collab
“Sebutkan apa yang Anda suka dari diri Anda dan apa yang Anda tidak suka ?” Saat saya memasuki dunia kerja, ada pertanyaan khas yang sering diajukan tiap kali interview, salah satunya pertanyaan di awal pembuka postingan ini. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu cukup mudah dijawab. Bagi sebagian yang lain, butuh 10 menit untuk menjawab bahkan terkadang zonk. Dari jawaban yang diberikan, diam-diam Si Penanya sedang menggali informasi tentang diri Anda.
Saat saya baru pertama kali interview, ini jawaban untuk pertanyaan di atas :
“Saya suka diri saya yang supel, ceria, bersahabat, penyabar dan mau belajar”
Terdengar narsis ya ? LOL. Maklum masih kinyis-kinyis. Jawaban saya membuat Si  Penanya mesem-mesem. Selanjutnya ia mengajukan pertanyaan lain mengenai diri saya. Embuh, dia mikir apa. Alhamdulillah sih, interview-nya lolos.
Usia makin nambah, lalu berpindah tempat kerja, kembali mendapat pertanyaan yang sama. Jawabannya sedikit berbeda : “Saya menyukai diri saya yang supel, senang bekerja team work tapi enggak khawatir bekerja sendirian blablabla,” Dan, alhamdulillah selalu lolos interview juga.
Dulu saya enggak paham konsep mencintai diri sendiri. Yang saya tahu orang seperti itu pasti egois, karena hanya peduli pada dirinya sendiri. Seiring waktu berjalan, saya memahami mengapa seorang perempuan penting untuk mencintai dirinya sendiri dalam kapasitas sewajarnya. Saat bisa melakukan hal itu, perempuan akan belajar mengenali kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Dari sikap mencintai secara otomatis akan timbul keinginan untuk menghargai diri sendiri. Seperti yang tertulis pada hadist berikut ini :
“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.”

Mencintai diri sendiri berbeda halnya dengan mengagumi diri sendiri (ujub). Pernah dong pastinya dalam hidup Anda ada satu atau dua orang yang butuh (banget) dipuji. Bagi saya ini nih tipe orang yang malesin banget. Segala cara dilakuin demi mendapat pujian. Menurut Imam Musa Al Kazim terdapat beberapa tingkatan ujub. Salah satunya ketika perbuatan buruk dianggap baik oleh dirinya sendiri; ia menilai perbuatan-perbuatan tersebut sebagai perbuatan baik dan mencintai dirinya sendiri, dengan membayangkan dirinya sendiri sedang melakukan perbuatan mulia (republika online).
Sikap ujub sangat dibenci Rasulullah : “Apakah akan Kami beritahu padamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (QS [18]: 103-104)
Naudzubillahimindzalik …
Di awal usia kepala 3, begini cara saya dalam mencintai diri sendiri secara positif :

  1. Be your self
    Dari jamannya SMP, i love to be different, maklum saya orangnya bosenan. Saat teman-teman cewek saya tergila-gila sama Shane Westlife, saya ngarep banget kapan rapper Eminem bakal konser di Indonesia. Sikap gak suka ikut-ikutan ini terbawa sampe sekarang.Manfaat menjadi diri sendiri adalah enggak gampang disetir orang. Pede (secukupnya) saat melangkah kemanapun.
  2. Bergaul dengan orang-orang positif
    Saya tumbuh di lingkungan keluarga yang positif. Saya dan 5 adik-adik terbiasa saling support dan berbagi satu sama lain. Kami berenam sesekali ribut kecil tapi ya akur dan enggak pernah neko-neko. Sikap ini kebawa keluar rumah bahkan saat saya menikah dengan Pak Gondrong. Urusan bergaul saya enggak pilih-pilih, tapi yang jelas menjaga jarak dengan orang-orang yang aura negatifnya tinggi.
  3. Pandai bersyukur
    “Elo itu susah banget sirik ya. Failed gue bikin elo sirik,” celutuk seorang teman.Sikap susah sirik sama kehidupan orang itu awet nempel plek di diri saya and I love it. Awal-awal saya pindah ke tempat tinggal yang sekarang, para tetangga saya terdiri dari mamah muda usia 20an. Duh, tiap hari ada aja saingan enggak penting. Mulai dari banyak-banyakan perhiasan emas, siapa yang paling sering jalan-jalan kemana, siapa yang bisa borong minyak goreng diskonan endebrah endebreh. Persaingan receh tapi melelahkan. Kebayang kan tiap buka pintu trus nongkrong sesama tetangga yang dibahas urusan itu lagi itu lagi.Koentji menjadi perempuan susah sirik adalah banyak-banyak bersyukur untuk setiap hal yang ada dalam hidup. Klasik banget yak. LOL. Tapi, itu beneran lho.
  4. Miliki hobi sesuai minat
    Setelah saya menjadi blogger profesional alias yang monetize blog, saya jadi semakin sadar potensi apa yang kudu dikembangin ke depan. Being a blogger pro pun bikin saya happy, karena saya ketemu banyak teman bahkan bisa jalan-jalan hingga ke Semarang.
  5. Luangkan waktu buat me time
    Dalam seminggu, saya wajib me time. Bekerja di rumah dan harus bisa manage waktu plus fisik antara pekerjaan dan urusan domestik blablaba teteup butuh yang namanya me time.Meluangkan waktu buat me time bisa me-refresh pikiran dan badan. Hengfon aja kudu dicharge, masa aku enggak boleh me time ? *ehh.

Nah, gimana dengan Anda sudahkah mencintai diri sendiri ?
Tulisan collaboration blogging ini merupakan trigger ke tiga dari kelompok Rina Soemarno dengan tema 5 things I Love About Me. Ada Mak Kanianingsih dengan Love Our Self, Mak Nurul, Mak Hida, Mak Yurma dan Mak Ike.
ttd-marso