Mengapa Perempuan Wajib Berkomunitas ?

ultahwb

Kalimat Mama yang paling sering masuk ke telinga saya setelah saya menikah adalah “Sudah menikah bukan berarti hanya uplek di dapur dan kasur, kamu harus ikut komunitas. Bebas mau ikut komunitas apa, yang jelas harus tetap bersosialisasi dan mengembangkan diri.”

Entahlah, sebagai anak tertua dan lahir dari sepasang orang tua yang dua-duanya organisator, saya justru tampil nyeleneh. Sedikitpun saya enggak tertarik berorganisasi apalagi mengikuti berbagai komunitas. Apa sih minat saya ? Saya suka menerjemahkan ide-ide kreatif yang ada di kepala menjadi sebuah tulisan, fiksi maupun non-fiksi. Kemampuan menulis yang saya punya adalah kemampuan otodidak.

Ketika Menikah dan Hidup Saya Pun Drastis Berubah

Ketika usia saya menginjak 27 tahun, saya memutuskan untuk menikah dengan laki-laki yang pernah menjadi teman sekelas selama 3 tahun waktu sekolah. Saya memutuskan menikah dengannya atas dasar cinta dan rasa percaya. Bahwa, meskipun latar belakang keluarga kami sangat berbeda, saya percaya perbedaan itu dapat disatukan. Saya percaya laki-laki pilihan saya dapat menjadi pemimpin yang baik bagi rumah tangga kami kelak.

Rupanya, perbedaan antara kami berdua bukan hanya perbedaan latar belakang keluarga, tetapi cara pandang tentang makna pernikahan. Konsep yang dianut Pak Gondrong adalah dalam pernikahan itu status suami adalah segalanya di atas istri dan istri wajib manut nunut pada suami, karena istri adalah milik suami. Berbeda pendapat sama artinya dengan tidak nurut. Istri yang tidak nurut adalah istri yang durhaka.

Hari-hari di awal pernikahan saya adalah hari-hari yang rasanya bukan impian setiap pengantin baru. Setiap hari saya menunggu Pak Gondrong pulang bekerja dengan rasa takut. Setelah menikah, saya baru tahu Pak Gondrong tipikal laki-laki yang mudah marah dan tersinggung. Acapkali emosinya meluap begitu saja tanpa kontrol. Kadang ia memaki dan membawa seluruh penghuni kebun binatang. Kadang, ia akan melempar barang-barang yang ada di depan matanya. Ia melakukan itu ketika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya atau ketika saya punya pendapat yang berbeda. Saya berpikir positif bahwa itu cara Pak Gondrong beradaptasi dengan status barunya sebagai suami.

Tiga bulan, setiap malam sebelum Pak Gondrong pulang saya selalu menyembunyikan benda-benda tajam ataupun barang pecah belah. Bodohnya, saya tidak terlatih untuk menjadi perempuan pemberontak ketika diperlakukan demikian oleh Pak Gondrong. Karena, rumah tangga orang tua saya adalah rumah tangga yang baik-baik saja. Saya tidak pernah melihat orang tua saya saling bertengkar di depan saya dan adik-adik.

Tiga bulan, saya tidak tahan menjalani rumah tangga seperti itu. Saya dengan hati-hati menceritakan kebiasaan baru Pak Gondrong pada Ibunya dan meminta solusi. Bagaimanapun setiap Ibu pasti tahu karakter anaknya. Tetapi, Ibu Mertua justru balik menyalahkan saya.

“Ah, kalau suami emosian begitu pasti sumbernya dari Istri. Kamunya aja enggak bisa ladenin suami,” atauΒ  “Makanya kalau masak itu yang enak kayak masakan Ibu. Dasar enggak bisa merawat suami aja kamu,”

Sekali, dua kali, dan tiga kali curhat pada Ibu Mertua dan selalu disudutkan akhirnya saya berhenti curhat. Karena, tiap kali curhat, saya tidak mendapat solusi justru tambah tertekan. Saya belajar bertahan. Saya belajar introspeksi. Saya belajar memahami Pak Gondrong. Di sisi lain, saya menjadi pribadi tertutup dan rapuh.

Ketika Berkomunitas Adalah Pilihan Saya Untuk Bangkit Sebagai Perempuan

Saya mulai blogging tahun 2009 tetapi hanya sebatas curcol seputar pekerjaan dan kehidupan. Bahkan, setelah menikah saya berhenti blogging karena saya merasa tidak ada cerita menarik dalam kehidupan rumah tangga yang bisa ditulis di blog saya. Sesekali saya nge-blog ketika buku saya diterbitkan atau ketika tulisan saya dimuat di media atau saya baru saja mendapat orderan notulensi. Saya enggak mau blog saya isinya sampah curhat.

Maret 2016, saya tertarik dengan sebuah acara yang diadakan sebuah Tabloid Nova bertajuk “Menjadi Blogger Berbayar”.Β  Meskipun Pak Gondrong melarang saya ikut acara itu, saya keukeuh harus ikut. Setelah mengikuti acara itu, saya pun tercerahkan. Enggak hanya tercerahkan, saya pun memenangkan lomba blog yang pertama kali saya ikuti. Hadiah lombanya berupa uang tunai yang saya belikan smartphone untuk mendukung kegiatan blogging saya.

Meskipun sudah tercerahkan dan menang lomba blog, saya belum mengikuti event blogger. Saya baru sekedar join komunitas blogger ini dan itu yang rupanya begitu banyak di facebook, salah satunya Warung Blogger. Jika komunitas blogger lainnya anggotanya lebih banyak perempuan, maka Warung Blogger adalah komunitas yang terdiri dari sedulur-sedulur perempuan atau laki-laki yang hobi nge-blog.

Gambar dari Warung Blogger

Setelah bergabung dengan komunitas blogger, pelan-pelan saya mulai mengikuti event blogger. Keinginan saya itu bertentangan dengan kemauan Pak Gondrong yang menginginkan saya menjadi Istri rumahan. Saya keukeuh harus ikut, karena mulai merasakan manfaat dari mengikuti event blogger. Selain silaturahmi dengan teman-teman blogger, dapat menambah saldo atm juga.

Best Blogger Moment saya di dunia blogger adalah ketika saya bertemu dengan para perempuan tangguh, terutama mereka yang berstatus sebagai single mother. Saya belajar banyak hal dari tulisan-tulisan di blog mereka. Saya belajar menjadi perempuan yang lebih kuat.

Desember 2016 menjadi titik terendah dalam hidup saya. Domestic abuse yang saya alami rupanya bukan hanya membuat diri saya luar biasa tertekan tetapi membuat saya menjadi sosok Ibu yang keras bagi Mada. Bahkan, saya pun membutuhkan obat pereda emosi seperti Lorazepam dan sebagainya. Obat penenang yang harganya tidak murah dan saya beli pakai uang sendiri. Belum habis satu strip Lorazepam saya konsumsi, muncul pertanyaan dari diri saya sendiri : “Mau sampai kapan saya mengkonsumsi Lorazepam demi bertahan dalam pernikahan ini ? Saya harus menjadi Ibu yang sehat dan bahagia untuk anak saya satu-satunya”

Bulan ini genap 6 bulan saya berhenti mengkonsumsi Lorazepam. Alhamdulillah, pelan-pelan saya mulai menuai prestasi di dunia blogger, bahkan bisa mendaftarkan Mada di kelas Pendidikan Anak Usia Dini. Meskipun, tetap saja di mata Pak Gondrong apa yang saya kerjakan adalah “pekerjaan tidak jelas”. Biarlah.

“Ketika entah kapan, saya sudah tidak bisa mempertahankan Pak Gondrong sebagai Imam di kapal yang kami arungi ini, maka saya akan kembali pulang ke rumah orang tua saya. Pulang dengan wajah legowo, bukan pulang dengan wajah bermuram durja apalagi menambah beban pikiran orang tua”

Apapun kondisinya, seperti ucapan orang tua saya di awal pembuka tulisan ini, setiap perempuan terutama yang sudah menikah itu wajib berkomunitas sesuai minatnya. Buat apa ? Untuk mengembangkan diri, syukur-syukur bisa menjadi perempuan yang mandiri berdikari.

β€œTulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke-6 tahun Warung Blogger.

Iklan

7 comments

  1. Salutt mbaak, tetap semangaaat menjadi wanita tangguh ;’) semoga diberikan sabar dan kelapangan hati serta menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi setiap permasalahan hidup. Aamiin. . salaam kenaal mbaaak, terus semangaat menulis dan berbagi inspirasi. Saya juga makin bahagia dan blog juga makin berwarna setelah gabung dengan komunitas blogger salah satunya warung blogger. Salam kenal ya mbak πŸ™‚

  2. bisa berkomunitas dan mendapat beragam insight dan ilmu serta sahring membuat kita gak merasa sendiri dan akhirnya jd lebih kuat yaa, semangat mbaa πŸ™‚

  3. sejak kenal komunitas aku jd tahu para ibu keren salah satunya mba yang bisa produktif menulis dan ttp berkarya meskipun bnyk masalah spt yg mb alami.
    menikah dg pak gondrong tentu sudah mjd pilihan tak hanya menerimanya tp jg keluarganya y mb smga mba sll kuat dan sehat aamiin πŸ™πŸ»

  4. Justru komunitas Single Mom juga ada lho mbak yang menggagas pun seorang blogger. Sebagai referensi bisa dibuka di scoopsofjoy . com

    Tetap semangat dan kuat ya mbak. Apalagi mbak punya Mada. Jadilah ibu yang tangguh tapi penyayang untuknya πŸ™‚ salam hangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s