bukukia

Foto sebelum diedit, dari sini

Saya pernah memposting soal  Dokter Nel, The Most Wanted Obgyn di Kota Depok. Yup, Dokter yang pernah menangani kelahiran adik saya nomor 4, Ali Masgar memang termasuk Dokter yang paling diminati di Kota Depok. Selain praktek di RS Hermina Depok, Dokter Nel juga praktek di Klinik Bersalin Jl. Rambutan Depok Jaya.
Nah, saya mau menulis soal klinik tersebut. Catet, menulis dan mengkritik. Bukan menjelekkan ya. Catet pisan itu yah. Sudah lama banget saya mau nulis unek-unek ini. Baru kesampaian ya sekarang ini, setelah anaknya udah berumur 2,5 tahun XD.
Perempuan hamil manapun bakalan memilih Dokter Kandungan alias Obgyn yang terbuka dalam menyampaikan informasi, enggak terlalu ngejar target pasien (itu lho yang baru duduk sekian menit, tau-tau pasien berikutnya udah disuruh masuk ;p) dan enggak money oriented juga. Alasan itu kenapa saya keukeuh maunya cek rutin kandungan di Klinik Depok Jaya. Maunya Dokter Nel. Titik.
Rekomendasi Ibu saya itu, Dokter Nel pro dengan lahiran normal. Pro juga dengan Ibu-ibu beranak banyak. Pernah ada seorang Ibu yang mau melahirkan anak ke 12 dan Dokter Nel nyuruhnya ya lahiran normal. Si Ibu beranak 12 itu pernah menjadi anggota DPR dari Fraksi PKS. Namanya Ibu Hj. Yoyoh Yusroh. Kebetulan banget kan, Ibu saya waktu itu mau lahiran anak ke lima. Sebelum ketemu Dokter Nel, tiap kali  Ibu konsul ke Obgyn di rumah sakit lainnya, pasti selalu diomelin.
“Ibu ini sudah umur 40, enggak bisa lahiran normal lah. Kudu SC !”
Bumil mana juga yang mau diomelin. Udah bayar mahal, diomelin. Plissssss
Hamil anak pertama, saya sempat pindah-pindah cek kandungan. Awalnya ke Bidan dekat rumah, namanya Bidan Oksya. Karena apa gitu (saya lupa sebabnya), saya direkomendasikan ke seorang obgyn di RS. Graha Permata Ibu Beji Kukusan. Yang Bidan, kurang komunikatif. Yang Obgyn, udah bayar mahal, orangnya pelit informasi. Tiap kali ketemu, pasti enggak pernah lebih dari sepuluh menit. Padahal pasiennya sepi. Serius. Saya dan Pak Gondrong yang kritis ini selalu mendapat jawaban yang tidak memuaskan. Contohnya begini.
Pak Gondrong : Gimana perkembangan anak saya bulan ini, Dok ?
Obgyn (dengan muka datar) : Seperti janin pada umumnya, Pak
Pak Gondrong : Maksudnya gimana, Dok ?
Obgyn (sibuk nulis resep) : Ini resep obatnya diserahkan ke kasir ya Pak
Pak Gondrong (muka langsung jutek) : …
Setelah pindah ke Dokter Nel, alhamdulillah sih ya kami lumayan puas dengan setiap informasi yang disampaikan beliau. Kok cuma lumayan ? Iya soalnya informasi tsb hanya disampaikan secara lisan. Enggak pernah ada catatan tertulis buat kami. Waktu saya hamil Mada, saya sempat nanyain soal ini ke Dokter Nel. Karena tiap kali kami konsul, di meja Dokter Nel selalu ada bertumpuk-tumpuk buku rekam medis pasien yang cover depannya beda-beda warna. Ada yang hijau, pink, coklat, orange. Yang hijau kalau enggak salah itu dari RS. Bakti Yudha atau RS. Hermina gitu deh. Ibu saya punya soalnya.
Sedih juga lho waktu tetangga saya sesama bumil nunjukkin buku KIAnya, padahal dia cuma cek kandungan rutin di bidan biasa. Yang biayanya jauh di bawah biaya cek rutin di Klinik Depok Jaya. Saat saya tanya Dokter Nel, jawabannya tumpukan buku KIA yang dimejanya itu dari rumah sakit lain. Mereka cek ke Klinik Rambutan karena mereka enggak kebagian jadwal ketemu Dokter Nel di RS. Hermina atau pasien baru. Trus waktu saya tanya lagi “Saya kan sedari awal hamil itu cek rutin di Klinik Rambutan. Yah, masa saya enggak punya catatan kehamilan sendiri”
Dokter Nel menjawab singkat. “Catatan Ibu ada di sini, kalau butuh catatan lebih, nanti saya tuliskan di kertas,”
Saya malas untuk bertanya lebih lanjut. Feeling saya langsung enggak enak. Eh, bener. Begitu saya pindah cek rutin kandungan ke Puskesmas Kec. Jagakarsa, saya pindah tanpa rekam medis selama kehamilan pertama dan kehamilan kedua. Hanya berbekal ingatan. Giliran Pak Gondrong minta rekam medis ke Klinik Depok Jaya, malah dipersulit oleh perawatnya. Untungnya dapet sih walaupun kudu pake adu mulut dulu. Walaupun hanya selebaran kertas note kecil. Yasudahlah.
Buku KIA itu penting banget buat bumil. Catet, PENTING. Tanpa buku berwarna pink ini, Anda ditolak melahirkan di Puskesmas atau Rumah Sakit Pemerintah karena enggak ada rekam medis selama Anda hamil. Yang mau lahiran di bidan juga bakalan ditanyain soal buku KIA. Yang mau lahiran di rumah sakit mahal, juga bakalan ditanyain ‘mana buku catatan kehamilannya ?’.
Trus dimana bisa dapetin buku pink KIA ?
Setelah ditelusuri, memang klinik swasta atau rumah sakit jarang banget kasih buku pink KIA. Coba datang ke bidan dekat rumah anda atau ya coba datang ke Puskesmas. Tanyain deh soal buku KIA.
Ada apa saja di dalam buku KIA ?

  1. Tips sederhana buat IBU HAMIL. Misalnya persiapan melahirkan, perawatan sehari-hari selama masa kehamilan, anjuran makan buat ibu hamil, tanda bahaya pada kehamilan dan masalah lain pada kehamilan.
  2. Tips sederhana buat IBU BERSALIN. Misalnya, tanda bayi akan lahir, proses persalinan, masalah pada persalinan.
  3. Tips sederhana buat IBU NIFAS. Misalnya, cara menyusui bayi, perawatan ibu, tanda bahaya dan penyakit pada saat nifas, keluarga berencana.
  4. Di BAB Kesehatan Anak bagian Bayi Baru Lahir, ada tanda bayi sehat, cara merawat bayi baru lahir, perawatan sakit pada bayi dan anak, imunisasi, cara memberi makan, perawatan sehari-hari balita, resep mpasi alami sederhana, dsb.
  5. Perkembangan anak usia 0 s/d 5 tahun. Misalnya, anak umur 1 tahun itu bisa melakukan apa aja. Ada juga menu MPASI alami kayak Kue Dadar atau Bubur Susu.  Dan ada, KMS (Kartu Menuju Sehat) juga didalamnya. KMS ini berguna untuk memantau perkembangan BB anak.

A million thanks to Bidan Liner Naibaho dan para perawat Puskesmas Kec. Jagakarsa, yang sudah pernah membantu proses kelahiran anak kedua saya, Arizqio Mada Leksono si bayi jumbo. Tanpa Bidan Liner cs, mungkin saya enggak bakalan pernah kenal sama yang namanya buku KIA berwarna pink.
Ayooook, bumil yang belum punya buku KIA, buruan minta ke bidannya.
xoxo,
Maria Soraya