collab_one

Gambar sebelum diedit dari sini

Suatu hari di timeline saya, seorang Ibu Muda memposting soal kecemasannya menyiapkan liburan lebaran di kampung halamannya di Malang. Anaknya seumuran Mada di suatu komunitas bermain. Ibu Muda itu cemas karena Si Anak belum pernah pakai gayung dan tiap mandi pun terbiasa pakai shower atau bathtub. Saya pernah berkunjung ke rumahnya yang berada di dalam komplek di daerah Cipedak Jakarta Selatan. Bentukan rumahnya standar semacam rumah orang komplek. Belum mewah semacam rumah horang-horang tajir melipir di Pondok Indah yang cuma punya toilet kering. Agak unik juga, tinggal di komplek tapi enggak kenal gayung.
Tiap kali ada pelajaran bernyanyi pun, Si Anak hanya hafal lagu semacam twinkle twinkle little star. Saat ada permainan tebak binatang, dia hanya tahu nama binatang dalam bahasa Inggris. Apakah Si Anak sudah mengikuti sekolah ? Si Ibu Muda menjawab “Aku lagi nyari sekolah yang ada bahasa asingnya”.
Eh ternyata, dalam komunitas bermain itu bukan hanya satu dua anak yang seperti itu. Tapi hampir sebagian. Yup, sebagian besar anak-anak usia 2 tahun itu memang sudah masuk preschool. Bisa ditebak bahasa yang diajarkan dari sekolah pasti campur-campur. Atau bahkan cuma bahasa Inggris thok. Jadi, tujuan mereka mengikutsertakan anaknya dalam komunitas tersebut supaya mereka bisa mengenalkan budaya Indonesia ke anak-anaknya.
Saya pribadi belum mengajarkan bahasa asing ke Mada. Bisa bulan depan atau nanti ada waktunya. Saya ingin Mada bisa berbahasa Indonesia yang benar. Saya ingin Mada tahu lagu-lagu anak Indonesia. Bukan saya alergi bahasa asing. Saya ingin Mada mengenal negerinya dulu sebelum dia casciscus ‘This is my book, Ibu’ atau ‘I want that toys, Ibu’. Beda cerita kalau saya punya suami wong londo.
Konon, negara yang sulit dijajah itu yang bangsanya sangat cinta sama tanah airnya sendiri. Yang enggak malu mencintai kebudayaan bangsanya sendiri. Yang pede dengan negaranya sendiri. Enggak mau dong ya gara-gara salah didik, 20 tahun ke depan anak anda nongol di youtube alaala selebgram cewek yang sempet bikin heboh ituh. Atau anak anda jadi menteri yang rajin mengimpor barang dari luar.
Menyiapkan generasi yang tidak gagap dengan budaya tanah air bisa dimulai dari sejak Si Bayi belum lahir. Contoh kecilnya :

  1. Waktu Mada masih di perut, saya punya kebiasaaan baru, yaitu mendengarkan lagu-lagu keroncong. Lagu keroncong versi aseli atau bossanova sama kerennya.
  2. Pak Gondrong pun suka nyetelin lagu-lagu daerah semacam Sik Sik Batu Manikam atau Bungong Jeumpa selama Mada di perut.
  3. Ketika para mahmud memanggil bayinya yang baru lahir dengan sebutan baby Z atau baby R, saya keukeuh memanggil Mada tanpa embel-embel baby.
  4. Saat tiba waktunya Mada belajar ngomong, saya menggunakan bahasa Indonesia dalam bahasa sehari-hari. Kadang dicampur bahasa jawa atau sunda. Semacam ‘Malu itu bujurnya kelihatan’ (Malu itu -maaf- pantatnya kelihatan). Atau ‘Ayuk atuh Mada calik’ (Mada duduk ya).
  5. Sekarang ini Mada umurnya 26 bulan. Dia bisa menyanyikan lagu Gundul-gundul Pacul. Suka sama lagu Bendera Merah Putih juga. Tahu lagu Indonesia Raya.

Golden age pada anak ibarat spons yang menyerap air di sekitarnya. Apa saja ditelan dan disimpan di kepala. Jangan sia-siakan yuk, Bu. Kalau bukan kita sebagai Ibu, siapa lagi yang mengajarkan anak untuk mengenal tanah airnya ?
Karena, merdeka itu dimulai dari sendiri.
Tulisan ini dibuat dalam rangka HUT Indonesia yang ke 71. Collaborative blogging dengan tema Kemerdekaan bersama Mak Virly dalam Tentang Indonesia dan Gotong-Royong, Mak Ade dalam Bersama Kemerdekaan, Harapan Akan Selalu Ada dan Mak Diah dalam Mendoakan Indonesia.
xoxo,
Maria Soraya