Demi Sekerat Daging

url

Beberapa hari sebelum Lebaran Kurban.

Saya seangkot dengan seorang ibu. Dia bercerita baru saja mendapatkan kupon kurban. Saya memperhatikan Ibu itu baik-baik. Sepasang anting emas bertengger di telinganya. Kalung emas sekian gram terlihat jelas di lehernya. Sebuah cincin emas juga melingkari salah satu jari tangannya. Bajunya pun tidak lusuh-lusuh amat. Ia menenteng kresek Giant yang full oleh belanjaan. Ia sadar saya memperhatikan itu dan berkata, “Saya ini orang miskin, Mbak. Suami saya sudah tidak bekerja, anak saya juga masih pada nganggur”

Saya hanya menjawab singkat, “Ohh,” lalu memalingkan wajah ke luar jendela angkot. Saya ndak berminat melibatkan diri dalam sebuah obrolan lebih lanjut dengan orang yang seolah-olah paling miskin sejagat bumi (tapi dalam kenyataannya tidak). Itu bukan sesuatu yang menarik buat saya.

Lalu, pagi ini televisi menyiarkan berita sungguh mengenaskan.

“Antrian kurban di Masjid Istiqlal memakan korban luka-luka dan merenggut satu jiwa,

Seorang ibu-ibu penerima kurban mengomentari kejadian tsb dan memaparkan perjuangannya demi mendapatkan sekerat daging.

Ketua Panitia saat ditanya Reporter Berbaju Merah, memberikan jawaban klise “Setiap nyawa akan berpulang pada-Nya,”

Saya menghela napas. Miris.

Demi sekerat daging, orang rela berdesak-desakan dan antri sedari langit masih gelap.

Demi sekerat daging, orang rela “memiskinkan” dirinya seperti Ibu-ibu bergiwang emas yang saya temui di angkot itu.

Segitu banyak orang pandai di Pemerintah, tapi tiap tahun antrian Lebaran Kurban selalu saja memakan korban.

Segitu banyak para alim ulama yang jumlahnya seantero Jakarta kok kayak ndak punya solusi ?

Di Jakarta, pemuda-pemudi pengangguran kan banyak. Kenapa mereka gak diberdayakan pihak Panitia Kurban untuk mendatangi rumah-rumah para mustahik ? Jadi, para mustahik ndak perlu antri berjam-jam apalagi sampai harus terinjak-injak.

Dulu waktu saya masih kecil dan masih rajin mudik ke Pekalongan. Malam menjelang Lebaran, saya selalu diajak Bude bersama sepupu-sepupu berkeliling kampung. Kami mengetuk satu persatu pintu rumah tetangga yang sudah tertutup rapat. Rumah mereka bukanlah rumah berpagar tinggi atau yang punya belasan jemuran kayu untuk menjemur kain-kain batik yang panjang. Tapi, rumah yang dindingnya terbuat dari bilik bambu atau tembok kapur. Kami membagikan sembako dan daging. Saya masih ingat wajah-wajah sumringah bahagia yang menerima pemberian dari kami.

Dulu saya sempat bertanya pada Ibu, kenapa kita harus bercapek-capek mengantarkan sembako dan daging ke tetangga, bukan mereka yang mendatangi rumah Bude. Ibu menjawab, memberi sedekah itu tangan kiri gak boleh tahu. Saya yang masih unyu itu gak ngerti maksud dari ucapan Ibu.

Kira-kira, ada cerita apalagi ya tahun depan soal Lebaran Kurban ?

xoxo,

Bojone Gondrong

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s