collabbloggg
“Si Teteh ini istri kedua atau bagaimana ?” Pertanyaan itu ditujukan untuk saya -dari seorang tetangga-. Waktu itu saya baru satu bulan menikah. Menjalani hari-hari saya sebagai pengantin baru dalam kondisi hidup mandiri tanpa nebeng di mertua apalagi di orangtua sendiri. Pertanyaan Ibu Tetangga itu saya respon dengan tersenyum. Bingung juga mau jawab gimana. Mosok saya kudu keluarin buku nikah dll. Oh, please. Saya mau krai.
Saya bukan tipe perempuan baper. Pertanyaan Ibu Tetangga itu justru bikin saya langsung mikir. Darimana si Ibu Tetangga berpikiran saya adalah Istri Kedua ? Sependek pengetahuan saya, (harusnya) Istri Kedua itu mukanya dempulan tebel + lippen medok + dsb. Sementara saya, penampilan sehari-hari ya tomboy pakai t-shirt + kemeja flannel + jeans + sepatu kanvas. Oh ya, Istri Kedua versi saya itu dalam artian kamu merebut suami orang dan maksa dinikahin jadi Istri sah. Bukan kamu menikah lagi karena pasangan barumu itu ditinggal pergi/meninggal Istri pertamanya. Plis, muka gue kagak ada muka perebut suami orang.
Bulan berikutnya, sekali lagi si tetangga bertanya lanjutan dari pertanyaan pertama. “Dulu kirain Mbak Ayya ini istri kedua. Soalnya Si Mas-nya kayak masih mudaan gitu. Di rumahnya enggak ada foto pernikahan juga ya.”
Saya menjawab pendek, sambil pasang poker face tapi hati gerundel “Oh, suamiku lebih tua dua minggu dariku. Dia bungsu, makanya kelihatan lebih muda ya ?”
“Iya, udah gitu selalu pakai celana pendek selutut. Di jemurannya juga enggak ada celana panjang.” kata Ibu Tetangga, enteng.
Duh, perhatian banget Ibu Tetanggaku, urusan jemuran orang sampai diurusin. Saya manggut-manggut tersenyum. Jadi, yang bikin saya terlihat seperti Istri Kedua gara-gara penampilan Pak Gondrong yang sok muda. Dan, gara-gara di ruang depan enggak ada foto pernikahan saya ?!
Saya pun berbenah diri. Saya pindahkan foto pernikahan yang ada di kamar ke ruang depan. Tiap keluar rumah, selalu rapi lengkap dengan polesan bedak + lippen nude + mata yang diberi eyeliner bold level sekian. Jam 6 pagi jadwal saya belanja sayur di dekat rumah. And I am the only one emak-emak yang penampilannya rapi wangi sementara emak-emak yang lain masih dasteran gendong anak. Awalnya saya merubah penampilan supaya muka saya enggak terlihat boros, lama-lama saya pun menikmati perubahan tersebut. Soalnya, saya berasa cantik di tengah buibu yang belanja sayur masih dasteran begitu. LOL
Perubahan penampilan saya enggak juga merubah penilaian orang tentang muka saya. Paling menyebalkan ketika saya halan-halan sama Pak Gondrong. Orang-orang bakal memanggil Pak Gondrong dengan sebutan Abang. Dan, saya kebagian panggilan sebagai Ibu. Jadi, agak lucu kalau lagi mampir ke warung kaki lima, Si Pemilik Warung memanggil kami dengan “Abang dan Ibu”. Enggak adil. Soalnya, kalau saya lagi jalan tanpa blio jarang banget ya saya dipanggil Ibu. Pasti ‘mbak’, ‘teteh’, ‘kakak’ atau pernah juga ‘adek’. Kalaupun dipanggil Bunda atau Ibu pasti karena saya lagi rempong sama si Mada.
Duh, hokeh muka saya boros. Maklum juga, saya anak pertama dari 6 bersaudara. Saat saya kasih alasan itu ke seorang teman, dia menyahut “Temen gue adeknya lebih banyak dari elo. Tapi mukanya awet muda” Yaiya, dia nikahnya sama pedagang berlian dan orangtuanya tajir melipir juga. Yekan, dese mau perawatan muka dimana juga bisa kalau seperti itu. Lha, saya boro-boro mau perawatan di salon apalah apalah. Tiap ada transferan masuk dari orderan atau honor menulis, yaiya niat dari rumah mau ke salon, di tengah jalan malah belok ke toko baju anak. Trus kalau aku mukanya boros, lha aku kudu piye ? *nungguendorseanskincare
Setelah ada Mada, saya enggak terlalu baper sama muka saya yang boros ini. Bersyukur saja sama gusti Allah. Di luar sana, ada perempuan-perempuan yang mukanya cantik dan awet muda tetapi hatinya tidak demikian *ehh. Ada perempuan-perempuan yang mukanya hancur gara-gara disiram air keras sama suaminya. Banyak yah kalau mau dijabarin. Mama saya bilang, ketika kita dikasih sesuatu sama orang harus dirawat. Begitu juga, pemberian dari gusti Allah. Dikasih anggota tubuh komplit termasuk muka ya dirawat sebaik-baiknya. Khusus muka, bisa dengan cara  maskeran + banyak minum air putih dan makan sayuran plus buah-buahan. Kalau ada rezeki lebih ya nyalon.
Muka bakat boros, harusnya sih enggak suka begadang yah.  Tapi gimana dong, jatah me time saya pan cuma di atas jam 12 malam ? Seperti saat saya posting tulisan ini. Nulis dari jam 10 malam, selesai jam 12 dan posting setengah satu pagi. Ah, yang penting mah banyak bersyukur, berdoa dan berkarya wess.
Tulisan bertema Usia ini merupakan bagian dari Collaborative Blogging bersama Grup Whatsapp. Baca juga tulisan tentang Usia dari Mak Virly : Saya Kepingin Jadi Vampir Saja, Mak Diah : Menua Dengan Senang dan Tenang dan Mak Ade : What’s On 23rd Years Old .
xoxo,
Maria Soraya