Dear Blogger, Ini Lho Yang Perlu Diketahui Seputar Hak Cipta Foto

hakciptafoto

Sebuah blog tanpa foto atau gambar ibarat sayur asem tanpa garam. Hambar. Karena itu sebaiknya dalam sebuah postingan blog disertakan gambar sebagai penunjang tulisan.

Menyambung tulisan saya sebelumnya tentang Workshop Blogging : Hobi Jadi Profesi di Gedung Republika, kemarin sempat ada sharing mengenai hak cipta foto dari Dokter Charles -suaminya Mbak Agatha Memey, Blogger – dan Pak Dian Kelana. Beliau berdua merupakan blogger dan sama-sama memiliki hobi fotografi. Rasanya enggak afdol kalau saya enggak bikin tulisan tersendiri soal hak cipta foto.

“Blogger itu yang utama adalah tulisannya baru fotonya. Kalau photo blog itu yang utama fotonya baru tulisannya, ” kata Dokter Charles yang kebagian pertama sharing. FYI, photo blog atau blog foto adalah blog yang berisi foto-foto hasil dokumentasi dari si empunya blog. Setiap hasil karya foto yang dipajang pun mengutamakan keindahan. Pokoknya, memanjakan mata. Berbeda dengan blogger yang terkadang mendokumentasikan fotonya (meskipun sudah usaha maksimal) tetapi objek yang diambil kurang pencahayaan atau malah ngeblur.

“Karena yang utama itu tulisannya, kadang suka main comot foto punya orang lain atau main foto orang tanpa izin. Sepele tapi bisa kena pasal,” kata Dokter Charles.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari hukumonline.com, menurut Pasal 13 ayat (1) huruf j UUHC, fotografi termasuk ciptaan yang dilindungi. Pengaturan hak cipta foto diatur tersendiri dalam pasal Pasal 19 s.d. Pasal 23 UUHC.

pasal19UUHC

Ini menjadi catatan penting ya, sebelum Anda mengabadikan sebuah objek, ada baiknya meminta izin pada yang bersangkutan. “Karena, misalnya Anda memfoto gelandangan tanpa izin. Mungkin suatu hari dia jadi bos dan menemukan fotonya ada di dunia maya, Anda bisa dituntut karena tidak meminta izin dulu.” kata Dokter Charles.

Saya pribadi punya pengalaman ketika mengikuti lomba blog Transmart Carrefour beberapa waktu lalu. Saya datang ke Transmart Cilandak dan meminta izin pada kepala keamanan di lokasi. Bahkan, saya meminta ditemani berkeliling sembari ngobrol dengan anak buahnya Pak Kepala Keamanan. Alhamdulillah, usaha saya berbuah hasil. Saya kebagian juara pertama di Lomba Blog Transmart Carrefour awal tahun 2017.

Ini tulisan saya yang dimaksud :  Karena, Kartini Muda Transmart Carrefour Adalah Mereka Yang Berani Bermimpi dan Mewujudkannya.

Nah, itu kan berkaitan dengan lomba. Saya punya pengalaman lain saat sedang mengabadikan suatu tempat di Depok. Saya disamperin Mbak Petugas Penjaga Tempat tersebut.

Mbak X : Mohon maaf Ibu di sini dilarang mengambil foto atau merekam video

Saya : Oh, ini buat bahan tulisan di blog. Tempat ini belum di-review orang.

Mbak X : Iya Ibu. Harus ada surat izin.

Saya : Ya udah bikin di sini

Mbak X : Maaf Ibu, surat izinnya dibikin di rumah baru dibawa ke sini. Tapi untuk hari ini bagian TU-nya sedang tidak ada. Besok mungkin baru bisa.

Saya (mulai gemasssh) : Kenapa harus pakai surat izin Mbak ?

Mbak X : Nanti takutnya ditulis hal-hal jelek tentang tempat ini.

Saya pun ber-Ooh. Lalu, segera pamit dari TKP. Soal ini saya sempat tanyakan ke Teh Ani Berta di Workshop Blogging : Hobi Jadi Profesi. “Untuk referensi tulisan, bagaimana caranya kita sebagai blogger memperoleh izin untuk mengambil foto dari sebuah lokasi yang mau di-review ? Ini di luar urusan lomba atau job review. Kalau dari media kan bisa tunjukkin identitas. Untuk blogger kan bekerja sendiri.”

Teh Ani dengan tangkas menjawab, “Memang untuk mengambil foto harus ada surat izinnya. Karena blogger bekerja sendiri, sebaiknya minta surat izin atas nama komunitas. BRID dan ISB bersedia mengeluarkan surat izin bagi blogger yang membutuhkan untuk keperluan tulisan.”

Duh, saya senang banget mendengar jawaban Teh Ani. Noted ah. “Nah berkaitan dengan hak cipta foto, sebaiknya blogger memiliki form untuk ditandatangani yang mau difoto. Jadi, suatu saat yang bersangkutan melihat fotonya di dunia maya, kan sebelum difoto dia sudah tanda tangan jadi enggak bisa gugat,” tambahnya lagi.

Sharing berikutnya diisi oleh Bapak Dian Kelana, yang sudah nge-blog sejak tahun 2009 di Kompasiana. Dari informasi yang saya baca dari blog pibadinya di diankelana.web.id, Pak Dian menjadi blogger gara-gara enggak kesampaian menjadi wartawan.

“Sebagai blogger saya bisa merambah dunia yang biasa dinikmati oleh para wartawan media cetak atau elektronik, tanpa harus malu mengatakan bahwa saya hanyalah tamatan sekolah dasar.” demikian ungkap Pak Dian dalam biodatanya.

Branding Pak Dian adalah fotografer. Beliau sempat punya pengalaman tidak menyenangkan berkaitan dengan fotografi. Karya fotonya ketika sedang pergi ke suatu tempat diambil tanpa izin oleh media online di daerah dan diakui milik media online tersebut.

“Memang ada perubahan pada fotonya, sudah diedit oleh fotografer media online tersebut. Tetapi, foto itu jelas milik saya.” ujar Pak Dian Kelana. Mirisnya, media online daerah yang mencomot foto Pak Dian tanpa izin itu berada satu grup dengan komunitas blogger yang beliau ikuti. “Saya bisa menuntut untuk hak cipta foto saya, tetapi akan banyak biaya yang keluar. Jadi, saya ikhlaskan foto itu.”

Trus, kalau stok foto habis atau hasil fotonya kurang bagus untuk tulisan harus mengambil darimana dong ?

“Cantumkan sumbernya secara lengkap. Jangan hanya menulis sumber foto dari google. Foto yang Anda pakai itu bukan punya google, tapi ada sumber aslinya. Itu yang perlu dicantumkan.” jelas Teh Ani.

Pilihan lain (ini mah kata saya), bisa mencoba gambar yang bebas hak cipta (creative commons zero atau cc0) yang banyak bertebaran di dunia maya. Gambar bebas hak cipta artinya Anda diperbolehkan menggunakan gambar tersebut untuk berbagai keperluan tanpa harus membayar hak cipta. Coba aja ketik “image cc0”. Bakal muncul daftar penyedia image cc0 seperti pixabay, pexels.com dan lain sebagainya.

Selamat hunting foto !

ttd-marso

Iklan

21 comments

  1. Saya pernah berkunjung ke situs purbakala dan minta ijin untuk mengambil foto. Ternyata dilarang keras. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi benda-benda purbakala tersebut dari penjiplakan. Kalau sekilas atau dari jauh, dan tidak fokus ke bendanya masih diperbolehkan. Tapi kemudian saya jadi ragu. Benar juga ya, kita kan tidak tahu siapa yang membaca blog lalu kalau ada yang tiba-tiba ingin membuat benda serupa…Jadi ya harus maklum.

    Maaf jadi curhat mba.

  2. nice info kak Mar.
    Jadi harus detail ya sumbernya. Alhamdulillah waktu menang lomba pun reportase masih sederhana aku tulis sumber foto lengkap. Karena aku nggak sempat keliling banyak mall buat bahan lomba saat itu.

  3. Baru paham saya mba, ternyata mengambil foto langsung seperti contoh saat di transmart seperti itu juga harus ijin yaak . Saya pikir kalau comot foto di google aja yang perlu pakai ijin/cantumkan sumber linknya si empunya. Blogger gaptek ini sy mah 😀

  4. Wah penting banget info ini Kak Aya..
    Saya suka comot foto dari pexel.com sama pixabay.com, terakhir tadi sore web pexel.com tulisannya mau dijual..hiks.
    Soal tempat, wah kalo mereview restoran juga harus pakaian Surat ijin ga ya kak?

    1. pexel sama pixabay mah bebas ya karena mereka penyedia foto cc0 alias bebas hak cipta, aku baru tau pexels mau dijual 😦

      restoran gak kudu surat izin, kecuali ada kerjasama hal tertentu

  5. Baru2 ini aku ada pengalaman nih.
    Jadi kan web foto cc0 itu sbnrnya bebas aja ambil foto dari sana. Trus suatu hari aku pakai salah satu free foto itu. Waktu itu nulis ttg bau mulut.
    Trus ada org dr klinik gigi di amerika sana kontak aku bilang itu gambarnya dan minta dikasi kredit. Aku jelaskan aku ambil di web foto ber-cc0 aku sertakan linknya.
    Trus aku memilih copot fotonya drpd kasi kredit ke dia dan minta dia segera hubungi pihak website yg bersangkutan.
    Bahkan yg ber-cc0 aja gtu 😦
    makanya emang lbh baik foto sendiri meskipun jelek hahaha.
    Btw kalau almarhum Om Cumi beda lagi, dia gak pernah pakai kredit titte di fotonya krn baginya foto yg dia unggah di dunia maya ya bebas aja semua monggo pakai, katanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s