Jadi Bahan Gosipan Tetangga ? #SMileinaja

gosip

Dulu saya sempat berpikir intrik itu hanya ada pada dunia kantor. Intrik-intrik semacam menggunjing teman kerja, menjilat atasan, cari muka dan sebagainya dilakukan demi naik jabatan atau memenangkan sebuah project. Iya, seperti itu. Pekerjaan saya sebagai Personal Assistant mengharuskan saya menjadi pihak yang netral.

Ah, setelah menikah dan bekerja di rumah, rupanya intrik pun ada dalam konsep bertetangga. Lima tetangga saya semuanya para Ibu Rumah Tangga yang usianya belum genap 23 tahun. Istilahnya, Mamah Muda. Dalam seminggu, ada 3 sampai 5 kali pertemuan di pagi hari, siang dan menjelang sore. Saya hanya mengikuti kumpul-kumpul pagi sambil menyuapi Mada atau mengawasi Mada bermain dengan teman-teman seumurannya. Nah, karena tetangga saya Mamah Muda semua, saya ibarat Kakak buat mereka. Kelihatannya mudah dan enak, tetapi ketika para Mamah muda ini lagi berantem satu sama lain, saya menjadi tempat curhat mereka.

“Marni itu ngeselin banget, masa kemarin aku ngajak dia jalan, beli anting emas baru buat si Aini. Sepanjang jalan dia ngeluh aja. Yang naik angkot kepanasan lah, pengunjung toko emas yang padat,  dia kepingin beli emas buat anaknya tapi enggak punya duit lah, jalanan macet … semua dikomentarin jelek. Capek deh,” curhat Warni, tetangga paling kaya di lingkungan kami. Umurnya baru 20, lebih muda dari Marni.

Saya manggut-manggut mendengar penjelasannya. “Ya, dimaklum kan Marni baru pindah dari Sukabumi. Dia kaget liat kota Depok yang ternyata rame,”

Sebelum Warni cerita tentang Marni, saya sudah tahu ceritanya dari Marni sendiri dengan versi yang berbeda. “Kapok deh jalan sama Warni, dia ngajak jalan tapi enggak nawarin makan atau minum kek. Mana jalanan macet, angkotnya juga hareudang (panas). Yang paling nyebelin itu toko emas padat banget. Atuhlah, aku sama anakku disuruh nunggu di tukang cendol kek atau gimana. Warni ngajak jalan cuma kepingin pamer sama aku !”

Saya berdeham demi menahan tidak ketawa mendengar cerita Si Marni. “Yang sabar ya Marni,” kata saya, kemudian. Enggak lama, sekitar 3 hari kemudian, Tati tetangga kami yang lain menceritakan hal yang sama tentang “Warni Si Tukang Pamer”. Saya manggut-manggut sambil tersenyum. Udah tahu cyinn, kata saya dalam hati. Dan, akhirnya 2 tetangga kami yang lain pun laporan cerita yang sama ke saya. Maklum, saya jarang ada di rumah.

Cerita ‘Warni Si Tukang Pamer’ akhirnya nyampe ke kuping Warni. Gara-garanya Bude Tukang Sayur menceramahi Warni supaya hidup sederhana dan dilarang pamer kalau beli perhiasan. Eladalah. Warni enggak terima. Saat lagi ngumpul di rumah tetangga, dia pun ‘menyerang’ Marni dengan kalimat-kalimat nyinyir. Endingnya, mereka bertengkar fisik. Jambak-jambakkan dan pukul-pukulan. Duh. Saya dan tetangga yang lain melerai mereka berdua.

Setelah kejadian itu, Warni dan Marni enggak pernah saling bertegur sapa meskipun keduanya sudah didamaikan. Kalau Warni lagi di luar rumah, Marni enggak berani keluar rumah. Dia akan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat supaya anak batitanya enggak minta main di luar. Hingga suatu hari, Mada anak saya sakit dan harus diopname di rumah sakit yang berlokasi di Pondok Labu. Satu persatu tetangga saya datang menjenguk, termasuk Warni dan Marni. Untungnya, mereka enggak bertengkar di rumah sakit. Marni, lebih banyak diam.

madaopname

Warni dan para tetangga datang saat Mada baru saja tidur siang. Saya sedang berjaga sendirian.

“Kak Ayya kamarnya enak banget ini. Dapet kamar VVIP. Ini mah kayak lagi nginep di hotel,” kata Warni. “Berapaan ini sehari ?”

Saya tersenyum, geli. “Ih mau tahu aja, Warni. Kepo deh kamu,”

“Pasti dibayarin sama Neneknya Mada ya atau minjem uang dulu,” tanya Warni, lagi. Saya geleng-geleng melihat Warni.

“Sembarangan. Masih jaman hare gene minjem sama ortu ? Pakai asuransi dong, shaaay,” ledek saya, bercanda. “Dulu setelah positif hamil, Pak Suami langsung bikin asuransi buat dedek yang di perut. Kan, Pak Suami wirausaha bukan orang kantoran yang gajian. Setiap bulan bayar asuransi 500 ribu. Dulu aku sempat protes, ngapain sih pakai asuransi kesehatan, itu kayak nge-doain kita mau sakit kan. Eh, kata Pak Suami, kalau asuransinya enggak dipakai  ya bisa ditarik buat keperluan lain,”

Warni dan tetangga yang lain berminat mendengar penuturan saya. “Aku ini pakai SMiLe Medical, asuransi dari #SinarmasMSIGLife. Mudah caranya dan klaimnya” lalu saya mengambil brosur yang berada di dalam laci samping tempat tidur. Saya menyimpan seluruh berkas asuransi komplit dengan brosurnya pada satu file map. Supaya memudahkan saat sewaktu-waktu diperlukan.

smilemedical

“Jadi, pas ke rumah sakit, saya cuma bawa kartu asuransinya trus daftar di bagian pendaftaran khusus asuransi. Pilih-pilih kamar. Nanti agen asuransinya yang akan datang mengurus semuanya,”

Warni dan tetangga lainnya semakin tertarik dengan penjelasan saya. Ndadak, saya kepingin berbagi info juga soal Asuransi Pendidikannya Mada di SMiLe education Sinarmas MSIG Life Insurance (SMiLe). “Punya handphone pada canggih semua, kudu pinter makenya, jangan buat update status mulu. Pernah mikirin biaya sekolah Aini ?”

“Ah, itu mah gimana nanti aja Kak. Yang penting aku punya perhiasan emas banyak, jadi kalau sewaktu-waktu butuh tinggal gadai atau jual.” sahut Warni. Marni yang mendengarnya, melengos sebal.

“Iya, caramu bagus, tetapi lebih bagus lagi kalau Si Aini didaftarin Asuransi Pendidikan dari sekarang. Umur Si Aini sekarang pas 3 tahun, kamu udah ngitung biaya sekolah dia nanti pas SD, trus SMP dan SMA, lanjut kuliah ?”

“Belum lah, kan masih lama. Lieur ah kudu itung-itung biaya begitu, yang penting judulnya aku punya perhiasan banyak,” kata Warni, lagi.

Saya langsung membuka smartphone lalu saya tunjukkan Kalkulator Finansial Edukasi pada Warni dan tetangga lainnya. “Kamu enggak perlu lieur lagi ngitung biaya pendidikan Si Aini, ini ada caranya dan berapa biaya yang kamu harus saving buat Aini. Itu bukan biaya mutlak, hanya contoh,”

asuransismile

asuransismile2

Warni terkaget-kaget membaca kalkulasi biaya pendidikan anaknya. Begitu juga Marni, Tati dan dua tetangga saya lainnya. “Warni, Marni dan mahmud-mahmud ini kan smartphonenya mahal dan canggih semua. Jadi istri dan ibu jaman sekarang kudu cerdas pisan yah. Kurang-kurangin gosip antar tetangga yang enggak mutu. Jadi bahan gosipan tetangga ? #SMileinaja cyiiin,” kata saya sembari tersenyum.

Marni terlihat salah tingkah, ia menunduk memandangi sepatunya.

“Buka smartphone itu yang bermanfaat, misalnya aku tadi sudah jelasin soal Sinarmas MSIG Life Insurance, cobalah dibuka sosmednya, komplit lho ada channel youtube-nya juga ini :

Facebook : sinarmasmsig
Twitter : sinarmasmsig
Instagram : sinarmasmsiglife
Youtube : user/SMiLe140485

“Pokoknya semua hambatan yang datang dalam hidup itu, termasuk gosip-gosip antar tetangga jangan bikin berantem kayak kemarin. #HadapiTantanganDenganSenyuman aja ya, neng geulis. #SMileWithMe lah ya karena aku ini teman kalian yang selalu membawa keceriaan dalam hidup kalian ” canda saya. Adegan selanjutnya tak disangka. Marni meminta maaf pada Warni, lalu pada tetangga lainnya dan saya.

“Makasih Kak Ayya,” ujar Marni, singkat sembari memeluk saya.

ttd-marso

Iklan

8 comments

  1. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu ya mbak & emang asuransi untuj kesehatan kita tuh penting banget. Kalo bisa sih nggak cuma untuk kesehatan saja. Pendidikan dll juga perlu. Salam kenal mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s