8 Pertanyaan Klasik Yang Bikin Ibu Bekerja Di Rumah Jadi Baper

 

Hispanic mother with baby working in home office

Gambar sebelum diedit dari sini

Hubungan saya dengan tetangga di rumah sangat menyenangkan. Seperti yang saya tulis dalam 7 Resep Mudah Istri #BahagiadiRumah. Sampai saat ini saya masih jadi ‘kontraktor’ alias ngontrak. Saya sewaktu lajang pernah penasaran sama kehidupan orang-orang kontrakan. Gegara waktu itu suka bikin kue dan nitipin kue ke warung di kampung belakang komplek.

Baca : Choux Pastry, Tulisanku Yang Ke 3 di Majalah Femina.

Penasaran itu saya uji setelah menikah. Saat baru menikah, saya kepingin tinggal di kontrakan. Gimana sih rasanya ? Setelah 4 tahun dijalani dengan ngontrak di satu tempat tanpa nomaden, rasanya mirip permen nano-nano.

Bertetangga di dalam komplek dengan bertetangga di kontrakan tentu ada perbedaannya. Beda itu menyangkut pola pikir dan kebiasaan. Dan, eh. Kalau di kontrakan, ada semacam jadwal nongkrong buat buibu yang rumahan. Kalau dijabanin mah sehari bisa 5x pindah tongkrongan. Di rumah si A,B,C sampai Z. Saya mah cuma sanggup sehari 2 kali aja nongkrong begitu, itupun enggak setiap hari.

Di luar tetangga, ada juga kan ya Ibu-ibu yang sering ketemu di tukang sayur seberang jalan atau saat saya papasan sama siapa gitu di sekitaran rumah.  Kadang cuma senyam-senyum sambil nyapa aja, seringnya sih pada ngajak ngobrol. Berikut ini pertanyaan yang sering mampir di kuping saya setelah menjadi Ibu Bekerja Di Rumah.

1. Ibu di dalam mulu, betah banget

Tetangga saya tahu saya sering nerima orderan. Tetangga saya juga tahu saya bekerja di rumah. Tapi namanya perempuan. Iya, perempuan itu kan suka kepo. Pertanyaan ini biasanya muncul kalau seharian saya enggak keluar. Benar-benar di dalam rumah. Begitu buka pintu, jalan ke warung, papasan sama tetangga, langsung ditodong pertanyaan itu.

Pertanyaan seperti itu sebenarnya biasa banget, tapi kadang suka bikin saya baper kalau senin selasa rabu alias setiap hari ditanya begitu. Saya suka think positive sih, ‘ah dia emang enggak punya stok pertanyaan lain,’. Kalau dapat pertanyaan pertama, biasanya saya ledekin balik kayak ‘Beuh, jeung kentus ini elapin kaca mulu. Betah amat’. Reaksi yang diledekin palingan tersipu-sipu.

Sebagai Ibu bekerja di rumah, waktu itu sama pentingnya kayak Ibu-ibu yang bekerja kantoran. Penting pakek banget. Dua puluh empat jam dibagi untuk anak, suami, diri sendiri dan hal lain. Keluarga sendiri, mertua dan tetangga masuk kategori ‘hal lain’.

Kadang, saya suka gemas ya lihat tetangga dalam sehari bisa 5 kali pindah tongkrongan. Pagi sebelum jam 9 di rumah si Ibu A, pagi setelah jam 10 di rumah B, begitu dan seterusnya. Tapi namanya sudah kebiasaan, ya susah dirubah.

2.Ibu jalan-jalan terusss, enak banget

Pertanyaan kedua muncul saat dalam seminggu tetangga lebih sering melihat saya di pagi hari mengunci rumah trus pergi blassss dan pulang setelah adzan ashar atau malah enggak pulang. Kadang, pertanyaan ini bisa muncul juga pas tanggal tua buat yang suaminya orang kantoran. Namanya perempuan, tanggal tua, lihat tetangga sebelah lebih sering ngunci pintu rumah sambil nenteng tote bag, kan kepingin juga (kali).

Saya sendiri suka kesian sama yang nanya saya begitu. Dalam hati, saya bakalan langsung komentar ‘Si Ibu ini kurang piknik’. Seminggu sekali, saya suka nawarin Buibu tetangga buat jalan kemana gitu. Entah main sama anak di playground yang ada di mall, berenang atau nyobain taman kota baru. Biar ikut ngerasain yah para tetangga halan-halan di luar. Eh, tapi bukan saya yang traktir. BS dong. Alias Bayar sorangan-sorangan.

3. Oh, bekerja juga ya, kok kantornya di rumah ?

Pertanyaan ini bukan dari tetangga, biasanya kalau baru ketemu orang baru yang kurang gahul. Bener kan kurang gahul ? Haregene udah banyak propesi yang dilakuin di rumah. Coba aja tanya sama si Mbah gahul google.

Pernah juga sih ditanya begitu sama semacam Kapster salon bukan langganan. Kalau mood saya bagus, saya jelasin blahblahblah. Kalau saya lagi males ngobrol, yaudah kasih cengiran ajah.

4. Enak ya bekerja di rumah, jadwal tidurnya bisa banyak

Sama kayak poin 3, yang nanya ini pasti Mamah-mamah muda yang baru punya bayi dan dia kurang jadwal tidur trus kenalan sama saya di playground atau dimanalah. Eh, pernah dikomentarin begini sama tetangga saya yang buibu kantoran.Dan, ada embel-embelnya ‘Duh, enak juga ya bisa seharian sama anak’. Sebal ? Enggak. Soalnya, mereka nanya gimana caranya bisa bekerja di rumah. Hihi.

Soal jadwal tidur banyak ? Duh, kalau saya lagi sakit sih iya. Tidur bisa normal 8 jam, bukan lebih dari itu. Kalau saya lagi sehat paripurna, setiap hari saya tidur jam 2 pagi dan bangun jam 5. Setelah itu ya melek aja beraktivitas. Dan, kuat tanpa harus nenggak bergelas-gelas kopi. Kecuali, kalau saya lagi masuk angin. Kudu ngopi banget setelah bangun tidur pagi.

5. Ibu mah jamannya masih punya anak masih kecil, anteng aja. Enggak pengin keluar-keluar gitu, kayak kamu yang kerjanya keluyuran. Kamu enggak bisa ya anteng di rumah ?

Pertanyaan ini dari Ibu Mertua, Ibu Rumah Tangga sejati. Sehari-hari mengurus RSA alias Rumah, Suami dan Anak. Tahun pertama sampai tahun ketiga, tiap Ibu Mertua nanya begitu, saya cuma diam dan kasih senyum. Karena katanya diam itu emas. Setelah dilakuin, kok berasa enggak jadi emas. Malah berasa jadi batu bacan yang harganya turun drastis. Saya pingin nyoba jadi berlian. Karena katanya bicara itu berlian.

Beberapa hari lalu, saya dikomentarin seperti itu lagi, dan untuk pertama kalinya saya menyahut :

“Saya keluyuran kan buat ngambil kerjaan. Pakai uang sendiri juga. Bukan ngehabisin uang suami.”

Kirain setelah saya menyahut begitu, Ibu Mertua langsung mikir ‘oh begitu ya’ dan diam. Eh malah jadi panjang.

“Oh, trus kamu keluyuran gitu anaknya dibawa ya ?” Nada pertanyaan mulai enggak enak ditambah raut muka agak nyinyir.

“Iya” jawab saya singkat, mulai baper.

“Ih, kasian banget anakmu. Pantesan suka sakit,”

Dan, saya yang lagi baper, menyahut lagi. “Yah, kalau anak dikurung di dalam rumah itu enggak sehat, Nek. Enggak bisa pintar. Enggak bisa berkembang.”

Lalu, Ibu Mertua kembali mengulang kalimatnya. “Ah, Ibu mah enggak suka kemana-mana. Di rumah aja”. Saya diam. Malas menyahutin. Eh, tetangganya nimbrung “Saya juga waktu punya anak, di rumah aja”

Dan, kalau suatu hari Ibu Mertua nanya seperti itu lagi, saya pilih kasih senyum dan diam aja ah yak. Ailapyuh Nenek Mada.

6. Bekerja kok di rumah, kerja apaan tuh ?

Pertanyaan begini kudu pake strategi menjawabnya. Kalau yang nanya itu, suaminya orang kantoran level bawah, saya bisa dengan cepat menjawab “nulis-nulis Mas/Mbak”. Kalau level suaminya yang nanya itu lumayan tinggi, saya bakalan jawab “Blogger dan nerima order transkrip suara”. Kalau yang nanya itu, suaminya bekerja di sektor informal, jawabannya lebih disederhanakan karena cakupan informasi soal dunia luar agak kurang. Kayak begini :

“Saya nerima ketikan” atau “Saya nerima terjemahan bahasa”

Dan, tanggapannya akan seperti ini : “Oh, kayak yang ada di rental dekat kampus itu ya ? Bagus deh.”

Benar, saya pernah nerima order pengetikan dan terjemahan bahasa. Tapi itu 3 tahun yang lalu. Sekarang saya mengetik tulisan artikel buat dikirim ke media atau mengetik blogging.

7. Sebenarnya kamu ini Ibu Rumah Tangga atau Ibu Bekerja ?

Saya Ibu rumah tangga yang punya pekerjaan. Gitu aja saya jawabnya. Enggak usah pakek penjelasan sepanjang tol cipali. Kalau yang nanya kepo, bakal ada pertanyaan selanjutnya sih. Yah jawab aja selagi bisa.

8. Bela-belain bekerja di rumah, emang dapat penghasilan berapa ?

Sebagai transkriptor, penghasilan saya cukup. Sebagai penulis, juga lumayan. Sebagai blogger, belum yang sampai tahap blogger berpenghasilan. Sekalinya nge-blog dan dapat penghasilan ya gara-gara menang blog competition Tabloid Nova *jujur.

Yeah, level bapernya saya sih belum yang sampai nangis gugulingan begitu. Atau jadi enggak mood dan malas ngapa-ngapain. Level baper saya masih beginner. Paling cuma tarik napas trus ngomong whooooosaaaaahhhh.

Gimana dengan dirimu, jeung ?

xoxo,

Maria Soraya

Iklan

10 comments

  1. Semuanya saya alami juga Mbak, kecuali dari pihak mertua. Mertua malah dukung saya, asal bisa menjalani dan tetap fokus keluarga 😊

    Alhamdulillah, semoga bulan ini terakhir kami jadi kontraktor 😊

  2. Bumer pertanyaannya nyelekit ya mak :’) IH KOK AKU GEMEZ SAMA PERTANYAAN PERTANYAAN DI ATASSSSS. Kepo bener kepoooooooo. Mak, aku aja yang baca gemez looohhh, apalagi dirimu yang ngalamin yaaaa. Semangat terus ya Maaaakkk ❤ ❤ ❤

  3. mba soraya yang pernah ketemu di gramedia kan ya?
    aq lupa pernah komen dimari apa belum. tapi tulisan ini kok lgsg eye catching ya. haha.

    awalnya aq mau komen kalau ada yang nanya “eh, gimana caranya kerja dirumah” bakal baper juga gak? ternyata sudah tertulis di poin ke 3. jawabannya cucok dan aq suka banget, kalau mba gak akan tersinggung utk pertanyaan itu.

    terus yg poin ke 6 aq juga suka, kadang emang cara menjawab pertanyaan harus disesuaikan dg orang yg nanya, biar kitanya gak merasa rendah, juga gak merasa tinggi. Juga biar gak menyinggung si penanya, apalagi kalau yg beneran nanya bukan yg sekedar kepo. hehe

  4. Yang suka nanya or kepo gtu hempaskan saja mba :))) doakan saya bisa spt mba dan bunda lain yang bisa kerja dirumah. Aamiin.
    Semangat y mba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s