3 Kuliner Pekalongan Yang Tak Lekang Zaman

pekalongankul

Foto sebelum diedit milik ulinulin.com

Hal yang paling saya sukai semasa sekolah, saya punya 2 kampung halaman dan setiap lebaran pasti pulang kampung. Sebelum libur, biasanya teman-teman saling nanya “Eh, kamu libur lebaran kemana ?” Dan, saya bakalan menjawab dengan bangga “Pulang kampung ke Pekalongan sama Garut doooong”. Teman-teman pun langsung kepo, mereka kepingin tahu ada apa saja di dua tempat itu. Karena, teman-teman sekelas saya kebanyakan penduduk Jakarta permanen. Enggak punya kampung halaman. Kalaupun ada ya jauh, kudu mendaki gunung lewati lembah semacam Ninja Hattori yah.

Terlahir dari Mama wong Pekalongan aseli dan Papa urang sunda Garut, membuat saya selalu berasa jadi horang kaya tiap kali kembali pulang ke Jakarta. Yaiya kan, saya pulang dengan aneka cerita petualangan selama liburan. Ada saja kegiatan seru yang saya lakukan bersama sepupu-sepupu di Pekalongan. Sesepedahan keliling kampung, liatin kerbau di sawah, jajan makanan aseli Pekalongan dan yang paling wajib … ke rumah Pak De Gus. Setiap kali mampir, saya pasti bakalan ketemu semangkuk pindang tetel plus kerupuk warna-warni. Oh iya, Pak De saya punya restoran pindang tetel di Sapu Garut, Pekalongan. Puas banget makannya ya. Mungkin, gara-gara dulu saya suka makan pindang tetel, setelah menikah … saya doyan banget makanan berkuah !

Nah, saat berkunjung ke rumah Mbah, dan makan besar bersama sepupu. Saat sesepedahan bersama sepupu keliling kampung. Saat berkunjung ke rumah Pak De.
Ini dia 3 kuliner Pekalongan tak lekang zaman yang bikin saya kepingin pulang kampung lagi tapi belum kesampaian hingga kini.

Nasi Megono

Penampakannya seperti foto pada header. Nasi Megono itu nasi yang disajikan dengan nangka muda yang dikukus dengan parutan kelapa. Harga seporsi nasi megono cukup murah. Dibandrol antara Rp. 3000 sampai Rp. 5000, belum termasuk lauk tambahan ya. Mbah Uti (Ibunya Mama) biasa membelikan nasi megono buat cucu-cucunya buat sarapan atau makan sore. Favorit pelengkapnya, bisa pakai semur telor atau cuma pakai tempe mendoan pun nikmat.

Tahun kemarin, saya sempat nemu Warung Nasi Megono di Jl. Pinang Pondok Labu. Belum pernah nyoba, soalnya yang datang kebanyakan bapak-bapak. Saya belum berburu nasi megono di sekitaran Depok atau Jakarta. Kayaknya lebih enak makan di daerahnya langsung. Lebih berasa wong pekalongan !

Pindang Tetel

pintel

Foto milik aromadapur.com

Suatu kali saya terkejut mendapati tumpukan tulang belulang besar di halaman belakang restoran pindang tetel Pak De Gus. Beliau bilang “Itu tulang kerbau, dagingnya dipakai buat bikin pindang tetel”. Yess, pindang tetel itu penampakannya mirip rawon dari Jawa Timur. Kuahnya hitam, berasal dari bumbu kluwak. Meskipun, namanya pindang tetel, tetapi makanan berkuah ini sama sekali enggak pakai ikan pindang. Bahan utamanya, daging sapi atau bisa juga daging kerbau seperti di restoran Pak De Gus.

Pindang tetel cocok dimakan dengan krupuk warna-warni atau yang biasa disebut krupuk usek. Mau pakai nasi atau lontong, rasanya tetap endeussss. Oh ya, harga seporsi pindang tetel enggak nyampe Rp. 10,000.

Kroco

kroco

Foto milik mimiberbagi.wordpress.com

Waktu saya kecil, ini jajanan favorit saya. Dulu saya menyebutnya kiong. Ternyata, nama yang lebih familiar yaitu kroco. Catet kroco ya. Bukan kroto *eh. Kroco ini keong sawah berukuran kecil yang disajikan dalam daun pisang dan dikasih kuah yang ada parutan kelapanya. Kalau di Jakarta, namanya tutut. Teman sejoli makan kroco itu es susu santan. Wuahhh rasanya gimana gitu yah, abis sesepedahan keliling sawah dan perkampungan trus mampir ke warung yang menjual kiong dan es susu santan.

Selain 3 makanan di atas, masih banyak ya kuliner pekalongan seperti kluban, sapitan atau cumi kuah hitam. Favorit saya sih, masih 3 makanan di atas. Tuh kan, jadi ngebet kepingin mudik ke Pekalongan. Maklum, sudah sekian purnama setelah ijab kabul, saya belum mengunjungi simbah uti saya satu-satunya dan para bude bulek plus sepupu-sepupu kece.

Tulisan ini merupakan collaborative blogging bersama grup whatsapp dengan tema makanan kenangan-nya Mak Ica Jahe. Yang doyan kue putu, monggo mampir di Kangen Putu Bambu-nya Mak Diah. Yang kepingin tahu Makanan Buatan Mama-nya Mak Ica Jahe.

Jangan lupa follow saya di sini, langsung saya folbek yess :

IG : @mariasorayaz
Twitter : @itakomayo

xoxo,

Maria Soraya

Iklan

9 comments

  1. Autentik. Nangka muda cukup susah dicari sendiri, jadi makanya nasi megono merupakan makanan langka di luar Pekalongan. Saya sendiri di Surabaya masih kesulitan kalau cari nasi megono atau pun pebisnis yang jual makanan Pekalongan.

    Rasanya saya mesti coba nasi megono dan keong-keong ini kalau ke Pekalongan. Eh ya, Maria, apakah Maria punya rekomendasi restoran yang cukup nyaman untuk keluarga di Pekalongan? Terakhir kali saya ke sana sekitar 5 tahun yang lalu, cari restoran yang parkirnya enak tapi suasananya nggak berisik aja sulit banget. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s