Melahirkan Bayi Jumbo Melalui Persalinan Normal

madabayijumbo

Kali ini saya ingin sharing pengalaman melahirkan Mada di tahun 2014. Dari berat lahirnya yang di atas 4 kilo, Mada termasuk bayi jumbo. Proses melahirkannya bukan melalui proses Caesar, tapi normal. Secara fisik, pinggang saya yang sebelas tiga belas sama Mbak Beyonce yang lebar-lebar hasoy cukup mendukung lah ya. Lagian Mama saya bisa 5 kali lahiran normal. Mosok saya enggak bisa ? Trus yah, saya paling takut masuk meja operasi apalagi kulit saya kudu merasakan di-sayat dedel duwel. Jadi, wajar kalau saya keukeuh banget kepingin melahirkan secara normal.

“Panggul Ibu memang lebar, tapi lingkar kepala bayi Ibu ini juga besar. Kalau dipaksakan, panggul Ibu bisa retak. Bahkan, Ibu bisa mengalami cacat permanen atau kepala bayi Ibu tumbuh tidak sempurna,” itu kira-kira penjelasan Dokter Nel, saat saya kontrol kehamilan di bulan ke 8.

Saya gagal paham soal panggul retak. Bayangan saya, retak itu bisa terjadi pada tembok dinding rumah yang lama enggak dirawat. Atau hati saya pun pernah retak. Dan, itu bukan pengalaman yang menyenangkan. Jadi, saya sangat takut mendengar penjelasan Dokter Nel. Saya melewati masa-masa awal kehamilan dengan bedrest. Tiap bulan selalu rutin kontrol. Saya rajin ikutan senam hamil juga. Giliran menjelang trimester akhir kok saya harus melahirkan secara Caesar ? Saya sempat berpikir anak saya mengalami hydrocephalus. Ternyata, lingkar kepala anak yang besar itu karena faktor keturunan. Saya yang masih keukeuh, mencari second opinion.

Lagi-lagi jawaban yang saya dapat sama. Saya kudu SC. Pak Gondrong pun ikutan pusing. Dia membayangkan dari cerita orang-orang, kalau perempuan yang melahirkan SC itu masa istirahatnya lebih lama. Dan, banyak cerita serem yang mampir di kuping desye. Cucok ya. Istri yang mau lahiran galau. Suami mumet. Tiba-tiba Pak Gondrong menyarankan supaya saya mencoba ke bidan Puskesmas.

“Dulu orangtua kita … nenek moyang kita waktu mereka dilahirkan enggak pake obgyn segala. Pakai bidan atau dukun beranak. Coba aja ke Bidan Puskesmas, fasilitas mereka komplit daripada bidan rumahan”

Tiga kali kunjungan menjelang hari melahirkan, kesehatan saya selalu bagus. Tidak ada masalah dengan kadar protein di tubuh saya. All is well. Sehari sebelum melahirkan, bidan puskesmas sempat merujuk saya ke rumah sakit untuk SC.  Lingkar kepala anak saya setelah diukur cukup besar. Saya pun pulang dengan rasa kecewa.

Tiba di rumah, saya istirahat dan banyak-banyak berdoa. Tengah malam, perut saya mendadak mulas. Selama kurleb 1 jam saya nangis menahan sakit. Tiduran posisi miring. Nungging. Duduk. Semua posisi dilakuin tapi tetap merasa sakit. Saat saya mulas, saya merasakan bayi saya semakin turun. Saya bangunin deh Pak Gondrong. Jam setengah 4 pagi, kami menuju Puskesmas Kec. Jagakarsa yang waktu itu masih berada di Jl. M. Kahfi Ciganjur (Sebelah Damkar).

Tiba di TKP, ternyata 3 ruang melahirkan penuh semua. Saya diminta menunggu. Saya sempat ketemu seorang Ibu yang sudah 3 hari menginap di Puskesmas. Suaminya terlihat kalut di sebelahnya. Si Ibu sempat menangis karena 3 hari menginap jalan lahirnya masih bukaan satu. Segala cara sudah dia lakuin, belum berhasil. Si Ibu belum selesai bercerita, saya dipanggil perawat untuk masuk ke ruang bidan. Perawat mengecek perut dan ketuban. “Wah, Ibu udah bukaan 6 ini.” jelas si Perawat.

Saya garuk-garuk kasur eh jidat. “Trus bukaan 1-nya kapan ? Lha Ibu yang tadi cerita ke saya bilang dia aja masih bukaan 1 enggak maju-maju.” Saya pun mikir lama, kapan saya merasakan sakitnya bukaan pertama itu ya.

“Bu, darahnya udah keluar. Kita masuk ruang bersalin,” kata perawat sambil mengecek darah yang membekas di atas seprai kasur Puskesmas. Saya turun dari kasur. Seorang suster lainnya sempat mengganti seprai tersebut.

Ruang bersalin sangat terang. Saya sempat deg-degan ya melewati meja yang isinya alat-alat operasi seperti gunting dll. Para perawat yang berada di ruangan berjumlah cukup banyak. Tebakan saya, itu perawat yang lagi Praktek Kerja Lapangan (PKL) kali yee. Mukanya ramah semua. Enggak ada muka tegang. Bahkan, mereka sempat mengajak saya bercanda. Pak Gondrong berdiri siap grak di sebelah saya.

Nyali saya semakin ciut saat bidan yang menangani persalinan saya masuk. Namanya, Bidan Liner Naibaho. Dia sempat menegur saya waktu pindah kontrol kandungan ke Puskesmas tanpa Buku KIA. Ternyata orangnya baik.

Jam setengah 6 pagi, proses persalinan dimulai. Saya bisa merasakan tangan bidan Liner masuk ke jalan lahir. Sakitnya subhanallah. Setelah beberapa kali mengejan bayi pun keluar. Rambut bayi saya yang basah terasa melewati jalan lahir. Disusul anggota badannya yang lain. Semuanya terasa lancar. Pak Gondrong berdiri di samping saya. Dia terus menyemangati saya.

“Komplit Pak ! Laki-laki anaknya” ujar Bidan Liner Naibaho. Tubuh saya lemas terbaring di atas ranjang bersalin. Bayi dibersihkan lalu ditimbang. Perawat cukup terkejut saat mengetahui bayi yang digendongnya seberat 4,4 kilogram. Rekor bayi terberat yang pernah dilahirkan di Puskesmas Kec. Jagakarsa. Kain bedong yang dibawa enggak cukup membungkus tubuh si bayi jumbo. Jadilah, sarung sholat berwarna biru milik Pak Gondrong yang dipakai membungkus anak kami itu.

Selanjutnya, bayi dibawa keluar ruangan bersalin. Saya beristirahat sembari menunggu pendarahan berhenti. Menunya lumayan juga. Nasi semur daging acar dan segelas teh manis hangat.  Adegan berikutnya teramat sangat enggak enak.

JAHIT MENJAHIT AREA JALAN LAHIR

Waktu TK, dagu saya pernah robek dan dijahit gara-gara saya jatuh dari stolen bar di rumah Nenek. Kejadian serupa terulang waktu saya SD. Saya kepeleset di kamar mandi. Dagu saya nyasar di retakan ubin yang menonjol. Karena operasi kecil, biusnya pun bius lokal. Jadi, saya masih ingat bunyi cekrek cekrek saat staples jahit itu menempel menyisakan jahitan di dagu saya. Setelah dua kejadian itu, saya jadi takut masuk rumah sakit dengan segala printilannya. Apalagi kalau ada adegan jahit-menjahit. Perut saya mulas.

“Wah ini sih robek luar dalam. Tadi bayinya besar ya ?” tanya Bidan pengganti pada perawat yang berjaga di ruangan bersalin. Perawat menjelaskan soal persalinan saya pada si Bidan pengganti. Bidan Liner Naibaho sudah pulang karena jam shift kerjanya berakhir dan dia harus berangkat ke Medan.

Saat Bidan pengganti menghampiri, saya masih sempat request dengan muka memelas. “Bu Bidan, nanti bius total aja ya. Jangan bius lokal,”

Bidan pengganti yang mukanya jutek itu cuma tersenyum. Enggak ngomong apa-apa. Saat Si bidan mulai menjahit area jalan lahir, saya bisa mendengar suara saya sendiri yang jejeritan di ruang bersalin. Demi mengurangi rasa sakit, saya mencengkeram plus menggigit lengan perawat yang memegangi saya. Harusnya sih Pak Gondrong yang berada di sebelah saya. Tapi, Pak Gondrong lagi mengurus administrasi. Agak kesian juga ya, soalnya si perawat itu tubuhnya lebih kecil dari saya.

Dulu, saat dagu saya dijahit saya enggak merasakan sakit, hanya mendengar bunyi staples cekrek cekrek thok. Nah, kemarin saat menjahit area jalan lahir, semuanya kerasa ya. Mulai dari tebal benang jahitnya, tusukan jarum yang menancap di kulit saya lalu berpindah sesuai pola jahitan (jahit baju kali :p) dan cenut-cenutnya itu.

Dua jam kemudian, pendarahan tidak berhenti. Bidan pengganti merujuk saya untuk proses kuretase dan jahit ulang di RS. Prikasih Pondok Labu. Si Bayi Jumbo yang belum diberi nama enggak jadi menginap di Kamar Pasien Puskesmas.

Untuk pertama kalinya, saya naik mobil ambulans ngiung ngiung menuju rumah sakit. Ketika saya masuk ruang operasi, si Bayi Jumbo langsung cuss pulang ke rumah Neneknya di Karang Tengah. Sebelum operasi, saya bertanya pada Dokter yang berkunjung.

“Bius lokal atau bius total ?”

Mas Dokter yang menangani saya tersenyum ramah. Dia memasang semacam corong ke atas hidung saya. “Nanti Ibu akan menghirup dari tabung ini ya,” Enggak berapa lama, saya merasa mengantuk. Suara-suara di kuping terdengar ramai. Ada mesin deteksi yang berbunyi tut tut tut. Ada bunyi gunting beradu dengan entah apa. Saya masih ingat, kepingin buka mata tapi susah banget. Lalu, kehidupan berpindah pada suatu tempat. Banyak pepohonan. Langit putih bersih. Saya dikelilingi banyak anak kecil. Kami lompat-lompat di bukit. Hidup rasanya happy banget itu ya.

Tiba-tiba pipi saya berasa ditepuk. Nama saya berulang kali dipanggil. Saya melek. Kesadaran saya belum pulih. Mulut saya menceracau. Lalu, saya mendengar suara Reza –adik saya- dan Pak Gondrong.

“Kakak lo udah melek, tapi masih ngaco ngomongnya”

Saya baru sadar itu toh rasanya dibius total. Pakai zat sejenis (mungkin) morphin. Pantesan jutaan orang demen narkoba karena efek nge-fly-nya itu beneran ngerih. Dua jam sudah saya dioperasi. Berikutnya, saya pindah ke kamar inap.

Proses recovery saya pasca melahirkan cukup lama, hampir 4 bulan. Faktor pertama, karena saya memang trauma sama dioperasi. Faktor kedua,  Pak Gondrong dan mertua menganggap bahwa Ibu Melahirkan itu dilarang manja. Apalagi Ibu Mertuaku menganggap para mantunya teman-teman beliau setelah melahirkan normal ya no problemoh. Si A habis lahiran bisa koprol di tembok. Si B habis lahiran langsung shopping di Pasar becek. Si C habis lahiran langsung nyuci 10 ember. Saya makin mumet dengan segala mitos yang kudu saya ikuti selama pemulihan di rumah mertua. Hastagah, life is so dramah.

Dari pengalaman saya melahirkan bayi jumbo melalui persalinan normal, ada yang kudu di bold :

Biaya persalinan normal di Puskesmas (tanpa BPJS) itu cuma sebesar Rp. 750.000. Biaya tersebut sudah all in kamar, obat, dokter.

Biaya operasi plus rawat inap selama 3 hari di Rs. Prikasih itu sebesar Rp. 12.000.000.

Jadi, yang mahal ini biaya emaknya alias saya.

Ini pengalaman saya melahirkan bayi jumbo, yang akhirnya diberi nama Arizqio Mada Leksono. Panggilannya Mada. Bagaimana dengan pengalamanmu melahirkan ?

xoxo,

Maria Soraya

Iklan

15 comments

  1. wah gede banget bayinya..dulu pas di usg kan bisa keliatan bbj nya ya

    dulu ibu saya juga lahiran bayi seberat 4,1 kg,,tahun 1996

    moga baby Mada sehat terus

    salam kenal dari Malang 🙂

  2. duh perjuangannya yang tiada taranya yaaa mba Maya. Saya selalu terharu mengingat keempat buntut saya via caesar 😦
    Salam kenal dari Kudus ya mba (IG & Twitter @cputriarty)

  3. Seru banget ceritanya. Haha. Saya dua anak SC semua. Anaknya kecil, ternyata panggul juga kecil. Pasrah deh. Kalau maksain, saya dulu takut stres juga malah.
    Hebat ya! Selalu salut pada mama-mama yang bisa lahiran normal. Saya keturunan susah lahiran semua 🙂

  4. Kalau boleh tau mbak Soraya stelah melahirkan Mada masa nifasnya brp lama y?
    Saya bulan desember 2016 kmrn jg baru lahiran scr normal dgn berat baby 5,1 kg dan sampai skrg msh mengeluarkan flek coklat klo kecapekan.
    Klo kta bidannya krn baby nya terlalu besar jd btuh wktu lebih lama agar rahimnya kmbali normal. Tp tetap saja saya khawatir.
    Btw,salam kenal dr kota Malang y mbak.

    1. Halo Mbak Riski,

      Salam kenal juga ya 🙂

      Masa nifas saya lebih dari 45 hari, Mbak. Saya juga bingung waktu itu, tetangga kanan kiri yg lahirnya barengan nifasnya pada cepet (yaiya mereka lahiran bayinya gak nyampe 3 kilo). Normal itu Mbak. Dan, selama masa nifas, saya pun sempat kaget nemuin benang2 pendek di pembalut saya. Kirain benangnya copot, ternyata memang seperti itu.

      Jangan stres dan kecapekan supaya rahimnya normal lagi.

      Makasih sudah mampir ke blog saya.

      Normal itu Mba

  5. nah itu. pas anak kedua dulu saya jg suka makan es krim pas hamil tua. hasilnya 3,9 kg. dan pake sc setelah gagal mengejan di pembukaan lengkap.

    yg ini sudah masuk 36 minggu. sama dokter udah disuruh ngurangin yg manis-manis. iya.. saya harus nurut deh. takut besar lagi.

    etapi saya kok malah takut melahirkn normal ya drpd sc? haha… takut kontraksinya itu lho…

  6. Saya termasuk salah satu yang waktu lahir beratnya diatas 4 kg.. gak kebayang, sakitnya kayak apa pas ibu saya ngelahirin saya.. setelah baca ini, jadi lumayan paham.. ngeri2 sedap 😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s