Menjaga Airku, Menjaga Airmu

Air, menjadi bahasan utama Pemerintahan DKI Jakarta di awal tahun 2014. Banjir besar yang terjadi sejak Januari melumpuhkan pusat ibukota selama berhari-hari. Gedung perkantoran sebagian terpaksa ditutup, rumah-rumah terendam banjir, anak sekolah diliburkan dan jalanan macet dimana-mana. Air memang bisa membawa berkah dan bencana. Apa yang membuat air begitu penting untuk dibahas dalam kehidupan manusia ?

Tujuh puluh persen permukaan bumi tertutup air. Dibanding planet lainnya, bumi adalah planet yang memiliki unsur air paling banyak. Tubuh manusia yang nampak kokoh dengan balutan kulit dan tulang-belulang pun memiliki unsur air (H2O) sebanyak delapan puluh persen. Ini sebabnya kita mudah sekali merasa haus jika sedang melakukan aktivitas. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan maka semakin banyak tubuh membutuhkan air.  Tubuh yang kekurangan air akan mengalami dehidrasi dan berujung pada kematian. Manusia dapat hidup 40 hari tanpa makan, namun tidak bisa hidup selama 3 hari tanpa air.

Problematika Air Di Indonesia

Kebutuhan air masyarakat dunia termasuk Indonesia terus meningkat. Sementara, ketersediaan air bersih tidak seimbang. Bumi tempat kita tinggal dua pertiga bagiannya memang berupa air, sayangnya hanya tiga persen air yang bisa dikonsumsi oleh manusia.

Kekeringan yang saat ini terjadi di beberapa wilayah Indonesia adalah masalah yang muncul setiap tahunnya. Padahal sebagai negara tropis, Indonesia mendapat peringkat ke 7 di dunia dengan curah hujan cukup tinggi yaitu rata-rata diatas 2 milimeter per tahun. Air hujan yang berlimpah seharusnya dapat digunakan dengan baik, supaya ketika musim kemarau kita tidak kekeringan dan pada saat musim penghujan kita tidak kebanjiran.  Air sungai yang semakin tercemar dan air resapan tanah yang semakin menipis sudah seharusnya membuat kita sadar betapa pentingnya memanfaatkan air hujan. Sayangnya, di negara kita, air hujan lebih banyak terbuang percuma dan malah menimbulkan bencana.

Di negara maju seperti Inggris dengan curah hujan rendah, yaitu 700 mm/tahun, hampir tidak pernah mengalami kekeringan air. Mereka sudah mampu memaksimalkan penggunaan air hujan dengan cara membuat danau buatan.

Di Indonesia, orang-orang yang peduli air, membuat Penampungan Air Hujan (PAH). Sistem penampungan berupa bak besar ini sangat efektif untuk menampung air hujan dan mengolahnya menjadi air bersih. Namun, tidak semua bak yang dibuat mampu bertahan sepanjang musim kemarau.

Teknik “menabung” air lainnya yang paling mudah untuk diterapkan di sekitar rumah kita yaitu dengan membuat lubang resapan biopori atau sering disebut lubang biopori. Teknik biopori merupakan cara untuk membuat lubang-lubang di dalam tanah yang diisi sampah hingga menjadi humus. Cacing-cacing yang berada di dalam tanah akan memakan humus. Semakin banyak jumlah cacing tanah yang ada di dalam lubang, maka akan terbentuk lubang pori-pori yang dapat dialiri air hujan dan air yang mengalir akan cepat merembes ke dalam tanah. Artinya, rumah yang memiliki biopori tidak akan terancam kesulitan mendapatkan air tanah saat kemarau tiba. Dan, rumah pun akan terbebas dari banjir.

Banjir, Salah Siapa ?

Salah satu penyebab banjir di Jakarta, berkurangnya pohon dan tanah resapan untuk menampung air hujan. Pohon berfungsi menahan air hujan supaya tidak langsung jatuh ke tanah. Ketika tanah sudah beralih fungsi menjadi aspal, air pun tidak lagi terserap melainkan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.

Penyebab lainnya yaitu sebagian masyarakat Jakarta yang menjadikan bantaran sungai sebagai tempat tinggal. Akibatnya bukan hanya membuat pemandangan menjadi kumuh, tapi membuat luasan areal sungai berkurang.

Tak hanya itu, kebiasaan masyarakat yang membuang sampah di sungai atau saluran air ikut berkontribusi pada pendangkalan sungai. Akibatnya, air sungai mudah meluap saat musim penghujan datang.

Pentingnya Regulasi Air

Berbagai aksi hemat air dari komunitas-komunitas peduli lingkungan tak cukup membuat masyarakat lebih bijak dalam menggunakan air. Masyarakat hanya tergugah sesaat atau demi trend semata.

Aksi ALS Ice Bucket Challenge yang sedang nge-trend di dunia maya sempat menuai kontroversi lantaran para “relawan” menggunakan air es untuk mengguyur sekujur tubuh mereka. Air es yang digunakan tentulah air bersih, bukan air sisa buangan.  Sementara, di belahan negara lain, masih banyak negara-negara yang kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Di Indonesia, menjelang akhir tahun, musim hujan kerap melanda. Adanya Pemanasan Global telah mengacaukan keberadaan iklim di Indonesia. Hari ini bisa hujan lebat, besok kering sepanjang hari. Bahkan, beberapa wilayah ada yang kerap dilanda kekeringan seperti halnya warga Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Ketiadaan air bersih memaksa mereka menggunakan air telaga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ini, air melimpah hanya milik golongan yang hidupnya wah. Contoh kecil, warga Jakarta yang tinggal di Apartemen lebih mudah mendapatkan air bersih dibandingkan warga Jakarta yang tinggal di perumahan kumuh sekitar Apartemen.

Hingar bingar pesta demokrasi telah usai. Presiden ke 7 beserta wakilnya telah terpilih. Pemerintah ke depan hendaknya membuat regulasi berkaitan dengan air. Langkah Aqua sebagai penyedia air mineral dengan program air bersihnya patut dicoba.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s