan yg tau, drpd jaman now curhatnya di sosmed, ya kan? hehehehe
    ursulametarosarini.blogspot.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s