“Gw tendang muka lu !”
“Heh, anjing &$%@&*^& …”
“%@&**%$ Njing …”
“Mau lu apa, Nyet ??”
Maaf, kalau kalimat pembuka blog saya di hari Jum’at ini cukup kasar. Beberapa hari ini saya sedang mempertanyakan perilaku para laki- laki yang (terbiasa) melakukan kekerasan terhadap pasangannya. Entah kekerasan verbal melalui makian, kalimat merendahkan diri pasangannya, dll atau kekerasan non verbal seperti menampar, memukul, menendang, dll. Apakah pasangan tersebut masih pacaran atau sudah menikah. Sama saja. Intinya, kekerasan itu dilarang dalam suatu hubungan.
Beberapa tahun belakangan ini, makin banyak terungkap kasus- kasus kekerasan terhadap perempuan yang memicu tingginya angka perceraian (bagi yang sudah menikah). Perempuan masa kini sudah sadar dan semakin cerdas. Perempuan bukan hanya butuh pasangan yang mencintai dirinya sepenuh hati, tapi juga menjaga dirinya secara fisik maupun psikis. Urusan mempertahankan hubungan ? Tentu saja.
Sedari saya kenal laki-laki. Suka sama laki-laki. Lalu, mengalami proses jatuh cinta. Jadian. Awet. Syarat mutlak saya bukan yang neko-neko. Yang jelas, untuk menjadi pasangan saya, saya menjauhi tipe laki-laki yang berasal dari keluarga broken home, tidak seiman, dan memiliki kecenderungan melakukan kekerasan terhadap pasangannya. Satu lagi, dia tidak melakukan MOLIMO (istilah umum yang ada di masyarakat Jawa). MOLIMO ini artinya MAIN (perjudian / berjudi), MADON (main perempuan / prostitusi), MALING (mencuri / korupsi dll), MADAT (candu narkoba) dan MINUM ( minuman keras/mabuk ).
Meskipun, kita sudah punya banyak kriteria dalam memilih pasangan, kadang bisa kecolongan juga. Namanya, manusia itu kan sifatnya berubah-rubah apalagi setelah menikah.
Pak Gondrong, pasangan saya yang sekarang pun amat baik dan bertanggung jawab. Meskipun kami pernah menjalani awal pernikahan dengan cara yang kurang tepat, sehingga saya sempat mengalami abuse.
Dan, ternyata di lingkungan tempat tinggal saya, kekerasan itu hal yang biasa dalam rumah tangga. Saya mengetahuinya dari tetangga, temannya tetangga atau seseorang yang saya ganti namanya di sini jadi Melati. Mereka pun mengalaminya. Dan dengan santai bercerita saat kami sedang berkumpul.
Tema soal domestic abuse akan menjadi salah satu topik di blog saya ke depan. Entah berbentuk cerita atau artikel yang bisa dipetik hikmahnya šŸ™‚
xoxo,
Maria Soraya