12 Mitos Ini Saya Alami Setelah Menjadi Seorang Ibu

collab_gagalpaham

Tantangan terberat saya setelah menjadi Ibu, adalah saat saya harus menghadapi orang-orang yang kontra dengan cara saya membesarkan Mada. Apalagi saya tinggal di lingkungan yang masih percaya mitos dan ilmu turun-menurun dari leluhur. Saya enggak alergi dengan mitos dan ilmu membesarkan anak sesuai ‘kata nenek moyang saya’saat Indonesia masih dijajah Belanda. Sesuatu yang kuno itu keren, tetapi kudu ada update dong yah di era serba digital ini.

Rujukan saya dalam urusan membesarkan Mada siapa lagi kalau bukan Mama saya sendiri. Beliau pernah melahirkan 6 anak di era 80an, 90an dan 2000an. Cukup update lah ya dengan informasi yang terjadi pada masa-masa itu. Bahkan, sampai sekarang Si Eyangti-nya Mada masih update urusan dunia parenting kekinian. Jadi, tiap kali saya berkunjung ke rumah Mama, selalu ada diskusi urusan anak.

Alhamdulillah, setelah Mada 24 bulan, saya baru merasa merdeka. Yup, merdeka dalam arti bebas dari segala intervensi orang dewasa urusan membesarkan anak dan pastinya mitos-mitos ajaib.  Ketika saya mencoba mengingat apa yang pernah saya alami dulu, dan dituliskan satu-persatu di bawah ini, saya masih gagal paham sama mitos-mitos itu.

1. “Kalau anak udah 2 tahun mah, harus berhenti ASI, kalau ASInya kelamaan nanti pas udah sekolah jadi bodoh kayak suami saya. Eh, malah keponakan saya jadi idiot gara-gara masih ASI sampai lulus TK.”

lalu, yang lain menyahut, “Iya, makanya anak saya udah enggak ASI. Udah basi ini.”

Yeah, Mada di umurnya yang ke 27 bulan memang masih ASI. Tapi, sedari Mada genap 2 tahun, saya pelan-pelan mengurangi frekuensi ASI-nya. Hanya saat mau tidur siang dan tidur malam. Sebagai pengganti ASI, Mada minum susu UHT 2x sehari. Sekarang, Mada lagi belajar rutin minum susu formula.  Saya enggak mau menyapih dengan cara orang jaman dulu, yang nempelin CD kotor suami di atas PD biar anaknya berhenti ASI atau cara kuno apalah apalah.

Jadi, kalau ada anak bisa menjadi bodoh gara-gara ng-ASI kelamaan, entah mitos dari mana itu ya. Saat dibilangin begitu, saya meneng wae dan lempar senyum ‘iya gue percaya aja deh sama elo’. Diskusi sehat dengan orang yang ‘menomorsatukan’ mitos itu enggak ada titik temunya. Mending, BW aja ke hati kamu eh blog kamu. Iya kamu 😉

2. “Males banget jadi orangtua. Anak makan kok dibiarin sendiri. Enggak ketahuan dia masukkin apa ke mulutnya. Nanti udah gedenya hidupnya berantakan”

Setelah Mada bisa duduk dan menggenggam barang, saya mulai melatihnya makan sendiri. Saya kepingin Mada merasakan sensasi memegang makanan yang teksturnya macam-macam. Dengan membiarkan Mada makan sendiri (dan sesekali tetap diawasi), dia juga belajar percaya sama dirinya. Semacam ‘eh ternyata aku bisa ya makan pakai sendok’ atau ‘oh, ternyata makan yang ada kuahnya enggak bisa pakai garpu”.

Manfaat membiarkan anak makan sendiri, banyak lho. Anak terbiasa mandiri, percaya diri dan belajar memutuskan (bahkan belajar berdebat). Dan, yang bikin mbingung itu, porsi makannya lebih banyak saat makan sendiri daripada saat disuapi.

3.“Kalau ngasih makan ke anak itu anaknya harus digendong sambil jalan-jalan, bukan diem di tempat begitu  nanti anaknya jadi pemales.”

Duh, buat saya kebiasaan menyuapi seperti itu justru enggak bagus buat perkembangan anak di kemudian hari. Anak menjadi pasif, hanya tahu buka mulut dan happp. Anak enggak mengerti makanan apa aja yang masuk ke mulutnya. Dengan makan sambil duduk manis, saya bisa bercerita tentang Wortel yang bisa membuat mata cemerlang atau Brokoli yang bisa bikin Mada menjadi kuat. Lain waktu, saya juga bisa bernyanyi sembari menyuapi.

Oh ya, supaya Mada tidak bosan, sesekali, saya membiarkan Mada makan bersama teman-temannya di luar rumah. Tapi, gara-gara saya enggak pernah menyuapi Mada sambil digendong pakai jarik, saya pernah mumet setengah mati waktu menginap lebih dari seminggu di rumah mertua. Kebiasaan di sana itu, anak makan kudu digendong sambil jalan-jalan. Jadilah, tiap Mada sarapan, saya memilih ngumpet di mana gitu. Pokoknya yang enggak terjangkau sama mata Bapak Mertua. Karena, kalau saya ke-gap, menyuapi Mada tanpa digendong, kuping saya bisa lebih merah dari lippen purbasari gegara mendengar omelan si akungnya Mada ituuu *salimsamaakungmada.

4.“Kalau anaknya enggak pernah makan bubur instan, nanti badannya lembek. Enggak Enggak punya gigi. Kurus juga lho.”

lalu, yang lain ikut berkomentar. “Kesian anaknya kalau makannya gitu doang, nanti sampe gede enggak kenal rasa lho,”

Alhamdulillah ya, setelah Mada 2 tahun baru deh kerasa manfaat makan MPASI rumahan. Giginya masih rapi dan enggak bolong. Mada juga doyan segala jenis sayur. Bahkan, saya mengabadikannya dalam sebuah tulisan dan dimuat di rubrik Gado-gado Majalah Femina edisi ulang tahun September 2016.

Bebas ya. Orangtua mau kasih bayinya bubur instan atau bersedia merepotkan diri membuat MPASI rumahan, terserah. Saya enggak alergi sama bubur instan. Saya bersedia merepotkan diri membuat MPASI rumahan demi kebiasaan Mada makan sehat di kemudian hari. Makan sayuran hijau hayuk, minum jus buah pun hayuk. Pusing lho, kalau punya suami enggak doyan sayur plus buah. Tumis kangkung, dianggurin. Sayur bening bayam cuma dilihatin. Bikin tumis capcay, eh kuahnya duank yang didoyanin *jiahcurhat.

5. “Anaknya dilarang pergi-pergi jauh nanti sawan”

Sawan (bahasa Jawa) adalah gejala aneh yang menyerang anak kecil di Jawa. Anak yang terkena sawan, biasanya akan menangis rewel bahkan suhu tubuhnya meningkat dari normal.

Khusus yang nomor 5 ini, bikin saya agak sedih (pake banget). Di keluarga suami, ada semacam larangan kalau bayi sampai umur setahun itu dilarang bepergian jauh, alasannya sawan. Saya pun terpaksa manut. Karena, ‘gejala sawan’ itu identik dengan bayi yang rewel melulu. Kan kebayang kalau saya lagi bawa Mada berkunjung ke rumah Mertua trus tau-tau Mada rewel. Langsung deh Mada disebut sawan. Mertua langsung nyari tukang sembur buat Mada. Padahal,  seringnya naluri saya berbicara ‘eh anak elo itu rewel gara-gara kepanasan di jalan’ atau ‘eh Mada rewel gegara masuk angin’.

Jadi, Mada sampai umur 6 bulan beneran enggak pernah pergi jauh-jauh. Pernah sih, saya diam-diam pergi sama Mada ke Monas bersama adik-adik saya. Waktu itu ‘merayakan’ Mada yang pas 6 bulan dan mulai MPASI. Trus, karena Mada enggak menunjukkan gejala ‘sawan’, saya pun bercerita ke Pak Gondrong dan keluarganya. Eladah, bukannya disupport, saya justru dicecar habis-habisan.

Yang teramat bikin saya sedih plus menyesal. Catet, menyesal pake banget. Gara-gara Mada enggak pernah bepergian jauh sedari bayik piyik, Mada jadi agak ringkih. Kalau bepergian kudu pake jaket sekian lapis. Kena angin dikit, langsung deh kembung masuk angin. Mitos bayi sawan itu jelas sangat merugikan saya. Nanti, kalau mau nambah anak lagi, urusan bayi sawan kudu dicoret. Saya mau keukeuh ‘say no to bayi sawan, say yes to bayik sedari masih piyik kudu jalan-jalan’.

6. “Sebelum dan sesudah maghrib, anaknya harus dipangku.”

Alasannya, kalau anak dibiarin sendiri meskipun ada di sebelah kita, nanti bakal ditempelin makhluk halus. Kebayang ya, kalau detik-detik menjelang adzan maghrib, saya ndadak kepingin pipis. Kudu nunggu sekian menit setelah adzan berkumandang.

Mitos ini bukan cuma diterapin di keluarga Pak Gondrong, tetapi para tetangga saya ibu-ibu muda usia 20an pun melakukannya. Jadi, kalau ada Ibu yang mau ke kamar mandi, mereka bakalan ketok-ketok pintu rumah tetangganya buat nitipin si bayi. Atau, minta tetangganya buat nemenin bayinya sebentar di rumah si Ibu yang mau pipis ituh. Rem to the pong. Rempong cyiinnn.

7. “Bayinya harus dikasih kopi, biar enggak step (kejang-kejang)”

Saya berusaha mencerna, hubungan antara kopi dan kejang-kejang. Kecuali, mungkin Kopi Vietnam-nya Mbak Mirna yang sidangnya udah masuk sidang ke 26. Kebetulan, Mama enggak pernah membahas soal bayi harus dikasih kopi blablabla. Jadi, ketika buibu tetangga dan Ibu Mertua berkeyakinan bahwa bayi harus dikasih kopi biar enggak step (kejang-kejang), saya pun mencari informasi.

Dan, faktanya. Pertama, kejang-kejang pada bayi itu faktor keturunan atau ada riwayat step di keluarga. Ketika bayi mengalami step, sebaiknya orangtua mengompres hangat, memberikan minum yang banyak dan jangan lupa dikasih obat penurun panas. Kedua, tidak disarankan memberi kopi pada bayi, dikarenakan lambungnya belum kuat. Jangankan bayik ya, orang dewasa juga ada yang enggak bisa minum kopi. Contohnya seperti suami saya, Pak Gondrong. Blio minum kopi kudu ada temennya, misalnya roti tawar. Enggak pernah deh minum kopi di glek glek begitu aja. Dan, yang ketiga. Ketika bayi mengalami kejang-kejang, akan kesulitan menelan apapun yang masuk ke mulutnya. Memasukkan cairan kopi ke mulut bayi saat kejang-kejang, justru dapat menyebabkan peradangan paru-paru. Karena, cairan tidak masuk ke pencernaan, tetapi nyasar ke paru-paru.

8. “Anaknya harus dikasih bangle. Biar enggak dibuntutin makhluk halus”

Bangle itu sejenis tanaman rempah-rempah yang masih satu saudara sama jahe. Dalam kepercayaan orang Jawa, bayi yang baru lahir itu kudu dikasih bangle plus teman-temannya. Seperti kaca, peniti, gunting tajam dan bawang. Tujuannya biar enggak ditempelin makhluk halus atau menghindarkan bayi dari sawan.

Selama lebih dari seminggu tinggal di rumah Ibu Mertua setelah melahirkan, saya enggak lepas dari bangle dll. Kadang agak horor sih ya, nyimpen gunting deket bayi. Tapi, namanya numpang sementara di rumah Ibu Mertua, diikutin aja. Yang penting saya enggak percaya yang begituan.

9. “Kalau menyusui itu harus gantian kanan-kiri. Biar enggak cepet basi”

Dan, setelah saya mengikuti saran eh mitos itu, “Kok menyusuinya pindah-pindah ? ASI-nya dikit ya ?

Entahlah darimana ceritanya ASI bisa basi. Secara logika, menyusui memang harus bergantian ya biar PD enggak besar sebelah. Tiap kali proses menyusui Mada, selalu ada yang menunggui saya entah tetangga atau Ibu Mertua. Maklum sih ya cucu pertama. Sayangnya, sikap terlalu peduli terhadap cucu justru membuat saya tertekan. Karena tiap menyusui banyak banget input negatif ke kuping.  Pusing lagi-lagi akuhhh

10. “Jadi Ibu jangan malas, anaknya kalau nangis harus langsung digendong”

Waktu Mada bayi, saya bukan tipe Ibu yang langsung heboh menggendong Mada ketika dia nangis. Naluri keibuan saya mengatakan ‘anak menangis bukan semata butuh digendong, kadang dia butuh ngobrol atau apalah apalah’. Kecuali, Mada nangis gara-gara kejedot apa gitu, itu mah langsung diangkat aja anaknya sambil tetep pasang smilling face.

11. “Dilarang tidur pagi-pagi, nanti darah putih bisa naik ke mata dan bisa buta”

Katanya sih, mitos ini dibuat supaya para Ibu melahirkan itu enggak malas pagi-pagi. Yeah, tidur pagi kan identik dengan pemalas. Yaiya kalau seharian enggak ngapa-ngapain karena punya 12 pembantu. Nah trus kalau si Ibu melahirkan melakukan semua pekerjaan rumah dengan tangan sendiri ? Modar dar duaaarr. Itu mata kudu melek 24 jam. Mau tidur pagi dilarang. Mau tidur siang, anaknya melek. Mau tidur malam, nda iso.

12. “Biar anak nurut sama orangtuanya, puput pusarnya kudu dimakan”

Saya cuma bisa pasang muka datar saat Pak Gondrong membuka bungkusan puput pusar lalu glek, menelannya tanpa merasa … okeh itu memang puput pusar anak sendiri. Darah daging. Tapi, di Al Qur’an enggak ada ayat yang menerangkan kalau puput pusar bayi kudu dimakan demi si anak nurut sama Bapak/Ibunya (tergantung siapa yang makan). Pun, dalam ilmu pengetahuan gitu ya.

Detik itu, saya mendadak merasa hidup satu zaman sama Ibu RA. Kartini, di saat Indonesia masih dijajah bangsa Belanda. Aksi Pak Gondrong ‘nelen’ puput pusar sempat bikin heboh para tetangga Ibu Mertua. Karena, meskipun mereka masih percaya mitos-mitos, tetapi mereka enggak nelen puput pusar anaknya sendiri. Kebanyakan sih, para tetangga Ibu Mertua dan tetangga saya di sini …. lebih memilih menyimpan puput pusar bayinya di dalam lemari. Sewaktu-waktu anaknya sakit, itu puput pusar bisa direndam trus airnya diminum.

Setelah mengalami 12 mitos di atas dan mitos-mitos lainnya seputar Ibu melahirkan, saya merasa gagal paham menjadi seorang Ibu. Saya pun membulatkan tekad, kalau nanti hamil dan melahirkan lagi ya WAJIB tinggal di lingkungan yang energinya positif. Enggak mau ah dikelilingi aneka mitos ajaib yang menyesatkan.

xoxo,

Maria Soraya

Iklan

21 comments

  1. Hihi kayaknya sebagian besar mitos di atas aku juga ngerasain. BT ya. Tapi sama kayak Mbak Maria, aku pun lebih sering cuek dan tutup kuping. Kadang berusaha ngejelasin sih, cuma lebih banyak jadi debat ya sudah aku diem ae 😀

  2. Hahaha,, sy pernah tuh disuruh pakai kalung bawang waktu hamil,tp ogah yaaa ntar jadi bau bawang.. Yucky!!
    Mitos2 begitu memang tersebar tuh di seluruh wilayah Indonesia.

  3. Haduhhh mbak aku baca postingan ini mau komen panjang bangetttt. Hahahaha.
    1. Bangle, aku pake waktu hamil kedua. Bangle ditusukin ke peniti trus digabungin sama gunting lipat. Eh jelang minggu2 terakhir sepaket itu ilang di jalan. Ahahahah.

    2. Asi basi. Ish ish iya kali bakalan basi kalo nyusunya sampe 20tahun. Ah tapi engga juga ah.

    3. Makan sambil gendong, jalan2 dan main. Saya dulu dudukin dia dikursi makan, eh sama yang lain diajak makan sembari main, jalan2 gendong2. Sekarang anaknya kaya gitu, dibilang ga nurut karena kalo makan, lari2an. Sapa yang salah? Menurut ngana???

    4. Yg darah putih. Samaaaa. Tapi ya org baru lahiran mah butuh tidur banyak. Bodo ah. Saya mah kebo aja. Hahahaha.

    5. Anak nangis dan digendong. Saya pengen pola asuh kaya mama saya, dimana anak ditaro di box ga bau tangan. Kenyataannya, sebentar2 digendong eyangnya, sebentar2 digendong papanya. Pas sekarang minta gendongan mulu, diprotes, udah segede babon kok minta gendong mulu. Hahahaha.

    6. Anak kok nyusu mulu. Ga cukup asi nya. Harua dikasi sufor.
    Saya ga anti sufor, tapi saya ga tau apa yg ngomong ngalamin growth spur. Ya tebel2in kuping aja.

    Tuhkan jadi curhat. Hahahaha

  4. hihihi…

    pingin komen gitu aja tapi ga tahan.

    saya termasuk beruntung nih. meski kata orang wong jogja itu masih lekat sama gitu-gituan tapi keluarga saya enggak. ya ada sih bbrp mitos tapi ga yang serem macam cara nyapih asi tadi.

  5. saya geleng2 dan ngakak mbak bacanya, hihi. Terutama yg poin terakhir, baru tahu ada mitos begituan. Benar mbak, kalau busui apalagi yg habis lahiran lebih enak tinggal di tempat yg energi positif, walau mungkin semua urusn rumah cuma dilakuin berdua sama suami, hihi

  6. itu bener banget, tapi kalo aku yang namanya mitos gitu dada good bye, untungnya mamakku juga dah gak gitu2 amat, abis lairan aj aku makan pedas (jg keterlaluan tapi)..hehehe, kata orang ntar bayi mencret, bayi ya emang ee nya cair, kalo keras ya ga kuat bayinya ngeden..hihihi

  7. haha kocak banget mbak mitos2nya. suami saya cerita dia ASI bisa sampe hampir 3 tahun tuh, tapi alhamdulillah suami tumbuh sehat dan cerdas. percaya sama pengalaman, dokter dan akal sehat aja deh ya haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s