Kidzania, Dahsyatnya Sebuah Nama

MG_8625

Hari gini, siapa sih yang enggak tahu KidZania ? Rasa-rasanya, hampir setiap anak yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya pernah menyambangi pusat edutainment yang berlokasi di selatan Jakarta ini. Kalaupun belum pernah ke KidZania, setidaknya mereka ingin dan berharap suatu hari dapat datang kesitu.

Seperti yang pernah saya alami tujuh tahun yang lalu. Saat itu saya masih bekerja dan tinggal serumah dengan orangtua saya. Sebagai anak pertama dari enam bersaudara, saya memiliki kebiasaan memberikan hadiah untuk adik-adik saya setiap kali ada yang berulangtahun.

Dan, bulan November adalah bulannya Girah Ababil, adik saya nomor tiga. Ia berulangtahun yang ke sembilan saat Kidzania baru dibuka yang bertepatan dengan tanggal lahirnya. Saya pertama kali tahu KidZania dari teman sekantor, seorang Ibu single-parent beranak 2. Ia bercerita anak-anaknya ketagihan bermain menjadi petugas salon. Kebetulan anak-anaknya perempuan.

“Harga tiketnya sebanding lah ya, malahan menurutku worth it. Udah gitu anak-anak kita enggak sekedar main, mereka juga belajar mengelola uang, trus tahu rasanya jadi Pemadam Kebakaran atau profesi apa saja yang mereka mau.” jelasnya sambil menunjukkan foto-foto anaknya saat berada di KidZania.

Yang berkicau soal KidZania bukan hanya seorang. Beberapa hari kemudian, tetangga saya juga bercerita soal anak-anaknya yang datang ke KidZania. Saking asyiknya bermain, mereka enggak sadar jam berkunjung sudah habis. Si Ibu sempat ingin menambah jam bermain anak-anaknya, sayang tidak bisa karena keesokan harinya anak-anaknya harus sekolah.

Duh. Saya langsung membayangkan membawa Girah dan adik-adik saya yang kecil ke Kidzania. Mereka tentu akan senang. Namun, saya harus menunggu gajian bulan berikutnya untuk pergi ke KidZania. Selama ini tempat hiburan yang masuk agenda kami adalah museum-museum di Jakarta atau Kebun Binatang di dekat rumah. Alasannya ? Biaya murah ! Biaya termasuk penting bagi saya, karena jumlah adik yang selalu saya ajak bepergian saat liburan bukan cuma satu tetapi empat adik. Selain unsur biaya, faktor keamanan juga perlu diperhitungkan.

Setiap hari saya enggak sabar nunggu tanggal gajian bulan berikutnya. Saya sudah cukup kenyang mendengar cerita from a to z soal KidZania. Godaan makin besar. Usai menerima gajian di awal bulan Desember, saya pun langsung memboyong adik-adik saya yaitu Sarah, Girah, Ali dan Ross ke KidZania. Pesawat terbang Air Asia di depan pintu masuk menyambut kedatangan kami berlima. Tiba-tiba umur saya mundur sekian tahun. Saya berasa menjadi anak kecil lagi ! Suasana KidZania benar-benar menghipnotis saya dan adik-adik. Dan, benar apa yang dikatakan teman sekantor dan tetangga saya. Waktu satu hari itu enggak cukup untuk menjelajahi seluruh establishment (arena bermain) di KidZania. Sepanjang perjalanan pulang, adik-adik saya berulangkali merengek supaya saya mengajak mereka kembali ke KidZania secepatnya.

Untunglah, cerita saya dan KidZania tidak berhenti di bulan Desember 2007. Tahun berikutnya, Ali dan Ross mendapat kesempatan kembali berkunjung ke KidZania. Kali ini untuk karyawisata sekolah. Gara-garanya, Ross si bungsu bercerita pada wali kelasnya soal liburannya itu. Dan, si wali kelas sempat bertanya lebih lanjut pada saya. Beliau ingin tahu jam kunjungan dan harga tiket untuk rombongan sekolah. Tentu saja saya tidak tahu info detail itu. Saya memberi saran supaya bertanya ke mbah googling atau langsung datang ke lokasi.

Selanjutnya, hampir setiap tahun KidZania masuk agenda wajib kami dalam berlibur. Pelayanan yang bagus, keamanan yang ketat dan sarana yang menunjang membuat kami tak pernah bosan datang. Jarak tempuh Depok – Jakarta yang lumayan jauh dan macet rasanya terbayar ketika kami sudah melewati penjaga pintu masuk area KidZania. Saya memang tidak selalu masuk menemani adik-adik saya. Kadang, saya menunggu di bioskop dekat situ. Atau, bertemu klien kantor di café.

Pernah, suatu hari klien kantor meminta dibuatkan event yang berkesan sebagai reward untuk customernya. Entah kenapa dari kepala saya tercetus untuk mengajukan free ticket KidZania sebagai bagian dari event si klien ke atasan saya. Setelah presentasi dan meeting beberapa kali, akhirnya 100 tiket KidZania pun diborong. Hasilnya ? Klien saya sangat puas.

Popularitas KidZania sebagai pusat edutainment boleh dibilang dahsyat. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, KidZania berhasil mencuri hati para orangtua dan anak-anak Indonesia. Pengunjung yang kebanyakan terdiri dari orangtua dan anak-anak tidak sekedar diberikan hiburan melalui ragam permainan yang ada. Namun, mereka mendapatkan pengalaman luar biasa ketika menjalani suatu profesi di KidZania.

Umumnya, setiap anak yang masuk KidZania akan belajar mandiri, percaya diri, bertanggung-jawab dan kreatif. Jam bermain yang cukup panjang secara tidak langsung membuat si anak menjadi mandiri. Ketika ia dapat memilih sebuah profesi, artinya ia cukup percaya diri dan bertanggungjawab dengan pilihannya. Dan, setiap masalah yang muncul ketika si anak menjalani profesi tertentu akan merangsang si anak untuk berpikir dan bertindak kreatif.

Uniknya, dari pengalaman saya di atas, “agen pemasaran” Kidzania bukan hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak ! Saya tak dapat menahan geli ketika suatu kali saya tak sengaja menguping pembicaraan seorang anak indonesia yang memamerkan kidzos-nya (mata uang KidZania) pada teman bulenya. Waktu itu saya sedang makan siang di sebuah mall yang notabene pengunjungnya adalah ekspatriat. Dan, hal yang sama ternyata juga terjadi pada adik saya dengan teman-temannya. Mereka saling bertukar cerita sudah mencoba permainan apa saja di KidZania dan bagaimana rasanya menjadi pegawai salon atau profesi-profesi yang mereka jalani di establishment. Misalnya, ada yang suka menjadi pemadam kebakaran. Kalau profesi itu menarik, teman lainnya akan mengikuti dan pastinya meminta orangtuanya untuk berkunjung ke Kidzania.

Dalam dunia marketing, KidZania terbilang cukup sukses untuk urusan promosi dari mulut ke mulut atau bahasa kerennya Word Of Mouth (WOM). Saya lebih sering mendengar para ibu atau anak berkicau tentang KidZania dibanding melihat iklan KidZania terpampang di media. Kalaupun ada, itupun bukan iklan tetapi sebuah lomba berhadiah kunjungan ke KidZania. Para Ibu dan anak-anak ini dapat disebut sebagai talkers, yaitu sebutan untuk pelaku WOM. Dua golongan ini merupakan potential talkers untuk menyebarluaskan sebuah merek asalkan merek tersebut memberikan value untuk mereka.

Oh ya, terakhir kali saya menyambangi Kidzania pada awal tahun 2014. Saat itu saya sudah tidak bekerja dan sedang hamil. Adik saya, Ross memenangkan sebuah lomba Jurnalis Cilik di Harian Nasional yang hadiahnya berupa 4 tiket Kidzania. Kami pergi berlima, yaitu saya, Girah, Ali, Ross dan bayi di dalam perut saya.

Bayi itu kini sudah menjadi Jendral cilik, usianya baru 4 bulan. Kami memberinya nama Arizqio Mada Leksono. Tak sabar rasanya ingin mengajak Mada ke KidZania !

Nah, bagi para bunda yang ingin anaknya makin cerdas dan memiliki pengalaman seru, jangan ragu ajak si kecil ke KidZania. Jangan lupa tunjukkan barcode di bawah ini ke petugas airport KidZania  untuk mendapat diskon 30 % dari harga yang tertera. Diskon ini bisa digunakan hingga 1 November 2014.

D013353CF001

Note :

Gambar utama di copy dari http://travelblog.ticktab.com

xoxo,

Bojone Gondrong

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s