Dear Ibu Millenials, Lakukan 3 Tips Ini Agar Terhindar Dari Middle Income Trap

kebsinarmas

Saat Lebaran 2017, timeline saya mendadak penuh dengan para Ibu yang posting foto Outfit Of The Day (OOTD) dengan nuansa pastel bunga-bunga dari sebuah brand muslim yang sedang naik daun. Ada yang hanya menggunakan produk scarf dari brand tersebut. Ada juga yang from head to toes. They were so gorgeous in that modest wear. Apalagi mengingat harga satu produk scarf yang dipakai itu paling murah Rp 300 ribu. Dan, harga rata-rata untuk koleksi busana brand yaitu di atas Rp 700 ribuan. Sungguh, saya dibuat berdecak kagum.

Satu bulan berikutnya, lagi-lagi timeline saya ramai dengan produk brand tersebut. Bedanya, hashtag yang dipakai bukan #stylewithbrandxxx tetapi #prelovedxxx alias barang yang dipakai saat Lebaran itu dijual sebagai barang second. Tak sedikit yang menjual barang preloved branded tersebut dengan harga sangat murah. Entah alasannya apa, yang jelas fenomena tersebut menjadi perbincangan hangat para netizen.

Sekarang ini, teknologi bukan hanya memudahkan manusia tetapi menjadi wadah kaum muda untuk unjuk diri di sosial media. Lagi ngopi di kafe yang sedang nge-heits, langsung upload foto. Lagi antri hunting sepatu branded yang diskon 80 persen, langsung cekrek upload. Lagi staycation bersama anak dan suami, langsung cuss cekrek upload. Pokoknya people trying hard to impress their follower in social media. Memang enggak semuanya posting foto buat pamer di sosial media, but half of us, errrr right ?

aaa

Berkaitan dengan urusan keuangan, Kumpulan Emak Blogger (KEB) bersama Sinarmas MSIG Life mengadakan Talkshow “Smart Mom, Protect Your Family SMiLe” pada tanggal 9 September 2017. Sebanyak 50 peserta yang semuanya adalah perempuan hadir memenuhi ruang meeting di JSC Hive Coworking Space Kuningan Jakarta. Mengapa harus perempuan ? Karena, dari data survei Otoritas Jasa Keuangan banyak perempuan di Indonesia belum melek literasi keuangan. Padahal, perempuan memiliki peranan penting sebagai pengatur neraca keuangan di rumah.

Talkshow tersebut menghadirkan 2 narasumber ahli yaitu Mas Aakar Abyasa Fidzuno (CEO/Founder of Jouska Financial) dan Ibu Vera Itabiliana, S.Psi (Pakar Psikolog Anak & Remaja). Turut hadir pula Bapak Suwandi Sitorus selaku Section Head of Training Insurance Sinarmas MSIG Life yang sempat memberikan kata sambutan di awal acara.

Sesi selanjutnya dibuka dengan pertanyaan dari Mas Aakar Abyasa. “Ibu- ibu siapa yang di rumah punya prinsip uangku uangku, uangmu uangku ?” Satu dua tiga dan hampir setengah dari jumlah peserta mengacungkan tangan. Mas Aakar tersenyum simpul. Ia sempat bertanya pada Mak Irma Senja mengenai alasannya memiliki prinsip seperti itu.”Hati-hati lho Ibu-ibu. Kalau punya prinsip keuangan begitu, nanti siap-siap dicerai dan dapet limpahan hutang dari suaminya”. Seketika ruangan pun senyap.

kebsinarmasmsiglife

1

Menurut Mas Aakar,  dalam berumah tangga sebaiknya suami istri saling terbuka. Berapa jumlah uang yang masuk dan yang keluar.  Urusan membuat asuransi, seorang Ibu pun harus cerdas. Jangan sampai Ibu salah pilih asuransi bahkan enggak tahu nama tertanggung yang tercantum. Akibatnya fatal. Saat tiba waktunya klaim asuransi, malah enggak bisa dipakai kan. Apa yang disebut Mas Aakar memang benar nih. Pekerjaannya sebagai Financial Adviser di -Jouska Financial- perusahaan yang ia dirikan ini banyak bersinggungan dengan dunia keuangan masyarakat urban Jakarta.

Menurut pembagian penghasilan, kelas sosial di Indonesia dibagi menjadi tiga. Pada urutan paling bawah yaitu kelas berpenghasilan rendah, lalu ada kelas menengah yang dibagi lagi menjadi kelas menengah bawah dan kelas menengah atas dan kelas atas. Dari data Boston Consulting Group, yang disebut kelas menengah yakni orang-orang yang berpenghasilan di atas 6 juta. Fenomena Middle Income Trap ini ada di kelas menengah. “Duit naiknya cuma seberapa, gaya hidup ikutan naik. Yang penting bensin, nongkrong dan ngopi aman semua. Tetapi kelompok ini rendah edukasi keuangan” kata Mas Aakar.

Ciri-ciri lainnya dari Middle Income Trap ini, “Usia 20 tahun giat bekerja, di usia 30 tahun mulai nyicil rumah atau mobil, tapi saat usia 50 tahun malah nyari menantu kaya” seloroh Mas Aakar, disambut cengiran peserta Talkshow. Hal tersebut dilakukan lantaran ketika usia 50 dan sudah waktunya pensiun, justru dibuat cemas pada masa depan keuangan anaknya.

Nah, trus gimana solusinya biar enggak masuk ke kelompok Middle Income Trap ? Susah-susah gampang sih, apalagi kalau sudah jadi kebiasaan. Tetapi, Ibu cerdas pastinya wajib dong melindungi keluarganya dari fenomena ini. Mas Aakar Abyasa memberikan solusi :

IMG_20170909_110840

Dok. pribadi/ Mas Aakar Abyasa

1. Current Financial Statement

Pada tahap ini, cek neraca pemasukan dan pengeluaran termasuk cicilan hutang. Mas Aakar sempat menjelaskan untuk mengetahui jumlah pemasukan pasti suami, dapat dilihat dari rekening koran. Istri pun harus tahu status rumah yang dimiliki, apakah sudah memiliki surat atau justru hanya memiliki girik seperti kasus klien Mas Aakar. Rumahnya mewah seharga 6 milyar tetapi tidak memiliki surat Tanah.

2. Risk Profile

Cek juga investasi apa saja yang dimiliki suami. Para suami penganut paham konservatif hidupnya go with the flow alias mengandalkan kondisi ekonomi yang ada. Padahal, investasi itu penting untuk mempersiapkan masa depan keluarga.

3. Goals

Tentukan goals Anda di masa depan mau seperti bagaimana. Apakah bertahan dengan status Middle Income atau naik kelas menjadi kelompok Wealthy People alias horang kaya. Mas Aakar menyebutkan, kelompok Middle Income bisa banget menjadi Wealthy People. Kuncinya, menggunakan uang sesuai kebutuhan bukan keinginan.

Wealthy people ini kelompok orang-orang yang sudah terbebas dari masalah keuangan. Besok mereka mau liburan ke Lombok ya tinggal packing, enggak perlu nyari tiket kereta api diskonan apalagi berburu tiket pesawat murah.” Siapa yang mau jadi wealthy people ? Saya mau ngacung tangan duluan ah.

“Kalau Ibu-ibu ini sanggup menjadi member gym, harusnya sanggup punya asuransi lebih dari satu. Yang terpenting itu asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi dana pensiun dan asuransi pendidikan buat anak. Pokoknya, pemasukan naik, bukan naikin gaya hidup tetapi perbanyak investasi keuangan,” tutup Mas Aakar.

kebsinarmas

Pentingnya Memiliki Asuransi

Nah, kalau urusan asuransi, Ibu Millenials dapat melirik Asuransi Sinarmas MSIG Life yang memiliki pilihan produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga masa kini. Siapa sih yang enggak tahu Sinarmas MSIG Life ? Asuransi yang memiliki ciri khas warna merah ini sudah ada sejak 14 April 1985, dengan nama PT Asuransi Jiwa Purnamala Internasional Indonesia (PII). Sempat beberapa kali berganti nama, hingga akhirnya menjadi PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (juga dikenal sebagai Sinarmas MSIG Life SMiLe).

Tahun 2013, untuk meningkatkan brand awareness, Sinarmas MSIG Life memperkenalkan brand SMiLe pada masyarakat. Di tahun berikutnya, SMiLe diganjar berbagai penghargaan dan dinobatkan sebagai Digital Brand of the Year 2015 Terbaik Ke-3 oleh Info Bank. SMiLe terus berinovasi melalui produk-produknya termasuk menjadi bagian dari kegiatan Pemerintah dalam mengedukasi kaum perempuan tentang literasi keuangan, salah satunya melalui acara “Smart Mom, Protect Your Family SMiLe”.

Saya pribadi sudah memiliki asuransi untuk Mada sejak saya hamil. Ketika Mada harus dirawat di rumah sakit selama seminggu, saya tinggal membubuhkan tanda tangan di meja kasir dan bebas memilih kamar. Kini, asuransi yang sudah ada menjadi investasi kami sekeluarga. Jika dinominalkan, lumayan bisa menambah suatu saat ada keperluan mendadak. Jadi, kerasa banget manfaatnya memiliki asuransi. Ke depan, saya kepingin nambah produk asuransi lagi nih. Bagaimana denganmu, Bu ? Yuk, Atur Uangmu. Jangan tunggu sampai Negeri Api menyerang pundi-pundi keuanganmu. Do it soon.

ttd-marso

 

Iklan

Hangatnya Transpulmin dan Sentuhan Ibu Atasi 3 Penyakit Ini Pada Keluarga

transpulmin

“Anak sakit itu bukan karena Ibunya enggak bisa merawat. Anak-anak umur 0 sampai 5 tahun itu usia rawan sakit. Pasti bakal mengalami yang namanya batuk pilek demam atau diare. Itu wajar. Yang penting kamu sebagai Ibu ini sudah usaha maksimal,” kata Mamah sembari mengusap pundak saya. Ah, sentuhan Mamah ampuh melenyapkan rasa sedih yang hinggap di hati dan kepala saya selama berhari-hari.

Gejala demam yang dialami Mada lebih dari 3 hari disertai diare, pilek dan muntah-muntah tiap jam membuat Mada harus menjadi penghuni rumah sakit selama hampir seminggu. Diagnosa dari Dokter, Mada terkena virus di perutnya sehingga membuat dirinya tidak bisa mencerna makanan dengan baik.

Selama di rumah sakit, Mada harus menghabiskan 5 botol infus. Ngilu rasanya menyaksikan Mada menangis di dekapan saya saat suster mengganti botol infus yang sudah habis. Namun, sebagai Ibu saya harus tetap tegar dan kuat. Hati boleh menangis, wajah harus tetap cool. Bahkan, para suster rumah sakit menyebut saya sebagai Ibu Rock n Roll lantaran saya masih sempat-sempatnya mengajak Mada nyanyi saat Mada dipasangi jarum infus.

arizqio

Pasca pulang dari rumah sakit, saya pun lebih mawas pada kesehatan Mada. Ibu mana yang ingin anaknya kembali masuk rumah sakit ? Tentu, setiap Ibu menginginkan anaknya selalu sehat wal afiat. Kalau bisa seumur hidup anak jangan sampai masuk rumah sakit.

Karena, Terkadang Kenyataan Tidak Selalu Sesuai Harapan

Enam bulan berikutnya, saya masih rutin kontrol Mada ke Dokter Spesialis Anak. Pasca opname dan pulang ke rumah, memang nafsu makan Mada meningkat. Daya tahan tubuhnya pun seolah menjadi berlipat ganda. Kata Dokter, itu efek perutnya sudah bersih dari virus setelah diinfus. Meskipun demikian, saya lebih memerhatikan makanan yang masuk ke perutnya. Sayangnya, saya justru abai pada kesehatan tubuh sendiri.

Hingga suatu hari saya bangun dengan tubuh menggigil, perut luar biasa mual, tenggorokan serak dan kepala yang terasa berat. Tak ada yang bisa dilakukan sepanjang hari selain berbaring di kasur. Selama 3 hari, Mamah menemani saya saat siang hari untuk menjaga Mada selagi saya beristirahat. Namanya 24 jam masih berinteraksi dengan Mada, akhirnya jagoan kecil saya tertular batuk pilek. Kali ini Dokter Spesialis Anak langganan Mada tidak memberikan resep berbagai macam obat. Saya diberikan Transpulmin Balsam Keluarga.

Kening saya sempat mengernyit melihat kemasan Transpulmin Balsam, karena yang namanya balsam itu kan identik seperti yang banyak dijual di pasaran. Bentuk Transpulmin Balsam yakni berupa tube mirip pasta gigi. Tekstur krim-nya pun lembut dan tidak lengket di tangan. Dari kemasannya, tertulis dalam 1 gram krim Transpulmin Balsam Keluarga mengandung Eucalyptus oil, menthol, Champor dan Sage Oil. Pantesan ya, aromanya enak banget di hidung dan ada sensasi semriwing-semriwing dingin.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ada 2 varian Transpulmin Balsam, yaitu :

Transpulmin BB Balsam

Digunakan untuk anak usia 0 hingga 2 tahun. Mengandung Eucalyptus Oil dan ekstrak Chamomile, tetapi Transpulmin BB Balsam tidak mengandung Champor dan Menthol sesuai dengan kulit bayi yang masih sensitif.

Dengan kemasan kotak berwarna putih, Transpulmin BB Balsam bermanfaat untuk meredakan batuk pilek. Dosis penggunaan : oleskan 2/4 kali sehari pada dada, punggung dan leher anak.

Transpulmin Balsam Keluarga

Kemasan berwarna kuning cerah dengan gambar bunga chamomile di pinggiran tube. Transpulmin Balsam Keluarga ini cocok digunakan untuk anak di atas 2 tahun bahkan orang dewasa seperti saya.

Transpulmin Balsam Keluarga ampuh mengatasi perut kembung/sakit perut, batuk dan pilek. Saat Mamah mengoleskan krim Transpulmin ke punggung saya rasanya hangat dan wangi Eucaliptus Oil-nya berasa banget. Sentuhan Mamah rupanya bukan hanya menghangatkan tubuh saya yang menggigil karena masuk angin, tetapi juga menghangatkan hati saya. Nah, selanjutnya gantian saya mengoleskan dan memijat pelan punggung Mada menggunakan krim yang sama.

“Mada mau dipijit Ibu lagi, enak enak” kata Mada girang, seolah ia lupa pada batuk pilek yang sedang menghinggapi dirinya.

Seminggu kemudian setelah rutin diolesi Transpulmin Balsam Keluarga, tubuh saya bebas dari masuk angin dan Mada pun sembuh dari batuk pilek. Ternyata, Transpulmin yang bentuknya kecil ampuh banget mengusir cantik 3 penyakit yang kami alami. Asyiknya, selama menggunakan Transpulmin, tidur kami berdua jadi sangat pulas.

Karena, Anak dan Ibu Dilarang Sakit

Selain rutin memperhatikan kesehatan Mada, saya juga wajib memperhatikan kesehatan tubuh sendiri. Tiap kali alarm tubuh saya ‘berbunyi’, saya memilih mengoleskan Transpulmin di titik-titik tubuh yang terasa enggak enak. Atau, saya menyulap Transpulmin Balsam menjadi aroma therapy. Caranya, saya memasukkan Transpulmin Balsam ke dalam wadah berisi air mendidih dan menghirup uapnya untuk meredakan sakit kepala atau pilek. Saya juga membuat teh jahe atau teh sereh untuk mendetox tubuh. Sebisa mungkin, saya menjauhi pemakaian obat-obat ketika lagi enggak enak badan. Karena, ketika Ibu sakit maka rumah pun kehilangan warnanya. Setuju ya, Mak ?

Transpulmin BB Balsam dan Transpulmin Balsam Keluarga dapat dibeli Guardian, Century, Kimia Farma, Watson, Baby Shop atau Apotik sekitar rumah Anda. Untuk Transpulmin BB Balsam ukuran 10 gram harganya berkisar antara Rp 51,000 hingga Rp Rp 56,000. Untuk Transpulmin Balsam Keluarga ukuran 10 gram harganya yaitu Rp 53,800 hingga Rp 58,800.

Yang ingin tahu lebih lanjut mengenai Transpulmin, dapat berkunjung ke sosial medianya atau websitenya :

Website : http://www.transpulmin.co.id
Fanpage Facebook : Transpulmin Kehangatan Ibu
Instagram : @transpulmin.kehangatanibu

Oh ya, Transpulmin memiliki program “10.000 Momen Kehangatan Transpulmin”. Jadi, setelah membeli Transpulmin Balsam, jangan lupa foto berdua si kecil lalu tuliskan pengalaman Anda di microsite http://transpulmin.co.id/momenkehangatanibu. Hadiah voucher belanja @Rp 200ribu dan hampers menarik dari Transpulmin menanti Anda. Kirim sebanyak-banyaknya karena periode lomba berakhir pada Desember 2017.

ttd-marso

Serunya Kunjungan Lapangan Tematik Ke Puskesmas Sidorejo dan Wahana DUVER Salatiga

duver

Waktu mendengar tentang Kunjungan Lapangan Tematik (kunlaptik) bersama Kemenkes RI di Semarang, saya sama sekali enggak terbayang seperti apa kegiatannya. Bahkan, setelah saya menerima rundown acara teteup ya saya hanya membayangkan kegiatan sidak pejabat seperti yang biasa saya lihat di televisi.

Kunjungan hari pertama saya bersama Kemenkes RI bisa dilihat di 7 Aksi GERMAS Untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Semarang.

Ah, ternyata 100 persen dugaan saya salah. Kunlaptik hari kedua bersama Kemenkes RI ini seru banget. Berasa lagi fieldtrip sekolah. Setelah sarapan sehat di Hotel Santika Premier Semarang -tempat peserta kunlaptik menginap-, selanjutnya kami menuju Puskesmas Sidorejo Kidul. Dua bis besar berjalan beriringan. Sepanjang perjalanan, saya disuguhkan pemandangan kota Semarang dan Salatiga yang panas tetapi ngademin hati. Tangan saya tak henti-hentinya mengabadikan hamparan bukit, gunung bahkan sekedar barisan pepohonan yang berdiri tegak melalui kamera smartphone. Maklum, baru pertama kali ke Salatiga. Kota yang identik dengan kampung halamannya aktor senior Roy Marten.

Bis berhenti tak jauh dari Taman Kota Tingkir. Duh, saya enggak tahan kepingin banget masuk ke Taman Kota milik warga Salatiga itu. Apalagi di belakangnya nampak Gunung Merbabu yang terlihat cantik dari kejauhan. Untungnya, sesama Blogger dari Jakarta mengingatkan bahwa rombongan kudu masuk aula dulu. Heuheu *elapkeringat.

Seluruh rombongan berkumpul di Aula Kompleks Kecamatan Tingkir. Sesi pertama diisi dengan presentasi dari Ibu Camat Tingkir, Kepala Kelurahan dan Kepala Puskesmas Sidorejo Kidul. Dari pemaparan narasumber, saya jadi tahu nih kalau Puskesmas Sidorejo Kidul ini menjadi tempat layanan kesehatan terbaik di Salatiga. Puskesmas ini membawahi 71 posyandu balita dan 27 posyandu lansia yang tersebar di 7 kelurahan.

Mengenal Lebih Dekat Puskesmas Sidorejo Kidul

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sebagai pengguna setia Puskesmas Jagakarsa yang dinobatkan sebagai Puskesmas terbaik di Jakarta Selatan, saya cukup terpukau dengan fasilitas Puskesmas Sidorejo Kidul. Halamannya cukup besar untuk menampung motor maupun mobil yang parkir. Dua bangunan Puskesmas Sidorejo Kidul setiap harinya didatangi oleh puluhan pasien. Gedung pertama untuk pelayanan untuk konsultasi, sementara gedung kedua untuk tempat berobat.

Pada gedung pertama, ada fasilitas untuk Konsultasi Gizi, Ruang Menyusui atau Pojok Laktasi dan ruang KIA (kesehatan ibu anak). Eitss, saya naksir sama ruang KIA-nya lho. Ada mainannya gitu semacam mini playground. Dindingnya pun ditutupi wallpaper bercorak motif anak-anak. Pokoknya, jauh dari kesan menyeramkan. Di Puskesmas Sidorejo ini ada program Bunda Cantik, yaitu program untuk mendukung pemberian ASI pada bayi dan batita.

Di gedung kedua, terdapat fasilitas poli Gigi, ruang periksa umum, ruang tindakan, Ruang VCT – IMS dan laboratorium. Di gedung ini ada cek virus HIV Aids juga. Beberapa blogger sempat mencoba cek virus HIV AIDS.

“Cek virus HIV AIDS ini bukan cuma karena gaya hidup bebas kok. Karena HIV AIDS tidak hanya menular melalui kebiasaan gonta-ganti pasangan. Yang penasaran kayak gimana cek virus HIV AIDS bisa mencoba di sini dan hasilnya bisa ditunggu,”

Saya manggut-manggut mendengar penjelasan dari petugas kesehatan yang bertugas. Eh, saya enggak ikut mencoba sih, soalnya saya agak-agak gimana gitu sama jarum suntik.

Wahana DUVER : Mengenal Lebih Dekat Dunia Vektor dan Reservoir

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sebelum kami berangkat ke Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP), Eyang Anjar -blogger heitsss dari Jakarta- sempat menyebutkan kami bakal bertemu ratusan spesies tikus dan kelelawar di Wahana DUVER. Kenapa harus Tikus dan Kelelawar ? Karena, hewan-hewan tersebut berpotensi menyebabkan penyakit menular dan berbahaya bagi manusia. Jadi, penting untuk diteliti.

B2P2VRP ini lebih dikenal dengan Wahana DUVER alias Dunia Vektor. Disebut demikian, karena siapapun yang tertarik meneliti tentang vektor (serangga kecil yang dapat menimbulkan penyakit berbahaya pada manusia) dapat berkunjung ke tempat ini. Selain mengenal vektor, saya juga belajar mengenal tentang reservoir yaitu mamalia kecil seperti tikus dan kelelawar yang dapat menimbulkan penyakit berbahaya pada manusia.

Didirikan pada tahun 1976 di Semarang. Cikal bakalnya yaitu Unit Penelitian Biologi dan Pemberantasan Vektor (UPBPV) ini merupakan kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dengan WHO. Lokasinya pun tidak sebesar seperti sekarang ini. Seiring perkembangan kemampuan dan sumber daya manusia, UPBPV pun berganti nama menjadi B2P2VRP. Hal ini sejalan dengan tujuan Millenium Development Goals (MDGs) ke enam, tentang penanggulangan berbagai penyakit menular berbahaya  yang ditularkan vektor dan reservoir.

Sarana dan Prasana yang terdapat di B2P2VRP :

  1. Laboratorium
    • Biologi Molekulor dan Imunologi
    • Mikrobiologi
    • Pengendalian Hayati dan Lingkungan
    • Reservoir Penyakit
    • Parasitologi
    • Pengujian Insektisida
    • Koleksi referens vektor dan reservoir penyakit
    • Manajemen data, epidemologi dan sistem informasi geografi
    • Promosi kesehatan dan perilaku
    • Pestisida Botani
    • Hewan coba
    • Biorepositori
    • Resistensi
  2. Insektarium
  3. Perpustakaan
  4. Green House
  5. Wahana Ilmiah Dunia Vektor dan Reservoir Penyakit (DUVER)
  6. Gedung pelatihan
  7. Gedung Asrama

Saya beruntung banget nih, gara-gara hobi blogging saya bisa mengunjungi setengah dari seluruh laboratorium yang terdapat di B2P2VRP. Tak hanya berkunjung, saya sempat mencoba melihat langsung koleksi spesimen tikus dan kelelawar milik B2P2VRP. Dan, mencoba mikroskop untuk mengecek virus yang terdapat pada tikus. Hiii.

Gara-gara ke B2P2VRP, saya jadi kudu lebih mawas sama yang namanya tikus dan nyamuk yang ada di rumah. Yuk, jaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar agar terhindar dari berbagai penyakit yang ditularkan vektor maupun reservoir.

ttd-marso

 

[Review] Lip Color Balm Emina Dancing Queen dan Shopaholic Queen

eminalipcolor

Setelah memiliki anak, tetiba aja saya doyan pakai warna lippen merah. Tiap kali keluar rumah tanpa lippen rasanya kayak belum gosok gigi. Meskipun, cuma ke minimarket dekat rumah, kudu pakai lippen biarpun hanya oles tipis-tipis. Padahal, sebelumnya saya kurang sreg sama lippen merah. Koleksi shade pun hanya punya warna nude.

Percaya atau enggak, warna lippen yang nempel di bibir pun bisa menambah level bahagia lho. Apalagi kalau sesuai dengan warna kulit. Trus, pas keluar rumah dipanggil “Teteh” atau “Kakak”. Yaudah, makin semangat deh pakai lippen lagi besoknya dan besoknya. LOL.

Minggu lalu, saya mendapat hadiah sepasang lip color balm Emina Cosmetics dari adik cewek saya paling gede – Onti Sarsof. Kemasan dan isinya cute. Perbedaan lipstick dan lip color balm ada pada fungsinya. Kalau pakai lipstick, hanya berfungsi membuat tampilan bibir berwarna. Nah, kalau lip color balm ini selain mewarnai bibir juga berfungsi melembabkan bibir.

Emina Cosmetics ini merupakan sister product dari Wardah dan Makeover. Kemasan produknya khas dengan ilustrasi yang klasik tapi cute. Targetnya memang untuk remaja dan perempuan dewasa muda. Eh, tapi buat yang berusia 30an kayak aku ini tetep cucok meong kok. Lip color balm yang saya review ini terdiri dari 2 seri, yakni Dancing Queen dan Shopaholic Queen. Yang saya suka dari lip color balm ini adalah bentuknya yang unik, menyerupai krayon. Saat tutupnya dibuka pun tercium aroma wangi.

IMG_20170913_114233IMG_20170913_114452IMG_20170913_114735IMG_20170913_113415

IMG_20170913_114308IMG_20170913_114421

And, what’s the difference between Dancing Queen and Shopaholic Queen ?

Untuk Dancing Queen, kemasan produknya merah bold. Sekali poles di bibir dijamin bikin seluruh mata yang memandang jadi tersihir. Poles tipis pun tetap terlihat warnanya. Buat yang kurang pede pakai warna ini, setelah poles langsung tempelin bibir ke tissue ya supaya terlihat matte.

Kalau yang Shopaholic Queen ini warnanya lebih muda. Pink tapi bold. Cocok banget buat yang kulitnya cerah.

Soal harga, lip color balm ini dijual antara Rp 48 ribu s/d Rp 56 ribu tergantung dimana belinya. 3 hal kece dari seri ini :

  • Warnanya tahan lama, setelah makan atau minum tetep nempel deh itu lip color balm
  • Bikin bibir jadi moisturized
  • Cocok untuk daily make up atau diaplikasikan

ttd-marso

7 Aksi GERMAS Untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Semarang

kemenkes

Langit Jakarta masih gelap saat saya tiba di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta jelang pukul 4 pagi di hari Senin (28/8). Namun, suasana bandara sudah ramai. Orang-orang berjalan cepat sembari mendorong koper atau mencangklong tas ranselnya di pundak. Beberapa ada yang sedang duduk di kursi tunggu. Ada juga yang tertidur. Ada juga yang sedang menghirup minuman hangatnya. Pemandangan yang sungguh menambah semangat saya di pagi itu.

Senin itu saya bersama 14 blogger dari komunitas Blogger Crony bakal menyambangi kota Semarang, dalam rangka kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang disosialisasikan oleh Kemenkes RI. Pengalaman perdana saya setelah menjadi Ibu meninggalkan rumah untuk sebuah tugas luar kota. Setelah hampir setahun blogging secara lebih serius, tulisan saya di blog memang banyak membahas soal kesehatan terutama kesehatan Ibu Anak. Jadi, ketika ada seleksi untuk kampanye GERMAS di Semarang, tentu kesempatan ini patut dicoba. Alhamdulillah, saya terpilih.

Menurut data yang diperoleh dari Kemenkes, di Indonesia terjadi peningkatan jumlah penderita Penyakit Tidak Menular (PTM). Jika pada tahun 90an, layanan kesehatan lebih banyak mengurusi penyakit menular seperti Tuberkolosis, Diare dan ISPA. Maka, sejak setahun terakhir jenis-jenis PTM seperti jantung, diabetes, stroke dan lain-lain banyak terjadi di masyarakat. Penyebab utamanya adalah pola gaya hidup tidak sehat. Apalagi sekarang ini segala kebutuhan bisa tuntas hanya dengan ujung jari. Mau pesan makanan, tinggal pesan delivery. Mau bepergian, tinggal pesan ojek online. Mau kirim barang pun Si Mas Ojek Online-nya yang bakal menjemput hingga ke depan pintu rumah.

Peningkatan PTM tentu berdampak buruk untuk masa depan sebuah bangsa. Karena, dapat (1) meningkatkan pembiayaan pelayanan kesehatan yang ditanggung sendiri/negara, (2) menurunkan produktivitas masyarakat serta (3) menurunnya daya saing negara.

Pada kampanye GERMAS yang diadakan full day di Hotel Santika Premier Semarang, menghadirkan para narasumber ahli di bidang kesehatan, diantaranya :

  1. Indra Rizon, SKM, M. Kes (Kepala Bagian Hubungan Media dan Lembaga)
  2. dr. Yulianto Prabowo M.Kes (Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah)
  3. Arvian Nevi, SKM, DEA, (Kasie Pencegahan Penyakit Tidak Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah)
  4. dr. Widoyono, MPH (Kepala Dinas Kota Semarang)
  5. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD, KGEH (Ketua Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam (PAPDi) DKI Jakarta)

Dari pemaparan para narasumber, blogger diajak mengetahui lebih lanjut mengenai 7 Aksi GERMAS :

germas

Photo credit : Instagram Kemenkes

IMG_20170828_141722

Dok. pribadi

Bapak Yulianto selaku Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, sempat menjelaskan mengenai program Jateng Gayeng Ngintep Wong Meteng, yaitu program kesehatan yang berfokus pada kesehatan Ibu Hamil. Program ini ditujukan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) pada saat hamil dan melahirkan.

Dokter Ari yang juga seorang blogger kesehatan dan rajin meng-update sosial medianya menyebutkan sebaiknya setiap orang dewasa membiasakan diri cek rutin kesehatan minimal 6 bulan sekali. Jangan tunggu terkena gejala penyakitnya dulu baru deh heboh cek kesehatan.

Yang seru pada sosialisasi GERMAS di hari pertama, blogger sempat diajak senam cuci tangan ala ala penguin dance yang nge-heits ituh. Gerakannya kelihatan mudah tapi setelah dicoba lumayan menguras kalori. Di Kemenkes RI sendiri, setiap jam 10 pagi dan 2 siang diadakan senam peregangan di kantor.

Untuk menjadi sehat, jadilah bagian dari Gerakan Masyarakat hidup Sehat dengan mempraktikkan 7 Aksi GERMAS di atas. Jangan tunggu sakit dulu ya.

ttd-marso

FWD Fashion Rocks, Kolaborasi Fashion Show dan Musik Bebaskan Langkah Tetap Sharia

fwdsyariahlife

Pada tanggal 25 Agustus 2017, FWD Life mengadakan FWD Fashion Rocks yang berlokasi di pelataran Sarinah Thamrin. Acara ini merupakan kolaborasi fashion show dan musik dengan tema “Bebaskan Langkah, Tetap Sharia”. Kolaborasi yang apik antara Hard Rock FM dengan FWD Life dan Barli Asmara selaku perancang busana pada fashion show.

FWD Life adalah perusahaan asurasnsi jiwa patungan dan bagian dari FWD Group. Produk-produknya antara lain produk asuransi terkait investasi, asuransi berjangka  individu maupun corporate. Produk terbaru dari FWD Life yakni BEBAS IKHTIAR. Acara FWD Fashion Rocks terinspirasi dari produk terbaru FWD Life ini. Bebaskan Langkah dan Tetap Sharia seperti yang terlihat pada produk-produk rancangan Barli Asmara. Menarik tapi tetap sopan dan enak dipandang. Pada acara ini, 200 scarf eksklusif berwarna orange karya perancang muda yang lagi naik daun itu diberikan pada nasabah FWD Life.

Rudi Kamdani selaku Wakil Direktur Utama FWD Life sempat menjelaskan “Kami bangga dan bersyukur acara FWD Fashion Rocks dapat dilaksanakan dan menjadi bukti akan komitmen Perusahaan untuk selalu berinovasi mengenalkan asuransi dengan cara yang fun dan dekat dengan gaya hidup masyarakat saat ini,”

Narasumber lain yang dihadirkan pada konferensi pers yakni Elda Stars and Rabbit, Sigit Prabowo selaku Head of Marketing Communication MRA Broadcast Media Division dan Ajeng Dewi Swastiari. Tiga nama yang saya sebutkan itu outfit-nya kece-kece lho. Saya sempat salfok melihat Mas Sigit yang hadir dengan outer lurik jawa.

“Hard Rock FM memiliki komitmen yang sama dengan FWD LIfe dalam menyajikan program-program berkualitas secara on air maupun off air yang selalu menjadi trend setter di Jakarta,” jelas Sigit pada press conference di Hotel The Akmani Menteng, Jakarta.

Pada FWD Fashion Rocks, Barli Asmara menghadirkan 3 sekuens busana yakni Gental, Turkish dan Monochrome. “Ketiga koleksi ini saya persembahkan untuk memeriahkan acara FWD Fashion Rocks 2017. Gentala menonjolkan keindahan motif batik Jambi, Turkish berfokus pada penerapan pola Arabesque Turki dengan cutting edge longgar yang modest wear membuat terlihat elegan, berkelas dan lebih hangat, sementara Monochrome yang menggunakan warna hitam dan putih memberikan kesan minimalis.”

 

Antuasisme pengunjung nampak dari banyaknya pengunjung yang hadir pada FWD Fashion Rocks di pelataran Sarinah. Jadi, sambil nonton fashion show dan menikmati suara merdu Andien, para pengunjung belajar ber-asuransi syariah.

Pada acara ini juga, Barli Asmara memamerkan scarf eksklusif yang didesain khusus untuk nasabah FWD Life Bebas Ikhtiar. Warna scarfnya orange dan berbahan satin. Kekinian banget nih. Hanya 200 nasabah pertama yang beruntung mendapatkan scarf Barli Asmara tersebut. Dan, otomatis nasabah berdonasi Rp 200ribu melalui Dompet Dhuafa dan Yayasan Badan Wakaf Indonesia.

Yang tertarik lebih lanjut mengenai FWD Life bisa mengunjungi http://www.fwd.co.id.

ttd-marso

Perdana, 3 Hari Meninggalkan Batita Untuk Tugas Luar Kota

batita

Tahun ini saya men-challenge diri saya untuk bisa pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Yess, pergi keluar kota. Syukur-syukur masih sekitaran Pulau Jawa. Kalau bisa pergi keluar Pulau Jawa, why not ? Apalagi kalau bepergiannya bareng keluarga, lebih asyik pastinya. Ndilalah, kesempatan emas yang datang pertama kali adalah saya pergi keluar kota tanpa keluarga. Iya, 8 jam lagi dari sekarang saya harus meninggalkan Mada untuk tugas luar kota. Saya pergi bersama rombongan blogger kesehatan menuju Semarang. Kota yang sama sekali belum pernah saya kunjungi seumur hidup saya.

Pengalaman saya dalam “berpisah” dengan Mada paling lama itu ya setengah hari, saat saya mengikuti liputan acara blogger di suatu tempat. Mada terlatih mandiri sedari dia belum bisa ngomong. Katanya, bayi ASI itu kan susah lepas dari Ibunya lantaran bau tangan. Alhamdulillah, Mada bukan tipe anak yang bakal gugulingan saat saya tinggal pergi dadah-dadahan dari rumah Mamah. Sesekali iya, seringnya Mada sangat kooperatif.

Awal-awal saya baru pertama kali mengikuti acara blogger, untuk event weekdays, saya menitipkan Mada di mertua. Sementara, untuk event weekend, saya lebih memilih menitipkan Mada di rumah Mamah. 5 adik saya siap berjaga bergantian menemani Mada. Terlihat mudah dan enak, tapi rupanya ada banyak perbedaan pola asuh antara saya dan mertua. Perbedaan yang pada akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengurangi menitipkan Mada di mertua kecuali urgent. Apalagi 3 bulan ini, Mamah sedang dalam penyembuhan. Jadi, saya lebih banyak di rumah daripada mengikuti berbagai acara blogger.

Tapi, namanya pergi lebih dari 24 jam tentu ada drama-dramanya sebelum berangkat. Contohnya, pagi ini saya bangun pagi lebih awal. Setelah sholat Subuh, saya kembali lagi ke tempat tidur. Saya berbaring di sebelah Mada. Memeluknya lama dan menciumi wajahnya hingga Mada melek. Ia tersenyum dan memeluk balik. Duh, tiba-tiba kepingin nangis. Anak laki-laki di sebelah saya tumbuh semakin besar. Di usianya yang tiga tahun, untuk pertama kalinya kami berdua akan berpisah selama 3 hari. Saya akan mengikuti Kampanye GERMAS (Gerakan Masyarakat Sehat) bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di Semarang. Sesuai kesepakatan dengan Pak Gondrong, selama 3 hari Mada menginap di rumah Nenek Karteng.

Bagi orang dewasa, 3 hari adalah waktu yang sangat sebentar untuk mengerjakan pekerjaan. Bagi anak-anak terutama batita seperti Mada, 3 hari adalah waktu yang cukup lama untuk menyerap apapun yang ada di sekelilingnya. Apa yang dia dengar secara sengaja atau selintas, akan terekam hingga berminggu-minggu bahkan mungkin satu bulan ke depan atau bahkan setahun ke depan. Apa yang dia lihat, akan dia copy paste ke dalam perilakunya hingga setelah saya kembali dari Semarang.

Itulah kekhawatiran terbesar saya hari ini. Padahal, kemarin saya bisa setrong semacam mamak-mamak yang terbiasa PP naik pesawat buat dinas luar kota rutin. Duh, gusti.

Selama saya tugas luar kota, Mada tetap mengikuti jadwal kegiatan PAUD di hari Senin dan Selasa. Daripada saya cemas berlarut-larut, saya pun menyusun jadwal Mada selama saya tidak di dekatnya.

IMG_20170827_080311

Untuk pakaian selama 2 hari PAUD sudah disiapkan :

Senin

  1. Seragam orange hijau
  2. Baju main setelah pulang PAUD
  3. Baju main setelah bangun tidur siang
  4. Piyama

Selasa

  1. Seragam olahraga
  2. Baju main setelah pulang PAUD
  3. Baju main setelah bangun tidur siang
  4. Piyama

Bekal PAUD Senin

Nugget 5 potong + kentang goreng + susu coklat

Bekal PAUD Selasa

Puding + sereal koko crunch + yoghurt

Di rumah Nenek, banyak anak-anak seumuran Mada dan seringnya Mada main di luar diawasi Nenek. Untuk alternatif kegiatan Mada di dalam rumah saat malam hari atau pas Nenek lagi pengin istirahat, saya juga sengaja membeli 2 buku gambar + buku aktivitas heavy wheels seperti traktor, truk mollen dan sejenisnya. Akhir-akhir ini Mada lagi rajin banget nulis-nulis atau corat coret buku gambar.

Hmmm apalagi ya ? Oh iya, saya sempat nanya ke Mak Yayat sebagai PIC dari Blogger Crony soal urusan packing. Menurut Mak Yayat yang nge-heits dipanggil Nyonyah Vale ini sebaiknya membawa 1 koper/travel bag aja dan 1 tas ransel. Jadi, ndak usah gembol-gembol rem to the pong.

Oh ya, pergi ke Semarang ini bukan hanya mimpi yang terwujud, tetapi juga membuat Pak Gondrong serta keluarganya sadar bahwa kegiatan yang selama ini saya lakukan (blogging) adalah kegiatan yang penting. Bahwa, inilah cara saya mendobrak kemustahilan pemikiran orang-orang yang acapkali menyepelekan ketika perempuan menjadi Ibu Rumah Tangga itu berarti tidak bisa apa-apa dan hanya sanggup menadahkan tangan tiap akhir bulan.

Tulisan mengenai “Mendobrak Kemustahilan” ini merupakan tema dari Grup Collaborating Blogging Rina Soemarno yang terdiri dari Mak Nurul Rahmawati dengan postingannya di website Emak Blogger, Mak Kania Ningsih dengan ceritanya Jalan-jalan Ke Bali ? Mustahil !, Mak Yurmawita dan tulisannya Merajut Mimpi, Mak Hida Hiquds dan Mak Ike Yuliastuti.

ttd-marso