Karena, Kami Adalah Keluarga Pabrik Gula

madajumbo

14 Oktober 2014, jam 7 pagi. Saya memandangi ruangan bercat putih dengan bau obat-obatan yang menusuk hidung. Rasa linu masih terasa di sekitaran pinggang ke bawah. Saya sedang menunggu proses pengeluaran plasenta (ari-ari). Seorang suster mendatangi saya lalu bertanya, “Ibu, bawa bedong lagi ? Ini enggak cukup. Bayinya besar banget, Bu.”

Kening saya mengkerut.“Lho, memang berat bayinya berapa Suster?” tanya saya balik. Seminggu sebelum persalinan, saya masih sempat mengecek berat janin di perut saya, perkiraannya 3,8 kilo. Setiap bulan saya juga rutin kontrol kandungan. Duh, jadi deg-degan ya dengan kata-kata suster yang menyebutkan bayi saya besar.

“Empat koma empat kilo, Bu. Bayi Ibu jadi bayi terbesar di Puskesmas Jagakarsa sepanjang sejarah” Suster itu mengangkat bayi saya dari timbangan. Lalu, ia membungkus bayi saya dengan sarung biru sholat milik Pak Suami. Si bayi merah didekatkan pada saya. Lantaran saya pendarahan hebat, tidak ada proses IMD. Si bayi merah yang belum diberi nama harus berpisah dari saya yang dirujuk ke rumah sakit lain. Untuk menjalani operasi besar kuretase dan penjahitan ulang area jalan lahir.

Bahagia, jelas itu perasaan saya. Saya yang sempat ditolak beberapa rumah sakit untuk melahirkan bayi secara normal, akhirnya bernafas lega. Bisa melahirkan -tanpa melalui proses operasi caesar- bayi sebesar 4,4 kilo. Jam 4 pagi datang ke Puskesmas Jagakarsa. Antri lahiran dengan 3 orang Ibu. Jam 6 pagi, proses persalinan yang ditangani oleh Bidan Liner Naibaho berjalan lancar. Bayi saya mbrojol dengan beberapa kali kontraksi. Meskipun, endingnya saya tidak bisa IMD, tetapi saya bahagia.

Satu-satunya kecemasan saya adalah saya tahu bayi yang terlahir dengan berat badan di atas 4 kilo, rentan terhadap Diabetes Mellitus (DM). Termasuk, saya si Ibu bayi jumbo. Apalagi garis keluarga dari dua pihak (saya dan suami) ada sejarah keturunan DM. Bulek Lis, adik bungsu Mama saya, meninggal karena mengidap DM selama lebih dari 3 tahun. Saya masih ingat terakhir kali bertemu dengan Bulek Lis, kaki Bulek sudah menghitam. Saya -yang masih berseragam putih biru- sempat bertanya pada Mama : “Kaki Bulek Lis kenapa Ma ?”

“Bulek kena sakit gula. Enggak bisa sembuh. Kamu harus jaga makanan. Karena, di keluarga kita, turunan dari keluarga Pekalongan, ada riwayat itu.” demikian penjelasan Mama. Pada saat itu, saya belum terlalu ngeh dengan DM. Maklum, masih anak SMP. Yang saya ingat, Mama sangat rajin menjaga asupan makanan anak-anaknya dengan banyak menghidangkan sayur dan buah-buahan di meja makan. Jadi, sebelum raw food dan aneka makanan sehat menjadi gaya hidup kekinian, Mama sudah menjalaninya di tahun 90an.

Si Bayi Jumbo yang diberi nama Arizqio Mada Leksono, tumbuh sehat dengan badannya yang berukuran lebih besar dari anak seumurannya. Ketika Mada berusia 6 bulan dan memasuki masa pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI), saya keukeuh Mada hanya boleh makan MPASI alami. Tidak ada bubur instan seduh yang manis. Pun, tidak ada MPASI buatan dengan tambahan bumbu penyedap instan. Banyak orang yang tidak paham dengan keputusan saya ini, termasuk mertua. Sikap keukeuh saya toh membuahkan hasil. Sekarang, Mada berusia 2 tahun 4 bulan. Dia sehat, aktif, cerdas dan yang saya suka dia doyan segala jenis sayur dan buah-buahan.

Langkah yang saya lakukan untuk Mada, ternyata serupa dengan anjuran Prof. Sidartawan Soegondo, MD, PdD, F.A.C. (Ketua Persatuan Diabetes Indonesia) pada acara Jumpa Blogger Sun Life “Cegah, Obati dan Lawan Diabetes” di awal Oktober 2016. Bertempat di Cafe XXI Plaza Indonesia, para blogger lintas komunitas mendapatkan edukasi seputar Diabetes Mellitus. Acara ini diselenggarakan oleh Sun Life Financial Indonesia yang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Narasumber pertama yaitu dr. Lili Sulistyawati, MM -Direktur Penyakit Tidak Menular- dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dokter berpenampilan chic dan awet muda ini, memaparkan seluk beluk diabetes yang lebih sering dikenal sebagai penyakit gula. Pengertian diabetes yaitu suatu kondisi dimana kadar gula (glukosa) dalam darah tinggi.  Diabetes termasuk Penyakit Tidak Menular tetapi mematikan. Ada 2 tipe diabetes yang perlu diketahui :

Diabetes tipe 1

Ciri-ciri, biasanya diderita sejak kanak-kanak. Tubuh benar-benar berhenti memproduksi insulin, karena itu si penyandang diabetes tipe 1 sangat tergantung pada terapi insulin sepanjang hidupnya.

Diabetes tipe 2
Sebanyak 90 % penderita diabetes di dunia terkena Diabetes tipe 2. Pada kondisi ini, pankreas menghasilkan jumlah yang tidak memadai.

Penyebab Terjadinya Diabetes Tipe 2 (Yang Masih Dapat Diperbaiki) :

  1. Kurang aktifitas fisik
  2. Penduduk usia > 15 tahun merokok
  3. Penduduk > 10 tahun kurang konsumsi sayur dan buah
  4. Alkohol

Ada satu hal yang saya ingat dari dr. Lily, adalah tentang langkah CERDIK yang perlu dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah diabetes. Istilah CERDIK mengandung arti :

C : Cek kesehatan
E : Enyahkan asap rokok
R : Rajin olahraga
D : Diet seimbang
I : Istirahat cukup
K : Kelola stres

Usai presentasi dan sesi tanya jawab, narasumber berikutnya yaitu Prof. Sidartawan Soegondo, MD, PdD, F.A.C.E. Beliau adalah Ketua Persatuan Diabetes Indonesia. Dan, juga merupakan salah satu Spesialis Endokrinologi terbaik di Indonesia. Prof. Sidartawan sempat menuturkan tentang keluarganya yang merupakan keluarga pabrik gula. Alias, punya faktor kuat untuk terkena Diabetes Mellitus.

“Seorang bayi yang terlahir jumbo, masih punya kesempatan terhindar dari diabetes. Caranya, ketika masa pemberian makanan pendamping asi (MPASI), kurangi makanan yang manis-manis. Nanti kalau sudah besar juga harus tetap dijaga makanannya” jelas Prof. Sidartawan. Duh, penuturan beliau seperti menemukan oase di padang pasir. Hati saya mencelos. Meskipun, saya tidak kebagian bertanya pada sesi tanya-jawab tetapi penjelasan Profesor Sidartawan cukup melegakan hati saya.

“Yang terpenting, luangkan waktu 30 menit sehari untuk beraktifitas fisik ya. Saya tidak menyebutkan pasien DM harus olahraga. Karena, saya pernah punya pasien DM. Saya minta dia supaya berolahraga. Setelah sekian bulan, DM-nya enggak berubah. Ternyata dia olahraga catur, yang hanya duduk seharian seperti itu.” gurau Prof. Sidartawan yang langsung disambut gelak tawa para blogger. Diabetes, memang bukan Penyakit Menular, tetapi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Menurut Prof. Sidartawan, “Diabetes itu penyakit mahal. Sama seperti Penyakit Jantung dan Stroke. Bisa miskin mendadak” ungkapnya, lagi.

Kehadiran Asuransi yang identik dengan warna kuning cerah -Sun Life- pada acara Jumpa Blogger bertajuk “Cegah, Obati dan Lawan Diabetes”  seolah ingin menjawab pertanyaan lain dari para blogger “Bagaimana saya harus melindungi keluarga saya dari penyakit seperti Diabetes ?”  Asuransi Sun Life memiliki pilihan produk asuransi jiwa : Term Life, Asuransi Sun Prima Protector, Asuransi Sun Pusaka Prima dan Asuransi Brilliance Hasanah Prima. Silakan kunjungi pusat layanan asuransi Sun Life terdekat untuk mengetahui program-programnya lebih lanjut atau kunjungi http://www.sunlife.co.id.

Nah, yang masih penasaran dan ingin tahu seputar Diabetes Mellitus, segera kunjungi beatdiabetes. Di situs garapan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan lembaga WHO ini, Anda enggak cuma dapat pengetahuan seputar diabetes loh. Ada mini kuis seputar diabetes yang berhadiah foto kampanye ‘Cegah, Obati dan Lawan Diabetes’. Seperti foto saya bersama keluarga di bawah ini.

Terimakasih, Sun Life.
Terimakasih, Para Narasumber.
Dan, terimakasih untuk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Ayo, 30 Menit Sehari #LawanDiabetes !

#Diabetes #EatHealthy #BeActive
#BloodSugarChek #LessSugar #KurangiGula
#MoreExercise #BanyakGerak
#RegularCheck #PeriksaKesehatan

Salam CERDIK,
Maria Soraya

participant_5818b72bd9007

banner

Lomba Penulisan Blogger Hari Kesehatan Sedunia 2016 : Cegah, Obati dan Lawan Diabetes

Iklan

15 comments

  1. Tantenya suamiku , dulu melahirkan bayi yg beratnya 6kg mba, di solo. Sampe msk koran sana. Dan memang itu krn tantenya suamiku itu punya penyakit gula. Anaknya skr udh smp, bdnnya jg besar tp msh blm ada tanda2 dia kena gula sih. Bisa jd krn makanannya dijaga kali ya.

    Aku sendiri udh mulai ngurangin makan yg manis. Suami msh susah, tp kalo lg bareng aku, pasti g kuizinin beli minuman soda ato aneka minuman manis gitu. Harus air putih.. secara keluarga diakan ada yg punya sejarah gula ya..jd sedari dini mw mencegah lah

  2. Waktu hamil Tio, anakku yang bungsu, saking besar dipikir aku diabet, trus tio juga lahir dengan berat 4,2. Tapi aku tetap takut sama diabet karena adikku meninggal dunia karena diabetes 😦
    Sekarang mengurangi gula banget, terutama karena usia juga sih 😀

  3. 4,4 itu gede banget ya maaak :O ya ampun normal kaya apa rasanyaaa. Aku aja anak pertama 3,3 normal, pas anak kedua 3,8 normal juga berasa banget beda pas ngedennyaaaa.. Huhuhuhuhu. Apalagi 4,4 yaaa. Mama Mada hebat sekaliiii. Aku sekeluarga pun punya turunan diabet mak, berarti kita sama-sama harus lebih menjaga asupan gula yang masuk ya maaak *tossduluuu*

  4. wah tinggal rokok yang belum ada niat berhenti hahaha.
    yah melawan diabetes juga berarti hidup dengan gaya hidup sehat.
    sekarang sih tidak sesusah dan semahal dulu untuk hdup sehat.
    oh iya mbak kalau kebetulan lagi nyari tips fotografi mampir juga dong ke blog saya.
    gariswarnafoto[dot]com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s