wingkobabat
Saat saya mendapat kesempatan berkunjung ke Semarang pada Agustus lalu, hal pertama yang menjadi pertanyaan saya sepanjang perjalanan di udara dari Jakarta adalah “Apa sih makanan khas kota Semarang ?”. Di tempat kelahiran saya, Pekalongan terkenal dengan Nasi Megono dan Tauto-nya. Di kampung halaman Papah, Garut melekat dengan dodolnya yang legit. Saya pernah sih mendapat oleh-oleh khas Semarang, dari tetangga dan saudara. Ada ikan bandeng presto, wingko babat, lumpia semarang dan juga jenang. Semuanya enak dan menggoyang lidah, namun rasa manis dan legitnya wingko babat bikin saya kepingin bisa nyicipin langsung di tempat asalnya.
Ealah jeung … jeung, masih di pesawat kok yang dipikirin malah kuliner sih ? mbatin saya.
Maklum, perjalanan saya ke Semarang semacam dream comes true. Doa saya ingin mengunjungi satu kota di Indonesia tahun 2017 ini akhirnya terkabul. Jadi, saya ingin kebahagiaan itu juga dibagi pada orang-orang terdekat bukan hanya dalam bentuk cerita lisan, tetapi oleh-oleh yang bisa dinikmati bersama.
Dua hari di Semarang, jadwal kegiatan luar biasa padat dari pagi hingga malam. Untungnya sebelum check-out di hari ketiga, ada jam bebas. Dari hotel tempat menginap, kami berjalan kaki menyusuri jalan beraspal menuju toko oleh-oleh. Suasana malam di sepanjang jalan Pandanaran Semarang sungguh cantik. Sesekali kami berhenti untuk wefie di tempat yang instagramable. Langkah kaki kami terhenti di depan sebuah toko oleh-oleh legend, Bandeng Juwana Elrina.
juwana

“Di sini komplit oleh-olehnya dan harga terjangkau,” kata salah satu blogger. Sebelum masuk ke dalam toko, Oom Jun Joe sempat mengajak wefie beberapa kali. Pose pertama failed, karena logo toko yang super gede itu enggak nongol di foto. Pose kedua failed juga, karena lagi asyik pose tiba-tiba ada motor mau keluar dari depan toko dan kami menghalangi jalan. Juru parkirnya mesem-mesem sih melihat kami. Pose ketiga sukses, lalu setelah berterimakasih sama Mas Juru Pakir, kami pun langsung ngacir ke dalam toko.
Saya takjub melihat suasana toko yang masih penuh menjelang malam. Hampir di setiap rak ada Mbak atau Mas pelayan toko yang siap membantu pengunjung. Tak jauh dari pintu masuk, terdapat rak oleh-oleh komplit dengan testernya. Para pengunjung yang ingin berbelanja bisa langsung mengambil keranjang lalu memilih oleh-oleh dan membayarnya di kasir. Selain menerima pembayaran dalam bentuk cash, pengunjung juga bisa membayar menggunakan debit card.
Saya berjalan menuju rak panjang khusus ikan bandeng. Rupanya ikan bandeng yang dijual tersedia dalam berbagai variasi.  Ada ikan bandeng dalam sangkar (ikannya diberi bumbu istimewa dan dibalut tepung dan telur), bandeng duri lunak, bandeng otak-otak hingga bandeng teriyaki. Di rak-rak berikutnya, ada rak khusus jenang, lumpia, bolu berbentuk pisang, tahu bakso, enting-enting, berbagai macam keripik dan kerupuk. Dan, jreng … jreng rak khusus wingko babat.  Ada dua ukuran yang tersedia, yaitu mini dan standar. Untuk rasa pun bervariasi, ada rasa durian, pisang, coklat, aren dan original kelapa. “Yang recommended rasa apa, Mbak ?” tanya saya pada Mbak Pelayan Toko.
“Yang original rasa kelapa, Mbak.” kata Si Mbak Pelayan Toko sambil menyodorkan beberapa merek wingko babat yang ada di rak. Setelah membandingkan harga satu sama lain, saya membeli satu besek wingko babat rasa original isi 20 pcs dan beberapa wingko babat yang dikemas dalam bentuk tas kecil. Saya pun sempat mencicipi tester wingko babat rasa coklat. Duh, borong lagi sis …
wingko
Wingko babat, makanan berbentuk bulat berbahan dasar kelapa dan tepung ketan ini termasuk makanan tradisional Indonesia. Rasa manis bercampur legit membuat makanan ini selalu menjadi incaran wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menjadikannya sebagai buah tangan. Tak terkecuali saya. Proses pembuatannya yang alami membuat wingko babat hanya bertahan maksimal 4 hari.
Menikmati makanan tradisional tak lengkap rasanya tanpa mengetahui asal usul dan sejarahnya. Cikal bakal wingko babat berasal dari seorang perempuan bernama Loe Lan Hwa. Pada tahun 1944, Loe Lan Hwa bersama suami dan dua anaknya mengungsi dari kota Babat yang sedang dilanda perang huru-hara ke Kota Semarang. Di tahun 1946, Loe Lan Hwa dibantu suaminya mulai membuat wingko dan menjualnya dari rumah ke rumah. Ia juga menitipkan wingko buatannya di sebuah kios di stasiun Tawang Mangu Semarang. Tiap kali ada kereta berhenti, petugas kios akan menjajakan wingko babat pada penumpang kereta. Di luar dugaan, rupanya kue wingko buatan Loe Lan Hwa digemari warga Semarang dan para penumpang kereta api. Untuk mengenang kota tempat Loe Lan Hwa dibesarkan yakni kota Babat di Lamongan Jawa Timur, ia pun memberi nama kue wingko buatannya dengan Wingko Babat.
Saat saya dan teman-teman blogger masih berkeliling hunting oleh-oleh, tiba-tiba Mbak Yayat BloggerCrony memanggil ‘anak buah’nya satu-satu. “Belanjanya udahan yuuuk,”.  Saya sempat nengok ke jam dinding, ternyata hampir jam 9 malam. Saya pun langsung antri di kasir. Khusus pengunjung yang belanja ikan bandeng, Mbak Kasir akan menyediakan kardus khusus supaya ikannya enggak terciduk petugas bandara atau pramugari gara-gara baunya menyengat kemana-mana. Jadi, ikan bandengnya tetap safe flight anteng di dalam kabin.
Dua hari berada di Semarang sangatlah berkesan. Tak hanya disuguhi pemandangan visual nan elok, saya juga bertemu dengan komunitas Gandjel Rel (blogger Semarang) yang ramah dan membuat saya lupa sedang berada jauh dari rumah. Ah, pesona Kabupaten Semarang sungguh membuat saya ingin kembali lagi datang bersama keluarga. Semoga terwujud.
Bagi yang lagi mampir ke Semarang dan kepingin hunting oleh-oleh, bisa mampir ke :
Toko Bandeng Juwana Elrina
Jalan Pandanaran No. 57, Semarang
Website : www.bandengjuwana.com

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang

ttd-marso