Ini Lho 3 Pilar Penting Untuk Mewujudkan Rumahku Surgaku

rumahku

Dia selalu mengawali hari pagi-pagi sekali. Dia akan bangun, membaca buku, berolahraga ringan jika sempat, menyapu lantai, mandi pagi, membuat segelas kopi atau teh, lalu mulai bekerja. Dia tidak pernah meminta saya membuatkannya kopi karena dia menikmati proses membuat kopi dan ingin melakukannya sendiri. Mungkin dia menganggap ini hal sepele, namun bagi saya ini adalah bentuk kebahagiaan sederhana.

Penggalan paragraf dari tulisan teman SMP saya di blog-nya itu membuat saya tersenyum menjelang makan siang. Lalu, saya melanjutkan pada paragraf berikutnya :

Dia menyeduhkan saya teh madu di pagi hari. Di saat saya sakit dia mengurus saya dengan baik. Membersihkan rumah dan membuatkan makan siang. Di saat dia sakit saya melakukan hal yang sama. Dia tidak pernah berteriak dan menyuruh saya melakukan ini itu. Dia tidak butuh mempelajari feminisme untuk menghormati dan memperlakukan saya dengan baik. Dia tidak perlu label. He does whatever works to make us happy. I do the same. Sesederhana itu.

Di akhir tulisan, saya berkomentar pendek yang bunyinya kira-kira : memiliki suami yang punya energi positif itu sangat penting, you’re lucky dear. Saya bisa membayangkan teman saya itu teramat betah berdekatan dengan suaminya dan bahagia menjalani pernikahannya. Suasana rumah yang sehari-hari ditempatinya jauh dari Ibukota pun tentu tetap terasa feels like home.

Berkaitan dengan suasana rumah, hari Minggu (12/11) kebetulan di Metro TV ada program I’m Possible-nya Merry Riana dengan motivator Jamil Azzaini. Tema yang dibahas sederhana tetapi menarik, yaitu Rumahku Surgaku.

“Banyak orang yang justru enggak betah ada di rumah. Padahal, harusnya sebuah rumah mendekatkan antar anggota keluarga di dalamnya,” kata Merry Riana, membuka acara. Idealnya, rumah bukan sekedar tempat singgah untuk tidur layaknya hotel. Atau, seperti laundry yang menjadi tempat cucian kotor.

“Perbedaaan dari house dan home ada pada maknanya. Kalau house itu berupa bangunan fisik. Bangunannya keren mewah tapi hanya tempat singgah. Sedangkan Home itu interaksi di dalamnya terjadi. Home adanya di sini” kata Jamil Azzaini sambil menunjuk dadanya.

Sebuah rumah besar yang penghuninya sibuk di dunianya masing-masing atau lebih sering bertengkar daripada menghabiskan waktu bersama saat liburan, itulah yang disebut house. Jika penghuninya saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik, selalu merindukan rumah saat berada di luar, pokoknya bawaannya pengin pulang … selamat rumah Anda bukan sekedar bangunan fisik. Rumah Anda adalah surganya di dunia.

3 pilar penting yang dijelaskan Jamil Azzaini untuk mewujudkan Rumahku Surgaku adalah sebagai berikut :

Plan together

Suami dan istri membuat rencana masa depan bersama. Misalnya, tahun depan kepingin liburan ke Singapura atau nanti kalau si kecil sudah berumur 5 tahun sebaiknya masuk TK mana ? Atau, tahun depan mau investasi emas atau mulai bermain saham ? Dan sebagainya.

Kegiatan membuat plan together ini tidak berhenti hanya pada suami dan istri. Tetapi, antara orang tua dan anak. Jadi, orang tua enggak melulu memaksakan cita-cita dan kemauannya pada anak. Karena, melalui plan together, anak diajak berdiskusi dan belajar merencanakan sesuatu.

Play together

“Usia saya sudah jelita, jelang lima puluh tahun. Tapi saya masih hobi petak umpet dengan anak-anak saya. Kadang-kadang main kartu atau kadang main tebak-tebakan” kata Jamil Azzaini.

Banyak orang tua jaman now yang cemas anak-anaknya Generasi Alpha bakalan tumbuh menjadi pribadi individual dan gadget-maniak. Padahal, koentji supaya anak tetap lekat hatinya pada orang tua adalah seberapa mau orang tua menyingkirkan kesibukannya untuk anak. Termasuk, kesibukan bermain hengfon.

“Minggu lalu saya sebenarnya ada training, tapi anak saya bilang Pak boleh enggak pulang ke rumah ? saya sebenarnya capek banget karena saya ada training di Bandung,  paginya saya ada training di puncak, sudah disiapkan penginapan di hotel, karena saya sudah bilang akan pulang ya saya pulang … sampai rumah, saya dipanggil ke kamarnya, dan akhirnya ngobrol, setelah ngobrol dia ngasih kertas seperti bentuk origami. Dan begitu saya buka, isinya adalah surat buat saya, yang ditulis anak saya yang paling bungsu, dia katakan : Pak, maafin aku ya Pak selama ini aku telah menyusahkan Bapak, cari uang siang malam buat aku, tapi boleh dong aku menyampaikan sesuatu … Bapak yang sekarang bukan lagi Bapak yang dulu … aku kehilangan Bapak yang dulu setelah Bapak jadi CEO … Bapak enggak pernah ngajak aku lagi main … kalau ketemu, Bapak itu ya selalu marah atau merintah … saya ingin Bapak seperti dulu … kemudian, saya langsung memeluk anak saya, lebih lama dan kami menangis satu sama lain.”

Gara-gara anaknya curhat, hubungan Bapak-Anak di keluarga Bapak Jamil Azzaini pun membaik.

Pray together

Yaitu saling berdoa atau beribadah bersama anggota keluarga di rumah. “Misalnya anak saya ada yang belum dapat jodoh, maka saya akan doakan bersama-sama supaya anak saya diberikan jodoh yang terbaik.”

Jika 3 pilar di atas ada di rumah maka kualitas hidup Anda akan naik. Bisnis lancar. Pekerjaan pun lancar. Begitu kata coach program I’m Possible Jamil Azzaini.

Hmmm, mau coba ?

Tulisan collaboration blogging #CollaBlogKEB ini merupakan trigger ke empat dari kelompok Rina Soemarno dengan tema mencintai. Ada Mak Kanianingsih dengan Love Our Self, Mak Nurul “Begini Caraku Tunjukkan Cinta Pada Bunda”,  Mak Yurma “Mencintai atau Dicintai” dan Mak Ike “5 Reason That I Love My Self”.

ttd-marso

Iklan

22 comments

  1. Aku juga masih suka main petak umpet sama anak bungsuku, mba Maria. Hahaha toss yuk! Bermain dan sholat bersama itu diusahakan banget supaya terjalin kedekatan dg anak ya. Kita pun menjadi lebih perhatian terhadap anak. Kalau untuk papanya aku biasa bikinin teh manis panas segelas besar. Jadi pas sampai rumah, langsung diminum deh.

    1. di rumah ortuku, kebiasaan sholat bersama masih ada sampe sekarang tiap maghrib … dan, kebetulan karena paksu pulangnya selalu di atas jam 11 malam ya gak bisa sholat jamaah di rumah, palingan klo akunya kangen suasana sholat jamaah ya cusss ke rumah ortuku hehe jaraknya deket sih

  2. haduhhh artikel ini bikin sedih mba. belakangan karena kesibukan saya jadi jarang pulang dan kangen banget sama rumah…

    emang bener ya a house is not a home without interaction, kadang rumah nggak berasa homy kalo misal penghuninya sibuk sendiri. harus lebih sering ngobrol sama orang rumah nih!

  3. Kayaknya saya mau coba semuanya. Karena semua bermanfaat, apalagi pilar yang pertama. Semoga bisa terwujud ya rencana saya dan suami untuk mengajak anak-anak jalan-jalan

  4. Aku tipe yang kalau sudah di rumah ya malas untuk kemana mana. Kecuali memang ada jadwal. Suami juga seperti itu. Aku dan suami juga bkn model keluarga yg satu pihak melayani pihak yg lain. Saling mengisi dan memahami aja. Klo bisa dilakukan sendiri ya dikerjakan sendiri. Begitu juga dengan anak anak. Mereka lebih senang nguplek dirmh.

  5. Setuju banget sama semuanya. Aku termasuk yang tipenya kalau udah di dalam rumah ya males keluar lagi kecuali emang ada urusan penting banget. Alhamdulillah kami sekeluarga saling bantu dalam segala hal. Semoga dengan tiga pilar ini, kita bisa membangun keluarga yang solid dan melahirkan generasi yang baik. Aamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s