Menyiapkan Pendidikan Anak Sejak Dini Bersama Asuransi Jiwasraya

coverasuransi

Suatu sore yang cerah. Saya sedang menemani Mada yang asyik messy play dengan koleksi Dinosaurusnya. Mama nongol dari balik pintu ruang tamu. Tangannya membawa sepiring bakwan goreng dan tempura pendamping teh sereh buatan Mama.
“Gimana Kak, Mada udah didaftarin asuransi pendidikan ?” tanya Mama.
Saya urung menggigit terong goreng. Lalu, saya menggeleng, nyengir. “Hehe … belum Mah,”

Mama melanjutkan, “Jangan ditunda-tunda. Sekarang Mada udah 2 tahun. Baru punya satu asuransi. Enggak apa-apa Kakak belum punya rumah sendiri, yang penting urusan pendidikan Mada terpenuhi” jelas Mama. “Jangan sampai kayak teman Mama. Anaknya lulus tes masuk MTS Al Azhar Asy Syarif Jagakarsa, yang saingannya aja banyak banget. Tapi karena orang tuanya enggak ada persiapan biaya, anaknya terpaksa sekolah di SMP biasa aja. Padahal biaya masuknya udah turun dari 20 juta ke 5 juta setelah status sekolahnya berubah menjadi Negeri” Mama memandangi cangkir tehnya. Mama saya Ketua Komite di sekolah, jadi sering menjadi tempat curhat para orang tua murid urusan dunia pendidikan. Kami sebagai Ibu dan Anak pun sering ngobrol urusan dunia parenting.

“Generasi Z kayak Mada ini generasi yang cerdas dan kritis, Kak. Generasi yang haus ilmu pengetahuan. Jadi, kalau bisa nantinya Mada jangan cuma sekolah formal aja. Cari minatnya Mada dimana, kembangin deh lewat … entah kursus musik, kursus menggambar atau ikutan klub sepakbola” ujar Mama, lagi. Saya manggut-manggut, lalu menerawang membayangkan masa depan Mada. 20 tahun kemudian …

Saya dan Pak Gondrong, sama-sama menggeluti bidang kreatif sesuai passion kami. Pak Gondrong dengan latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual, setelah menikah berpindah haluan. Tadinya bekerja kantoran nine to five di sebuah advertising. Lantaran gaji mandek, dia memilih meneruskan usaha bengkel motor milik Bapaknya. Ilmu desainnya tidak pudar begitu saja. Saat ada customer yang ingin membuat motor, maka Pak Gondrong akan merumuskan konsep secara detail lengkap dengan komposisi warna. Sementara saya secara otodidak belajar menulis sedari masih berseragam putih biru. Setelah menikah, saya memilih bekerja di rumah dan menekuni dunia menulis.

Jadi, kami sebagai orang tua membebaskan Mada ingin bercita-cita menjadi apa di masa depan. Tetapi, kami pun perlu mengarahkan skill Mada sesuai minatnya. Karena kami percaya, orang-orang yang bisa survive di masa depan, bukan hanya orang-orang dengan titel gelar pendidikan. Tetapi, mereka yang memiliki skill sesuai minatnya. Nah, bagaimana mendeteksi bakat anak sejak dini ? Apakah harus dimasukkan ke sekolah dari bayik piyik ?? Apakah harus diikutsertakan dengan berbagai jenis les supaya saya tahu bakat dan minatnya Mada ke arah mana ???

Pucuk dicinta ulam tiba, pada akhir Agustus 2016, saya mendapat kesempatan mengikuti Talkshow “Persiapan Pendidikan Anak Menghadapi Persaingan Global” yang diadakan oleh Komunitas Emak Blogger (KEB). Temanya sesuai saya banget. Makin seru karena narasumbernya yaitu Makpon Mira Sahid, Psikolog yang lagi nge-heits, Ibu Elizabeth T. Santosa dan Bapak T. Guntur Priyonggodo perwakilan dari Asuransi Jiwasraya.

Sebelum acara dimulai, para peserta dipersilakan menikmati hidangan utama dan sholat. Kebetulan ini pertama kalinya saya datang ke acara KEB, sempat deg-degan sih. Untungnya, KEB terdiri dari emak-emak yang baik hati dan tidak sombong. Di meja registrasi, Mak Tanti dan Mak Icoel sangat welcome ketika saya datang. Berasa udah bertemu berkali-kali yah. Setelah cipika cipiki, saya langsung melipir antri di barisan emak-emak yang lagi nyendokkin nasi plus lauk pauknya. Di ruang makan, ternyata meja sudah penuh sodarah-sodarah. Ada yang di sofa. Ada yang sudah duduk berderet di kursi. Eh, ternyata ada juga yang lesehan dekat tempat sholat. Yesss, ada gerombolan Mak Astri dkk. Saya langsung bergabung deh di situ.

Setelah acara makan siang selesai, kami para peserta masuk ke ruang yang berbeda. Ada 2 kursi di ‘panggung’ depan lengkap dengan bantal-bantal cantiknya. Jelas, itu kursi bukan buat peserta yah. Saya memilih duduk di barisan dua, bersama Mak Ria Bilqis, Mak Dian, Mak Mariana. MC Dewi membuka acara dengan menyapa peserta Talkshow. Enggak lupa, dia sempat bikin kuis kecil. Namanya buibu, semua langsung heboh. Selanjutnya, Mak Icoel muncul memberi kata sambutan buat para peserta.

IMG_20160828_131237

Dokumentasi pribadi

Dan, narsum yang ditunggu akhirnya nongol juga,  Makpon Mira Sahid. Ia sempat curhat soal kegundahannya sebagai seorang Ibu 2 anak. Makpon menuturkan soal anak-anaknya yang memiliki banyak minat dan sering berubah-berubah. Kemarin minatnya A, hari ini B, besoknya C. Kegundahan Makpon, dijawab dengan cantik oleh Miss Lizzie, sapaan akrab Psikolog Ibu Elizabeth T. Santosa.

IMG_20160828_131752

Dokumentasi pribadi

“Setiap anak itu cerdas, tidak ada anak yang tidak cerdas. Kita sebagai orang tua perlu mengetahui kecerdasan anak ada dimana dan mengarahkannya,” kira-kira begitu penjelasan Miss Lizzie. Ia memberi contoh selebritis dunia seperti Taylor Swift dan Tiger Woods. Para orang tua mereka jeli melihat bakat sang anak. Sedari kecil, orang tua Swift dan Woods mengembangkan potensi anaknya hingga menjadi bintang besar. Langkah awal orang tua untuk mendukung cita-cita anak bisa dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

  1. Mengidentifikasi potensi anak
  2. Mengarahkan dan membina
  3. Memotivasi
IMG_20160828_132120

Dokumentasi Pribadi

Nah, bagaimana sih caranya kita sebagai orang tua bisa mengetahui potensi si anak sejak kecil ? Howard Gardner (penemu teori 8 kecerdasan majemuk) memaparkan, bahwa setiap anak memiliki 8 kecerdasan majemuk atau multiple intelligences.

Seize the Day(3)

Setelah mempelajari 8 kecerdasan majemuk, Miss Lizzie meminta para emak untuk mengenali kecerdasan apa yang dimiliki. Kalau saya pribadi, memiliki kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal plus kecerdasan linguistik. Yang dominan sih, yang intrapersonal. Sementara, Mada hampir memiliki 8 kecerdasan majemuk. Hampir semua kegiatan yang ada di atas, dia suka. Yang dominan sih, kecerdasan musikal. Mada enggak bisa nahan diri kalau dengar musik. Goyang lah itu badan plus tangan.

Bakat dan minat anak sudah diketahui, ada lagi lho yang perlu dilakukan orang tua. Seperti ucapan Mama saya di awal paragraf. “Anak penting punya asuransi pendidikan.”. Dengan menyiapkan dana pendidikan anak sejak dini, orang tua seperti memiliki investasi jangka panjang yang terbaik untuk anak. Pada sesi talkshow berikutnya, Bapak Guntur perwakilan dari Asuransi Jiwasraya membeberkan bagaimana caranya menyiapkan dana pendidikan anak sejak dini.

Melalui presentasi singkat, Pak Guntur menjelaskan bahwa Asuransi Jiwasraya merupakan satu-satunya asuransi  milik BUMN. Artinya, dana nasabah terjamin aman. Jiwasraya sendiri sudah ada sejak jaman Belanda. Berdiri di Batavia pada tanggal 31 Desember 1859 dengan nama NV Nederlandsch Indiesche Levensverzekering en Liffrente Maatschappij (NILLMIJ) van 1859.  Usianya diperkirakan lebih dari 150 tahun. Selama satu setengah abad, Jiwasraya memberikan perlindungan jiwa dan keuangan bagi para nasabahnya.

asuransi01

Ilustrasi milik Asuransi Jiwasraya

Pak Guntur juga sempat mengenalkan salah satu produk asuransi pendidikan Jiwasraya. Namanya, JS Prestasi, yaitu produk yang menjamin kepastian jenjang pendidikan masa depan bagi putra-putri nasabah Jiwasraya. Berikut manfaat dari JS Prestasi :

asuransi02

Ilustrasi milik Asuransi Jiwasraya

asuransi03 copy

Ilustrasi milik Asuransi Jiwasraya

Untuk menyiapkan dana pendidikan anak melalui JS Prestasi bisa dimulai sejak anak masih di dalam perut, yaitu saat usia kehamilan 3 bulan. Trus, kalau anaknya sudah segede Mada apakah masih bisa didaftarkan buat JS Prestasi ? Jelas bisa dong, mak. Usia maksimalnya menurut Pak Guntur itu sampai anak berumur 5 tahun. Premi sebesar Rp. 500.000/bulan bisa dibayarkan via ATM. Praktis. Jadi, enggak perlu antri panjang ya di depan kasir.

Oh ya, emak-emak peserta Talkshow sempat dibikin tepok jidat berjamaah, ketika Pak Guntur menjabarkan biaya kuliah anak pada tahun 2015. Berapa coba ? Menurut survei, biaya kuliah dengan segala printilannya (buku, kost dsb) itu rata-rata Rp. 250 juta rupiah di 3 PTN terbaik (ITB, UGM dan UI) di Indonesia.  Apa kabar biaya kuliah di Perguruan Tinggi swasta ? Lebih mihil pastinya, mak.

Sekali lagi, saya langsung membayangkan Mada 20 tahun kemudian. Tahun 2015 biaya kuliah aja segitu, gimana nanti pas Mada gede. Duh, emaknya kudu banyak-banyak nulis buku biar royalti banyak yah.

Usai talkshow bersama 3 narasumber, acara pun diakhiri dengan foto bersama, pengumuman pemenang kuis dan pemilihan best dresscode. Saya melangkah keluar dari gedung Hongkong Cafe dengan penuh optimis. Tangan saya menenteng goodie bag dari Asuransi Jiwasraya. Enggak sabar ingin menceritakan soal Asuransi Jiwasraya pada Mama. Dan, enggak sabar juga rasanya ingin segera mendaftarkan Mada untuk asuransi pendidikan, JS Prestasi.

Untuk informasi lengkap mengenai Asuransi Jiwasraya, silakan kunjungi :

Jangan ditunda lagi ya, Mak. Ayuuuk bikin asuransi pendidikan 🙂

 

Iklan

26 comments

  1. Amiin semoga lancar nulis bukunya & dapetin royalti yg banyak ya Mba 🙂 mikirin masa depan anak emang bikin galau.. pusiing kl ngga ada persiapan apa2

  2. Mak aku baca teh sereh kok jadi pengen yaaa. Kaya apa rasanya mak? Teh sama sereh aja kah? Hihiii. Kalo dipikir-pikir asuransi pemdidikan emang penting sih ya, mengingat betapa mahalnya biaya pendidikan sekarang.. Negeri mah gratis, kalo swasta bedaaa. Hihihiii. Makasi sharingnya ya maaak

    1. betul mak dian, pas rebus air dimasukkin sereh trus pas udah mendidih tuang ke gelas yg ada teh celupnya … endeusss

      soal asuransi pendidikan iyya, mak … apalagi posisiku bukan orang kantoran jadi kudu punya banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s