Allianz : Ketika Wong Cilik Berasuransi

APTOPIX Indonesia Volcano Eruptiongambar diambil dari sini

Asap Sinabung kembali membumbung. Tayangan itu yang kita saksikan akhir-akhir ini di layar televisi. Berbulan-bulan lamanya para pengungsi menjalani hidup tanpa kepastian di pengungsian. Ratusan kilometer dari Sinabung, telah terjadi 4 kebakaran di pemukiman padat daerah Kota Tangerang Selatan, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur di waktu yang sama (Kompas,18 Oktober 2014). Dan, baru-baru ini BPBD melaporkan 125 kelurahan di Jakarta akan mengalami kebanjiran di bulan November.

Musibah dan bencana, semakin rutin menyambangi Indonesia. Letak geografis Indonesia yang berada diantara 2 lempengan tektonik membuat 129 gunung berapi aktif di Indonesia masuk dalam wilayah Ring-Of-Fire alias Cincin Api Pasifik. Akibatnya, Indonesia menjadi negeri yang rawan bencana gempa bumi, gunung meletus dan tsunami. Itu belum termasuk bencana non-alam seperti kebakaran yang selalu ada di musim kemarau.

236207_erupsi-gunung-sinabung_663_382gambar diambil dari sini

Setiap musibah atau bencana selalu berakhir pada dampak finansial sebuah keluarga. Jika keluarga yang terkena bencana termasuk golongan menengah, mereka akan tetap stabil kehidupan finansialnya atau setidaknya mereka masih punya tabungan, deposito, bahkan asuransi untuk bertahan hidup. Bagaimana jika yang terkena bencana adalah keluarga berpenghasilan rendah alias wong cilik ? Boro-boro mereka terpikirkan untuk hidup dengan deposito, mungkin tabungan pun segera ludes untuk sekedar membayar cicilan. Jadi, bisa dipastikan kehidupan keluarga berpenghasilan rendah yang sehari-hari sudah irit, tentu harus semakin irit. Bahkan, bukan tidak mungkin kualitas hidup akan semakin menurun. Ironisnya, di Indonesia jumlah keluarga berpenghasilan rendah lebih banyak daripada keluarga menengah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pemilik wewenang tertinggi dalam pengaturan dan pengawasan sektor keuangan, memahami betul kelompok masyarakat berpenghasilan rendah ini amat penting untuk memiliki asuransi. Pasalnya, asuransi bukan saja menyelamatkan hidup manusia, tetapi dapat juga meningkatkan kualitas hidup mereka. Sayangnya, menawarkan produk keuangan pada kelompok ini bukan perkara mudah. Pendidikan yang tidak memadai, informasi yang kurang serta pengalaman buruk menjadi korban penipuan membuat kelompok ini enggan untuk mengenal lebih dekat produk asuransi.

20130908_pedagang-sayuran-di-pasar-teluk-gong_6214gambar diambil dari sini

“Emoh aku, mbak. Kapok. Dulu pernah ikutan simpen-simpen uang kayak gitu. Eh, duitku dibawa kabur. Sempet masuk tipi lho,” jelas Mbak Ti, tukang sayur langganan saya di pasar. Ibu berumur di ujung 40 ini memiliki pelanggan paling banyak dibanding kios-kios sayur di sekitarnya. Harga murah dan layanan yang ramah membuat Ibu-ibu betah berbelanja di kiosnya bahkan bersedia antri. Tak hanya itu, Mbak Ti juga senang mengobrol dengan pelanggannya terutama di jam-jam menjelang tutup kios. Kadang, ada yang mampir ke kiosnya sekedar membeli satu macam sayur dan setelah barang sudah dibayar berlanjut dengan sesi ngobrol menjurus ke curcol. Nah, calon nasabah asuransi seperti Mbak Ti ini jumlahnya cukup banyak apalagi di dalam pasar.

compare-life-insurance-quotes1gambar diambil dari sini

Selama ini, asuransi identik dengan kelompok berduit. Padahal, ada juga asuransi yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, namanya asuransi mikro. Menurut OJK, yang dimaksud masyarakat berpenghasilan rendah yaitu mereka yang berpenghasilan tidak lebih dari Rp. 2,5 juta per bulan. Asuransi mikro mencakup asuransi jiwa yang berupa asuransi kecelakaan dan asuransi kerugian yang berupa asuransi kebakaran, asuransi stop usaha dan asuransi kecelakaan diri. Syarat asuransi mikro pun harus mudah diperoleh misalnya di kantor pos, pegadaian atau minimarket. Preminya harus terjangkau dan proses klaimnya tidak sulit.

Salah satu perusahaan asuransi yang berani menggarap asuransi mikro yaitu Allianz Indonesia. Awalnya, Allianz hanya berkeinginan untuk mengenalkan komponen credit life pada nasabah keuangan mikro. Namun, respon yang baik dari nasabah dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memiliki asuransi membuat perusahaan asal Jerman ini berinovasi untuk menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah mikro.

Bringin Lifegambar diambil dari sini

Untuk memperluas jaringan nasabah, Allianz bekerjasama dengan 80 institusi mikro yang tersebar di seluruh Indonesia. Produk mikro yang ditawarkan bervariasi antara lain asuransi jiwa kredit, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, dan asuransi properti. Berdasarkan data terbaru, bisnis asuransi mikro Allianz Indonesia telah melindungi 3,4 juta nasabah di Indonesia, dengan lebih dari 7.000 ahli waris yang telah menerima manfaatnya hingga Agustus tahun ini.

So, kini wong cilik tidak perlu berlama-lama meratapi musibah. Kehidupan harus terus berjalan maju karena Allianz siap mendampingi Anda.

Referensi :

– Harian Kompas, 18 Oktober 2014

– www.kontan.co.id

Tulisan ini diikutsertakan dalam

Allianz Writing Competition 2014

Hadiah Allianz Writing Competition 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s