Oktober, Si Bulan Keramat :-)

“There’ll be good times
And there’ll be bad …” – Till death do us part, White Lion

Selasa. Memasuki Oktober, hati saya dagdigdug.

Bulan ini tepat setahun saya menikah. Setahun yang lalu, saya pun dagdigdug. Yess, kebat-kebit duduk di depan penghulu dan bersebelahan dengan calon suami. Mengucap janji suci. Ihh, merinding kalo diinget ke belakang.

Pernikahan membuat saya belajar tentang banyak hal. Dari mulai urusan dapur, kehidupan sehari-hari hingga ke hubungan yang kami jalani selama setahun.

Sebelum menikah, saya punya usaha jasa translasi dan pengetikan yang dirintis sejak tahun 2009. Gak cukup sampai disitu, saya juga bekerja sebagai Personal Assistant di sebuah kantor dengan jumlah karyawan > 60 biji kepala . Gaji bulanan lebih dari cukup. Tiap hari nongkring di mall yang letaknya sebelah kantor, 3 hari sekali ngopi di Starbucks dekat kantor,  tiap selasa ngecek update baju di butik langganan dekat rumah pacar, tiap minggu nonton film ke XXI, tiap bulan beli sepatu dan baju baru (dengan alasan untuk investasi diri), aiueo, dll.

Jangan sebut saya perempuan konsumtif dan boros. Buat saya, hidup kudu balance seperti kalimat “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” #eaaa

Lalu,

Setelah menikah, saya dengan penuh kesadaran ingin membaktikan diri (dulu) menjadi istri rumahan. Meminggirkan usaha jasa saya. Dan, dari jauh-jauh hari resign dari pekerjaan saya itu. Saya pingin ngerasain melakukan pekerjaan mulia menjadi Ibu Rumah Tangga (iruta). Saya membayangkan saya menyiapkan sarapan untuk suami, ada di rumah sebelum suami pulang kerja dan makan malam sudah siap tersaji. Saya sadar diri, kalau saya masih bekerja maka suami saya bakal jadi nomor dua atau bahkan nomor sepuluh dalam keseharian saya.

Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Dan, masuk bulan ke-empat saya mulai jenuh. Kegiatan sehari-hari saya “hanya” mengurusi rumah, belanja ke carrefour dan menajamkan pena lewat tulisan yang saya kirimkan ke media atau penerbit. Saya kangen kehidupan zaman purba eh zaman sebelum nikah. Saya kangen meeting. Presentasi. Nongkring. Ngopi. Di saat saya pengen kerja untuk mengisi waktu, tiba-tiba suami melarang, saya pun meradang.

Tuing. Tuing. Awal bulan maret, saya positif hamil 8 minggu. Hadiah ruarr biasa di bulan keramat kami berdua. Yess, saya dan suami sama-sama lahir di bulan Maret.

Semangat berapi-api saya untuk ingin kembali bekerja mulai luntur. Demi si jabang bayi, saya ndak mau jadi Ibu yang egois. Saya pun punya kegiatan baru, memantau perkembangan si junior setiap hari. Suami saya pun menjadi suami SiAGa (Siap Antar Jaga). Setiap malam, kami membicarakan penuh semangat tentang si junior.

Di akhir trimester awal, saya mulai merangsang si junior dengan sentuhan, cahaya dan musik. Saya minta suami men-download surat Yusuf di smartphone-nya, supaya saya bisa setel sebelum tidur. Saat kami ngeborong DVD, suami begitu cerewet mengingatkan untuk beli DVD musik orkestra khusus bayi. Saat malam-malam, saya membacakan dongeng dengan suara penuh irama, keesokan harinya suami mengingatkan apakah saya sudah membacakan dongeng untuk si junior. Suatu kali, saya iseng mengajak nyanyi si junior ketika sepanjang malam perut saya terasa kaku, dan keesokan hari suami mengingatkan supaya saya menyanyi kembali untuk si junior. Ihhh, saya jadi tersapu-sapu malu.

Suami pun tak kalah heboh. Sebelum pergi bekerja dan sebelum tidur, suami rajin menyapa dan menyentuh si Junior. Saat tengah malam si junior masih aktif bergerak mengajak kami bermain, suami mengelus-elus perut saya dan ajaibnya … si junior langsung kalem. Sesekali suami ikut bernyanyi dan membacakan dongeng. Bulan pertama, kedua dan ketiga kami cek si junior di sebuah rumah sakit mewah yang terletak tak jauh dari tempat tinggal kami. Harga biaya persalinannya saja paling murah 10 juta -____-. Sayangnya, dokter kandungan-nya (obgyn) ndak informatif dan terlalu ngejar target pasien. Suami saya yang cerewet gak puas dengan pelayanan si obgyn yang money oriented. Kami pun pindah ke rumah bersalin biasa yang agak jauh. Tempatnya tua, biasa saja dan tidak sebagus rumah sakit sebelumnya. Obgyn yang menangani saya namanya Dokter Nelwati. Dia praktek di rumah sakit Bintaro, Hermina Depok dan di tempat saya periksa itu. Kabarnya, banyak pasien kudu waiting list demi ketemu dia. Coba aja googling, pasti ketemu siapa Dokter Nel. Kebetulan, dulu si obgyn ini pernah nanganin ibu saya saat lahiran.

Pucuk dicinta ulam tiba. Saya cocok dengan Dokter Nel. Dia sangat informatif dan komunikatif. Hari pertama kami bertemu, saya mendapat urutan nomor 20. Suster bilang, kalau gak dibatesin bisa sampai 50 yang antre. Hehehe. Suami juga nampaknya cocok dengan si dokter Nel.

Tiba-tiba, di usia kandungan 24 minggu, saya melahirkan prematur. Selama dua hari dua malam, perut saya mengeras. Kepala saya pusing dan perut bagian bawah saya sakit luar biasa. Selama dua malam itu, saya menangis menahan kesakitan. Saya ndak tau itu namanya kontraksi. Saya dan suami hanya berpikir si Junior lagi pengen ngajak main. Si junior itu tiap kali diajak main, responnya menendang-nendang perut saya yang ujung-ujungnya perut saya jadi keras.

Dan, saat dilahirkan … si junior hanya bertahan sekian detik setelah keluar dari rahim saya. Saya shock luar biasa. Setiap hari selama hamil, saya belajar dan belajar tentang perkembangan bayi. Tapi, ilmu yang saya pelajari belum sampai pada tahap persalinan.

Proses persalinan memang mudah. Lima belas menit setelah suami berangkat kerja, saya mulas dan pup. Sementara, berhari-hari sebelumnya saya sembelit. Setelah pup, tiba-tiba keluar cairan bening yang sangat banyak. Saya ndak mikir kalo itu namanya air ketuban pecah. Saat saya kembali mengenakan celana tidur panjang, darah menetes di lantai kamar. Saya mulai panik dan menghubungi suami. Perut saya juga makin mengencang. Saya pun teriak-teriak menyebut istigfar dan gusti Allah. Lalu, saya tertatih-tatih berjalan menuju kasur. Saya ndak kuat untuk berjalan keluar rumah meminta tolong tetangga.

Nyawa saya seperti hilang separuh. Pandangan mata kabur. Saat saya tiduran di kasur, saya masih sempat kembali menghubungi suami dan keluarga saya lalu mengambil buku doa yang tergeletak di sisi kasur. Saya membaca doa sembari berharap ada yang segera datang. Saya sangat pasrah. Ketika saya kembali mengeluarkan cairan bah yang membanjiri kasur, si Junior memaksa keluar.  Kepalanya yang sudah muncul melewati ujung rahim saya pegang. Saya merasakan rambutnya. Saya juga merasakan si Junior masih berdenyut.

Orang yang pertama muncul di rumah adalah Ibu saya, lalu adik laki-laki saya dan suami. Hujan deras, mereka dibantu tetangga membawa saya ke rumah bersalin terdekat. Saya masih sempat melihat wajah suami yang luar biasa kalut hari itu. Saya masih sempat tiduran di pangkuan suami di mobil. Saya masih ingat, suami menyuruh saya menggigit jarinya saat plasenta saya sedang ditarik suster.

Si junior yang berjenis kelamin perempuan, kami namai Aisha Ramadhani Putri Ayako. Aisha, saya ambil dari nama istri nabi Muhammad. Aisyah selalu digambarkan sebagai perempuan yang ceria. Yess, ceria seperti saya. Suami menambahkan nama Ramadhani lantaran saya melahirkan di bulan suci Ramadhan. Putri Ayako, berarti Putrinya Ayya dan Eko 🙂

40 hari pasca kepergian putri pertama kami pun berlalu. Ibu mertua membuatkan bubur merah putih. Saya dan suami kembali membersihkan rumah Aisha dan tak lupa mendoakannya. Alhamdulillah, “rumah abadi”nya berada beberapa meter di belakang bengkel suami. Jadi, saya dan suami bisa berkunjung tiap bulan ke rumah almarhum putri kami.

25 Agustus 2013. Masih dalam masa duka. Saya dan suami bersama 3 temannya datang ke konser Metallica di Gelora Bung Karno. Suami begitu bersemangat sedari band asal Amerika itu tampil di panggung. Awalnya, suami malu-malu lantaran para penonton anteng-anteng saja. Begitu para penonton yang berdiri di dekat panggung mulai bergoyang, suami saya naik ke kursi. Kepalanya bergoyang, tangannya diacung-acungkan, suaranya pun tak kalah kenceng. Saya menoleh dan speechless. Omaigot, gitu kek daritadi goyang. Masa nonton konser cadas cuma duduk-duduk anteng di kursi. Hihihi, Saya aja kalo nonton konser jazz, wajib hukumnya bergoyang sambil bernyanyi lalalala.

Seminggu yang lalu. Suatu hari di Kamis pagi, saya telat mens. Saya minta dibelikan testpack. Dan, usai melakukan test, dua garis muncul. Yang satu samar. Yang satu jelas banget. Sekarang ini, saya sedang harap-harap cemas untuk testpack ulang sebelum kami kembali bertemu Dokter Nel. Semoga hasilnya baik. Doakan kami semuanya lancar 🙂

Untuk first wedding anniversary kami, saya sangat bersyukur memiliki suami yang semakin dewasa dan ngemong. Suami yang begitu sayang sama saya. Suami yang selalu berusaha maksimal untuk saya.

The first year of marriage has taught me a lot.

xoxo,

Bojone Gondrong

note : jangan komen kenapa saya baru update blog lagi setelah berbulan-bulan lamanya saya mangkir *halah* dari kegiatan nge-blog

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s