Perdana, 3 Hari Meninggalkan Batita Untuk Tugas Luar Kota

batita

Tahun ini saya men-challenge diri saya untuk bisa pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Yess, pergi keluar kota. Syukur-syukur masih sekitaran Pulau Jawa. Kalau bisa pergi keluar Pulau Jawa, why not ? Apalagi kalau bepergiannya bareng keluarga, lebih asyik pastinya. Ndilalah, kesempatan emas yang datang pertama kali adalah saya pergi keluar kota tanpa keluarga. Iya, 8 jam lagi dari sekarang saya harus meninggalkan Mada untuk tugas luar kota. Saya pergi bersama rombongan blogger kesehatan menuju Semarang. Kota yang sama sekali belum pernah saya kunjungi seumur hidup saya.

Pengalaman saya dalam “berpisah” dengan Mada paling lama itu ya setengah hari, saat saya mengikuti liputan acara blogger di suatu tempat. Mada terlatih mandiri sedari dia belum bisa ngomong. Katanya, bayi ASI itu kan susah lepas dari Ibunya lantaran bau tangan. Alhamdulillah, Mada bukan tipe anak yang bakal gugulingan saat saya tinggal pergi dadah-dadahan dari rumah Mamah. Sesekali iya, seringnya Mada sangat kooperatif.

Awal-awal saya baru pertama kali mengikuti acara blogger, untuk event weekdays, saya menitipkan Mada di mertua. Sementara, untuk event weekend, saya lebih memilih menitipkan Mada di rumah Mamah. 5 adik saya siap berjaga bergantian menemani Mada. Terlihat mudah dan enak, tapi rupanya ada banyak perbedaan pola asuh antara saya dan mertua. Perbedaan yang pada akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengurangi menitipkan Mada di mertua kecuali urgent. Apalagi 3 bulan ini, Mamah sedang dalam penyembuhan. Jadi, saya lebih banyak di rumah daripada mengikuti berbagai acara blogger.

Tapi, namanya pergi lebih dari 24 jam tentu ada drama-dramanya sebelum berangkat. Contohnya, pagi ini saya bangun pagi lebih awal. Setelah sholat Subuh, saya kembali lagi ke tempat tidur. Saya berbaring di sebelah Mada. Memeluknya lama dan menciumi wajahnya hingga Mada melek. Ia tersenyum dan memeluk balik. Duh, tiba-tiba kepingin nangis. Anak laki-laki di sebelah saya tumbuh semakin besar. Di usianya yang tiga tahun, untuk pertama kalinya kami berdua akan berpisah selama 3 hari. Saya akan mengikuti Kampanye GERMAS (Gerakan Masyarakat Sehat) bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di Semarang. Sesuai kesepakatan dengan Pak Gondrong, selama 3 hari Mada menginap di rumah Nenek Karteng.

Bagi orang dewasa, 3 hari adalah waktu yang sangat sebentar untuk mengerjakan pekerjaan. Bagi anak-anak terutama batita seperti Mada, 3 hari adalah waktu yang cukup lama untuk menyerap apapun yang ada di sekelilingnya. Apa yang dia dengar secara sengaja atau selintas, akan terekam hingga berminggu-minggu bahkan mungkin satu bulan ke depan atau bahkan setahun ke depan. Apa yang dia lihat, akan dia copy paste ke dalam perilakunya hingga setelah saya kembali dari Semarang.

Itulah kekhawatiran terbesar saya hari ini. Padahal, kemarin saya bisa setrong semacam mamak-mamak yang terbiasa PP naik pesawat buat dinas luar kota rutin. Duh, gusti.

Selama saya tugas luar kota, Mada tetap mengikuti jadwal kegiatan PAUD di hari Senin dan Selasa. Daripada saya cemas berlarut-larut, saya pun menyusun jadwal Mada selama saya tidak di dekatnya.

IMG_20170827_080311

Untuk pakaian selama 2 hari PAUD sudah disiapkan :

Senin

  1. Seragam orange hijau
  2. Baju main setelah pulang PAUD
  3. Baju main setelah bangun tidur siang
  4. Piyama

Selasa

  1. Seragam olahraga
  2. Baju main setelah pulang PAUD
  3. Baju main setelah bangun tidur siang
  4. Piyama

Bekal PAUD Senin

Nugget 5 potong + kentang goreng + susu coklat

Bekal PAUD Selasa

Puding + sereal koko crunch + yoghurt

Di rumah Nenek, banyak anak-anak seumuran Mada dan seringnya Mada main di luar diawasi Nenek. Untuk alternatif kegiatan Mada di dalam rumah saat malam hari atau pas Nenek lagi pengin istirahat, saya juga sengaja membeli 2 buku gambar + buku aktivitas heavy wheels seperti traktor, truk mollen dan sejenisnya. Akhir-akhir ini Mada lagi rajin banget nulis-nulis atau corat coret buku gambar.

Hmmm apalagi ya ? Oh iya, saya sempat nanya ke Mak Yayat sebagai PIC dari Blogger Crony soal urusan packing. Menurut Mak Yayat yang nge-heits dipanggil Nyonyah Vale ini sebaiknya membawa 1 koper/travel bag aja dan 1 tas ransel. Jadi, ndak usah gembol-gembol rem to the pong.

Oh ya, pergi ke Semarang ini bukan hanya mimpi yang terwujud, tetapi juga membuat Pak Gondrong serta keluarganya sadar bahwa kegiatan yang selama ini saya lakukan (blogging) adalah kegiatan yang penting. Bahwa, inilah cara saya mendobrak kemustahilan pemikiran orang-orang yang acapkali menyepelekan ketika perempuan menjadi Ibu Rumah Tangga itu berarti tidak bisa apa-apa dan hanya sanggup menadahkan tangan tiap akhir bulan.

Tulisan mengenai “Mendobrak Kemustahilan” ini merupakan tema dari Grup Collaborating Blogging Rina Soemarno yang terdiri dari Mak Nurul Rahmawati dengan postingannya di website Emak Blogger, Mak Kania Ningsih dengan ceritanya Jalan-jalan Ke Bali ? Mustahil !, Mak Yurmawita dan tulisannya Merajut Mimpi, Mak Hida Hiquds dan Mak Ike Yuliastuti.

ttd-marso

 

Iklan

6 comments

  1. Saya masoh mustahil.nih kalau meninggalkan anak-anak bahkan dalam hitungan jam (keculai anak lagi sekolah). Soalnya ga ada orang untuk jagain , maklum saya dan suami perantauan. Suka pengen ikut acr blogger apalagi yg paa temanya dg saya. Tapi apa daya emang gabisa.

  2. Iya mbaak. Memang banyak yang masih menganggap aktivitas blogging sebagai aktivitas ecek-ecek. Mereka gak paham kalo seorang blogger yang profesional justru bisa membuat banyak perubahan. Semangat mbaaak !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s