Ciptakan TRUST Pada Anak, Bebas Masalah Di Kemudian Hari

trust

Seorang Ibu ketakutan setengah mati. Ketika ia masuk ke kamar tidur anak laki-laki sulungnya, Ibu itu mendapati sebilah samurai panjang di samping tubuh anaknya. Pelan-pelan Ibu itu membangunkan anaknya. Lalu, ia bertanya, “Nak, samurai itu buat apa ?”

“Aku mau matiin Ayah. Ayah jahat,” ujar Si Anak laki-laki. Ibu itu semakin ketakutan.

“Jangan matiin Ayah. Nanti Ibu dan adik-adik gimana ? Kamu matiin Ibu aja, nak”

Percakapan di atas bukan adegan dalam sinetron. Nyata. Iya, nyata. Bukan terjadi juga pada keluarga kelompok grass root yang sering masuk berita kriminal. Keluarga tersebut keluarga yang cukup mampu. Sang Ayah memiliki jabatan bagus di perusahaan BUMN. Mereka bukan keluarga broken home juga, tetapi keluarga utuh.

Setelah ditelusuri, ternyata …

Si anak sulung sedari kecil diasuh oleh Neneknya. Ketika Si anak menginjak usia SMP, ia dimasukkan ke Pesantren karena Neneknya mulai sakit-sakitan. Selama Si anak ini tinggal di Pesantren, berkali-kali kabur, tetapi berhasil dikembalikan oleh Sang Papa.Β  Menginjak bangku SMA, Si Anak akhirnya disekolahkan di sekolah swasta terbaik di Depok. Enggak lagi tinggal di Pesantren, tetapi menyatu dengan orang tua dan adik-adiknya. Bukannya membaik, kelakuan Si Anak semakin jadi. Yang menyedihkan, selama 2 bulan terakhir Si Anak bolos sekolah. Si orang tua tahu hal tersebut dari pihak sekolah. Si ibu bingung harus berbuat apa. Si Ayah terlalu sibuk untuk mencari solusi atas masalah yang menimpa keluarganya.

Saya sempat membahas masalah itu dengan Mama. Beliau menjawab,”Yah, namanya udah berkomitmen punya anak ya berarti harus meluangkan waktu untuk anak. Setiap anak itu butuh trust ke orang tua. Apakah orang tuanya bisa membuat dia aman ? Apakah orang tuanya punya waktu buat dengerin cerita si anak ? Apakah orang tuanya benar-benar membutuhkan kehadiran Si Anak … atau punya anak itu hanya sekedar tempelan status ‘gue bisa punya anak loh’. Membangun trust itu harus dari kecil. Enggak bisa ujug-ujug udah gede baru disamperin. ”

“Pantesan ya Mah, sekarang banyak kasus-kasus serem. Anak bunuh orang tua cuma gara-gara enggak dibeliin handphone … apalah … apalah, hiii” ujar saya.

Trust itu bisa diciptain lewat quality time bersama anak. Banyak juga Ibu Rumah Tangga yang harusnya bisa dekat sama anak, tapi justru anak-anaknya jauh. Faktornya macam-macam. Entah udah keburu capek duluan gara-gara ngurusin dapur plus suami. Atau ya sibuk ider-ideran bergaul sana-sini atau ngaji di sana-sini. Anaknya ? ada yang ketangkep basah lagi buka situs porno, ada yang narkoba. Banyak kasusnya,” jelas Mama, panjang. Yeah, Mama pernah jadi Ketua Komite selama 2 periode di sekolah adik bungsu saya. Beliau sering banget ya jadi tempat curhatan para mahmud dan sesama orang tua murid. Kadang, Mama membahas masalah temannya saat kami ngobrol seputar dunia parenting. Supaya bisa dijadikan pelajaran buat saya kelak, Si Mamah Muda.

Saya membayangkan quality time yang pernah saya lakukan bersama Mada. Alhamdulillah, saya bekerja di rumah. Saya selalu berusaha sebaik mungkin dalam membagi waktu antara pekerjaan domestik, orderan transkrip, blogging, suami dan anak. Kalau saya lagi overload, saya menitipkan Mada di rumah Mama atau Ibu Mertua. Paginya, Mada berangkat bersama Pak Gondrong. Sore, saya jemput.

Ketika saya lagi nyantai, saya lebih punya banyak pilihan untuk quality time bersama Mada. Ke Museum Polri di Blok M, Taman Kota, ke playground di mall atau ke Kebun Binatang Ragunan. Pokoknya happy bareng. Kalaupun, kami enggak kemana-mana, selalu ada kegiatan seru buat dilakuin berdua. Misalnya, mencoba kegiatan montessori atau melakukan hal baru.

Ketika saya overload, quality time itu bisa tercipta dimana aja. Misalnya, saat menjemput Mada dan kami naik angkot menuju pulang. Sepanjang jalan, saya mengobrol tentang apa aja yang kami temui di jalan. Kami juga suka menyanyi tanpa malu. Makanya, saya lebih suka duduk di kursi depan biar enggak mengganggu penumpang lainnya. Kalaupun, saya memilih di kursi belakang bersama penumpang lainnya, supaya Mada belajar berbagi tempat duduk.

Kira-kira seperti itu cara saya melakukan quality time bersama Mada. Bagaimana denganmu, Mak ? Saya mau bersiap jemput Mada dulu.

Tulisan ini merupakan collaborative blogging bersama grup whatsapp Mak Ade, Mak Indah Juli, Mak Diah, Mak Liza, Mak Ica, Mak Virly dan Mak Witri.

xoxo,

Maria Soraya

Iklan

12 comments

  1. ngeri banget ya mbak, ada anak yg punya pikiran seperti itu.. mudah2an para orangtua segera menyadari pentingnya quality time dgn anak..

  2. Serem y mba sampe hasrat kebencian lebih besar dan niatnya sampe begitu 😦 PR banget jadi ortu y mba. Quality time saya klo hari kerja 19-21 klo weekend baru seharian full πŸ™‚

  3. makasih sharingnya mbak, saya pernah mengalami dijauhin anak, untung anaknya masih balita … sekarang saya resign dan jadi ibu rumah tangga, mengurus anak biar anaknya dekat

  4. Berarti bener apa yang dibilang psikolog Saski d video yg kulihat kemarin. Salah satu keuntungan membangun Quality time bersama anak adalah menumbuhkan rasa percaya diri pada anak (besok ya lengkapnya hehe). Ternyata kepercayaan itu memang berdampak besar ya. Sekarang, tinggal PR saya sama suami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s