Perbedaan Dalam Rumah Tangga

get

Gambar sebelum diedit dari sini

Katanya sih nih, supaya pernikahan itu awet langgeng sentosa lancar jaya sampai nenek kakek, perlu adanya perbedaan dalam sebuah rumah tangga. Perbedaan bikin hubungan jadi berwarna dan ceria. Benar gak sih ?

Beda latar belakang sosial

Ini sepele sih ya, but in real life sepele itu bisa jadi hal besar. Misalkan si mbakyu ini dari orok tumbuh di lingkungan middle society yang teratur macam komplek atau residence atau semacam itulah. Dan, si masnya ini tumbuh di lingkungan low-society, entah perkampungan atau tinggal di rumah kontrak petakan. Waktu masih pacaran sih enggak kerasa. Begitu sudah nikah, baru jreng-jreng-jreng langsung inget deh kata ortu ‘hayo Mama bilang nikahnya sama yang rumahnya ada 10 tingkat’.

Perbedaan paling mendasar itu bisa berupa urusan cuci-mencuci baju. Misalnya si mbakyu ini seumur-umur tiap kali nyuci baju itu pakai mesin cuci. Sementara si masnya ini sudah biasa melihat Ibunya nyuci baju pake sabun colek sambil jongkok di kamar mandi gosrek-gosrek. Nah, kalau si masnya ini tipe lelaki baik hati dan teramat sayang sama si mbakyu, enggak bakalan ada cerita si masnya ini ngamuk-ngamuk gegara celananya masih ada sisa noda atau apalah itu.

Ini sepele, tapi banyak kisah nyata seputar ini. Ceritanya orangtua si mbakyu ini juragan kontrakan alias punya banyak kontrakan. Si mbakyu ini jatuh cinta sama si bujang yang ngontrak di salah satu kontrakan bapaknya mbakyu. Mereka kawin lari karena enggak disetujui. Pernikahan enggak bertahan lama karena si mbakyu hidup merana bersama si masnya. Endingnya, si mbakyu kembali ke keluarga dan menikah lagi horeeee !

Beda agama

Agama Islam mewajibkan setiap perempuan muslim itu ya menikah dengan lelaki muslim. Tapi, kalau lelaki muslim boleh menikah dengan perempuan non muslim. Enggak adil ? Melanggar hak asasi ? Weits tunggu dulu. Fitrahnya lelaki itu kan jadi calon pemimpin dalam rumah tangga. Pemimpin bagi istrinya dan pemimpin untuk anak-anaknya. Mulai dari urusan a to z. Termasuk urusan ibadah.

Nah, kalau suaminya itu beda agama, trus siapa yang mimpin sholat di rumah ? kalau punya anak laki trus siapa yang ngajak sholat di masjid atau jadi teman jumatan bareng ? dan sebagainya.

Kalau sudah telanjur menikah beda agama, piye tho ? Dinikmatin aja perbedaan itu. Kalau perbedaan itu masih bisa disikapi, ya pertahankan. Kalau perbedaan itu lebih banyak mudharatnya *alaalamamahdedeh, dipikirkan lagi ya gimana ke depannya *bloggersokbijak

Beda pendidikan

Ini bisa jadi hal sepele juga. Kisah nyata lagi dari tetangga saya, pasutri yang umurnya di bawah 25 tahun. Si suami ini lulusan SMA, dan istrinya ini enggak tamat SMP. Si istri pernah cerita ke tetangga waktu mau nikah itu sempat ditentang Ibunya suami gara-gara pendidikan istri yang rendah. Saya paham si istri ini bercerita soal itu karena ingin minta perhatian dari tetangga. Reaksi tetangga yang lain, cuma manggut-manggut.  Dari cerita si istri tadi saya jadi paham meskipun Ibunya si suami ini ‘cuma’ pedagang ikan di pasar. Tapi tetap kepingin punya menantu yang berpendidikan. Sang mertua baru luluh setelah mereka punya anak.

Dari situ juga, saya baru nyadar kenapa setiap perempuan sebelum jadi Ibu itu wajib hukumnya berpendidikan. Karena setiap Ibu itu bakalan jadi guru pertama bagi anaknya.

Beda pendapatan

Ada yang pernah nonton sitkom Tetangga Masa Gitu di Nett TV ? Disitu digambarkan Si Istri bernama Angel yang diperankan oleh Sophia Latjuba punya karier bagus sebagai pengacara dan gajinya 10 kali lipat lebih gede dari suami (Dwi Sasono) yang profesinya sebagai guru lukis. Si suami nyaman aja karena urusan beli rumah, nyicil mobil sampai uang jajan suami itu ya dari duit Istri.

Di dunia nyata, sekarang ini, memang banyak banget istri yang pendapatannya lebih gede dari suami. Kariernya juga lebih bagus. Kalau si suami ini tumbuh di lingkungan yang cukup moderat, alias enggak masalah sama karier dan pendapatan si istri, yah bagus deh itu.

Nah, kalau si suami ini punya pemahaman turun menurun bahwa yang berpenghasilan gede itu harusnya suami dan istri ya di rumah aja kelonan sama panci dan kompor. Aseli bakalan insecure ini suami. Ada aja ulah suami untuk mempersulit karier istri.

Beda Bangsa

Gara-gara liat Maudy Koesnaedi nikah sama Erick Meijer, saya pernah punya kepinginan nikah sama wong londo alias bule. Kayaknya seru nikah sama bangsa lain. Makanya saya juga pernah beberapa kali ikut seleksi Pramugari Saudi Arabia dan Singapore Airlines. Biar ketemu penumpang VVIP bule ganteng dan baik hati yang jomblo *LOL. Sayangnya, saya berulang kali tes dan selalu gagal urusan berat badan, jadi saya coret keinginan nikah sama wong londo :p

Nah, soal nikah beda bangsa. Perbedaan itu katanya sih urusan kemandirian berumah tangga, makanan dan kebiasaan pastinya. Kalau wong londo ini setelah menikah ya ortu enggak bakalan ikut campur kayak di kita. Pokoknya 100 % mandiri. IMO, kayaknya enak ya. Enggak tahu sih yang pada ngejalanin.

Beda Umur

Banyak perempuan menikah dengan lelaki yang umurnya lebih tua, supaya ‘ada yang bimbing’ atau ‘mengurangi ketegangan dalam rumah tangga’ dsb. Enggak sedikit juga perempuan yang berani menikah dengan lelaki muda alias brondong. Ada yang awet. Ada yang seumur jagung.

Di lingkungan tempat tinggal saya, ada dua pasutri muda. Yang satu suaminya sudah kepala 3 dan istrinya waktu baru menikah umur 19 tahun. Yang satu lagi suaminya umur 25 dan si istri umur 20an. Mereka menikah bukan karena hamdan (hamil duluan), tetapi karena tradisi di keluarga yang terbiasa menikah di usia muda. Meskipun usia para suami lebih tua dari istrinya, enggak menjamin juga rumah tangganya ‘enak-enak aja’.Yang satu suaminya otoriter dan protektif sama si istri. Yang satu lagi suami sangat pengalah. Yah, enggak ngaruh urusan umur ternyata biar rumah tangga berasa ‘enak banget’.

Saya dan suami beda umurnya hanya hitungan minggu. Kami lahir di bulan yang sama dan tahun yang sama pulak. Suami lahir tanggal 5 dan saya tanggal 19. Meskipun, suami ‘lebih’ tua tapi saya lebih sering mengalah yak hahahaha. Mungkin ini faktor urutan lahir. Saya ini si sulung. Dan suami ini anak bungsu di keluarganya. Dua tahun awal pernikahan itu hal yang berat buat saya. Saya si sulung yang terbiasa ‘ngemong’ adik-adik berharap setelah menikah saya yang di’emong’ suami. Eh, kebalikan *elus2dada.

Jadi,

Seberapa penting pernikahan dengan segala perbedaan itu perlu dipertahankan ? IMO, pertahankan pernikahan anda jika perbedaan pasangan itu justru membuat anda bahagia, ‘kaya’ dengan pengalaman positif, membuka wawasan dan bikin hubungan makin mesra. Atau, ya setidaknya, pasangan Anda masih bertanggungjawab 🙂

xoxo,

Maria Soraya

Iklan

8 comments

  1. Beda mindset, beda habit, beda karakter justru itu menjadi pelajaran buat saya dan suami mba belajar memehami bahwa tidak semua orang bisa sama dan belajar memaklumi untuk menerima bahwa kita tidak bisa memaksakan keinginan kita 🙂
    Beda agama uda pasti saya coret dari list mba hehhehe

  2. salam kenal mba, saya resti. nice sharing. terkadang juga malah perbedaan atau kebiasaan jadi nular ke kita. hehehe saya ngalamin.

    tapi kadang perbedaan juga tak ayal bikin berantem dan harus diselesaikan bersama supaya sama2 sepakat dan ga jd masalah di kemudian hari.

  3. Wah basannya menarik nih langsung cuzzz mluncur
    Ringan tapi berat buat renungan jumat sore
    Klo aku perbedaan jmur wajib soalnya akunya pengen diemong banget cz dulunya pas masih di lingkungan ortu agak diprotect bgt, jadi kadang agak minderan ato blom dewasa, jd aku butuh pendamping yg minimal harus mateng dari segi usia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s