collab_kelima
“Udah, bikin aja dulu, nanti rezeki juga datang mengikuti. Kan banyak anak, banyak rezeki,” cetus tetangga, suatu hari. Saya tersenyum sembari mengucap ‘iya nanti’. Bukan sekali dua kali, saya mendapat saran supaya segera menambah anak. Alasannya beragam : ada yang bilang nanti kasian Mada enggak punya teman, ada yang bilang nambah anak dulu biar rezeki berlimpah, ada juga yang bilang tar keburu ketuaan, endebrah endebreh. Saya sih iya iya aja, santai.
Saya teringat pada nasihat Titiek Puspa pada sebuah tayangan reality show di televisi. Jadi, ada tukang becak punya 8 anak dan untuk menghidupi anak-anaknya, si tukang becak harus berhutang ke banyak orang.

“Bapak ini harus pasang KB. Kasian anak-anak Bapak ini harus hidup dalam kondisi yang tentu … mereka berharap bisa hidup lebih baik. Hati-hati lho, Pak. Anak itu bukan hanya butuh dikasih makan. Anak-anak butuh kasih sayang, perhatian dan hidup yang layak. Banyak anak itu bagus, tapi jangan sampai kita sebagai orang tua mengorbankan hak anak. Ini sekaligus catatan bagi setiap orang tua,” kata Titiek Puspa, tegas. Wajahnya antara marah dan prihatin. Si Tukang Becak hanya menunduk sedih.
Iya, siapa coba yang enggak kepingin punya banyak anak ? Seperti halnya Mamah dan Papah saya. Punya 6 anak dengan jarak usia yang lumayan jauh. Bayangin aja, adik saya paling gede itu jarak usianya 7 tahun dengan saya. Adik bungsu saya, kini baru kelas 7 SMP. Alias beda jaraknya 18 tahun. Saya ngalamin yang namanya jadi anak tunggal selama 7 tahun. Bagi saya itu menyenangkan karena sudah puas dengan limpahan kasih sayang. Secara materi pun, orang tua selalu berkecukupan. Eh, tapi cukup Mamah yang punya banyak anak. Saya belum kepingin. Sebagai perempuan sekaligus Ibu, saya memiliki beberapa pertimbangan sebelum nambah anak :
1. Ingin Mada ‘puas’ dengan masa golden age-nya
Kata orang-orang sih, kalau anak sudah berumur 3 tahun sudah saatnya ‘ngasih adik’. Yah, biarinlah itu kan orang-orang. Saya nyadar diri sewaktu hamil Mada dan kakaknya Mada (alm. Aisha) itu di awal-awal kehamilan saya selalu harus bed rest. Berkali-kali mengalami pendarahan karena kelelahan.
Kalau saya harus nambah anak di masa golden age-nya Mada, duh rasanya kayak mengorbankan hak Mada untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari saya.
2. Trauma
Dua kali hamil dan melahirkan, saya harus menjalani berbagai mitos. Sementara, saya tumbuh di keluarga yang enggak percaya mitos. Ini terlihat mudah “ah, ikutin aja sikk, nurut sama orang tua”. Iya mudah buat orang lain, buat saya itu wow banget. Berat sis. Contohnya saat saya harus berdiam diri di dalam rumah selama 6 bulan pasca melahirkan Mada. Alasannya Ibu melahirkan dan bayi under 6 months itu punya aroma yang disukai makhlus halus. Jika dilanggar, bayi bakal sawan (rewel berkepanjangan) atau Ibunya accidents.
Itu baru satu mitos. Dan, cukup bikin saya tertekan. Belum termasuk mitos-mitos lainnya yang buat saya rasanya ‘nyusahin banget’. Jadi, saya pun mikir 1000x kalau harus hamil dan melahirkan lagi.
Baca : 12 Mitos Ini Saya Alami Setelah Menjadi Seorang Ibu
3. Masih ingin mengaktualisasi diri
As I said before, tiap hamil pasti gampang capek, gimana saya bisa mengaktualisasi diri kalau kondisi fisik saya hanya bisa terbaring di kasur ?
Saya masih memiliki beberapa target untuk diri saya sebelum memasuki usia cantik 35. Pengin punya rumah lebih gede. Pengin punya asuransi komplit buat Mada. Pengin travelling ke tempat-tempat yang belum saya datangi bersama Mada. Pengin punya buku lagi. Pengin … pengin
Ah, saya masih banyak penginnya. Tetapi, saya fix belum pengin nambah anak. Anda ?
Tulisan collaboration blogging #CollaBlogKEB ini merupakan trigger ke lima dari kelompok Rina Soemarno dengan tema jarak kelahiran anak. Ada Mak Yurma dengan “Jarak Kelahiran Rapat”, Mak Kanianingsih dengan “Mengatur Jarak Kelahiran Anak”,  Mak Nurul dan Mak Ike.
ttd-marso