imunisasidasarlengkap
Ketika saya baru menjadi Ibu, topik paling hangat diantara para Ibu-ibu tetangga adalah tentang imunisasi. Pertanyaan-pertanyaan semacam “Udah imunisasi apa aja ?”, “Anakku abis imunisasi kok badannya demam tinggi, anakmu gimana ?”, “Enaknya imunisasi di bidan atau ke Puskesmas ?” atau “Sudah punya sertifikat imunisasi ?” seakan menjadi obrolan wajib hingga Mada berusia genap 2 tahun.
Imunisasi sendiri merupakan langkah untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap beberapa penyakit infeksi yang mematikan dan cacat fisik. Imunisasi dilakukan dengan 2 cara, yaitu disuntik dan diteteskan di mulut. Anak-anak yang sudah mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap tentu akan mengurangi biaya berobat bagi orangtua di rumah sakit.
Alhamdulillah, Mada sudah mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap. Saya bersyukur menjadi pengunjung setia Puskesmas Jagakarsa yang berada di Jl. Batu Jagakarsa Jakarta Selatan, karena dari Ibu-ibu pengunjung poli MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) Puskesmas dan para Bidan itu saya jadi tahu mengapa setiap anak wajib mendapat Imunisasi Dasar Lengkap. Tak hanya untuk kesehatan, di Jakarta, ada syarat khusus untuk masuk Sekolah Dasar Negeri, yaitu wajib punya sertifikat imunisasi.
Berkaitan dengan imunisasi, dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia, saya berkesempatan hadir di Sarasehan Pekan Imunisasi Dunia bertema “Penuhi Hak Anak Untuk Hidup Sehat Melalui Imunisasi” pada Sabtu 29 April 2017. Berlokasi di Balai Kota DKI Jakarta dan dihadiri oleh para peserta yang berasal dari berbagai bidang kesehatan. Narasumber yang hadir diantaranya :

  1. Dirjen Pencegahan & Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – Mohamad Subuh
  2. Deputi Bid. Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan – Soedjatmiko
  3. Imam Besar Masjid Istiqlal – Nasaruddin Umar
  4. Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) – Hartono Gunardi
  5. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia – Titik Haryati
  6. Founder Rumah Ramah Rubella – Grace Melia

IMG_20170429_103801
Sarasehan dipandu oleh Ira Koesno yang membuka acara dengan menghadirkan Grace Melia selaku founder Rumah Ramah Rubella. Ia berbagi kisah tentang Aubrey Naiym Kayacinta -Ubii, anak pertamanya- yang mengalami Congenital Rubella Syndrome (CRS). Demam akibat campak jerman (rubella) yang dialami Grace saat hamil muda, rupanya merupakan sinyal di kemudian hari bahwa Ubii terinfeksi virus TORCH. Dampaknya, Ubii mengalami gangguan pada jantung, pendengaran dan motorik.
“Ubii mengalami keterlambatan di segala aspek. Kami harus membeli secara mandiri alat bantu pendengaran seharga 20 jutaan dan ternyata tidak berhasil. Akhirnya Dokter memasang implan alat bantu dengar yang biayanya ratusan juta rupiah. Biaya pengobatan dan fisioterapinya mahal. Permanen juga,” kata Grace di hadapan narasumber dan peserta Sarasehan. Video tumbuh kembang Ubii yang diputar pun sontak mengundang air mata para peserta.

“Adik-adik mahasiswa dan teman-teman undangan di sini, sering tuh ya ada candaan eh autis, cacat dan sebagainya. Buat kami para orangtua anak berkebutuhan khusus, candaan itu sangat tidak lucu. Setelah melihat video Ubii tadi masih tega enggak sih bercanda kayak gitu ? Di Indonesia ini support system untuk kaum penyandang disabilitas masih sangat buruk. Diskriminasi verbal bully masih banyak sekali. Kita bisa berpartisipasi untuk menghentikan itu kok. Stop becanda menggunakan kata autis dan cacat, ” tegas Grace Melia. Ruang Balai Pertemuan di Balai Kota hening seketika.
Di akhir penuturannya, Grace menegaskan bahwa setiap pasangan yang akan menikah wajib melakukan screening TORCH. “Jangan hanya mikirin pre-wedding dan biaya nikah. Sebaiknya ketika akan memutuskan menikah, harus dipersiapkan juga biaya untuk vaksinasi yang tidak murah.”
Dari pengalaman Grace dan teman-teman dari Rumah Ramah Rubella, tentu menyadarkan saya dan para pembaca blog ini bahwa tidak ada alasan lagi untuk menunda imunisasi. Apalagi setiap anak memiliki hak mendapatkan imunisasi, sesuai Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Bapak Mohamad Subuh bahkan menjelaskan bahwa setiap Pemerintah Daerah yang tidak melaksanakan Imunisasi Dasar akan dikenakan sanksi.
IMG_20170429_110006_555
Tujuan penyelenggaraan imunisasi adalah untuk menurunkan kesakitan, kecacatan dan kematian akibat Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), contohnya : Polio, Campak, Hepatitis B, Tetanus, Batuk rejan, Difteri, Rubella, Pneunomia dan Meningitis. Untuk imunisasi bisa dilakukan di pusat layanan kesehatan terdekat.
Imunisasi yang wajib diberikan setelah bayi lahir hingga berusia 2 tahun adalah Imunisasi BCG, Imunisasi DPT, Imunisasi polio, Imunisasi Campak dan Imunisasi Hepatitis B. Berikut ini jadwal imunisasi dari Pemerintah.

jadwalimunisasi

Gambar : Dokter Dayu Agung

Setelah anak menginjak usia Sekolah Dasar akan mendapatkan tambahan imunisasi, yaitu Imunisasi Difteri Tetanus (DT) yang diberikan pada anak sekolah kelas 1. Kemudian, anak akan mendapatkan Imunisasi Tetanus saat kelas 2 SD dan 3 SD.ย  “Anak-anak sehat merupakan bonus demografi di masa depan. Sehingga akan melahirkan generasi masyarakat produktif.”
Dari segi agama, Bapak Prof. Nasaruddin Umar memaparkan bahwa pada tahun 1972 pernah terjadi kasus kematian bayi tertinggi di Nusa Tenggara Barat akibat pemahaman agama yang keliru tentang imunisasi. “Berbicara soal halal haram berkaitan dengan agama memang urusan sensitif, tetapi dari Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran islam sangat mendorong umatnya untuk senantiasa menjaga kesehatan, salah satunya dengan cara imunisasi”
Bapak Nasaruddin bahkan menukil dari QS. Al Baqarah ayat 173 tentang halal-haram yang artinya : “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak mengingkinkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Bagi yang tinggal jauh dari pusat layanan kesehatan, seringnya jarak menjadi kendala dalam imunisasi. Menurut Doktor Hartono Gunardi anak-anak yang terlambat diimunisasi, perlu dilengkapi dengan imunisasi booster karena tidak ada istilah imunisasi bisa hangus.
Dalam hal penyelenggaraan imunisasi, Pemerintah Pusat bertanggungjawab terhadap penyediaan dan pendistribusian logistik imunisasi berupa vaksin, ADS, safety box, dan peralatan cold chain (sistem rantai pendingin –ย suatu sistim penyimpanan vaksin dengan suhu antara 2 โ€“ 8 derajat Celsius).ย  Untuk itu, diperlukan kerjasama multisektor antar Kementerian supaya target imunisasi bisa tercapai.
ttd-marso